
“Kerelyn, sekarang sudah tak akan ada lagi yang menyakiti dan membuatmu sedih, semua telah aman,” ucap Matt berusaha menenangkan Kerelyn yang terus memberontak.
“Kalian gila! Lepaskan aku! Aku tak akan memaafkan kalian, kalian dengar! Aku tak akan memaafkan kalian,” geram Kerelyn dengan penuh emosi, ia terus memberotak sehingga Matt terlihat kewalahan dan akhirnya memukulnya hingga tersungkur di tanah.
“Matt! Kau melukainya!” Geram Harry yang langsung menghadang Matt hingga membentur dinding kayu rumah.
“Apa kau tak mendengar apa yang dia katakan? Dia mengatakan kalau kita gila!” Geram Matt dengan mata tajam menatap Harry yang tak kalah menatapnya tajam.
“Kau, tak perlu memukulnya seperti itu... apa kau paham?!” geram Harry tepat di depan wajah Matt sambil mencekik lehernya, matanya yang terus menatap pria yang wajahnya kini sudah memerah.
Tangan Matt menepuk-nepuk tangan Harry yang semakin kencang menekannya hingga matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar berharap bisa menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan udara. Harry akhirnya melepaskan tangannya dari leher Matt yang langsung terbatuk-batuk dan menghirup udara dengan rakus. Tanpa memedulikan keadaan rekannya Harry berjalan menghampiri Kerelyn yang berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung lalu mulai berjalan mundur di antara bunga tulip, ketika melihat Harry berusaha mendekati.
“Kerelyn, jangan takut... Matt hanya sedikit tersinggung karena ucapanmu, bukankah begitu, Matt?” Harry berteriak tanpa melihat Matt yang kini telah berdiri tegak sambil memegang lehernya yang masih terasa sakit.
“Iya,” jawab Matt di antara napasnya yang terengah-engah karena kekurangan oksigen.
“Matt... kau melupakan sesuatu yang penting...” Harry berkata seperti tengah berbicara dengan anak-anak yang melupakan mengerjakan tugasnya.
Matt menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, “Maafkan aku, Kerelyn.” Membuat Harry tersenyum bangga sambil menatap Kerelyn yang masih berjalan mundur setiap Harry melangkahkan kakinya.
“Kau dengar itu... Matt telah meminta maaf, kami tak mungkin melukaimu… apa kau lupa kalau kamilah yang selama ini telah melindungimu?”
“Kalian... kalian ingin melindungiku?” Kerelyn berkata sambil tetap mundur burusaha mendekati Raina yang masih tergeletak tak sadarkan diri, “Kalian terlalu lemah untuk melindungiku.”
Ucapan Kerelyn itu membuat Harry dan Matt mentapnya tajam, rahang mereka mengeras menahan emosi yang mulai menyeruak kepermukaan.
“Apa yang kau katakan?” geram Harry sambil menatap Kerelyn yang menatapnya tanpa rasa takut.
Dalam salah satu episode seri FBI nya ia pernah dihadapkan dengan salah seorang psikopat gila, di dalam naskahnya itu penulis skenario menyebutkan kalau kita memerlihatkan rasa takut kepada seorang psikopat atau mengikuti permainannya hanya akan membuat psikopat itu menjadi bahagia karena keinginannya terwujud. Dan Kerelyn melihat keinginan terbesar Harry dan Matt adalah melindunginya dan membuatnya berpikir kalau dia tak akan hidup tanpa mereka, maka yang akan dia lakukan adalah sebaliknya.
“Ya, kalian adalah manusia lemah! Kau, Harry... kau bahkan tak bisa menyematkan ibumu sendiri, kau hanya terdiam melihatnya mati di depan matamu, bagaimana bisa kau melindungiku.”
“Aku... aku masih sangat kecil waktu itu,” ucap Harry sambil menunjuk dadanya sendiri dengan mata menatap Kerelyn tajam, “Tapi aku berhasil membunuh ******** itu!”
“Bagaimana kau membunuhnya? Apa dengan menembaknya? Memukulnya? Atau kau tidak sengaja membunuhnya? Yah! Kau tidak sengaja membunuhnya!” Seru Kerelyn setelah melihat reaksi Harry ketika tebakannya benar.
__ADS_1
“Dia menusuknya! Dia menusuknya tepat di dada,” ucap Matt berusaha membela Harry yang terlihat hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong.
“Dan, kau Matt! Kau hanya jadi pengikut Harry... kau tak bisa hidup tanpanya, jadi bagaimana bisa kau melindungi orang lain, bahkan untuk melindungi dirimu sendriri saja tak bisa.”
“DIAM!” Matt berteriak membuat Kerelyn melonjak kaget, dia berjalan dengan amarah membuncah ke arah perempuan berambut merah itu yang berjalan mundur melihat hal itu, tapi Harry yang sudah bisa mengendalikan diri menghentikannya. Pria berkacamata tebal itu kini menatap Raina yang terbaring dengan seringai dan mata iblisnya.
“Oh sial.. aku harap, penulis skenario sialan itu benar,” ucap Kerelyn dalam hati setelah melihat raksi Harry dan Matt yang terlihat malah semakin marah.
“Kerelyn, apa kau tahu siapa dia? Dia adalah perempuan yang berselingkuh dengan Daniel... dia adalah alasan kenapa kau berpisah dari kekasihmu.”
Seringai Matt kembali terbit setelah melihat tubuh Raina yang tak bergerak, “Harry benar, Kerleyn... dia yang seharunya mati karena merebut Daniel darimu.”
“Dia adalah sepupu Daniel... aku mengenalnya,” ujar Kerelyn dengan suara bergetar karena merasa kalau Raina kini dalam bahaya.
“Dia berbohong padamu, Kerelyn,” ucap Harry dengan dingin, matanya kini semakin marah menatap Raina yang mulai sedikit bergerak, membuatnya memberi perintah tanpa suara kepada Matt yang langsung memerlihatkan seringainya kembali.
Kerelyn melihat Matt yang berjalan ke arah pinggir rumah lalu tak lama kemudian dia telah datang sambil membawa sebuah tas berwarna hitam, sambil bersiul santai ia berjalan mendekati Raina yang mulai tersadar.
“Apa yang kau lakukan ?! Menjauh darinya!” Teriak Kerelyn berusaha menghadang Matt, tapi Harry menangkapnya.
Matt kini tengah mengikat tangan dan kaki Raina yang belum sadar sepenuhnya, kepalanya terasa pusing karena membentur batu, dia ingin berontak tapi tenaganya seperti habis, dia bisa merasakan kalau seseorang tengah mengikat tangan dan kakinya kemudian sesuatu terpasang ditubuhnya, dan ia bisa mendengar Kerelyn memekik.
Raina berusaha membuka matanya perlahan tapi ia menutupnya kembali ketika sinar matahari terasa menyilaukan dan membuatnya pusing, ia kembali mencoba membuka matanya dan perlahan ia mulai bisa melihat bayangan yang berdiri di depannya yang semain lama semakin jelas... Matt... pria itu berdiri menjulang di sampingnya dengan sebuah seringai puas.
“Ah.. kau bangun pada saat yang tepat,” ucapnya dengan sebuah seriangai menghiasi wajahnya.
Raina berusaha berontak tapi tangan dan kakinya terikat, “Lepaskan... lapaskan aku!”
“Sstt.. jangan banyak bergerak...” ucap Matt sambil memberi tanda kepada Raina untuk melihat ke bawah, dan seketika matanya membelalak tak percaya kalau tubuhnya kini telah terpasang bom aktif, tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdetak menggila, aura dingin menjalari tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, napasnya memburu.
“Stt... jangan takut... aku berjanji kau tak akan merasakan sakit sama sekali,” ucap Matt sambil menaruh satu tangkai bunga tulip di atas dadanya.
“Harry... dia sudah siap,” ucap Matt sambil menatap Harry yang masih menahan Kerelyn, sebelum kembali menatap Raina yang tengah menatapnya tajam, tak ada rintihan atau ucapan permohonan ampun dari mulutnya yang terkunci rapat dan itu membuat Matt mengerutkan alisnya terlihat kurang senang.
“Ini kejutan lain untukmu, Kerelyn... dia tak akan menggoda pria lain lagi mulai sekarang.” Harry berkata sambil mengelus rambut merah Kerelyn berusaha membuatnya tenang.
__ADS_1
“Harry... aku mohon, lepaskan dia... dia tidak bersalah,” ucap Kerelyn dengan wajah memohon yang membuat Harry hanya tersenyum melihatnya.
“Dia telah merebut Daniel darimu.” Kerelyn menggelengkan kepala menyangkal hal itu.
“Mereka saudara sepupu,” ucap Kerleyn berusaha meyakinkan.
Harry kembali mengelus rambut Kerelyn, dia baru akan membuka mulutnya ketika mendengar seseorang berjalan dari arah dalam.
“Lepaskan tanganmu darinya!” seru Daniel mengagetkan semua orang.
“Daniel,” panggil Kerleyn dengan senyum lega menghiasai wajahnya, ia ingin berlari ke dalam pelukan kekasihnya tapi tangan Harry masih mencengkramnya dengan sangat kuat.
“Kau... bagaimana kau bisa selamat?” Harry bertanya sambil memandang Daniel tak percaya, begitu pula dengan Matt yang kini telah berdiri dan ikut menatap Daniel yang berdiri santai sambil menatap keduanya bergantian.
“Kalian pikir, hanya dengan seperti itu bisa membunuhku?” Daniel bertanya sambil berjalan mendekati Harry yang terlihat waspada, “Kalian terlalu lemah untuk jadi lawanku,” cibir Daniel membuat rahang Harry dan Matt mengeras, “Bagaimana bisa kalian menjaga Kerelyn, bahkan membunuhku saja tak bisa.”
“Kau!!! Selama ini kamilah yang menjauhkannya dari bahaya,” Geram Matt sambil berjalan dengan marah menuju Daniel yang masih terlihat santai.
“Benarkah?” Tanya Daniel, “Aku... akulah yang menyelamatkannya ketika dia hampir mati dipukuli oleh Simon, akulah yang menolongnya ketika akan tertabrak, dan... akulah yang merawatnya ketika sakit. Sedangkan kalian, apa yang kalian lakukan? Membunuh? Dan aku yakin kalian membunuh mereka setelah kalian membiusnya terlebih dahulu seperti yang kalian lakukan padaku, benarkan?” Daniel tertawa mengejek sebelum kembali berkata, “Bahkan anak kecil-pun bisa melakukan itu. Ah... apa kalian tahu kalau aku dan Kerelyn sebenarnya tidak putus dan hanya berpura-pura untuk mempermainkan kalian. Kalian terlalu bodoh untuk kami permainkan.”
“Dasar ********!!” teriak Harry dengan amarah yang sudah membuncah berusaha menyerang Daniel yang langsung berteriak.
“Kerelyn, lari!” Seru Daniel setelah melihat Harry melepaskan cengkramannya, Kerelyn langsung menuruti perintah Daniel yang kini sedang berkelahi dengan Harry.
Matt berlari mengejar Kerelyn, dia sudah sampai pekarangan ketika Matt berhasil menangkapnya, Kerelyn meronta, menendang sambil berteriak, membuat pria itu sedikit kewalahan sampai akhirnya ia meraung kesakitan ketika dirasa seseorang memukul kepalanya hingga terhuyung dan melepaskan Kerelyn yang langsung berlari ke arah Alexa yang berdiri sambil memegang raket tenis yang sepertinya ia temukan di dalam mobil Kerelyn.
“Dasar pengecut! Kau hanya berani kepada perempuan!” teriak Alexa membuat amarah Matt semakin menjadi.
Dia menatap kedua perempuan itu dengan mata tajam bak seokor predator yang mengincar mangsanya, rahangnya mengeras, wajahnya memerah karena marah, dengan napas memburu dia mulai berjalan mendekati Kerelyn dan Alexa yang berjalan mundur.
“Jangan mendekat!” Teriak Alexa dengan raket tenis sebagai tameng dirinya dan Kerelyn yang berdiri di belakangnya, membuat Matt menyeringai mengejek.
Tak menghiraukan ancaman Alexa, Matt mulai berteriak mengejar kedua perempuan yang kini berlari ketakutan, naas bagi Alexa dia tertangkap hingga mereka berguling di atas rumput yang sudah meninggi, tenaga yang tak seimbang membuat Matt dengan mudahnya menghimpit Alexa di bawahnya lalu mencekik leher jenjangnya hingga matanya terbelalak ke atas, kakinya menendang-nendang tak menantu dan wajahnya kini mulai memerah karena kekurangan oksigen, paru-parunya kini terasa panas seperti mau meledak, asupan oksigen ke otaknya-pun telah berkurang membuat kepalanya pusing, pandangannya mulai buram dan perlahan mulai menggelap ketika terdengar bunyi tembakan dan sedetik kemudian tubuh tinggi besar milik Matt ambruk di atasnya bersamaan dengan hilangnya kesadaran gadis itu.
*****
__ADS_1