
Daniel telah berdiri di depan pintu apartemen Kerelyn selama sepuluh menit, seperti penagih hutang yang tak sabaran dia memijit bel secara terus menerus tapi tak ada tanggapan dari dalam. Sepertinya gadis itu masih marah karena tindakan Alex semalam yang memukul hidung adiknya hingga berdarah, setelah melihat Ethan meraung kesakitan ia langsung menarik adiknya masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu tepat di depan hidung Daniel yang akan ikut masuk ke dalam, dan karena itu Alex menertawakannya semalaman.
“Selamat pagi,” ujar Daniel sambil mencium pipi Kerelyn yang akhirnya membuka pintu apartemennya walaupun dengan wajah cemberut, “Apa kau masih marah? Kau sangat menggemaskan kalau cemberut seperti itu,” lanjutnya dengan seringai dan tatapan yang membuat para perempuan meleleh.
“Kau memukul adikku, tentu saja aku marah,” ujar Kerelyn sambil berjalan ke dalam disusul oleh Daniel yang mengekor di belakangnya.
“Bukan aku yang memukul adikmu tapi Alex.”
“Tapi kau tidak menghalanginya.”
“Dia sangat cepat, aku tak sempat melihatnya,” jawab Daniel sambil duduk dengan santai di sofa krem miliknya seolah-olah dirinya telah terbiasa berada di sana.
Kerelyn memutar bola matanya karena ia tahu kalau itu hanya alasannya saja, ia berjalan menuju dapur dan mengambil dua cangkir kopi untuk dirinya dan Daniel, pria itu kembali tersenyum sambil menerima mug kopi miliknya yang berwarna putih dengan motif bunga matahari.
“Aah, kau barista hebat, kopimu sangat enak,” puji Daniel sambil menyeruput cairan hitam itu.
“Yeah, dengan bantuan mesin pembuat kopi semua orang akan menjadi seorang barista hebat,” jawab Kerelyn yang membuat Daniel tersenyum.
“Jadi, dimana adikmu sekarang?”
“Apa sekarang kau akan memukulnya?” Tanya Kerelyn sambil membelalakan matanya menatap Daniel yang terlihat geli dengan reaksinya saat ini.
“Hmm.. kita liat saja nanti.”
“Daniel!” Protes Kerelyn yang membuat Daniel tertawa.
“Tenang saja, aku tak akan memukulnya... mungkin menendangnya.”
Kerelyn hampir menyemburkan kopinya mendengar ucapan Daniel, “Oh ya Tuhan, bagaimana bisa aku mencintai pria seperti ini!” Seru Kerelyn sambil berdiri, matanya manatap Daniel dengan tak percaya, sedangkan Daniel yang sempat terkejut mendengar ucapan Kerelyn kini menatapnya dengan santai sambil menahan tawa.
“Ok, aku tahu adikku bersalah karena telah mengkhianati Lexa, tapi dia telah menerima pukulan dari Alex dan tendangan dari Lexa, dan dia sangat menyesal, bagaimana mungkin kau masih mau menendangnya?” ucap Kerelyn dengan semangat yang membuat Daniel mengangkat alisnya.
“Kau benar, dia telah kena pukul dan juga tendang.” Kerelyn mengangguk dengan semangat dan kini ia sedikit tenang karena akhirnya Daniel telah menyadarinya, “Tapi dia belum kena tinjuku.”
Kerelyn langsung kembali melompat, pantatnya hampir saja duduk manis di sofa ketika mendengar ucapan Daniel yang kini terlihat santai sambil menyeruput kopinya.
“Aku akan menendangmu di tempat Lexa menendang Ethan, kalau kau berani meninju adikku, kau dengar itu?” teriak Kerelyn sambil berdiri menjulang di depan Daniel, yang telah menaruh cangkir kopinya di atas meja, dan secepat kilat ia menarik tangan gadis itu hingga terjatuh di atas pangkuannya.
“Sweetheart, kau tak akan berani menendangku,” ucap Daniel sambil tersenyum, matanya menatap gadis di atas pengkuannya dengan lembut.
“Daniel Winchester, kau jangan telalu percaya diri kau pikir aku tak akan berani menendangmu?” tanya Kerelyn dengan pandangan menantang, tapi itu hanya sia-sia karena Daniel menggelengkan kepala dengan yakin
.
“Kau tidak akan menendangku,” ujarnya dengan yakin.
“Kenapa kau pikir aku tak akan berani menendangmu?” Kerelyn bertanya sambil menaikkan kedua alisnya. Kedua tangan Daniel kini menarik pinggang Kerelyn semakin mendekat membuat kedua tangan Kerelyn dikalungkan di leher pria bermata hitam yang kini menatapnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Karena kau mencintaiku,” ucap Daniel yang membuat Kerelyn terperanjat membelalakan matanya, ia hampir melompat berdiri tapi Daniel menahannya dengan erat, bibirnya tersenyum bahagia.
“Ba...bagaimana kau tahu?
“Karena kau baru saja mengatakannya.”
“Aku? Kapan?”
“Tadi.”
Kerelyn terdiam beberapa saat, alisnya berkerut mencoba mengingat apa benar dia telah mengatakannya tadi? Seketika matanya membelalak ketika dia mengingatnya dalam keadaan emosi tadi ia sempat mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
“Jadi kau telah mengingatnya?” tanya Daniel santai sambil tersenyum.
“Tidak-tidak... itu... kau pasti salah mendengarnya.”
Kerelyn berusaha melepaskan pelukan Daniel yang semakin erat menahanya.
“Hmm... aku rasa pendengaranku masih sangat baik,” ucap Daniel sambil tersenyum miring membuat Kerelyn akhirnya mengalah.
“Baiklah kau menang, aku memang mencintaimu... apa sekarang kau puas?”
Daniel mengangguk, matanya terlihat bercahaya karena bahagia setelah mendengar pengakuan Kerelyn yang sekarang wajahnya telah memerah.
“Jadi katakan padaku sejak kapan kau jatuh cinta padaku?” Daniel kembali bertanya yang membuat Kerelyn mendengus sambil tersenyum.
“Sejak kau menerobos masuk ke dalam apartemenku dan menyelamatkan hidupku... my hero.” Kerelyn mengecup bibir Daniel yang tersenyum puas.
Kerelyn meneringis ketika menyadari ia telah memendam perasaannya selam tiga tahun, “Iya selama itu.”
Sekarang giliran Daniel yang mengecup bibir merah Kerelyn.
“Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku dari dulu?”
“Oh, percayalah aku sudah sangat sering memberimu tanda tapi kau terlalu bodoh untuk membaca tanda dariku.”
Daniel tertawa mendengar ucapan Kerelyn, dia kembali mengecup bibir Kerelyn.
“Perempuan dan sejuta misterinya,” ujar Daniel sambil menggelengkan kepala.
Giliran Kerelyn yang kini mengecup Daniel.
“Pria dengan segala ketidak pekaannya.”
Daniel kembali tertawa, kini gilirannya untuk mengecup Kerelyn.
“Kenapa perempuan tidak mengatakanya secara langsung dan malah memberi tanda yang tentu saja tidak kami pahami.”
__ADS_1
Kerelyn mengecup Daniel sebelum menjawab pertanyannya.
“Karena perempuan penuh misteri jauh lebih menarik.”
“Sampai kapan kalian akan bermain introgasi dengan hukuman kecupan seperti itu?”
Suara serak seseorang membuat Daniel mengurungkan aksinya untuk mencium Kerelyn.
“Sial,” ia mengumpat dalam hati padahal dia telah berniat untuk memberikan ciuman yang panjang kali ini, tapi Kerelyn langsung melompat turun dari pangkuan Daniel.
Mereka kini menatap pria yang terlihat sangat tampan dengan hanya menggunakan kaos dalam dan celana trainingnya, tubuhnya yang tinggi kekar hasil berjam-jam di Gym ia sandarkan di dinding lorong menuju kamar tidur, mata gelapnya yang tajam menatap keduanya bergantian. Daniel harus mengakui kalau adik Kerelyn ini sangat luar biasa tampan, maka tak heran para perempuan akan mengantri di hadapannya.
”Kau sudah bangun?” Kerelyn bertanya dengan gugup seperti anak ABG yang ketahuan orang tuanya tengah berciuman. Ethan mengangguk sebagai jawaban, ia kini berjalan dengan santai bak seorang model papan atas yang tengah memeragakkan hasil karya agung perancang ternama.
“Apa kau mau kopi?” Kerelyn kembali bertanya setelah melihat adiknya kini duduk dengan santai di depan Daniel yang terus memerhatikannya.
“Iya, terimakasih, aku sangat memerlukan kafein yang sangat banyak,” jawab Ethan sambil menguap, pria tampan itu terlihat sangat mengantuk.
“Sejak kapan kau berdiri di sana?” Daniel bertanya sambil bersandar, ia kembali mengambil mug kopinya.
“Sejak kakakku mengakui kalau dia mencintaimu.”
Daniel tersenyum sambil mengangguk dengan puas.
“Kerelyn bilang kalau kau adalah Kakak Alexa, apa itu benar?” Ethan bertanya dengan penasaran, yang membuat Daniel mengangkat alisnya kemudian mengangguk yang membuat pria dihadapannya terlihat putus asa.
“Dengar aku tak bermaksud mengkhianatinya, aku berani bersumpah tidak mungkin aku mengkhianati Lexa,” ucap Ethan dengan sungguh-sungguh, tapi Daniel hanya menatapnya tak percaya.
“Kau tidak memercayaiku?” Ethan bertanya dengan badan di condongkan ke arah Daniel yang menggelengkan kepala.
“Tidak,” jawabnya tegas membuat Ethan kembali terlihat putus asa.
“Kau harus percaya padaku, perempuan itu menjebakku.”
Kerelyn datang dengan sebuah mug besar berwarna merah yang berisi kopi hitam, ia menyerahkan mug itu ke tangan Ethan lalu duduk di sebelahnya, seolah-olah ia bertugas sebagai pembela dengan adiknya sebagai tersangka dan Daniel sebagai hakim, tapi sayang Alexa sebagai korban tidak hadir, begitu juga dengan Alex yang pasti bertugas sebagai Jaksa penuntut dan well, dia juga akan dengan senang hati merangkap sebagai algojo yang akan mengeksekusi hukuman buat Ethan, sedangkan yang lainnya akan berperan sebagai juri yang dapat dipastikan berat sebelah.
“Kau harus percaya padanya, adikku tidak akan mengkhianati Lexa begitu saja,” Kerelyn mulai menjalankan tugasnya sebagai pembela.
“Dengarkan aku, waktu itu aku sedang berada di kamar ganti dan tiba-tiba saja perempuan itu masuk dan... itu semua terjadi.” Daniel mengangkat alis matanya mendengar penjelasan Ethan yang... tidak begitu jelas, sedangkan Kerelyn hanya bisa menganga mendengar penjelasan adiknya.
“Jadi kau benar-benar mengkhianati Lexa?” Kerelyn berteriak yang membuat adiknya terlihat gusar.
“Aku tidak mengkhianatinya.. dia.. dia.. yang pertama merayuku.”
“Apa kau menolaknya?” Kerelyn bertanya dengan mata membelalak, dan seketika amarahnya menguar ke permukaan setelah melihat adiknya hanya terdiam sambil meringis.
“Aww.. aww.. Kerelyn, hentikan. Daniel lakukan sesuatu!” Ethan berteriak meminta tolong karena kini Kerelyn memukulinya dengan membabi buta, sedangkan Daniel hanya terdiam menyaksikan pertarungan adik kakak itu.
__ADS_1
“Seharusnya mereka melihat ini,” ucap Daniel santai sambil menikmati kopinya.
***