
“Well.. well.. coba lihat siapa yang ku temui sekarang?” Pria bermata abu-abu dingin itu berjalan mendeketi Kerelyn yang membeku, menyadari ketakutan gadis itu Daniel semakin menariknya ke dalam rangkulan mencoba memberikan perlindungan.“Aah.. kau masih cantik seperti dulu, Baby Red.”
Mata Kerelyn terbelalak, napasnya tercekat ketika mendengar panggilan yang biasa pria itu sematkan kepada dirinya dulu. Pria yang ia kenal sebagai Simon Javier, mantan kekasih dan merupakan orang yang telah memukulinya hingga hampir tewas tiga tahun lalu.
Simon menatap mereka penuh selidik, matanya menilai Daniel dari atas sampai bawah seperti petarung yang menilai lawan mainnya, “Jadi pria ini kekasihmu?” Tanyanya sambil menatap Daniel menghina.
“Ya, itu benar,” jawab Daniel sambil menatap Simon tak kalah tajam, ia bisa melihat beberapa anak buah pria itu telah turun dari mobil van yang berhenti di belakang mobil Mercy hitam miliknya, dan kini telah menatap mereka dengan siaga. Sial, ia berharap teman-temannya akan keluar dari The Rock dan membantunya seandainya harus terjadi perkelahian.
“Apa aku mengenalmu?” Tanya Simon dengan penasaran setelah memerhatikan wajah Daniel daritadi, dia seperti mengenal pria bermata hitam itu. Alisnya berkerut mencoba mengingat, matanya tajam menyelidik tapi tiba-tiba matanya terbelalak dan menatap Daniel dengan penuh kebencian.
“Kau.. kau, baj*ngan itu!” Geramnya sambil menunjuk Daniel dengan penuh amarah, yang membuat Kerelyn mundur karena dilanda rasa takut yang semakin menjadi, memorinya yang hampir terkubur kini menyeruak kepermukaan ketika mendengar pria itu kembali berteriak di hadapannya seperti dulu di saat ia menjadi samsak hidup pria itu.
“Aaah.. akhirnya kau mengenaliku,” ucap Daniel santai sambil tersenyum miring, untuk saat ini ia harus tetap tenang atau sesuatu yang buruk akan menimpanya dan juga Kerelyn, mengingat pria berwajah malaikat tapi berhati iblis itu memiliki beberapa anak buah yang terlihat semakin siaga setelah mendengar geraman dari bos mereka.
Simon terdiam melihat ketenangan Daniel, tapi dia bisa melihat rasa takut di wajah Kerelyn yang semakin memucat, senyum iblisnya kembali menghiasi wajahnya, “Kau memang perempuan ja*a*g yang licik, kau berkencan dengan b*j*ng*n yang telah memasukanku ke dalam penjara.”
“Jangan memanggilnya seperti itu, atau kali ini bukan cuma tulung rusukmu yang patah tapi tangan dan juga kakimu, hingga kau akan terlihat seperti boneka perca!” Daniel menggeram tepat di depan wajah Simon yang membelalakan matanya tak percaya pria bermata hitam itu berani mengancamnya di depan anak buahnya yang kini terlihat sangat marah.
“Sebelum itu terjadi, kau sudah berada di dalam kubur!” ucap Simon dengan mata nyalang penuh amarah.
“Yeah, tentu saja mungkin kau lupa siapa yang berakhir di Rumah Sakit dengan luka parah pada saat perkelahian terakhir kita.”
“Kau!”
__ADS_1
Melihat situasi yang semakin memanas membuat Kerelyn menarik Daniel, kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan untuk pria itu menang mengingat saat ini para anak buah Simon telah siap melakukan pertarungan.
“Daniel, cukup... sebaiknya kita pergi sekarang!” ucap Kerelyn dengan suara bergetar karena takut.
“Kalian pikir bisa pergi begitu saja setelah mengancamku?” Simon berkata mengejek, “Tidak, Baby Red, aku akan mengajarkan kekasihmu ini sopan santun terlebih dahulu setelah itu kita akan pergi kencan. percayalah aku sangat merindukanmu, Sayang.”
Simon menatap Kerelyn sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Kerelyn semakin memucat, tubuhnya bergetar karena rasa dingin yang mulai menjalari tubuhnya hingga meresap ke dalam tulang, tangannya menggenggam lengan Daniel dengan sangat kencang hingga buku-buku jari tangannya memutih.
“Sial! Kau berlarilah ke dalam dan tetap di sana bersama Lexi, minta bantuan Alex dan Gerard supaya kemari secepatnya.” Daniel memberikan interuksi sambil berjalan mundur dengan Kerelyn di belakang punggungnya setelah melihat Simon memberikan isyarat kepada anak buahnya yang langsung saja maju dengan serempak.
“Kerelyn, kau dengar!” Daniel berseru setelah merasakan gadis itu tak juga bergerak.
“I-iya,” ujar Kerelyn dengan gugup setelah kembali sadar dari ketakutannya yang membuatnya membeku.
“Sekarang!”
“Cepat Kerelyn, cepat!” ia memberi perintah kepada dirinya sendiri, The Rock yang terletak 2 blok dari tempat parkir membuatnya harus berlari dengan mengerahkan segenap tenaganya dan ia bisa mendengar pengejarnya sudah semakin mendekat.
“Ya Tuhan, tolong aku!” gumam Kerelyn sambil terus berlari dan seketika matanya melihat tumpukan kotak soda yang sedang di susun seorang pria muda di atas sebuah troli, dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia berlari lebih cepat menuju troli lalu mendorongnya sekuat tenaga ke arah pengejarnya hingga tumpukan kotak itu terjatuh, terlihat air soda langsung menyembur dari beberapa kalengnya yang pecah dan menghalangi para pengejarnya.
“HEI!” Protes pria muda itu setalah melihat apa yang Kerelyn lakukan terhadap barangnya.
“Maafkan aku.. aku akan membayarnya nanti!” Teriak Kerelyn sambil melanjutkan larinya.
__ADS_1
Kejadian itu membuat jaraknya dengan Simon menjadi lumayan jauh tapi itu tak membuatnya melambatkan larinya, ia hanya tinggal berlari sampai ujung jalan lalu belok kanan tapi sialnya kenapa saat ini terasa sangat jauh. Matanya berbinar dan mulai meningkatkan kecepatanya setelah melihat bar tempat teman-temannya berada.
Dia memasuki bar itu tanpa menghentikan larinya, dan hampir saja menabrak seorang pria bertubuh kekar yang akan keluar dari sana, tak memedulikan makian pria itu ia terus berjalan cepat memasuki bar yang terasa lebih ramai, dan akhirnya merasa lega ketika melihat keempat temannya masih berada di sana.
“Kerelyn, apa yang terjadi? Dimana Daniel?” Alex bertanya setelah melihat ada sesuatu yang salah ketika melihat gadis itu kembali lagi seorang diri dengan napas terengah dan wajahnya memucat.
“Tolong... Daniel... Simon... anak buahnya,” ucap Kerelyn dengan napas terengah-engah, kepalanya diliputi kecemasan tentang nasib Daniel hingga ia tak bisa merangkai kata dengan benar, untung saja Daniel memiliki sahabat yang pintar yang langsung mengerti arti ucapannya.
“Sial! Dimana mereka?” Gerard bertanya sambil berdiri, begitu juga dengan Alex yang langsung mengeluarkan telepon genggamnya dan meminta bantuan pihak polisi.
“Tempat parkir,” Kerelyn menjawab sambil menunjuk ke arah luar dan pada saat itulah ia melihat Simon dan beberapa anak buahnya memasuki The Rock, melihat Kerelyn yang tiba-tiba mematung membuat keempatnya menatap ke arah pintu dimana terlihat beberapa orang tengah menyisir seluruh tempat itu dengan mata mereka yang tajam.
“Sial!” Alex yang mengenali siapa pria yang baru saja masuk langsung menarik Kerelyn, lalu menekan bahunya hingga terduduk di belakangnya, “Tutupi dia!” Alex memberi perintah kepada Alexa dan Raina yang langsung kembali duduk dan menutupi tubuh Kerelyn yang membungkuk dengan jaket milik Gerard yang ada di sana.
“G, kau pergi sekarang untuk membantu Daniel, aku akan mengatasi baj*ngan itu di sini,” bisik Alex memberikan perintah, matanya tak pernah lepas dari gerak-gerik Simon dan anak buahnya yang kini telah menyebar mencari Kerelyn.
Alex sedang dalam penyamaran yang tentu saja tidak boleh terbongkar saat ini atau hasil penyamarannya akan sia-sia, Gerard bisa memahami itu walaupun ia sangat ingin membantu Daniel tapi ia tak bisa melakukanya jadi ia akan menyerahkan urusan Daniel kepada Gerard dan yang lainnya. Gerard mengangguk mengerti dan tanpa bertanya dia mulai berjalan dengan cepat menuju luar. Alex bertatap mata dengan Simon yang terlihat terkejut melihatnya di tempat itu, tak ingin pria itu mendekati mejanya dimana Kerelyn tengah bersembunyi, maka ia memutuskan akan mendekatinya terlebih dahulu dan menjauhkan mereka semua dari sana.
“Diam di sini, aku akan menjauhkan mereka dari sini.”
Alexa dengan patuh mengangguk, “Kalau ada apa-apa aku akan berteriak meminta bantuan Max,” ucapnya sambil mencari keberadaan pemilik bar yang mantan tentara itu, dan dia bernapas lega ketika melihat pria plontos itu berada di balik meja barnya tengah berbincang dengan salah seorang pengunjung. Alex mengangguk sebelum akhirnya ia berjalan menghampiri Simon yang tersenyum melihatnya.
“Rain, bisa kau...” ucapan Alexa terpotong ketika menatap kursi yang tadi di duduki sepupunya telah kosong.
__ADS_1
“Oh, sial! Raina... lihat saja aku akan melaporkan masalah ini kepada Mom, dan kau akan di hukum!” Gerutu Alexa setelah menyadari kemana sepupunya itu pergi.
****