The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 10


__ADS_3

"Aku akan membayarmu dengan es krim strawberi."


"Aku bukan anak kecil!"


"Benarkah? Kau tahu Lexi, bahkan anak SMP pun lebih besar darimu."


Alexa terdiam memikirkan apa maksud ucapan Alex yang kini tersenyum jail, lalu dia menunduk melihat dadanya ketika menyadari apa maksud pria itu.


"Aww!! Alex meringis kesakitan ketika tiba-tiba gadis bermata amber itu menendang tulang keringnya.


Tak mau kalah, Alex menggapit leher Alexa di bawah ketiaknya hingga kepala gadis itu tersuruk ke dadanya dan dengan leluasa ia mengacak-acak rambut Alexa yang berteriak protes.


"Lepaskan!" Seru Alexa dan tentu saja Alex tak melepaskannya, dia tetap menggapit leher gadis itu sambil terus berjalan menuju lift, tapi ia lupa kalau Alexa bukan perempuan yang akan mengalah begitu saja, ia menggigit dada Alex hingga akhirnya pria itu melepaskannya.


"Sial, Lexi, siapa yang Zombie sekarang? Kau menggigitku!" Seru Alex sambil mengelus-elus dadanya yang di gigit Alexa.


"Aku Vampir bukan Zombie... dan kau tahu? Vampir lebih menarik daripada Zombi," ujar Alexa sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.


"Dan sesama mayat hidup, seharusnya kalian tidak saling menggigit," ucap Gerard santai sambil menggelengkan kepala, "Kalian tahu? Kalian seperti pasangan suami istri kalau sedang berdebat seperti itu... ya Tuhan, kalau kalian menikah, apa anak kalian Drakula?" Tanya Gerard yang terlihat takjub dengan pemikirannya sendiri.


"G, kau harus janji kalau aku sampai jatuh cinta padanya... kau harus memukul kepalaku dengan sangat keras karena saat itu aku pasti mengalami amnesia," ucap Alexa dengan wajah serius yang membuat Alex tersenyum.


"Kalau dia berani memukul kepalamu, aku akan mematahkan tangannya," ujar Alex santai sambil masuk kedalam lift.


"Sorry, Lexa, sepertinya dia akan membiarkanmu amnesia seumur hidup," ucap Gerard dengan penuh rasa simpati yang membuat Alexa cemberut sambil berjalan memasuki lift, dimana Alex tengah menatapnya sambil tersenyum miring, tubuhnya disandarkan di dinding, tangannya dilipat di atas dada, tapi bersamaan dengan tertutupnya pintu lift dia mengaduh kesakitan karena untuk kedua kalinya Alexa menendang tulang kering detektif terbaik NYPD itu.


"Apa mereka selalu seperti itu?" Tanya Kerelyn sambil tersenyum, dari tadi dirinya dan Daniel memang tengah memerhatikan ketiganya.


"Yap, entah kenapa Alex dan Alexa selalu saja berdebat tentang apapun dari kami masih kecil," jawab Daniel sambil tersenyum.


Mereka terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Daniel memecah keheningan.


"Kerelyn, apa kau besok ada acara?"


Kerelyn tampak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari pria pemilik mata hitam yang tajam itu.

__ADS_1


"Besok aku hanya akan melakukan wawancara untuk majalah."


Daniel mengangguk mengerti.


"Apa ada sesuatu?" Tanya Kerelyn penasaran.


"Tidak, tadinya aku akan mengajakmu makan siang, tapi lupakan saja... mungkin lain waktu," ujar Daniel dengan senyum manisnya.


"Makan malam! Bagaimana kalau makan malam?" Tanya Kerelyn dengan wajah berbinar, tentu saja dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Makan malam?" Daniel berpikir beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk, "Baiklah, kalau begitu aku akan menjemputmu besok."


Kerelyn tersenyum sambil mengangguk, matanya berbinar, "Aku akan menunggumu."


"Sampai jumpa besok," ucap Daniel sambil tersenyum yang membuat jantung Kerelyn berdetak kencang.


"Daniel," panggil Kerelyn ketika Daniel baru saja melangkah dan entah keberanian dari mana perempuan pemilik mata coklat itu langsung mencium Daniel ketika pria itu berbalik menghadapnya.


Daniel terkejut mendapat ciuman tiba-tiba itu, dia tahu kalau artis yang sedang naik daun itu menyukainya tapi ia tak menyangka kalau Kerelyn akan menciumnya terlebih dahulu mengingat perempuan itu bukan tipe perempuan penggoda tapi lebih seperti perempuam polos yang tak bisa menyembunyikan perasaannya, dan itu yang membuat Daniel tertarik.


Kerelyn menghentikan ciumannya, ia tertunduk merasakan jantungnya berdetak hebat, perlahan ia mengangkat kepalanya dan saat itulah ia melihat mata hitam yang biasanya menatap tajam kini menatapnya dengan pandangan berkabut .


Kali ini ciuman yang berbeda di rasa Kerelyn, ciuman yang sama lembutnya yang diberikannya tadi tapi kali ini ada rasa menuntut dan juga memiliki. Kini kedua tangan Daniel berada di samping kepalanya, menariknya untuk lebih mendekat. Tangan Kerelyn tanpa di komando merangkul leher Daniel, dan perlahan tangan pria itu kini turun untuk mendekap tubuh langsingnya.


Jantung Daniel berdetak hebat, dalam hati ia memaki karena untuk pertama kalinya ia hampir tak bisa mengendalikan diri, tapi untung sedikit akal sehatnya menyeruak kepermukaan mengingatkan kembali ucapan ibunya yang masih memegang teguh adat ketimuran yang sering mengingatkannya untuk selalu menghargai dan menghormati perempuan.


Perlahan Daniel melepaskan ciumannya, kening dan hidung mereka masih beradu, napas mereka masih memburu, jantung mereka bertalu hebat, mata hitamnya menatap mata coklat Kerelyn yang masih terlihat mendamba. Daniel memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir yang kini terlihat merah dan sedikit bengkak akibat ciumannya.


Daniel tersenyum ketika menyadari kalau bukan hanya dirinya yang tak bisa mengendalikan diri, ini terlihat dari bagaimana dia menanggapi setiap kecupan darinya. Tapi tidak, ia tidak boleh memanfaatkan itu, kepala Daniel mulai menjauh, kedua tangannya mendorong bahu Kerelyn.


"Apa aku terlalu kasar?" Tanya Daniel sambil meringis setelah melihat bibir Kerelyn yang membengkak.


"Tidak," jawab Kerelyn dengan suara parau nan seksinya, "Aku pikir aku juga terlalu kasar," lanjutnya, jari telunjuknya perlahan menyusuri bibir Daniel yang juga sedikit membengkak.


"Well, kupikir kita telah memberikan pertunjukan hebat kepada para pengawas keamanan," ucap Daniel sambil tersenyum, ia memberi kode dengan kepalanya, Kerelyn melihat ke arah atas mengikuti petunjuk Daniel, seketika matanya terbelalak ketika melihat kamera CCTV berbentuk bola setengah lingkaran dengan lampu merah yang berkedip-kedip terpasang tepat di atas mereka.

__ADS_1


"Ya Tuhan!" Ujar Kerelyn sambil menyurukan kepalanya ke dalam dada Daniel yang langsung mendekapnya, mereka tertawa menyadari kebodohan yang telah mereka lakukan.


"Apa mereka menonton kita?" Lanjutnya masih dalam dekapan Daniel.


"Yap, dan aku yakin mereka sekarang sedang berkerumun di depan layar kecil itu," jawab Daniel sambil tersenyum, "Jangan khawatir aku akan memastikan mereka untuk tidak menyebarkannya."


Kerelyn menggeleng, "Tidak, bukan itu yang ku khawatirkan," ucapnya sambil menatap Daniel cemas


Daniel mengangkat alisnya bingung dengan ucapan perempuan itu, "Bukan?" Kerelyn menggeleng menjawab pertanyaannya, "Jadi apa yang kau khawatirkan?"


Kerelyn membuang napas panjang sebelum menjawab pertanyaannya, "Aku... aku selalu terlihat jelek kalau di ambil gambar dari atas," ucapnya lemah dengan wajah cemberut yang membuat Daniel menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jadi kau tidak takut kalau video kita tersebar, tapi kau takut terlihat jelek karena pengambilan gambar dari atas?"


Kerelyn mengangguk, "Hei, aku seorang artis tentu saja aku harus selalu terlihat cantik di depan kamera," protesnya setelah melihat Daniel tertawa.


"Iya, tentu saja," ucap Daniel sambil mengecup bibir Kerelyn, "Baiklah aku akan meminta Gerard untuk meretas komputer pengawas supaya aku bisa mengeditnya," ucap Daniel dengan wajah serius tapi matanya tak bisa berbohong, matanya menyorotkan kalau pria itu tengah menahan tawanya.


"Oh tidak... aku lebih baik terlihat jelek daripada harus mendengar teman-temanmu menggodaku seumur hidup."


Daniel kembali tertawa, "Hei! Mereka tak sejahat itu... mereka hanya akan mengingatkanmu setiap melihat CCTV."


"Ya Tuhan, mereka lebih parah dari tukang gosip," ucap Kerelyn sambil tertawa.


Untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan senyum menghiasi bibir masing-masing.


"Baiklah, sebaiknya sekarang kau masuk dan istirahat," ucap Daniel sambil mendorong lembut tubuh Kerelyn ke depan pintu apartemennya.


"Baiklah," ujar Kerelyn lemah, jujur saja ia masih berat untuk berpisah dari pria itu apalagi setelah kejadian beberapa menit lalu, "Selamat malam," lanjutnya sambil berjinjit mengecup bibir Daniel.


Daniel berdehem, "Selamat malam," ucapnya sambil tersenyum, "Sampai jumpa besok," lanjutnya sambil perlahan berjalan mundur menuju apartemennya, sampai akhirnya ia membuka pintu dan untuk terakhir kalinya, ia menatap Kerelyn sambil memerlihatkan senyum miring menggoda kemudian masuk ke dalam apartemennya.


"Huuufffhhh..." Daniel membuang napas panjang sambil menggelengkan kepala, ia berjalan memasuki apartemen tapi sejurus kemudian ia melompat-lompat, tangannya meninju-ninju udara kosong bak seorang atlet tinju yang sedang melakukan pemanasan.


Tak cukup dengan itu, ia mulai berlari-lari di tempat lalu menjatuhkan tubuhnya untuk melakukan push up, tubuhnya kini mulai berkeringat, ia bangkit untuk membuka kaosnya hingga memerlihatkan dada bidang dan perutnya yang terbentuk sempurna, ia terus berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Waktunya mandi air dingin.. aaah, sial! Sepertinya aku akan masuk angin kalau setiap malam harus mandi dua kali," gerutunya mengingat baru sejam yang lalu ia mandi dan keramas.


****


__ADS_2