
“Lihat siapa yang datang... Kerelyn sayang, kau terlihat cantik seperti biasanya,” ucap Simon Javier sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kerelyn yang sedang berusaha mengatur emosinya, semua orang kini tengah menatap mereka merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi. Daniel tersenyum memberi kekuatan kepada Kerelyn untuk bersikap lebih berani.
“Terimakasih Simon,” jawab Kerelyn sambil menerima uluranan tangan Simon yang dengan sopan langsung mengecup punggung tangan Kerelyn yang berusaha tersenyum walau harus menggerutukan giginya.
“Well, aku lihat kau membawa pengawal,” lanjut Simon sambil menatap Daniel yang daritadi mengawasinya seperti anjing pemburu mengawasi mangsanya.
“Tentu saja, aku tak akan membiarkan dia datang ke kandang macan sendiri,” ucap Daniel santai yang membuat Simon menaikkan alisnya, tapi tiba-tiba ia terlihat terkejut ketika melihat Alexa berada di sana bergabung bersama Kerelyn dan juga Daniel.
“Bukankah kau, Alexa, kekasih Jack?” tanyanya sambil menatap Alexa dengan penuh selidik.
“Iya, rupanya kau masih mengenalku,” jawab Alexa berupaya berkata dengan senormal mungkin setelah mengingat kalau Jack adalah nama samaran Alex.
“Tentu saja, aku tak akan melupakan perempuan cantik begitu saja,” ucap Simon sambil mencium tangan Alexa.
“Di sini kau rupanya!” seru Alex yang tiba-tiba datang dan langsung merangkul bahu Alexa, “Aku mencarimu dari tadi,” lanjutnya sambil tersenyum, tapi matanya menatap gadis itu dengan tajam seolah ingin memakannya hidup-hidup.
“Jack, aku tak tahu kalau kekasihmu mengenal Kerelyn?” tanya Simon yang membuat semua orang saling pandang dengan gugup.
“Dia mantan kekasih Ethan, kau mengenal Ethankan? Adikku? Kami sudah lama tak bertemu dan ini adalah pertemuan pertama kami setelah tahun lalu mereka pindah ke Paris.”
Untung saja Kerelyn bisa berpikir cepat untuk menghilangkan kecurigaan dari seorang Simon Javier yang bisa membuat semuanya berantakan. Simon mengangguk dan untung saja pembawa acara pesta itu mulai membuka acara tersebut yang membuat pria itu pamit untuk naik ke podium dan memberikan sambutan.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” Bisik Alex dengan suara menggeram, “Aku hampir saja terkena serangan jantung ketika melihat bajiangan itu mendekati kalian!” lanjutnya masih dengan berbisik.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Raina merasa penasaran karena dari tadi mereka mendapat pertanyaan yang sama dari Daniel dan juga Gerard.
“Aku akan menjelaskannya nanti, tapi sekarang sebaiknya kita keluar dari sini. Kerelyn, dimana Eddy?” tanya Daniel karena dari tadi dia tak melihat batang hidung manager Kerelyn itu.
“Aku tak tahu, tadi kami datang bersama tapi setelah Gerard datang menemaniku, dia menghilang tak tahu kemana.”
Daniel mengumpat mendengar ucapan Kerelyn, dia sudah bisa memprediksi tentang ini tapi dia tak mengira kalau Eddy akan meninggalkan Kerelyn begitu saja, untungnya dia melihat dua orang pria yang Kerelyn sempat beritahu kalau mereka adalah para pengawal yang disiapkan Eddy untuknya. Alex memberi tanda kepada Gerard dan Daniel untuk mendekat, dia berupaya bersikap senormal mungkin tanpa membuat Simon dan para pengawalnya curiga, dia menyesap sampeinnya sambil berbisik.
“Setelah kau melihat aku pergi bersama ******** itu... kalian semua pergilah dari sini,” bisiknya tanpa mengalihkan pandangan dari Simon yang tengah berbicara di atas podium soal memberikan bantuan bagi para penderita kanker lewat yayasan yang dia bangun, yang langsung disambut tepuk tangan oleh para tamu undangan.
Daniel dan Gerard mengangguk mengerti, Simon kini telah turun dari podium dan para tamu undangan mulai mengeluarkan ceknya yang mereka masukkan ke dalam toples bulat berukuran besar yang dibawa oleh para perempuan cantik yang mengenakan seragam gaun berwarna gold. Ruangan itu kini diisi oleh suara musik yang mengalun indah, membuat beberapa pasangan berdansa di lantai dansa dan sebagian lagi tengah menikmati berbagai hidangan buffet yang telah disediakan. Alex melihat Simon memberinya tanda untuk mengikutinya yang langsung mendapat anggukan darinya, ia memberikan kode kepada para rekan-rekan polisi yang tengah berbaur menyamar di sana kalau waktunya sudah dekat, ia kemudian memeluk Alexa.
“Ikuti perintah Daniel dan Gerard, keluar dari sini sekarang, apa kau paham?” bisik Alex di telinga Alexa yang walaupun bingung tapi akhirnya gadis itu mengangguk, dan Alex-pun pergi meninggalkan mereka semua.
“Ok, sekarang kita pergi dari sini,” ucap Daniel berusaha bersikap normal mengingat yang lainnya tak tahu tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
“Daniel, kau bawa mereka semua pergi dari sini, aku akan mencari Raina... minta bantuan para pengawal Kerelyn untuk mengawal kalian semua,” ujar Gerard yang langsung dipahami Daniel, dan pada saat itulah Eddy datang dengan wajah cerah.
“Di sini rupanya kalian semua, apa kalian menikmati pestanya?” tanyanya dengan wajah sumringah karena sepertinya dia benar-benar menikmati pestanya yang membuat Daniel ingin sekali memukulnya.
“Tidak semua orang menikmati pesta ini seperti yang kau lakukan... Eddy, dengarkan aku, Kerelyn sedikit pusing jadi sebaiknya kita bawa dia pulang sekarang,” ucap Daniel sambil merangkul Kerelyn dan memberi tanda kepada Gerard agar dia segera pergi mencari Raina.
“Kau sakit? Baiklah kita pulang sekarang,” ucap Eddy dengan nada khawatir.
__ADS_1
“Sarah, kau ikut bersama Daniel, aku akan segera menyusul kalian semua.” Sarah yang sedari tadi terlihat bingung tak mengerti dengan kondisi yang sedang terjadi hanya bisa mengangguk setuju.
Gerard menerobos kumpulan orang-orang yang sedang menikmati pesta, dia terus berjalan menyeberang ruangan itu hingga akhirnya dia menemukan lorong panjang, dia menyusuri lorong itu berusaha menemukan toilet tapi dia hanya melihat lalu lalang para pelayan dengan nampan peraknya, ia kemudian berbelok ke kiri dan matanya sekelebat bisa melihat gaun merah terang yang tadi dipakai Raina naik ke arah tangga.
“Demi Tuhan apa yang dia lakukan di atas sana!" umpat Gerard sambil berjalan cepat berusaha mengejar Raina, dia terus berjalan menyusuri lorong yang terlihat sepi hanya terdengar suara hingar bingar dari lantai bawah, dia berhenti sesaat, alis matanya berkerut ketika melihat Raina tengah mengendap-endap lalu bersembunyi di balik dinding untuk mengintip ke arah lorong yang mengarah ke balkon.
Gerard berjalan dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, dia kini berdiri di belakang Raina dan ikut mengintip dari atas kepala gadis itu, “Apa yang sedang kau lihat?” bisik Gerard yang sukses mengejutkan Raina yang langsung melonjak sambil memegang dadanya.
“Sial! Gerard, kau mengejutkanku!” Seru Raina dengan berbisik repleks menggunakan bahasa Indonesia yang membuat Gerard kembali mengintip ke balik tembok lalu melihat sekeliling.
“Apa yang harus ku lihat?” tanyanya serius yang membuat Raina mengerutkan alis matanya, “Bukankah tadi kau menyuruhku melihat semuanya?” lanjutnya dengan wajah masih serius, yang membuat Raina membuang napas panjang sambil kembali mengintip di balik tembok.
“Aku bilang sial, bukan see all,” ucap Raina sambil memerhatikan beberapa orang pria berpakaian hitam-hitam yang keluar dari ruangan dekat balkon lalu mengunci pintunya.
“Ah.. kau berbica bahasa Indonesia,” ucap Gerard sambil mengangguk mengerti, “Sial!” umpat Gerard kemudian setelah melihat para pria itu berjalan mendekati mereka, dengan panik mereka menatap sekeliling tapi tak ada tempat untuk bersembunyi, Raina mencoba membuka pintu kamar di belakangnya tapi terkunci, dan sudah sangat terlambat bagi mereka untuk lari ke bawah karena jarak mereka dan para pria itu hanya tinggal beberapa meter saja.
“Aaahh.. sial!” seru Raina sambil menarik Gerard mendekat lalu menciumnya, mata Gerard terbelalak ketika mendapat ciuman tiba-tiba itu, tangan Raina kini merangkul lehernya.
“Tutup matamu, berpura-puralah kalau kau menikmati ciuman ini!” bisik Raina di antara ciumanya, dan Gerard langsung menutup matanya lalu memperdalam ciuman mereka setelah melihat siluet tubuh para pria itu mendekati mereka. Gerard merangkul tubuh Raina semakin mendekat, dan kini giliran Raina yang mengerutkan keningnya karena ciuman Gerard yang semakin intens.
‘Baiklah tidak ada salahnya aku menikmati ciuman ini,’ ucap Raina dalam hati, dia mulai berusaha santai dengan mengikuti ciuman Gerard yang semakin dalam, mereka larut dalam ciuman itu untuk beberapa saat hingga tak menyadari kalau para pria itu telah pergi melewati mereka berdua. Dengan napas terengah mereka akhirnya melepaskan ciuaman ‘pura-pura’ mereka, beberapa saat mereka hanya saling pandang dengan canggung, sampai akhirnya Gerard memecah keheningan.
“Sepertinya mereka telah pergi.”
__ADS_1
“Oh iya, kau benar, mereka telah pergi,” ujar Raina dengan gugup sambil membalikan badan dan membuang napas panjang mencoba kembali bersikap normal tanpa dia ketahui Gerard-pun melakukan hal yang sama, dia harus mengatur napasnya sebelum pergi menyusul Raina yang kini tengah berjalan menuju ruangan tampat pria tadi keluar.
*****