
Pria itu keluar dari lift setelah benda itu berhenti di lantai 14, mengenakan jaket hitam serta topi yang menutupi separuh wajahnya ia terus berjalan menyusuri lorong di dalam keheningan malam, semua penghuni apartemen sepertinya sudah terlelap di balik selimut yang memberi mereka kenyamanan di tengah hujan deras yang mengguyur kota New York, tanpa menyadari seorang iblis tengah berjalan di depan pintu mereka. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu bercat hitam dengan no 1407 yang terbuat dari besi berwarna emas, seringai iblis kini menghiasi bibirnya, perlahan dia merunduk untuk menaruh bunga tulip putih dengan bercak merah di depan pintu itu.
"Mimpi indah, little star," bisiknya sambil mengelus pintu itu lembut. Perlahan dia kembali membalikan badan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, seringainya berubah menjadi siulan yang menggema di lorong yang sepi.
***
Selama beberapa hari terkurung di dalam apartemen dengan kaki yang terluka tanpa kegiatan apapun membuat Kerelyn hampir mati karena bosan. Yang dia lakukan setiap hari hanyalah duduk di depan televisi atau membaca novel. Seperti saat ini ia tengah duduk di kursi besi tempa yang ada di balkon apartemennya berteman sebuah novel roman picisan serta satu mug coklat panas yang baru saja dibuatkan oleh Maria, asisten rumah tangga yang sengaja dikirimkan oleh agensinya untuk membatu Kerelyn selama kakinya cedera.
Bukan tanpa alasan Kerelyn duduk di balkon malam ini, seperti malam-malam sebelumnya ia akan duduk di sana pura-pura sedang larut dalam bacaannya sampai Daniel pulang kerja dan ikut bergabung dengannya. Kerelyn tersenyum ketika mengingat bagaimana selama beberapa hari ini mereka telah melewatkan setiap malam bersama... tunggu! Kalau kalian pikir Daniel akan datang ke apartemennya dan mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan semalaman, kalian salah besar... yang mereka lakukan adalah benar-benar melewatkan malam bersama, mereka akan ngobrol semalaman.. yap! Mereka hanya ngobrol semalaman.
Selama kaki Kerelyn terluka dan terkurung di apartemen, dia jadi mengetahui kebiasaan tetangganya yang satu itu setiap malam, dia akan duduk di balkon apartemen yang menghadap sungai Hudson bertemankan secangkir kopi, biasanya dia akan duduk di ayunan kursi kayu yang sengaja ditempatkan di sana dan Kerelyn akan berpura-pura keluar untuk menghirup udara malam karena merasa jenuh berada di dalam. Walau mereka berada di balkon masing-masing tapi hal itu cukup membuat Kerelyn bahagia, mereka menjadi mengenal lebih dalam lagi. Kerelyn telah menceritakan keluarganya yang tinggal di Lousiana, dia juga menceritakan tentang adik laki-lakinya yang bekerja sebagai seorang model dan kini tinggal di Paris.
"Apa yang sedang kau lamunkan?"
Kerelyn terlonjak mendengar suara berat milik seseorang yang dari tadi ditunggunya, jantungnya mulai berdetak tidak normal ketika matanya menatap pria yang tengah tersenyum miring, kedua tangannya ditumpukan di pagar balkon yang menghadap ke arahnya, rambutnya masih basah berantakan belum disisir dan demi Tuhan, Kerelyn sangat ingin mengelus rambut hitam itu dan menghirup wangi maskulin dari shompo yang ia pakai.
"Aku tidak sedang melamun," jawab Kerelyn dengan suara senormal mungkin. Ya Tuhan, bagaimana dia bisa bersikap normal kalau Daniel terlihat sangat seksi dengan rambut basahnya itu, walaupun hanya mengenakan kaos putih polos dan celana trening hitam.
"Hmmm.. apa kau yakin tidak sedang melamunkan aku?" Goda Daniel yang langsung membuat Kerelyn memerah.
"Apa kau selalu sepercaya diri ini?" Tanya Kerelyn gugup, yang membuat senyum Daniel semakin lebar.
"Baiklah, aku kira tebakanku benar," ucap Daniel sambil duduk di kursi ayunannya yang sangat nyaman, dan Kerelyn sudah ratusan kali berkhayal dirinya duduk di samping pria itu di sana sambil bersandar di dadanya yang bidang.
"Aku rasa... aku artis yang buruk, hingga kau bisa menebaknya," ucap Kerelyn sambil meringis, dia sudah memutuskan tidak akan berpura-pura lagi untuk menutupi perasaannya kepada pria yang memang telah mencuri hatinya sejak lama itu.
"Tidak, kau seorang artis hebat... tapi aku juga seorang pembaca pikiran yang hebat," ucap Daniel sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Kerelyn tertawa.
"Jadi apa yang sedang kau lamunkan dariku?"
Kerelyn tertawa sebelum menjawab pertanyaannya, "Baiklah, aku sedang berpikir kau akan pulang terlambat karena ke rumah orangtuamu terlebih dahulu."
Daniel tersenyum, seperti biasa seminggu sekali mereka akan berumpul di rumah keluarga Winchester untuk makan malam, ini merupakan salah satu cara dari orangtua mereka untuk selalu berkumpul dengan anak-anaknya minimal satu minggu sekali mengingat mereka semua telah tumbuh dewasa dan hidup terpisah.
__ADS_1
"Tidak, aku telah menelepon Ibuku kalau hari ini aku tidak bisa pulang karena ada sedikit urusan."
Urusan yang di maksud Daniel di sini adalah wanita di hadapannya saat ini, wanita yang selalu membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan mendapatinya duduk di kursi balkon sambil membaca novel, mungkin itu adalah pemandangan biasa tapi entah kenapa melihat Kerelyn duduk di sana seolah tengah menunggunya setiap malam, membuat hatinya terasa hangat.
"Apa Ibumu tidak marah?"
"Tidak, tapi mungkin dia sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan putranya yang tampan."
"Ya Tuhan, aku baru menyadarinya kalau kalian semua terlalu percaya diri," ucap Kerelyn yang membuat mereka berdua tertawa.
"Kau telah bercerita bagaimana kau, Alex dan Gerard tumbuh besar bersama karena tinggal di lingkungan yang sama sampai belum lama ini Orangtua Alex pindah ke Skotlandia, sedangkan Orangtua Gerard pindah ke DC, tapi kau belum menceritakan bagaimana kalian bertemu Theo dan Dylan?"
Daniel tersenyum mengingat kedua sahabatnya, mereka tumbuh besar bersama, sekolah dan kuliah di tempat yang sama walaupun berbeda jurusan. Orangtuanya tanpa diminta telah berubah menjadi orang yang bertanggung jawab atas mereka semua ketika harus tinggal seorang diri di New York.
"Well, bisa dibilang mereka itu new kids on the block... mereka pindah ke West Village ketika SMA dan menjadi teman si kembar... mereka berdua lebih seperti pengawal Em dan Lexa. Setiap pria yang berusaha mendekati keduanya harus berurusan dengan mereka terlebih dahulu."
"Benarkah?" Tanya Kerelyn tak percaya.
Daniel menganggukan kepala, "Iya, bahkan mereka akan mengawasi keduanya disaat kencan."
"Oh percayalah kami sudah sangat terbiasa mendengar ocehan keduanya."
Daniel tertawa mengingat bagaimana adik-adiknya itu protes karena sikap mereka semua. Bukan hanya Daniel yang notabanenya kakak kandung mereka yang bersikap posesif kepada keduanya tapi Alex dan Gerard-pun seolah memiliki tanggung jawab yang sama terhadap keduanya, seolah si kembar adalah adik mereka bertiga mengingat Gerard adalah anak tunggal sedangkan Alex hanya memiliki dua saudara laki-laki, jadi kelahiran si kembar bukan hanya menjadi penghibur bagi keluarganya saja tapi juga bagi keluarga Alex dan Gerard yang mengharapkan anak perempuan di keluarga mereka.
Belum cukup dengan satu orang kakak kandung, dua orang yang berperan sebagai kakak laki-laki, Emily dan Alexa-pun dihadiahi dua orang sahabat pria yang tak kalah posesif dengan ketiganya melengkapi hidup mereka yang seperti memiliki satpam yang menjaga mereka selama 24 jam dan 7 hari.
"Emily akhirnya akan menikah dengan Dylan, dan aku bersyukur karena pria itu adalah Dylan... kami sekarang bisa tenang karena Em berada di tangan yang tepat."
Kerelyn tersenyum mendengar ucapan Daniel, ada kehangatan disetiap ucapannya ketika membicarakan tentang keluarga dan sahabatnya.
"Bagaimana dengan Alexa, apa dia tidak sedang berkencan?"
"Lexa?" Tanya Daniel sebelum akhirnya tertawa ketika mengingat adiknya yang satu itu, "Tidak, dia tidak sedang berkencan dengan siapapun, ku pikir para pria akan berpikir ulang jika ingin berkencan dengannya."
__ADS_1
Kerelyn mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Daniel tentang adiknya itu, "Kenapa dengan Lexa? Menurutku dia gadis yang menarik. Pasti banyak pria yang mendekatinya."
Daniel mengangguk setuju, "Memang mereka berdua memiliki kepribadian yang membuat semua orang ingin selalu berada di samping mereka.. tapi mereka memiliki sifat yang berbeda, Lexa bisa dibilang lebih tangguh daripada Em, itulah sebabnya orangtua kami tidak begitu khawatir ketika dia pindah ke Paris tahun lalu, tapi selain itu Lexa memiliki pengawal pribadi yang akan menendang siapapun yang berani mendekatinya."
Kerelyn semakin tak mengerti dengan ucapan Daniel, "Pengawal pribadi?" Tanyanya penasaran karena selama ini belum pernah bertemu dengan pengawalnya itu.
Daniel mengangguk sambil tersenyum penuh misteri, "Iya dan percayalah hanya pria bodoh yang berani berhadapan dengan pengawalnya itu."
"Tapi aku belum pernah melihat Lexa dengan pengawalnya... aah, maksudmu Dylan dan Theo?"
Daniel kini tertawa mendengar ucapan Kerelyn, "Oh percayalah, Sweetheart, kau pernah bertemu dengannya.. tapi bukan mereka berdua, Dylan dan Theo pasti akan menjaganya, tapi kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan pengawalnya yang satu ini," ucap Daniel santai di antara tawanya tanpa menyadari ucapannya itu telah membuat pipi Kerelyn memerah.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam?" Tanya Daniel khawatir setelah melihat wajah wanita di hadapannya itu memerah seperti kepiting rebus.
"Ti.. tidak.. aku.. baik-baik saja, " jawab Kerelyn berusaha bersikap normal, "Bagaimana denganmu, apa kau tidak sedang... berkencan?" Sweetheart, tambah Kerelyn dalam hati.
Daniel menatap Kerelyn beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawab, "Tidak, aku tidak sedang berkencan dengan siapapun."
"Benarkah?.. maksudku kenapa? Aku yakin kau tidak akan kesulitan mencari teman kencan."
Daniel terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Kerelyn yang terlihat penasaran dengan jawabannya.
"Aku belum memikirkan untuk berkomitemen dengan siapapun... kau tahu, ketika perempuan berkencan kebanyakan dari mereka akan menuntut suatu komitmen ataupun status, sebut saja berpacaran, dan ketika mereka mendapatkan status itu mereka akan menuntut banyak hal. Mereka akan marah ketika aku tak bisa menghubunginya atau membalas pesannya, mereka akan marah ketika aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, mereka akan marah ketika aku lebih memilih untuk berkumpul dengan teman-temanku daripada menemaninya ke salon atau berjam-jam di mall... saat ini, aku tidak mau dipusingkan oleh seorang perempuan yang selalu menuntut perhatian dan pencemburu."
Kerelyn terdiam setelah mendengarkan penjelasan Daniel tentang suatu komitmen, "Tapi tidak semua perempuan seperti itu, Daniel, ada perempuan yang bisa mengerti dan menerimamu apa adanya... dia bisa berteman baik dengan teman-temanmu, dan percayalah dia lebih baik menghabiskan waktu di salon dan berjam-jam di mall bersama dengan teman-teman perempuannya daripada dengan kekasihnya yang terlihat sangat menderita harus menemaninya memilih antara highheel atau stiletto, tapi kalau soal pencemburu bukankah itu tanda kalau dia mencintaimu?"
Daniel mengangkat alisnya sambil menatap Kerelyn yang terlihat bersemangat, "Kalau kau mengenal perempuan seperti itu... kau kenalkan padaku, aku akan berkencan dengannya," lanjut Daniel sambil tersenyum.
Kerelyn baru saja membuka mulutnya untuk berbicara ketika bel apartemen Daniel berbunyi.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Kerelyn penasan.
"Itu mungkin Gerard atau Alex, Mom pasti menyuruhnya untuk membawakan makanan untukku... tunggu sebentar, aku akan membuka pintu," ujar Danniel kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
*****