The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 6


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Daniel keluar dari mobilnya dan tengah berjalan menuju lift ketika ia melihat Kerelyn berjalan sambil dipapah oleh Eddy.


"Ya Tuhan, Kerelyn, apa yang terjadi?" Daniel setengah berlari ke arah mereka, dari dekat dia bisa melihat pergelangan kaki kanan perempuan itu yang digips.


"Tidak apa-apa, tadi ada sedikit kecelakaan di lokasi shooting," jawab Kerelyn sambil berusaha tersenyum.


"Bagaimana papan-papan itu ada di sana dan tiba-tiba menimpamu? Demi Tuhan, aku harus membicarakan ini dengan Steve, dan memecat siapapun yang meletakan papan sialan itu!" Seru Eddy. Daniel bisa melihat kalau manager Kerelyn itu sangat marah melihat artisnya terluka dan itu merupakan reaksi yang wajar.


"Eddy... kau bisa pulang sekarang, Daniel bisa membantuku.. apa kau tidak keberatan mengantarku sampai atas?" Tanya Kerelyn sambil menatap Daniel memohon, bukan hanya kakinya yang sakit tapi juga telinganya karena harus mendengar omelan Eddy sepanjang jalan.


"Aku tidak keberatan... aku akan membantumu," ujar Daniel memahami arti tatapan menderita Kerelyn.


Eddy menatap Daniel dan Kerelyn bergantian, sebelum akhirnya ia menyerahkan gadis itu ke tangan Daniel walaupun dengan sedikit ragu.


"Dengar, kakinya keseleo, dokter bilang tidak ada yang parah tapi jangan biarkan dia berjalan sendirian, dan pastikan dia untuk istirahat."


"Tidak usah khawatir aku akan menjaganya," ujar Daniel sambil merangkul tubuh Kerelyn.


"Baiklah, aku percaya padamu... Kerelyn, Steve sudah memberi ijin beberapa hari untukmu beristirahat, begitu juga dengan Bos, dia memintamu untuk beristirahat, tidak usah khawatir mengenai jadwalmu, aku akan mengurusnya, jadi yang perlu kau lakukan hanya istirahat, jangan terlalu banyak berjalan, tetap di tempat tidur, paham?"


Eddy menatap Kerelyn dengan serius, matanya menyiratkan rasa khawatir yang dalam.


"Aku paham, Ed, sebaiknya kau pulang sekarang."


Eddy mengangguk sambil memutar tubuhnya dengan ragu, Kerelyn dan Daniel baru saja akan melangkahkan kaki ketika terdengar kembali suara cemas milik Eddy.


"Apa aku perlu menghubungi Ibumu, supaya dia datang untuk menjagamu?"


Kerelyn memutar bola matanya mendengar reaksi berlebihan dari managernya itu.


"Eddy, aku cuma keseleo jadi kau tidak perlu menghubungi Ibuku dan menyuruhnya datang jauh-jauh dari Lousiana ke New York, itu hanya membuatnya khawatir."


"Baiklah aku tidak akan menghubunginya, tapi yang ini kau tidak boleh menolak, mulai besok aku akan menyuruh Maria datang ke sini untuk menjaga dan membantumu."


"Baiklah... sekarang kau bisa pulang, Ed."


Eddy mengangguk puas walaupun matanya masih menyiratkan rasa khawatir.

__ADS_1


"Ingat, jangan kemana-mana sendirian dan istirahat yang banyak ok!" Ujar Eddy sambil berjalan mundur.


"Eddy...!!" Geram Kerelyn sambil menatapnya tajam yang langsung saja membuat managernya itu membalikkan badan lalu pergi menuju mobilnya.


"Dia pria yang baik," ujar Daniel sambil tersenyum, kini mereka berjalan ke arah lift dengan perlahan-lahan.


"Iya... tapi percayalah, dia lebih cerewet daripada Ibuku," ucap Kerelyn sambil memutar bola matanya yang membuat Daniel kembali tersenyum sambil memijit tombol lift. Setelah menunggu beberapa saat pintu lift-pun akhirnya terbuka, sambil memapah Kerelyn masuk ke dalam benda kotak itu Daniel memijit angka 14, lantai apartemen mereka.


"Jadi bagaimana ini bisa terjadi?"


"Entahlah, kejadiannya sangat tiba-tiba, aku dan Matt sedang beradegan di dalam sebuah gudang ketika tiba-tiba para kru berteriak, aku tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi karena Matt langsung menghadangku, kami berdua terjatuh lalu dia melindungiku dengan tubuhnya. Saat jatuh itulah kakiku keseleo, tapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi dengan Matt, dia harus di rawat di Rumah Sakit malam ini karena cedera di punggungnya akibat papan-papan yang jatuh menimpa tubuhnya."


"Ya Tuhan, apa lukanya serius?"


"Dokter bilang dia mengalami cedera tulang punggung tapi untung saja tidak terlalu parah, dia hanya perlu istirahat selama beberapa hari."


"Apa papan-papan itu sebelumnya memang ada di sana?"


Kerelyn mengerutkan keningnya mencoba mengingat kondisi di dalam gudang tadi.


Daniel terdiam mencoba berpikir hal buruk dari kejadian malam ini, apakah ini hanya murni sebuah kecelakaan atau memang sudah direncanakan? Memang terlalu dini untuk mengatakan kalau ini sudah direncanakan, tapi peringatan Alex mengenai Simon malam tadi cukup membuat Daniel akan berpikir ulang kalau ini hanya sebuah kecelakaan biasa.


Suara bel lift yang menandakan mereka telah sampai di lantai tujuan menyadarkan lamunan Daniel, dia kembali merangkul tubuh Kerelyn lalu memapahnya menyusuri lorong menuju apartemen mereka.


Sesekali Kerelyn mencuri pandang ke arah pria di sampingnya, hidungnya bisa mencium sisa-sisa wangi parfum yang sudah tercampur dengan wangi feromon pria itu seolah-olah seperti aromaterapi yang menenangkan syaraf-syaraf dalam tubuhnya tapi juga memiliki zat adictive yang membuat ketagihan dan jantungnya berdebar kencang.


Kerelyn diam-diam tersenyum, dia harus berterima kasih kepada siapapun yang menaruh papan-papan itu di sana yang telah membuat kakinya terluka dan karena alasan itu ia akhirnya bisa merasakan berada dalam pelukan Daniel Winchester, pria yang ia sukai selama ini. Apa yang selalu dikatakan orang-orang memang benar, semua pasti ada hikmahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Daniel sambil menatap Kerelyn dengan wajah bingung karena tiba-tiba mendengar perempuan itu cekikikan sendiri.


"I..iya, aku baik-baik saja," ucap Kerelyn dengan wajah memerah karena malu, kini dalam hati ia mengutuk diri sendiri bagaimana bisa dia bertingkah seperti remaja yang kasmaran.


"Baiklah.. kita sudah sampai," ujar Daniel, mereka kini berdiri di depan pintu 1407 yang merupakan apartemen milik Kerelyn, ia membuka pintunya dan Daniel kembali membantu gadis itu hinggu duduk di atas sofa empuk berwarna krem, sebuah TV LED 42' menempel di dinding dan vas bunga kristal berbentuk ramping yang hanya memuat satu tangkai bunga tulip putih dengan bercak-bercak merah di setiap kelopaknya yang kini terlihat sudah layu, menghiasi meja kaca sofa.


Mata Daniel menelusuru ruangan yang sama dengan apartemen miliknya, yang membedakan hanya interiornya saja, berbeda dengan apartemennya yang tampak maskulin dengan warna-warna coklat, putih dan nuansa kayu yang mendominasi seluruh ruangannya, ruangan milik Kerelyn sarat dengan warna lembut khas seorang perempuan.


"Baiklah, sebaiknya aku pergi sekarang supaya kau bisa beristirahat," ucap Daniel sambil berdiri menjulang di depan Kerelyn yang sudah duduk berselonjor di atas sofa, "Kalau kau perlu apa-apa kau bisa menghubungiku kapan saja," lanjutnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih sudah membantuku," Kerelyn berkata sambil tersenyum walaupun dalam hati ia masih menginginkan pria itu untuk tinggal lebih lama.


"Tidak masalah, bukankah kemarin juga kau telah merawatku? Jadi ku pikir sekarang giliranku untuk menjagamu," ucap Daniel sambil tersenyum, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah ketika ia teringat sesuatu yang membuatnya menatap Kerelyn penuh selidik.


"Kerelyn, apa kau tidak ingin merawat Matt? Maksudku bukankah dia terluka karena telah melindungimu?"


Kerelyn menatap Daniel dengan pandangan bingung setelah mendengar pertanyaan pri itu.


"Tidak... maksudku, tentu saja aku berterima kasih karena dia telah menolongku dan aku telah mengatakan padanya tadi, rencananya besok aku akan meminta Eddy untuk mengirimkan karangan bunga sebagai ucapan terima kasih yang lebih formal."


Sebuah senyuman terbit menghiasi wajah Daniel ketika dia mendengar ucapan Kerelyn, dia kembali teringat prediksi Alex dan Alexa semalam tentang perasaan gadis itu, apa mungkin itu benar? Tapi seorang Kerelyn Howard menyukainya? Itu tidak mungkinkan? Tapi keraguan dari pertanyaanya itu tidak membuat senyumnya hilang bahkan sampai ia masuk ke dalam apartemennya, senyumnya pun berganti dengan siulan riang.


***


Pria itu merapatkan jaketnya, kerahnya ditarik untuk melindungi lehernya dari terpaan hujan yang mengguyur malam itu, sebelah tangannya diangkat untuk menutupi kepalanya, sedangkan sebelah lagi digunakan untuk menggenggam telepon yang bertengger di telinganya, ia berjalan dengan cepat ke arah lapangan parkir mobil yang tampak sepi malam itu.


"Tidak, aku tidak membunuhnya, bukankah kau bilang hanya untuk menakutinya saja... tidak, lukanya tidak parah, aku dengar hanya keseleo saja... tidak, tentu saja keseleo tidak membuatnya takut... baiklah, aku akan memastikan lain kali akan membuat luka yang cukup serius."


Ia menutup teleponnya dengan muka kesal, "Sial! Seharusnya baj*ngan itu tidak menolongnya!"


Geramnya, kedua tangannya meninju udara kosong hanya untuk menyalurkan kekecewaannya karena telah gagal.


Ia kembali melanjutkan jalannya, lapangan parkir itu terlihat lenggang hanya ada beberapa mobil yang tersisa, pencahayaan yang remang-remang, letaknya yang jauh dari keramaian ditambah guyuran hujan membuat siapapun akan berpikir dua kali untuk berjalan sendirian di sana pada malam hari dan seharusnya pria itu melakukannya sebelum berjalan dalam kesunyian di bawah guyuran hujan. Langkahnya semakin pelan ketika ia merasakan seseorang mengikutinya, ia berhenti melangkah, alisnya berkerut mencoba mempertajam pendengarannya, tapi ia tak mendengar suara apapun selain suara hujan, ia membalikkan badan, matanya disipitkan untuk melihat sekeliling lapangan yang terlihat sepi tapi instingnya cukup kuat dan ia yakin seseorang tengah mengintainya di suatu tempat.


"Keluarlah!" Teriaknya diantara guyuran hujan yang bertambah deras.


"Aku tahu kau bersembunyi di sana, dasar pengecut! Keluarlah kalau berani!" Teriaknya kembali, tapi tidak ada yang menanggapi teriakannya. Ia menatap sekeliling yang masih terlihat sepi, keningnya kembali berkerut mungkin kali ini instingnya yang salah.


Ia baru saja membalikan badan ketika tiba-tiba sebuah besi menghantam kepalanya dengan sekuat tenaga hingga terjatuh, kepalanya terasa pecah, raungan kesakitanpun keluar dari mulutnya memecah suara derai hujan, darah mengalir dari kepala membasahi wajahnya, ia mencoba membuka mata walau terasa sakit, dalam keremangan pandangannya ia melihat sesosok pria di balik jas hujan berwana gelap berdiri menjulang di atasnya dengan sebuah tongkat baseball di tangannya, sosok itu perlahan membungkuk di atasnya, tiba-tiba matanya membelalak ketika mengenali sosok itu.


"K...kau," ujarnya tak percaya kalau orang yang ia kenal selama ini berani berbuat hal ini padanya, tapi sorot matanya berbeda dari sorot mata yang ia kenal, sorot mata orang yang kini berdiri di hadapannya bisa membuat siapapun merasakan ketakutan hingga menembus tulang, seolah mata itu milik Lucifer yang bersemayan di dalam tubuhnya.


Seringai iblis menghiasi wajah sosok berjas hujan itu sebelum akhirnya ia kembali berdiri tegak, lalu tanpa aba-aba ia menghantam tanpa ampun kepala pria itu menggunakan tongkat baseball hingga membuat korbannya tak bergerak lagi. Sosok itu berdiri menatap tubuh yang sudah tak bernyawa, kepalanya terluka parah mengeluarkan darah segar yang kini bercampur dengan air hujan yang menggenang di sekeliling mereka.


"Ya, ini aku," bisiknya dengan suara dingin sambil mengeluarkan satu tangkai tulip putih dari balik jas hujannya, kemudian dengan perlahan ia taruh di atas tubuh tak bernyawa itu. Untuk terakhir kalinya ia kembali menatap korbannya, sebelum akhirnya berjalan menjauh. Malam itu diantara derasnya suara guyuran hujan sayup-sayup terdengar suara siulan dari melodi lagu anak-anak yang menyayat hati, membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya akan berdiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2