
“Jadi dia telah meninggal? Ya Tuhan, bagaimana itu terjadi?" Kerelyn membelalakan mata tak percaya dengan apa yang baru saja Eddy ceritakan tentang orang yang berusaha menabraknya beberapa bulan lalu.
"Iya, aku tidak tahu detailnya seperti apa tapi polisi menemukan mayatnya di gedung parkir yang sudah tak terpakai di daerah pinggiran Brooklyn."
Kerelyn terdiam beberapa saat, ia masih terlihat kaget dengan berita yang didengarnya siang ini, seseorang yang entah disengaja atau tidak berusaha melukainya dulu, kini telah di bunuh oleh orang lain.
"Apa polisi yakin kalau dia orang yang sama dengan yang berusaha menabrakku?"
Eddy menatap Kerelyn dari balik gelas karton kopinya sambil mengangkat alis melihat reaksi Kerelyn yang tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Iya, polisi sudah mengidentifikasi mayat itu, dan pria itu adalah orang yang sama yang tertangkap CCTV jalanan ketika dia berusaha menabrakmu."
Kerelyn kembali terdiam, ia menyeruput kopi kental berharap kafein bisa sedikit menenangkan syaraf-syarafnya.
"Apa para polisi sudah mengetahui alasan kenapa pria itu mau menabrakku?"
Dengan sangat menyesal Eddy menggelengkan kepalanya, "Belum, polisi menduga kalau itu murni kecelakaan. Artinya dia tak bermaksud menabrakmu, mengingat kadar alkohol yang tinggi dan dapat dipastikan kalau dia juga pengguna obat-obatan terlarang, bisa saja malam itu dia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan tak sengaja hampir menabrakmu." Eddy memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang dia dengar dari para petugas polisi kemarin.
Kerelyn menghembuskan napas lega, sesak di dadanya sedikit terangkat mengetahui kalau pria itu tidak sengaja ingin mencelakainya. Selama ini dia diliputi rasa khawatir bagaimana kalau pria itu berniat membunuhnya? Apalagi setelah semalam dia mendapatkan informasi kalau Simon telah bebas. Ketukan di pintu ruang istirahatnya menyadarkan perempuan itu dari lamunannya, seorang pria dengan topi baseball berwarna merah melongokkan kepalanya di ambang pintu.
"Kerelyn, sebentar lagi shooting akan dimulai, sutradara memintamu untuk bersiap-siap di lokasi."
"Baiklah, kami akan kesana sekarang," Eddy menjawab sambil bangkit berdiri dari kursinya, "Semua sudah berakhir, kau aman sekarang, Kerelyn," ucap Eddy sambil tersenyum yang membuat perempuan di hadapannya merasa tenang, "Ok, sekarang waktunya menghasilkan dolar," lanjutnya sambil menarik Kerelyn untuk berdiri dari duduk.
"Kau benar, semua sudah berlalu, sekarang waktunya bekerja!"
Mereka berdua tertawa sambil berjalan keluar dari ruang ganti menuju lokasi shooting, tapi tanpa mereka sadari seseorang tengah mengintai mereka di antara hiruk pikuk orang-orang di sana.
***
Daniel menatap layar komputernya serius, tangannya dengan lincah menari di atas keyboard dan sesekali tangannya akan berpindah menggenggam mouse hanya untuk memindahkan tursor ke tempat yang dia inginkan. Saat ini ia tengah mengedit hasil fotonya kemarin dengan Kerelyn dan Matt sebagai model.
"Man, itu luar biasa." Daniel tersenyum mendengar suara rekan kerjanya, Paul yang kini tengah menarik kursi lalu duduk di sebelah Daniel, "Katakan kepadaku, apa dia secantik di foto ini atau jauh lebih cantik?"
Mata Paul tak lepas menatap layar komputer Daniel di mana terpampang foto Kerelyn tengah merangkul leher Matt, kaki kirinya diangkat hingga membelit kaki kanan rekannya, belahan gaunya tersingkap memerlihatkan kaki mulus artis itu, matanya menatap kamera dengan ekspresi menggoda.
"Dia... biasa saja," jawab Daniel santai yang langsung mendapatkan tatapan tak percaya dari Paul.
__ADS_1
"Man, kau bercandakan?" tanya Paul tak percaya, "Dia.. Kerelyn Howard, perempuan seksi dengan pistolnya di seri FBI, artis yang lagi naik daun, dan kau bilang biasa saja?"
Daniel hanya mengangkat bahunya santai yang membuat Paul membuang napas berat sambil berseru, "She's hot, Man!" Matanya membulat terlihat berapi-api, senyum lebar menghiasi wajahnya, beberapa saat ia menatap Daniel dengan semangat, detik berganti menit, kedua pria itu masih saling pandang, mata Paul masih berapi-api karena semangat tapi semangat itu perlahan mulai redup karena masih tidak ada reaksi apapun dari Daniel yang hanya menatapnya santai dengan menaikan alisnya.
"Daniel, apa kau.. normal?" Paul bertanya dengan mata berbinar penuh dengan rasa penasaran, ia sudah bisa membayangkan judul headline di kolom gosip majalahnya, dengan foto Daniel yang di blur.
Daniel kini menatap Paul dengan malas, ia sudah mengenal rekannya sejak lama dan ia bisa menebak apa yang ada di dalam kepala pria metroseksual dengan pakaian serba ketat itu saat ini. Mulutnya sudah terbuka ketika telepon genggamnya berbunyi.
"Sepertinya kau harus mencari gosip lain," ucap Daniel sambil menepuk bahu pria itu sebelum akhirnya berdiri kemudian berlalu dari hadapan Paul yang yang kini terlihat kecewa karena kehilangan berita besarnya.
"Hallo."
"Daniel, apa kau sudah memikirkan siapa yang akan menjadi pasanganmu di pernikahanku nanti?"
Daniel memutar bola matanya ketika mendengar suara milik adiknya, Emily. Hampir setiap hari gadis itu mengajukan pertanyaan yang sama tentang siapa yang akan menjadi pasangannya di hari pernikahan Emily dan Dylan. Mereka memang baru berpacaran belum lama, tapi mereka sudah saling mengenal sangat lama, dari sahabat menjadi cinta, Daniel pikir hal itu hanya terjadi di cerita-cerita novel atau film saja, tapi adiknya mengalami hal itu.
Awalnya Calista, adik Dylan yang akan menikah terlebih dahulu dengan Theo, tapi Mr. McArtur meminta Dylan untuk mulai menggantikan posisinya sebagai pemimpin Group Royal dan menetap di London. Dylan yang tak mau berpisah dari kekasihnya sempat merasa berat untuk pindah ke Inggris, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pernikahan sederhana di New York yang hanya akan dihadiri oleh sanak saudara saja, sebelum resepsi besar yang akan digelar di London.
"Belum," jawab Daniel singkat, ia kini menyandarkan badannya di meja pantri dimana terdapat mesin pembuat espreso.
"Temanmu? Dylan atau Theo?"
"Hei, temanku bukan cuma mereka saja!"
Daniel tertawa mendengar suara protes Emily, ia tahu adiknya yang satu ini hanya memiliki sahabat dua orang itu saja, ya mungkin sekarang di tambah Calista.
"Kau lupa, aku juga memiliki teman di kantor."
"Baiklah, tapi para akunting bukan tipeku... aku tidak mau membicarakan soal neraca dan laporan keuangan sepanjang pesta berlangsung. Hei, mungkin kau bisa menjodohkan salah satu dari mereka dengan Gerard."
Emily tertawa mendengar ide darinya, bisa dibayangkan bagaimana mereka berdua akan menghabiskan waktu mereka dengan membicarakan masalah untung rugi dan virus komputer.
"Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa pesta pernikahanku nanti."
Daniel tersenyum mendengar suara putus asa adiknya.
"Apa kau sudah menanyakan kepada yang lainnya?"
__ADS_1
Emily membuang napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
"Alex masih sibuk dengan... penyamarannya (sambil berbisik), tapi kita tidak usah mengkhawatirkanya, dia bisa mendapatkan pasangan di menit-menit terakhir, sedangkan Gerard aku berencana memasangkannya dengan Raina."
"Raina? Dia akan datang?" Daniel tersenyum mengingat sepupunya yang satu itu, Raina Anastasya, sepupu dari pihak ibunya, seorang gadis Indonesia yang cantik, periang dan tomboy, umur mereka yang tidak terlalu jauh membuat mereka memiliki hubungan lebih dekat dibandingkan dengan para sepupunya yang lain.
"Iya, tadi dia menghubungiku kalau dia akan melarikan diri ke sini, karena orangtuanya akan menjodohkannya."
"Lagi?"
"Iya.. lagi."
Mereka berdua tertawa mengingat entah sudah berapa kali gadis itu di jodohkan yang berakhir dengan orangtuanya yang sakit kepala tujuh keliling karena gadis itu selalu mengacaukannya, dan sekarang dia sampai melarikan diri berarti orangtuanya sudah tidak bisa menerima penolakan lagi.
"Dan kau akan memasangkannya dengan Gerard? Ya Tuhan, Em, aku harus memeringati Gerard agar tidak membicarakan hal-hal aneh kalau dia masih ingin selamat."
Emily kembali tertawa mendengar ucapan kakaknya itu.
"Dia tidak separah itu, D."
"Kenapa kau tidak pasangkan dia dengan Alex?"
"Oh tidak... aku tidak mau anak polos itu tercemar oleh Don Juan NYPD, satu-satunya yang tahan dengan pesona dan bisa mengendalikannya hanya Lexa."
"Kau benar, kenapa kau tidak pasangkan Alex dan Lexa?"
"Dan kita akan mendengar pertengkaran mereka selama pesta?"
Daniel tertawa mendengar nada putus asa Emily, "Tapi hanya dia yang bisa menjauhkan Alex dari para perempuan yang ada di pesta, seharusnya kau lihat bagaimana dia menjauhkan perempuan yang berusaha menggoda Alex di pesta pertunangan Theo kemarin." Daniel kembali tertawa mengingat bagaimana adiknya itu telah membuat reputasi Alex sedikit jatuh malam itu.
"Ya Tuhan, kau benar... aku sudah mendengarnya dari Gerard," ucap Emily diantara tawanya, "Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi Alexa supaya dia tidak usah mencari pasangan lagi... dan kau, Brother, cepat cari pasanganmu atau aku akan mengenalkanmu kepada salah satu temanku di kantor, paham?"
"Baiklah.. tidak usah khawatir," ujar Daniel sebelum memutuskan sambungan telepon.
Tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat, Daniel terkubur dalam tugas-tugasnya sebagai produser acara berita, sebenarnya ia lebih menyukai kerja di lapangan itu sebabnya dulu ia lebih memilih sebagai kameraman acara traveler, sehingga ia bisa keliling dunia sekaligus menyalurkan hobinya dibidang fotographi, tapi kejadian yang hampir merengut nyawa kedua adiknya beberapa waktu lalu membuatnya berpikir ulang, ia merasakan bagaimana putus asanya saat itu ketika ia tidak berada di sana untuk melindungi mereka yang merupakan tanggung jawabnya. Karena itulah akhirnya ia menerima tawaran sebagai produser acara berita yang merupakan salah satu posisi ekslusif di CBS, dia menerimanya bukan semata-mata karena gaji dan posisi yang menggiurkan, tapi lebih kepada ia bisa berada dekat dan bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi tanpa terhalang jarak dan waktu.
*****
__ADS_1