The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 53


__ADS_3

Kerelyn sedang berlari untuk menolong Alexa ketika mendengar suara decit ban mobil yang berhenti secara tiba-tiba tak jauh darinya, membuatnya menatap ke arah mobil itu dan rasa bahagia membuncah ketika melihat Alex dan Gerad turun dari mobil itu.


“LEXA!” teriak Kerleyn sambil menunjuk ke arah dimana Matt tengah mencekik Alexa membuat Alex dan Gerard berlari dengan sekencang yang mereka bisa.


Alex bisa melihat wajah Alexa yang hampir kehilangan kesadaran membuatnya mengeluarkan pistol lalu menembak punggung pria itu hingga menembus jantung dan membuatnya ambruk menimpa Alexa.


“Aku akan membantu Daniel!” Seru Gerard sambil terus berlari ke arah rumah, setelah melihat Alex berlari untuk menolong Alexa.


“Lexi!” seru Alex sambil mendorong tubuh Matt ke pinggir, tubuh Alexa terlihat basah oleh darah milik lelaki itu, wajahnya pucat pasi bagai mayat, “Lexi! Demi Tuhan, Lexi, sadarlah!” Teriak Alex setelah melihat Alexa tak bereaksi.


“Sial, Lexi, jangan membuatku takut!” seru Alex sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu tapi tak ada jawaban atau reaksi apapun darinya. Ia meletakkan telinganya di atas dada Alexa untuk mendengar detak jantungnya yang sudah melemah.


“Sial!” Ia berseru lalu cepat menekan dadanya untuk kemudian melakukan CPR atau napas buatan. Kerelyn kini telah berjongkok dengan airmata yang mengalir di samping Alexa yang masih tak bergerak.


“Panggil ambulan!” teriak Alex setelah melihat para polisi sudah sampai dan kini mulai beranjak mendekati rumah tua itu.


“Apa dia tak apa-apa?”


“Ayolah, Lexi!” Alex kembali berteriak sambil menekan dada Alexa lalu memberikan napas buatan, tanpa menghiraukan pertanyaan Lucy yang baru saja bergabung dengan mereka dan akhirnya gadis bermata amber itu terbatuk-batuk membuat Alex dan Kerelyn bernapas lega, Alexa meringis ketika merasakan sakit di lehernya.


“Jangan dulu bergerak,” ucap Alex yang masih berlutut di samping Alexa dengan wajah cemas, perlahan mata gadis itu membuka dan menatap wajah Alex yang kini tersenyum lega.

__ADS_1


“Kau membuatku sangat takut, Lexi.” Alex berkata sambil menggenggam tangan Alexa dengan kedua tangannya, mata birunya menatap Alexa dengan lembut, membuat Alexa tersenyum lemah.


Tapi tiba-tiba sorot mata Alex berubah menjadi tajam, “Kau! Aku serius akan mengurungmu di dalam apartemen lalu membuang kuncinya karena tak mendengarkan ucapanku apa kau paham?”


“Hei!” protes Alexa dengan suara serak sambil berusaha bangun tapi ia kembali meringis karena merasa sakit di lehernya, dan itu membuat Alex menggeram marah, dia melihat sekeliling untuk mencari ambulan tapi belum datang, sedangkan para polisi terlihat sudah mengepung rumah itu dan meminta Harry untuk menyerah.


“Kerelyn, kau temani dia di sini sampai paramendis datang.” Kerelyn yang masih duduk di samping Alexa mengangguk mengerti, “Dan kau, Lucy, tembak dia kalau masih bergerak,” lanjut Alex yang membuat Alexa menatapnya dengan cemberut. Alex baru saja berbalik untuk untuk ikut bergabung dengan rekan-rekannya ketika Kerelyn memanggil namanya.


“Mereka memasang bom di tubuh, Raina.”


Alex langsung memaki sambil berlari untuk memberi tahu informasi itu kepada yang lain dan meminta tim penjinak bom untuk bersiap-siap.


***


“Kau dengar itu? Para polisi sudah datang, jadi sebaiknya kau menyerah saja,” ujar Daniel dengan senyum miring sambil berdiri tegak dan berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah, membuat Harry yang juga terlihat lelah menatapnya tajam.


“Kau tahu... aku yakin rekanmu, Matt, sekarang sudah mati,” lanjut Daniel membuat pria di hadapannya membelalakan mata menyadari itu.


“Ayolah, Harry, semua sudah berakhir... sebaiknya kau menyerah sekarang.”


Harry hanya diam menatapnya dengan pandangan nyalang, punggung tangannya melap mulutnya yang terluka karena terkena pukulan Daniel, dia kini berdiri membelakangi pintu hingga tak menyadari seseorang tengah mengendap-endap memasuki rumah itu, dan suara langkahnya teredam oleh suara teriakan polisi yang memintanya menyerah.

__ADS_1


“Kau benar, Matt sepertinya sudah mati,” ucap Harry dengan suara dingin, “Kau telah membunuh satu-satunya keluargaku,” geramnya sambil menatap Daniel dengan mata nyalang, “Tapi kau lupa, kalau aku masih memiliki orang yang kau sayangi.”


Harry mengeluarkan alat pemicu bom dari saku celananya, “Matt, sangat menyukai api.. dan hanya dengan sekali tekan maka.. bum! Kita semua akan mati! Matt pasti akan senang melihat itu.” Harry tertawa bahagia membuat Daniel memucat, dia menatap Raina yang tergeletak di antara hamparan bunga tulip dengan bom terpasang di tubuhnya.


“Jangan berani-berani kau menekannya!” Daniel menggeram sambil menatap Harry tajam yang membuat pria itu tertawa.


“Apa kau takut mati, Daniel?” tanya Harry sambil berjalan santai dengan alat pemicu di tangannya, layaknya seorang pemenang.


“Harry, kau salah,” ucap Daniel membuat Harry menatapnya sambil menaikan alis, “Kau lupa kalau aku baru saja bangkit dari kematian.” Daniel tersenyum mengejek membuat Harry kembali terlihat gusar, “Jadi untuk kali ini-pun aku dan sepupuku akan selamat. Tapi tidak denganmu,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala. Daniel melihat Gerard yang kini tengah mengendap-endap mendekati mereka, ia memberi tanda dengan tangannya agar Gerard jangan dulu bergerak yang dapat anggukan mengerti dari sahabatnya itu.


“Tidak! Kekuatannya sekarang 2X lebih besar dari yang tadi. Kau tak akan selamat,” ucap Harry sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Harry.. kau telah mencoba membunuhku 2X, tapi lihat.” Daniel merentangkan kedua tangannya untuk memerlihatkan kalau dia baik-baik saja, “Aku selamat sampai sekarang... apa kau mau melihat keadaan Matt? Hanya dengan satu tembakan dan dia sudah tak bernyawa lagi... cckk-cck-cck kalian sangat ...le-mah.”


Harry kembali tak bisa mengendalikan amarahnya, dia meraung sambil menerjang Daniel seperti harimau menerjang mangsanya, ia bahkan sampai melupakan alat pemicu yang dari tadi digenggamnya kini sudah terlepas, melihat itu Daniel kembali berteriak.


“G! Alatnya!” Gerard yang berdiri tak jauh dari mereka langsung berlari kemudian melompat ke arah hamparan bunga tulip untuk menangkap alat pemicu yang terlempar, tapi telat baginya karena alat itu terjatuh dalam posisi terbalik hingga secara tak langsung alat itu terpijit ketika menyentuh tanah.


“SIAL, D!!” Seru Gerard dengan mata terbelalak menatap Daniel yang tengah menghajar Harry.


Menyadari reaksi Gerard membuat Daniel ikut memaki dan menghajar Harry dengan sekuat tenaga, hingga pria itu tergeletak tak bergerak dengan berlumuran darah di antara hamparan bunga tulip putih bercak merah.

__ADS_1


“DANIEL... GERARD!” Raina berteriak setelah menyadari bom di atas tubuhnya kini mulai aktif.


*****


__ADS_2