The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 51


__ADS_3

Alexa mengendap-endap mengelilingi rumah itu mencoba mencari celah untuk mengetahui keberadaan Daniel. Raina dan Kerelyn akan mengalihkan kedua orang itu dan dia akan mencari kakaknya itu sambil menunggu Alex dan yang lain datang, ia telah merubah nada dering teleponnya menjadi nada getar karena dari tadi Alex tak henti-hentinya menelpon dan mengancamnya untuk pergi dari sana. Ia kembali memutar bola matanya ketika merasa posel di dalam saku celananya kembali bergetar.


“Alex berhenti menghubungiku!” seru Alexa berupa bisikan, saat ini ia tengah mengitari pagar seng berharap akan ada pintu atau lubang untuknya masuk, dan sepertinya doanya terkabul dia melihat seng yang paling ujung sedikit terbuka, dengan cepat dia berlari ke arah seng itu.


“Aku harus memastikan kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti meledakan mobil lagi misalnya.”


Alexa kembali memutar bola matanya, dia tengah menaruh potongan kayu di celah seng itu yang akan ia jadikan sebagai pengungkit untuk membuat lubang itu menjadi cukup besar agar tubuhnya bisa masuk.


“Tentu saja tidak, Calista tidak ada di sini, aku tak bisa melakukannya sendiri,” ucap Alexa sambil mulai mengungkit kayu itu, tapi itu terlalu keras hingga ia mengeluarkan tenaga lumayan besar sampai terengah-engah, senyum kepuasan kini mengembang di bibirnya ketika melihat lubang itu menjadi lebih besar.


“Lexi, kenapa napasmu seperti itu? Apa yang sedang kau lakukan?”


Alexa berhenti sebentar berusaha mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan Alex, “Apa maksudmu? Tentu saja aku sedang bersembunyi.” Alexa kini membuka cardigannya, “Alex sebaiknya kau berhenti menghubungiku dan menyetirlah dengan cepat, aku tak tahu lagi berapa lama mereka berdua bisa mengalihkan perhatian orang gila itu.”


“Bertahanlah sebentar lagi, aku segera sampai... dan Lexi, jangan berpikiran untuk masuk ke dalam rumah itu seorang diri atau aku benar-benar akan mengurungmu di dalam apartemen, apa kau paham?”


Alexa membuang napas berat, “Aku tahu, cepatlah datang ok!” ucap Alexa sebelum menutup ponselnya lalu memasukannya ke dalam saku celana, “Aku tak akan masuk ke dalam rumahnya, hanya mengintip saja... iya hanya mengintip.”


Ia kini berdiri sambil memandang lubang yang telah ia buat, lalu menggulung-gulung cardigan ditangannya seperti sarung tangan dan mulai menarik seng itu tapi tenaganya tak cukup besar dan kuat untuk menariknya hingga akhirnya seng itu terlepas dari tangannya dan menghasilkan suara yang cukup nyaring. Ia memejamkan mata kuat-kuat, jantungnya seolah berhenti berdetak, tubuhnya mulai dirambati aura dingin karena takut salah satu dari mereka akan keluar dan memeriksa keributan yang ia buat. Setelah beberapa saat berlalu perlahan ia membuka matanya, lalu menempelkan telinganya di dekat seng, dan akhirnya ia membuang napas lega karena tak mendengar apapun yang mencurigakan. Tapi tubuhnya terlonjak kaget dan diam-diam ia mengutuk ketika ponselnya kembali bergetar.


“Apa?!” geram Alexa dalam bisikan.


“Apa itu kau? Apa tadi kau yang membuat suara gaduh itu?”

__ADS_1


Alexa melihat sekeliling, “Apa kau melihatku?”


“Sial, Lexi! Jadi itu benar kau! Apa yang sedang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk bersembunyi!”


“Jadi kau benar-benar melihatku? Kenapa kau tidak menolongku untuk membuka seng ini?”


“Gerard terhubung dengan telepon Raina jadi kami bisa mendengar apa yang terjadi di sana. Apa yang kau lakukan dengan seng?”


“Apa mereka mencurigai suara tadi?”


“Tidak mereka mengira kalau itu hanya anak-anak nakal. Lexi, kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan dengan seng?”


“Bagus! Jangan cerewet, menyetirlah dengan cepat ok, kami menunggumu.”


Alexa menutup telepon itu tanpa menjawab pertanyaan Alex dan dia bisa membayangkan kalau Alex sangat marah saat ini, tapi dia akan mengurus detektif itu nanti yang perlu ia lakukan sekarang adalah mencari Daniel karena dia yakin kakaknya itu sedang dalam bahaya. Ia tak bisa hanya tinggal diam tanpa melakukan apa-apa disaat orang-orang yang dia sayangi tengah dalam bahaya. Alexa kembali menarik seng itu dengan tangannya yang dilapisi cardigan, ia manarik napas dalam-dalam lalu menahan napas ketika tubuhnya perlahan mulai masuk ke dalam lubang, wajahnya mengerut ketika seng yang tajam tepat berada di depan matanya, ia langsung membuang napas lega setelah akhirnya berhasil masuk ke dalam. Alexa berada tepat di belakang sebuah gudang kecil tempat menyimpan alat-lat berkebun, ia sempat terbelalak ketika menyadari kalau di sana terhampar kebun bunga tulip yang sangat indah.


“Daniel, apa itu kau?” seru Alexa dalam bisikan, dan terdengar erangan kembali membuat Alexa cepat-cepat mencari pintu gudang.


“Ya Tuhan! Daniel, apa kau tak apa-apa?” ujar Alexa setelah melihat Daniel dengan tangan dan kaki terikat serta mulut tersumpal kain, ia langsung membuka ikatan di tangan Daniel.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Daniel seketika setelah sumpalan mulutnya terlepas.


“Menyelamatkanmu tentu saja,” jawab Alexa sambil menatap Daniel yang tengah melepaskan ikatan kakinya.

__ADS_1


“Kita harus cepat keluar dari sini, tempat ini akan segera meledak,” ucap Daniel sambil masih bekutat dengan tali di kakinya.


Alexa menatap ruangan seluas 2x3 meter itu lalu memekik setelah melihat sesuatu seperti kotak hitam dengan banyak kabel dan lampu indikator merah yang berkedip-kedip, “Apa itu bo...m?” tanya Alexa dengan gugup.


“Iya.. Ayo kita pergi dari sini.” Daniel menarik Alexa keluar dari ruangan itu.


“Ke sini!” ujar Alexa sambil menunjukan jalan yang dia lalui tadi, Daniel mendorong seng itu lebih jauh supaya Alexa bisa lewat lalu dirinya menyusul tepat di belakangnya, mereka terus berlari menjauhi rumah dan kini mereka telah berada di pinggir jalan sambil terengah-engah.


“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Daniel sambil bersembunyi di balik pohon pinggir jalan.


“Aku tak tahu kau ada di sini, aku dan Raina tadinya hanya menemani Kerelyn bertemu Bossnya.”


“Tunggu! Maksudmu Kerelyn dan Raina ada di sini?” tanya Daniel dengan mata membelalak tak percaya.


“Iya mereka ada di dalam,” jawab Alexa yang langsung membuat Daniel mengumpat.


“Kau tunggu di sini, jangan kemana-kemana! Apa kau paham?” Daniel bertanya dengan serius membuat Alexa mengangguk setuju, “Bersembunyilah di tempat aman sampai Alex datang... jangan berani untuk membantah ok!”


“Kenapa semua orang menyuruhku untuk bersembunyi?! Oh, baiklah, aku akan diam di sini sampai Alex datang,” ucap Alexa setelah melihat pelototan mata Daniel, “Berhati-hatilah, oke?” lanjut Alexa sambil menatap kakaknya dengan mata cemas penuh dengan kasih sayang, membuat Daniel memeluk adik kecilnya itu.


“Jangan khawatir, aku akan kembali bersama dengan mereka berdua dalam keadaan selamat, dan Lexa, hubungi Alex, suruh dia membawa tim penjinak bom.” Daniel berkata dengan serius sebelum berbalik dan mulai berjalan dengan penuh waspada ke arah rumah tua itu, meninggalkan Alexa yang langsung mengambil ponsenselnya untuk menghubungi Alex.


Daniel baru saja berjalan beberapa langkah ketika ledakan itu terjadi membuatnya merunduk, untung saja kekuatan bom itu kecil yang hanya akan membakar gudang saja tanpa menyebabkan kerusakan yang lebih fatal, sepertinya mereka telah memikirkan hal itu dengan sangat baik. Tapi tadi dia mendengar kedua pria itu berkata kalau mereka akan memasang bom di dalam rumah untuk menghancurkan tempat ini, melupakan semua masa lalu dan akan memulai masa depan dengan Kerelyn bersama mereka.

__ADS_1


Daniel berbalik untuk melihat keadaan Alexa yang terlindungi pohon besar, kemudian dia kembali berlari ke arah rumah ketika ledakan kedua terjadi. Dia kembali merunduk, kemudian memaki dengan jantung berdetak hebat dia kembali berlari berharap kalau semuanya belum terlambat. Untung saja, ia masih bisa mendengar teriakan Kerelyn dari luar sini yang berarti mereka baik-baik saja.


***


__ADS_2