
“Lihat dia akan melarikan diri!” Seru Raina yang suaranya teredam suara helikopter sambil menunjuk Simon yang tengah berlari ke arah heli.
“Kita harus menghentikannya sekarang!” ujar Gerard dan bersiap-siap keluar dari persembunyian mereka ketika Daniel menahan tangannya, dengan mata nyalang menatap Simon yang kini tengah naik keatas heli dia berkata, “Tidak! Biarkan polisi yang mengurusnya, saat ini kita harus menyelamatkan Alex dan Lexa.”
“Kalau begitu, ayo!”
Daniel kembali menahan Gerard dan Raina yang telah siap-siap, “Kita harus menunggu Lexa dibawa ke sini, kalau kita menyerang mereka sekarang maka ******** yang membawa Lexa akan mengetahui ada yang salah, Lexa bisa dalam bahaya,” ucap Daniel sambil terus menatap Simon yang mulai terbang melarikan diri.
Gerard dan Raina terdiam, mereka saling pandang memikirkan perkataan Daniel yang memang ada benarnya, kalau mereka menyerang sekarang dan orang yang ditugaskan membawa Alexa mengetahuinya maka mereka semua dalam bahaya karena bisa saja penjahat itu menjadikan Alexa sebagai sandera untuk menangkap mereka semua.
Tak berapa lama dari kejauhan terdengar teriakan caci maki Alexa yang membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arah jalan setapak dari bebatuan yang menghubungkan ruang utama dengan garasi. Berselang kemudian terlihat siluet tubuh kekar seorang pria yang tengah mengumpat sambil memikul Alexa di bahunya yang terlihat memberontak sambil menendang-nendang, tangannya memukul-mukul punggung pria yang wajahnya sudah memerah karena marah, dia membentaknya untuk diam tapi gadis itu semakin menjadi, dia kini menjambak rambut pria itu hingga dia berteriak kesakitan dan akhirnya melempar Alexa ke atas tanah tak jauh dari Alex yang terlihat berantakan, pria itu akan memukul Alexa ketika Alex berteriak menghentikannya membuat Alexa membalikkan badannya dan seketika matanya terbelalak menatap kondisi pria itu.
“Ya Tuhan, Alex!” Seru Alexa sambil berlari ke arah Alex tapi tangan pria yang tadi memukulnya menariknya kembali dengan kasar.
__ADS_1
“Lexi!” Alex kembali berteriak setelah melihat Alexa kembali terjerembab ke atas tanah, “Dasar ********! Aku akan membunuhmu!”
“Aku yang akan membunuhnya!” teriak Daniel sambil berlari keluar dari persembunyiannya dan langsung menghajar pria berbadan kekar itu, disusul oleh Raina dan Gerard yang langsung menyerang anak buah Simon yang terlihat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
Raina menendang senjata yang sedang dipegang oleh pria berkulit hitam dengan kepala plontos dan membuatnya tercengang hingga gadis itu bisa dengan mudah kembali menyerangnya dan membuatnya tak sadarkan diri. Gerard melakukan hal yang sama, walaupun memerlukan waktu lebih lama dari Raina tapi dia berhasil menumbangkan satu orang anak buah Simon, di sisi lain Alex yang telah berhasil melepaskan diri kini tengah menghajar orang yang sedari tadi menahannya.
Seperti menggila mereka bertiga melawan anak buah Simon yang jumlahnya dua kali lipat dari mereka dan itu pula yang menyebabkan mereka semua mengalami kena pukul satu atau dua kali, tapi amarah yang mereka tahan dari tadi memberi kekuatan tersendiri hingga tak merasakan pukulan yang mengenai tubuh mereka. Alexa yang memang tak begitu pandai bela diri yang paling banyak kena serangan, sampai Alex melindunginya dan menyuruhnya bersembunyi. Tapi kakinya berhenti melangkah ketika melihat Gerard terlihat kewalahan menghadapi musuhnya, pria berkacamata itu kini berbuling-guling di atas tanah dan berakhir dengan dia terlentang dengan anak buah Simon di atasnya yang dengan leluasa memukulinya.
Alexa menatap sekeliling mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata dan akhirnya dia melihat pistol yang tergeletak tak jauh darinya, dengan terburu-buru dia berlari ke arah pistol itu lalu mengangkatnya, dengan tangan gemetar dia mengarahkan pistol ke atas lalu menembakkannya membuat semua orang berhenti berkelahi kemudian menatapnya yang kini terlihat mantap mengarahkan pistol ke arah anak buah Simon yang tadi menghajar Gerard. Suara dari alat pengeras suara milik polisi kembali terdengar setelah mendengar suara tembakan itu.
“Sebaiknya kau percaya padanya,” ucap Alex dengan napas terengah setelah memukul pia berhidung bengkok dengan tenaga penuh hingga pria itu tersungkur tak sadarkan diri.
Pria itu menatap sekeliling dimana ke tujuh rekannya telah berhasil dilumpuhkan dan akhirnya menyerah sambil mengangkat tangannya, Gerard yang telah berdiri langsung memukulnya sekuat tenaga sebelum akhirnya memelintir tangannya ke belakang, lalu mendorong pria itu mengumpulkannya dengan yang lain yang telah diamankan oleh Daniel dan Raina, sedangkan Alex terlihat memeriksa para penjahat yang tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Kalian tak apa-apa?” tanyanya sambil menatap para sahabatnya yang di jawab anggukan dari mereka semua.
“Kita harus segera keluar dari sini,” ucap Daniel sambil menatap Alex yang terlihat berantakan.
“Daniel benar, kita pergi sekarang sebelum para baj*ngan yang ada di dalam sana menyadari kalau tembakan tadi bukan untuk membunuh kalian berdua,” ujar Gerard.
Alex mengangguk menyetujui itu, “Sebentar!” ucapnya sambil berlari masuk ke dalam garasi dimana terparkir mobil-mobil mewah milik Simon, tak lama kemudian dia kembali dengan membawa tali, dia meminta bantuan Daniel dan Gerard untuk membawa masuk anak buah Simon ke dalam garasi, Daniel melihat sebuah lakban yang berada di atas rak peralatan lalu mengambilnya untuk menutup mulut para penjahat itu menghindari mereka meminta bantuan dari rekan yang lainnya untuk membebaskan diri setelah mereka keluar dari sana.
Tanpa sengaja dia menjatuhkan lakban itu hingga menggelinding ke bawah rak, sambil mengumpat pria bermata hitam itu berjongkok untuk mengambilnya, tapi tiba-tiba dia membeku, matanya fokus menatap tombol yang berada di bawah rak kedua, posisinya yang tak lazim dan tersembunyi membuat Daniel menaruh curiga, alisnya berkerut menandakan pria itu tengah berpikir.
“Alex! Apa kau telah menemukan tempat yang dikatakan Kerelyn waktu itu?” tanya Daniel masih dalam posisi jongkok tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Alex dan Gerard yang sedang mengikat anak buah Simon supaya tak bisa melarikan diri.
“Tidak, baj*ngan itu membawaku ke sini hanya untuk menjebakku, dia mengetahui tentang penyamaranku dan akan membunuhku hanya untuk memberi peringatan kepada para aparat hukum kalau mereka tak bisa main-main dengannya.”
__ADS_1
Umpatan terdengar dari mulut Gerard tapi Daniel hanya diam sambil menatap tombol itu, “Aku rasa... aku menemukannya,” ucap Daniel sambil memijit tombol itu dan seketika rak itu bergeser ke arah kanan dan perlahan mulai memerlihatkan sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.
***