The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 26


__ADS_3

“Pintunya terkunci!” Gerard mencoba mendorong pintu ruangan yang tadi ditinggalkan anak buah Simon.


“Biar ku coba membukanya.” Gerard bergeser, Raina lalu berjongkok di depan pintu tapi ternyata lebih susah dari apa yang dia perkirakan. Ia melihat sekeliling tapi ia tak menemukan apapun benda yang bisa dipakai untuk membuka pintu itu sampai akhirnya dia melihat sesuatu di dada Gerard.


“Gerard, boleh aku meminjam itu?” Raina bertanya sambil menunjuk klip dasi berwarna perak di dada Gerard yang terlihat bingung.


“Ini?” tanya sambil membuka klip itu lalu memberikannya kepada Raina.


“Ini sempurna.”


“Iya memang itu sangat luar biasa, aku mendapatkannya ketika aku... hei! Apa yang kau lakukan?” Seru Gerard setelah melihat apa yang Raina lakukan kepada klip kesayangannya.


Gadis itu meluruskan klipnya lalu menjadikannya sebagai kunci untuk membuka pintu itu, dan seketika mata mereka berbinar ketika mendengar bunyi klik, Raina langsung membukanya dan masuk ke dalam ruangan. Gerard ikut masuk lalu menutup pintu ruangan yang ternyata ruang kerja milik Simon Javier, Raina memberikan klipnya kembali dan dia hanya bisa membuang napas berat ketika melihat klip kesayangannya telah berubah bentuk. Raina terus berjalan ke arah meja dimana terdapat satu set komputer, dia memegang benda kotak itu dan dia bisa merasakan kalau benda itu masih sedikit panas yang artinya seseorang baru saja memakai komputer itu, dia duduk di kursi kulit berwarna hitam lalu mulai menyalakannya kembali.


“Apa sebenarnya yang sedang kau cari di sini?” Gerard berjalan mendekati Raina karena merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan perempuan itu, “Sebaiknya kita pergi sekarang, Daniel dan yang lainnya sedang menunggu kita.”


“Sebentar.. aku yakin bukti itu ada di dalam komputer ini,” ujar Raina sambil menatap komputer yang mulai menyala tapi dia langsung mengumpat ketika melihat komputer itu menggunakan password.


“Minggir!” perintah Gerard yang langsung dituruti Raina.


“Apa kau bisa membukanya?” tanya Raina sambil berdiri di samping Gerard yang jari-jarinya mulai menari di atas keybord dengan lincah.


“Beri aku sedikit waktu,” ucapnya dengan mata tetap fokus menatap layar komputer, melihat Gerard terlihat serius di depan komputer membuat dada Raina berdetak hebat, ia menatap pria itu untuk beberapa saat sebelum berdehem lalu menjauh darinya.


Ia berjalan ke arah pintu kemudian membukanya sedikit dan mengintip kondisi di luar, jujur saja itu hanya pengalihan perhatian saja dari pria yang telah menarik perhatiannya dari pertama kali, tapi ia sangat tahu bagaimana perasaan pria itu yang hanya menganggapnya sepupu dari sahabatnya. Sedangkan perempuan yang ia sukai ada di bawah sana, perempuan yang sama pintarnya dengan dirinya, perempuan yang Daniel bilang seperti Gerard dalam tubuh perempuan, sedangkan dirinya sangat jauh berbeda dengannya, dia menyukai tantangan, tomboy, tidak sabaran, dan melakukan sesuatu secara sepontan berbeda dengan Gerard yang serba terencana.

__ADS_1


“Berhasil!” Raina tersadar dari lamunannya, ia menutup pintu lalu kembali ke dalam dimana Gerard masih duduk di depan komputer dengan tampannya. Sial!


“Apa yang kau cari?” tanya Gerard sambil menatap komputer dan mulai masuk ke my library.


“Pembukuan milik Simon Javier,” ucap Raina yang membuat Gerard terbelalak menatapnya tak percaya, “Aku tadi tanpa sengaja mendengar anak buahnya Simon berkata kalau orang-orang di pesta itu sangat bodoh, mereka tidak tahu kalau sumbangan yang Simon bicarakan akan disalurkan untuk para penderita kanker hanya sebagai kedok saja, mereka menjadikan yayasan milik Simon sebagai tampat pencucian uang dari hasil penjualan narkoba dan uang haram lainnya.”


“Bajingan!” umpat Gerard dengan geram ketika mendengar penjelasan Raina.


“Oleh sebab itu kita harus mendapatkan buktinya dan menyerahkannya kepada Alex sebelum mereka melenyapkannya.”


Mereka kembali serius melihat layar komputer mencoba mencari file yang menyimpan laporan keuangan milik bandar narkoba itu.


“Coba yang itu,” ucap Raina sambil menunjuk satu folder dengan nama “Javier’s Foundation”, Gerard mengklik folder itu dan menemukan beberapa file, sebagian dari file itu tidak mencurigan karena dibiarkan terbuka begitu saja sampai akhirnya Gerard menemukan satu file yang terkunci, mereka saling pandang dan menyakini kalau itu adalah file yang mereka cari.


“Apa kau bisa membukanya?” Raina bertanya dengan harap-harap cemas.


“Bisakah kau mengcopynya?” tanya Raina dengan antusias.


Gerard mengangguk lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, di salah satu gantungan kuncinya terdapat flashdisc berwarna biru, “Aku tahu suatu saat ini akan berguna dalam keadaan darurat seperti ini,” ujarnya sambil mengecup benda persegi kecil itu lalu memasangnya di CPU komputer milik Simon.


Raina tersenyum melihat aksi Gerard itu, “Kau memang seorang IT sejati,” ucapnya sambil menepuk bahu pria berkacata itu.


Gerard mulai mengcopy data itu, jari tangannya mengetuk meja tak sabar ketika melihat persentase proses pengcopy-an yang terasa lambat, sedangkan Raina kembali menggigit kuku jari tangannya dengan mata fokus menatap serius layar monitor seperti yang dilakukan Gerard. Mereka menghembuskan napas lega sambil saling pandang dengan mata berbinar ketika angka menunjukan 100%, Gerard lansung menarik flashdisk-nya, kemudian menghapus data record di komputer itu untuk menghilangkan jejaknya, dia baru saja mematikan komputernya ketika mereka mendengar suara letusan senjata diikuti dengan jetiran orang-orang dari lantai satu, tapi kemudian seketika menjadi sunyi senyap.


Mereka mematung saling pandang dengan mata terbelalak, tapi Gerard segera pulih dari keterkejutannya, dia menarik Raina keluar dari ruangan itu, mereka berlari untuk turun ke lantai satu tapi seketika langkah mereka terhenti, secepat kilat mereka kembali bersembunyi di balik tembok.

__ADS_1


Jantung keduanya berdetak kencang, mata mereka terbelalak ketika melihat apa yang tengah terjadi di dalam ruang pesta yang dihadiri orang penting ibu kota Amerika itu. Beberapa orang dengan senjata lengkap mengelilingi ruang pesta, mereka menodongkan senjatanya ke arah para tamu undangan yang pucat pasi, Raina dan Gerard saling pandang sebelum mereka tanpa suara kembali ke ruangan tadi.


“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Bisik Raina sambil menatap Gerarad dengan serius, pria itu kini berjalan mundar mandir di dalam ruangan mencoba berpikir apa yang harus mereka lakukan saat ini.


“Gerard! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” ulang Raina yang membuat pria berkacamata itu berhenti mundar-mandir lalu menatap Raina sesaat sebelum akhirnya mulai menjelaskan tentang kondisi saat ini.


Raina terdiam setelah mendengar penjelasan Gerard, “Jadi ini seharusnya menjadi malam penangkapan buat Simon?” Gerard mengangguk sebagai jawaban, “Tapi sekarang kitalah yang terperangkap olehnya,” lanjutnya lagi, tubuhnya gemetar, dengan gugup dia menggigit kuku jari tangannya sambil berjan mundar-mandir, dia memang boleh dibilang ahli bela diri tapi dia hanya perempuan biasa yang tak pernah berada dalam situasi kondisi seperti dalam film laga produksi Hollywood, dan sekarang tubuhnya merasakan ketakutan yang teramat sangat.


“Hei... semua akan baik-baik saja, kita akan memikirkan jalan keluarnya, ok?” bisik Gerard sambil menatap mata hitam milik Raina yang terlihat sangat ketakutan, beberapa saat Raina hanya terdiam mematung menatap mata teduh di balik kacamata itu, kemudian ia mengangguk sambil meyakini dalam hati kalau semua akan baik-baik saja.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” bisik Raina sambil menatap Gerard berharap pria di hadapannya memiliki jalan keluar dari masalah mereka saat ini. Gerard terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengingat sesuatu, dia mengeluarkan teleponnya lalu menghubungi Daniel yang langsung mengangkat teleponnya pada dering pertama.


“Dimana kalian? Apa yang terjadi?” Bisik Daniel yang membuat Gerard mengerutkan alisnya.


“Kenapa kau berbisik? Jangan katakan kau ada di dalam sini?” Gerard menggeram mengetahui kemungkinan itu bisa saja terjadi, ia melihat Raina membelalakan mata mendengar perkataan pria disampingnya.


“Lexa, menyusul kalian karena terlalu lama dan aku baru saja sampai di pintu masuk untuk menyusulnya ketika mendengar suara tembakan.”


“Sial!” Gerard memaki setelah mengetahui kalau Alexa berada di bawah sana, “D, kami ada di lantai dua, di balkon barat bisa kau menuju kemari?”


“Baik, aku akan ke sana.”


“Apa yang terjadi?” Raina bertanya setelah melihat Gerard menutup teleponnya.


“Lexa, ada di bawah.”

__ADS_1


Seketika gadis berambut hitam itu menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, tubuhnya kembali lemas ia merasakan penyesalan terdalam.


*****


__ADS_2