The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 37


__ADS_3

Dari pagi Daniel duduk di ruangan editing memeriksa berita masuk yang akan ditayangkan nanti malam, matanya fokus menatap layar di hadapannya, sesekali ia akan menyuruh editor, seorang pria berkulit hitam awal 30an yang duduk di sampingnya untuk memotong bagian-bagian yang dianggapnya tidak perlu. Entah sudah berapa jam mereka duduk di ruangan sempit itu, mereka bahkan makan siang di dalam sana, dan kini hanya perlu sentuhan akhir sebelum semuanya selesai. Daniel menepuk pundak rekannya dan memuji pekerjaannya sebelum keluar dari ruangan itu. Ia merasa sangat lelah walaupun hanya duduk seharian di depan layar, berbeda ketika ia bekerja di lapangan sebagai cameraman ataupun photografer ia tak pernah merasa lelah karena itu adalah hobinya, ia tak pernah menganggapnya pekerjaan karena ia menikmatinya. Tapi ia tak boleh egois dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri, ia harus memikirkan keluarganya, ia harus berada di dekat mereka ketika mereka membutuhkannya, kejadiaan yang menimpa Emily dan Alexa memberinya banyak pelajaran.


Ia baru saja meregangkan badannya ketika merasa ponsel di dalam saku celananya bergetar, ia merogoh untuk mengambil benda itu lalu menerima panggilan itu setelah melihat nama Alex di layar poselnya.


“Hallo.”


“D, kami berhasil menangkap orang yang mencuri mobilmu.”


Seketika amarah membuatnya bersemangat ketika mendengar ucapan Alex.


“Bagus! Aku akan ke sana sekarang.” Daniel berkata sambil menutup ponselnya kemudian berjalan dengan cepat keluar dari kantor, dengan tak sabar dia menunggu taxi yang lewat dan akhirnya sebuah taxi mendekatinya lalu setelah menghentikan mobil kuning itu ia langsung naik dan meminta sopirnya untuk melaju cepat ke NYPD.


Setibanya di kantor polisi, Daniel langsung masuk ke dalam mencari Alex, dia sudah tak sabar untuk bertemu orang yang telah membuat mobil kesayangannya tak berbentuk lagi, tangannya sudah gatal ingin memukulnya walaupun itu kecil kemungkinan karena para polisi pasti melarangnya.


“D!”


Daniel menatap sekeliling mencari arah suara Alex dan dia mendapatinya tengah berdiri di dekat meja salah satu polisi yang tengah melakukan introgasi terhadap seorang pria awal 20an dengan tubuh kurus, rambut gondrongnya terlihat berantakan, dia mengenakan kaos putih dengan tulisan ‘Police is a LOSER’ dengan warna merah menyala dan tepat di bawah tulisan itu ada gambar karikatur seorang polisi lengkap dengan seragam dan senjatanya tengah berlari karena dikejar seorang anak punk dengan rambut mohak tajam dan sebuah pentungan di tangannya. Tangan pria itu terborgol ke belakang dan ia bisa melihat beberapa luka di tubuhnya.


“Apa dia orangnya?” tanya Daniel dengan emosi membuncah hingga harus ditahan oleh Alex.


“Man, tenang dulu.”


“Tenang? ******** itu telah membuat mobilku hancur tak berbentuk. Sekarang lepaskan aku,” ucap Daniel sambil kembali maju ke arah pria yang menjadi tersangka pencurian mobilnya, dan kali ini Alex harus dibantu rekannya untuk menahan Daniel yang terlihat sangat marah.


“Wow, man, dengarkan detektif itu, kau harus tenang,” ujar pria itu sambil berdiri lalu mundur kebelakang karena melihat Daniel yang sangat marah


.


“Kau menyuruhku tenang! Lihat saja, aku akan menghabisimu!” Geram Daniel sambil menatap pria itu tajam.

__ADS_1


“Hei, jangan salahkan aku kalau mobilmu hancur. Aku hampir saja mati karena mobil jelekmu itu.”


“Mobil jelek! Kau bilang mobilku jelek!” Amarah Daniel kembali tersulut setelah orang yang membuat mobilnya hancur malah menghina kendaraan yang ia rawat seperti anaknya sendiri.


“Hei, itu memang kenyataan mobilnya memang jelek, seharusnya kau merawat mobil seperti itu dengan benar. Kau lihat tubuhku terluka ketika aku harus melompat keluar untuk menyelamatkan nyawaku karena remnya tak berfungsi. Ah sial! Aku tak seharusnya mencuri mobil jelek seperti itu,” ucapnya yang kembali membuat amarah Daniel tersulut sampai akhirnya Alex menyeretnya keluar dari ruangan untuk menenangkannya.


“Kau dengar itu, A?” tanya Daniel dengan berapi-api menatap sahabatnya yang hanya menatapnya santai.


“Aku tak percaya ini... ******** itu mencuri mobilku lalu menghancurkannya dan sekarang dia mengatakan kalau mobilku jelek!” Seru Daniel sambil berjalan mundar-mandir di trotoar kantor NYPD menyalurkan amarahnya.


Alex mengangguk sebelum bertanya, “Apa kau merasa ada yang salah ketika mengendarinya kemarin?”


“Kau percaya padanya?” Daniel bertanya sambil menatap Alex dengan pandangan tak percaya.


“Tidak, bukan seperti itu... dia mengatakan kalau remnya blong, apa kau tidak merasakan keanehan malam itu?”


Daniel menggeleng dengan yakin, “Kalau ada yang salah dengan mobil itu apa menurutmu aku akan berani mengajak Kerelyn pergi ke swalayan dengan mengendarainya?”


Dia sangat tahu bagaimana Daniel sangat menyayangi mobil Mustang biru itu, dia tak akan membiarkannya lecet walaupun hanya sedikit apalagi kalau sampai kerusakan fatal seperti rem yang blong. Tapi seseuatu mengganggu pikiran Alex, beberapa saat dia hanya terdiam sebelum akhirnya berjalan menuju tempat parkir.


“Ayo, D,” ucapnya sambil memberi kode dengan kepalanya agar Daniel mengikutinya.


“Kita mau kemana?” tanya Daniel sambil mengekor di belakang Alex.


“Mencari tahu apa dia berbohong apa tidak.” Alex berkata sambil menyalakan mobilnya dan mulai meninggalkan parkiran kantor NYPD.


Tak berapa lama mereka sampai di tempat pembuangan mobil-mobil bekas untuk kemudian dihancurkan, mereka turun dari mobil kemudian mencari mobil Daniel ditemani oleh salah satu petugas di sana setelah Alex sebelumnya memerlihatkan lencana polisinya.


“Aku tak percaya kau memercayai ******** itu,” Daniel bertanya sambil terus berjalan memasuki tempat dimana kanan kirinya terdapat tumpukan mobil-mobil yang sudah hancur.

__ADS_1


“Aku percaya kalau kau merawat mobilmu dengan sangat baik, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku,” ujar Alex berusaha menenangkan sahabatnya, biasanya Daniel-lah yang selalu bisa berpikir jernih dalam kondisi apapun, tapi sekarang sepertinya ia tak bisa melakukan itu.


“Apa itu?”


“Apa menurutmu dia akan melukai dirinya sendiri dengan lompat dari mobil dan membiarkan mobil yang dengan susah payah dicurinya hancur?” Daniel terdiam memikirkan perkataan Alex yang ada benarnya, “Aku tahu kalau kau menyayangi mobilmu seperti seorang kekasih, tapi mungkin saja dia ada benarnya, dan kita akan mencari tahu sekarang." lanjut Alex, mereka berbelok ke arah kanan dimana terparkir mobil-mobil yang akan segera dihancurkan setelah datang surat perintah penghancuran.


“Kau harus percaya padaku, aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada kekasihku... kalau Gerard mencintai komputer, maka aku mencintai mobilku.”


Alex mendengus tertawa mendengar ucapan Daniel, dan memang seperti itulah kenyataannya mereka berdua mencintai kedua benda itu seperti kekasihnya sendiri, “Kalau dipikir-pikir hanya aku yang normal di antara kalian berdua.” Daniel menatap Alex sambil mengangkat alisnya tak mengerti, “Karena hanya akulah yang mencintai wanita,” lanjut Alex sambil tersenyum miring, membuat Daniel tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“Well, ini dia kekasihmu,” ucap Alex sambil menatap mobil Mustang biru dengan dua buah garis vertikal berwarna putih di kap depannya yang sudah penyok, begitu pula dengan atapnya karena sepertinya pencuri itu mengendarainya dengan kecepatan penuh sebelum akhirnya menghantam bahu jalan lalu terbalik dan sempat terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti dengan menabrak tiang listrik.


Daniel hanya bisa menatap sedih sambil membuang napas panjang menatap benda kesayangannya dengan sedih, Alex memerintahkan petugas untuk memeriksa kabel rem untuk melihat apa ada kejanggalan atau tidak. Daniel melongok ke dalam dari jendela dan dia kembali membuang napas berat ketika melihat interior kendaraannya terlihat berantakan, tapi kemudian ia mengerutkan alisnya ketika melihat kelopak bunga tulip putih terselip di bawah kursi sopir, merasa penasaran dia membuka pintu mobilnya walaupun dengan susah payah tapi akhirnya pintu itupun terbuka juga.


“Apa yang kau temukan?” tanya Alex merasa penasaran melihat Daniel yang sedang merogoh sesuatu di bawah kursi, alis matanya terangkat ketika dia melihat Daniel menarik setangkai bunga tulip dengan hanya beberapa kelopak yang sudah hancur yang menempel di sana.


“Apa itu bunga yang akan kau berikan kepada Kerelyn?”


Daniel menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Alex, dia terdiam berpikir sebelum akhirnya dia berkata, “Aku ingat pernah melihat Kerelyn beberapa kali menerima bunga seperti ini, tapi aku yakin malam itu bunga ini tak ada di dalam sini.”


Beberapa saat mereka hanya saling pandang dengan berbagai pemikiran melintas di kepala masing-masing, “Maksudmu seseorang dengan sengaja menaruhnya di dalam mobilmu?”


Daniel baru akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Alex ketika petugas yang ditugaskan Alex memeriksa kabel rem memanggil keduanya, kini mereka berdua menghadap sang petugas yang kemudian menunjukan sesuatu.


“Sepertinya seseorang telah memotong kabel remnya.”


****


Haii... nah ternyata ada sabotase, seseorang memotong kabel rem mobil Daniel!

__ADS_1


Ada yang bisa nebak siapa? 😉


Ah! di episode selanjutnya sepertinya akan ada beberapa clue.. sebetulnya sih, dari eps awal clue nya sdh bertebaran 🤭 asal teliti pasti ketebak 😉


__ADS_2