
Alexa tak menyangka kalau Kerelyn benar-benar mengundang Ethan, pria yang pernah membuatnya terluka dengan pengkhianatannya. Ia telah menolak ide kekasih Daniel itu dengan mengajak Ethan datang ke pesta hari ini tapi rupanya penolakannya malam itu sia-sia.
“Aku sangat merindukanmu,” lanjut Ethan sambil mengecup pipi Alexa yang membuat gadis itu langsung tersadar.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alexa setelah sadar dari keterkejutannya.
“Kerelyn, mengundangku jadi di sinilah aku sekarang,” jawab Ethan dengan senyum masih mengembang.
“Aku ingin mengenalkannya kepada Raina, apa kau tak keberatan, Lexa?” Kerelyn sepertinya harus turun tangan di sini, ia merasa tak enak dengan menentang keingingan Alexa untuk tidak mengundang Ethan, tapi adiknya adalah satu-satunya kandidat yang kuat untuk menyadarkan dua pria bodoh yang kini berdiri di hadapannya sambil menyaksikan mereka berdua.
“Tidak, sama sekali tidak, asal dia tak mengkhianatinya atau aku akan mendangnya lagi,” ucap Alexa sambil menatap Ethan galak, lalu berjalan meninggalkan pria itu dan berdiri di samping Alex yang langsung tersenyum miring penuh kemenangan sambil menatap Ethan yang berjalan ke arah mereka.
“Aku tahu kalau aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan aku sangat menyesal... aku mohon maafkan aku, aku tak akan mengulang kesalahan yang sama, aku berjanji,” ucap Ethan bersungguh-sungguh dan Alexa bisa melihat ketulusan dari ucapannya, semua orang kini menunggu jawabannya yang terlihat masih memikirkan permohonan itu.
“Baiklah, aku memaafkanmu.”
Ethan langsung tersenyum bahagia, dia kembali memeluk Alexa dengan semangat sebagai ucapan terimakasih dan Kerelyn bisa melihat mata Alex yang membelalak marah melihat itu, dan kini ia yakin kalau sahabat Daniel itu telah jatuh cinta kepada gadis bermata amber itu.
“Thank you soo much, Baby.”
“Dia bukan bayi, jangan memanggilnya seperti itu.”
Ethan hanya menatap Alex malas mendengar sindiran darinya, “Apa aku harus memanggilnya, Sweetheart? Atau Darling?” ujar Ethan sambil menatap Alex, aura persaingan mulai terasa diantara mereka berdua.
“Apa mulutmu belum pernah makan pohon kaktus?” balas Alex tak kalah dingin menatap Ethan.
“Aku baru tahu kalau kaktus bisa dimakan,” ucap Alexa dengan polos membuat Ethan tertawa dan yang lainnya harus menahan tawa mereka karena melihat Alex yang menatap Alexa dengan galak, “Alex, pastikan kaktus yang ingin kau berikan padanya memiliki duri yang sangat banyak,” lanjut Alexa sambil menatap Alex serius yang membuat sang detektif mengeluarkan seringai kemenangannya.
“Tenang saja, aku akan memeriksa setiap durinya terlebih dahulu.”
“Bagus!”
“Baby, kita baru saja berdamai,” ucap Ethan yang hanya membuat Alexa mengangkat bahunya santai dan lagi-lagi Alex tersenyum bahagia ,”Baiklah sebagai perdamaian kita maukah kau berdansa denganku?” pinta Ethan sambil menatap Alexa lembut.
“Jangan berharap terlalu banyak, Man, malam ini dia pasanganku,” ujar Alex sambil merangkul bahu Alexa, “Ayo kita berdansa!” lanjut Alex sambil menarik Alexa ke arah lantai dansa, Kerelyn tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya ketika melihat pasangan itu mulai berdansa dan melihat Alex mulai meringis karena terinjak oleh kaki Alexa.
“Apa dia kekasihnya, Lexa?” tanya Ethan merasa penasaran karena tingkah Alex yang terlihat sangat tidak menyukainya ketika berdekatan dengan gadis berambut coklat itu.
“Bukan, dia adalah pengawal bayanganya Lexa,” jawab Daniel sambil menatap Alex dan Alexa yang terlihat beradu argumen sepanjang dansanya, dia kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala, jujur saja tadi dia sempat berpikir kalau Alex menyukai Alexa ketika melihat bagaimana Alex marah seolah-olah cemburu kepada Ethan, tapi itu ternyata hanya pikirannya saja, mereka tetaplah pasangan Tom and Jerry yang selalu bertengkar setiap kali bertemu.
“Jadi, Raina, maukah kau berdansa denganku? Dan kau bisa ceritakan tentangmu ketika kita berdansa,” ucap Ethan sambil menjulurkan tangannya.
“Maafkan aku, tapi dia pasanganku malam ini,” ucap Gerard meniru ucapan Alex tadi, Raina menatap pria berkaca mata itu lalu menatap Kerelyn yang tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
“Tapi kau sudah memiliki pasangan lain malam ini,” ujar Raina sambil menerima uluran tangan Ethan meninggalkan Gerard yang menganga tak percaya mendengar ucapan gadis berambut hitam itu yang telah membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri selama beberapa hari terakhir ini.
__ADS_1
“Kalian lihat itu? Bagaimana mungkin dia berdansa dengan pria lain, dia adalah pasanganku.”
“Kau bisa mengajak Sarah berdansa,” ujar Kerelyn yang membuat Gerard tersadar kalau ada seorang gadis yang berdiri di sampingnya dari tadi.
Dia mengutuk dalam hati, bagaimana bisa dia melupakan Sarah, bukankah dia yang mengajaknya dan ini untuk kesekian kalinya dia melupakan gadis yang ia sukai dari zaman kuliah dulu, dan semuanya disebabkan oleh gadis yang kini terlihat sedang tertawa bahagia dalam rangkulan pria lain. Gerard mengerutkan alisnya berpikir ketika tiba-tiba dia merasakan hatinya sangat sakit dengan amarah membuncah, kenapa dia sangat marah melihat Raina tertawa dan berdansa dengan pria lain? Apa mungkin dia menyukai gadis itu?
“Sial, aku sangat bodoh,” bisik Gerard kepada dirinya sendiri ketika menyadari perasaanya, suasana hingar bingar membuat tak seorangpun mendengar ucapannya itu, tapi Kerelyn yang dari tadi memang tengah memerhatikannya bisa mendengar itu semua, dan itu membuatnya mendekatkan kepalanya ke arah Gerard yang terlihat bingung melihatnya, ia membungkuk ketika melihat Kerelyn akan mengatakan sesuatu.
“Memang, kau sangat bodoh,” bisik Kerelyn sambil tertawa bahagia yang mengagetkan Daniel, “Ayo kita berdansa,” ujarnya sambil menarik kekasihnya yang masih terlihat bingung.
“Kerelyn!” Kerelyn berhenti lalu memutar tubuhnya menghadap Gerard ketika pria itu memanggilnya, “Kau sudah mengetahuinya?” tanya Gerard tak percaya.
“Yap, aku sudah mengetahuinya,” jawab Kerelyn sambil kembali tertawa ketika melihat Gerard mengumpat, ia lalu melanjutkan berjalan sambil mengapit tangan Daniel yang terlihat semakin bingung.
“Apa ada yang salah?” tanya Sarah yang membuat Gerard serba salah.
“Tidak, tidak ada,” jawab Gerard sambil tersenyum kaku.
Sarah mengangguk mengerti, “Apa kau tak akan mengajakku berdansa?” tanyanya setelah dia menunggu pria itu mengajaknya terlebih dahulu tapi yang dilakukannya hanya menatap ke arah lantai dansa dengan mata tajam.
“Oh.. maafkan aku, ayo kita berdansa,” ujar Gerard setelah menyadari ketidak sopanannya karena membiarkan begitu saja perempuan yang dia sengaja undang menghadiri pesta ini. Tapi sepertinya yang Gerard lakukan selama di lantai dansa hanya mengawasi gadis berambut hitam yang tengah berdansa dengan pria yang sialnya sangat tampan.
***
“Jadi ini semua rencanamu untuk menyadarkan Gerard dan Alex?” tanya Daniel, mereka kini tengah berada di balkon menikmati sejuknya udara malam setelah lelah berdansa.
“Kalau melihat Gerard yang seperti ingin menembak mati adikmu karena terus menempel pada Raina, aku percaya kau berhasil menyadarkannya, tapi Alex?” Daniel menyipitkan matanya berpikir lalu menggelengkan kepala, “Sepertinya kau sia-sia, mereka tetap bertengkar seperti biasanya.”
“Apa kau tak melihat bagaimana Alex sekuat tenaga berusaha menjauhkan Lexa dari Ethan?” tanya Kerelyn sambil tersenyum mengingat bagaimana Alex menyeret Lexa kesana- kemari untuk menghindari gadis itu berbicara atau berada di tempat yang sama dengan Ethan, “Itu karena dia merasa kalau Ethan adalah saingan untuknya,” lanjut Kerelyn sambil mengangguk yakin.
Daniel terdiam beberapa saat memikirkan ucapan kekasihnya, “Maksudmu Alex benar-benar jatuh cinta kepada Lexa?” tanya Daniel masih tak percaya.
“Aku sangat yakin,” ucap Kerelyn dengan penuh keyakinan.
“Maafkan aku tapi kau jangan berharap terlalu banyak tentang mereka, Sayang, mereka seperti ditakdirkan untuk menjadi musuh yang saling merindukan,” Daniel tertawa menyadari istilah yang dia gunakan, “Maksudku, setiap mereka bertemu mereka pasti akan bertengkar walaupun hanya gara-gara hal sepele, tapi mereka akan saling merindukan kalau tidak bertemu walaupun hanya satu hari, tapi kalau mereka bekerjasama kau jangan berani untuk menantang mereka dalam hal apapun,” Daniel menggeleng sambil memandang Kerelyn serius, “Mereka lebih menakutkan kalau sedang kompak, percayalah!”
“Itu dia maksudku, apa kau tidak sadar kalau mereka saling mengisi satu sama lain? Alex, dia sering mengajak Lexa bertengkar hanya ingin menggodanya karena itu merupakan hiburan tersendiri untuknya, mungkin selama ini semua perempuan hanya akan menurut patuh padanya tapi Lexa memberikan tantangan tersendiri untuknya, dia selalu menyangkal apapun yang dikata Alex, tapi pada saat-saat tertentu dia juga bisa menjadi partner yang bisa diandalkanya. Bahkan ketika Lexa dalam bahaya Alex yang akan maju terlebih dahulu untuk melindunginya ”
Daniel terdiam beberapa saat, dia memikirkan ucapan Kerelyn yang memang ada benarnya mereka sering bertengkar bahkan ketika mereka kecil, mereka akan bertengkar untuk hal-hal kecil sekalipun seperti memperebutkan remot televisi walaupun Alex selalu kalah dari Lexa, tapi ketika mereka bekerja sama mereka seolah memiliki ikatan yang sangat kuat, mereka selalu menang dalam hal apapun termasuk ketika mereka bermain kartu, dan dari kecil Alexlah yang selalu menjadi ksatria Alexa, dia akan menghajar siapapun yang berani membuat gadis itu menangis atau terluka. Apa yang dipikirkan Kerelyn itu benar? Daniel membuang napas berat, dia berjanji akan mencari jawaban tentang itu secepatnya.
“Dan apa kau tak menyadarinya, semenjak kedatangan Lexa dari Paris, Alex tak pernah berkencan lagi yang dia lakukan diwaktu senggang hanya mengganggu Lexa. Apa itu tidak aneh?”
“Itu bukan alasan, Sayang, dia sedang menyamar. Aku mengenal Alex seumur hidupku ketika dia tengah melakukan penyamaran maka dia tidak akan memikirkan hal lain, termasuk perempuan.”
“Tapi...”
__ADS_1
“Ok, cukup tentang mereka semua. Sekarang kita nikmati pesta ini, ok?” potong Daniel sambil mencium Kerelyn untuk menghentikan apapun yang akan dia katakan, “Apa aku belum mengatakannya kalau kau terlihat sangat cantik malam ini,” lanjutnya yang membuat Kerelyn tersenyum cerah.
“Hanya malam ini?” tanya Kerelyn manja sambil menggoda yang membuat Daniel tertawa.
“Kau selalu terlihat cantik setiap hari,” ucap Daniel sambil kembali mencium Kerelyn lembut.
“Maafkan aku, Emily mencari kalian untuk berfoto bersama,” ujar Raina membuat keduanya kembali masuk ke dalam ruangan untuk melakukan sesi foto sebelum akhirnya mengantar kepergian pengantin pergi bulan madu ke kepulauan Maladewa.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam ketika Daniel dan Kerelyn memasuki gedung apartemen mereka, Kerelyn terlihat bahagia sambil mencium buket bunga pengantin yang dia tangkap di pesta tadi, rangkaian bunga yang sangat cantik dengan bunga mawar putih, merah muda dan biru, dan dia berharap mitos tentang siapapun yang berhasil menangkap buket bunga pengantin maka dialah yang akan menikah selanjutnya.
“Apa kau sesenang itu mendapatkan bunga itu?” tanya Daniel sambil tersenyum menatap Kerelyn yang daritadi tak pernah berhenti tersenyum.
“Oh iya aku sangat senang,” ujar Kerelyn sambil tersenyum lebar.
“Aku tak tahu kau sangat menyukai bunga,” ucap Daniel sambil merangkul bahu gadis itu keluar dari lift lalu berjalan menuju apartemen.
“Ini special, ini memiliki nilai mistis,” ujar Kerelyn dengan penuh misteri yang membuat Daniel mengangkat alisnya.
“Itu hanya bunga biasa, aku akan membelikannya untukmu besok yang sama persis.”
“Itu berbeda.”
“Karena tidak memiliki nilai mistis?”
“Iya kau benar, karena tidak memiliki nilai mistis.”
Daniel kembali tersenyum sambil menggeleng, “Kenapa perempuan suka sekali tahayul seperti itu?”
“Karena itu membuat kami bermimpi,” jawab Kerelyn sambil mengangkat alis matanya yang membuat Daniel mencubit hidungnya lembut.
“Dan sepertinya kau mendapatkan bunga satu lagi,” ujar Daniel sambil menatap kearah setangkai bunga tulip putih dengan bercak merah di ujungnya.
“Ini...” ucap Kerelyn sambil memandang bunga yang sering kali ia terima, tapi entah kenapa bukan rasa bahagia yang ia rasakan ketika menerima bunga khas negara Belanda itu tapi ada rasa takut yang datang tiba-tiba setiap melihatnya, aura dingin merambati tulang punggungnya hingga bulu kuduknya berdiri, mungkin inilah bunga yang mengandung mistis sesungguhnya.
***
Di suatu tempat seorang pria tengah duduk di atas kursi menatap serius ke arah televisi yang tengah menayangkan berita malam, matanya terbuka lebar, tangannya langsung mengambil remot televisi untuk menambah volume suara dari penyiar berita pria menayangkan jumpa pers dari pihak NYPD, bibirnya menyunggingkan seringai puas ketika Kepala Polisi mulai memberikan pernyataan.
“Berdasarkan laporan dari kepolisian Kanada, kemarin telah terjadi ledakan di sebuah rumah yang disinyalir berasal dari ledakan gas. Dan ledakan itu telah menewaskan seorang penghuni rumah tersebut, dari hasil olah TKP pihak kepolisian Kanada telah menemukan beberapa bukti dan juga pencocokan DNA terhadap korban yang dimiliki oleh pihak NYPD... dari hasil penyelidikan itu pihak Kepolisian Kanada meyakini kalau korban tersebut adalah salah seorang yang masuk dalam DPO kami selama ini, yaitu Simon Javier.”
Dengan rasa puas pria itu mematikan televisinya, dia mulai bersiul mengalunkan lagu anak-anak yang sudah menjadi kebiasanya, dengan santai ia berjalan menuju pintu belakang lalu membukanya dimana terhampar kebun bunga tulip putih dengan bercak merah di atas kelopaknya, dia tersenyum sambil berjongkok mengelus bunga itu lembut.
“Setelah tiga tahun akhirnya, aku berhasil membunuhnya.”
*****
__ADS_1
Hallo... sudah ada yg bisa menebak siapa si pemilik tulip? 😉