The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 12


__ADS_3

Kerelyn menatap pantulan dirinya di depan kaca, “Oh tidak, gaun ini membuatku terlihat seperti semangka.” Ia membuka dres berwarna hijau tua dengan garis-garis hijau muda lalu melemparnya ke atas kasur dimana telah berserakan pakaian lainnya yang bernasib sama. Entah kenapa malam ini sepertinya tidak ada satupun pakaian yang cocok di tubuh langsingnya. Ia kembali membuka lemari pakaiannya dan akhirnya membuang napas berat ketika hanya tersisa beberapa helai gaun saja di dalam lemarinya.


“Sial, seharusnya aku pergi beli pakaian tadi!” Ia berbalik lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tumpukan pakaian yang berserakan di atas kasurnya.


“Ayolah, Kerelyn, ini hanya makan malam biasa bukan kencan!” Ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri lalu kembali bangkit dari tidurnya kemudian duduk bersila dengan hanya menggunakan pakaian dalam berendanya, “Kau bahkan belum tahu kemana Daniel akan membawamu untuk makan malam... jadi yang harus kau lakukan hanya berdandan yang cantik dan buat dia tertarik padamu.” Kerelyn mengangguk puas dengan pemikirannya sendiri.


Dan setelah kembali bergulat dengan pemilihan pakaiannya ia akhirnya menyerah dengan hanya menggunakan celana panjang coklat dan sebuah blus sederhana, ia mengenakan kalung manik-manik sebagai hiasan dan sepertinya Daniel puas dengan penampilannya itu. Jadi di sinilah mereka berada saat ini di sebuah restoran Italia yang terletak di Little Itali, restoran yang cukup terkenal dengan Saltimbocca-nya.


“Apa kau yakin tidak mau mencoba ini?” Daniel menunjuk Saltimbocca yang ia pesan tadi.


Dan demi Tuhan, Kerelyn hampir saja meneteskan air liurnya ketika melihat hidangan yang dimasak dengan gabungan daging ayam, prosciutto ham, bayam dan keju mozzarella itu tersaji di atas piring dan dihias dengan sangat cantik. Tapi tidak, ia harus puas dengan pasta Primavera miliknya saja, mengingat ia harus menjaga bentuk tubuhnya jadi ia hanya memesan hidangan vegetarian kombinasi sayuran dan pasta dengan berbagai macam saus cerah layaknya warna mesim semi itu.


”Tidak, terimakasih,” jawabnya singkat.


“Aku heran kenapa perempuan suka sekali makan rumput.”


Kerelyn tertawa mendengar ucapan Daniel yang kini tengah menikmati makanannya yang super lezat itu, “Yeah, tapi rumput ini bisa membuat penampilan kami tetap cantik.”

__ADS_1


“Kau hanya perlu pergi ke salon kecantikan untuk tampil cantik dan berolahraga untuk menjaga berat badanmu.. Jadi Kerelyn, ayo kita menikmati hidup.”


Daniel menyodorkan garpu dengan saltimboccanya tepat di depan mulut perempuan itu, Daniel memberi printah dengan matanya agar ia membuka mulutnya, walau ragu tapi akhirnya dengan terpaksa Kerelyn menurutinya dan sejurus kemudian matanya terbelalak ketika merasakan kenikmataan dari makanan itu.


Daniel tersenyum puas melihat ekspresi wajah perempuan yang duduk di hadapannya itu, “Enak bukan?” Kerelyn mengangguk dengan semangat membenarkan perkataan pria yang kini menatapnya sambil tersenyum.


“Kerelyn tidak ada salahnya kau sekali-kali makan makanan seperti ini.. lupakan kekhawatiranmu tentang menjaga berat badan dan penampilanmu, sekali-kali kau perlu keluar dari batasan-batasan itu dan menikmati hidup.”


Kerelyn terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk, “Kau benar... aku akan mencobanya, tapi... kita harus merahasiakan ini dari Eddy, kalau dia mengetahui aku makan-makanan seperti itu.. hmm dia akan mengurungku di gym.” Kerelyn meringis membayangkan hal itu.


“Tenang saja, kalau sampai itu terjadi aku akan membebaskanmu.”


****


“Sial!! Dasar perempuan ja*a*g!” Ia meremas koran yang berisi berita kencan Kerelyn dan Daniel malam tadi di Little Itali lalu melemparkannya ke lantai. Cuping hidungnya kembang kempis, tangannya berkaca pinggang, ia berjalan mundar-mandir dengan napas memburu.


“Aku yang melindungingya selama ini dari semua bahaya, AKU!” teriaknya membahana di dalam rumah kosong itu.

__ADS_1


“Tapi sekarang dia berkencan dengan pria lain, apa dia tidak belajar dari pengalaman kalau mereka hanya akan melukainya, seperti waktu dulu.” Pria itu menggeram lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu tua dengan bantalan busa yang sudah menipis berwarna hijau bermotif bunga yang sudah usang.


Kepalanya menengadah bertumpu pada sandaran kursi menatap kipas angin yang berputar dengan suara menderit, seolah terhipnotis ia terdiam beberapa saat dalam posisi itu sampai telepon genggamnya berbunyi, ia merogoh saku celananya dan dengan malas ia melihat layar teleponnya, seketika ia duduk tegak, senyum mengembang menghiasi bibirnya. Wanita itu, tentu saja ia tak akan bisa hidup tanpa dirinya.


“Hallo, Kerelyn, ada apa menghubungiku malam-malam? Apa kau baik-baik saja?” Suara pria itu telah kembali normal seutuhnya tak ada lagi sisa amarah yang beberapa saat lalu terlihat.


“Tidak, aku sedang berada di luar,” lanjutnya sambil menatap rumah kosong yang tak terawat.


“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti.” Dia baru akan menutup teleponnya ketika ia kembali memanggil gadis berambut merah itu.


“Kerelyn tunggu! Hmm.. mengenai artikel di koran-koran apa itu benar? Kau tidak usah khawatir aku akan menjaga rahasiamu.”


Beberapa detik yang menegangkan dan membuat dadanya berdetak hebat ketika menunggu jawaban dari gadis itu, dan akhirnya senyumpun terbit karena merasa puas dengan jawaban yang diterimanya.


“Jadi hanya makan malam biasa? Baiklah aku paham, tak usah khawatir.” Ia menutup teleponnya dengan senyuman di wajah.


“Aaah aku tahu, dia tak akan mengecewakanku, mereka hanya makan malam bersama... tidak lebih.”

__ADS_1


Ia berjalan menuju sebuah pintu belakang yang terbuat dari kayu, dengan perlahan ia membukanya, halaman belakang itu tampak gelap dan sunyi, terlihat suram dan menakutkan, ia lalu menyeringai menatap ke depan, dalam keremangan cahaya bulan ia bisa melihat sepetak tanah yang terlindungi oleh pagar seng tinggi, menyembunyikannya dari dunia dimana terhampar kebun bunga tulip putih dengan bercak merah di atasnya. Tentu saja Kerelyn tidak akan mengecewakannya, justru akan berterima kasih padanya seandainya mengetahui berapa banyak yang telah ia singkirkan demi menyelamatkannya dari bahaya, dan sekarang orang-orang itu telah terbujur kaku tak bernyawa, tak akan sanggup untuk melukai wanitanya. Ia tertawa keras ketika menyadari kata terakhir, wanitanya... ya Kerelyn Howard adalah wanitanya, dan tak akan ada yang bisa melindungi perempuan itu seperti dirinya.


***


__ADS_2