
Berita kematian Simon Javier sontak mengagetkan semua orang. Seorang pengusaha muda yang sukses dan terkenal dermawan, seketika berubah status menjadi seorang bandar narkoba yang tengah diburu oleh para polisi di Amerika, bukan hanya tentang pengedaran narkoba tapi masyarakat dikejutkan dengan kenyataan kalau yayasan kemanusian yang didirikan oleh Simon Javier ternyata hanya merupakan tempat pencucian uang. Dan kini orang yang paling dicari di Amerika itu ditemukan dalam bentuk jasad yang badannya hancur akibat ledakan di negara bagian Kanada.
Berita itu mau tidak mau dikaitkan dengan Kerelyn, masyarakat seolah diingatkan kembali kepada kejadian tiga tahun lalu dimana artis berambut merah itu menjadi korban kekerasan pria yang menjadi gembong narkoba tersebut. Bukan hanya itu saja, kini bahkan hampir setiap pemberitaan selalu menyebut Kerelyn dengan status barunya yaitu, ‘Kekasih Daniel Winchester’ atau ‘Mantan kekasih Simon Javier’ yang menyebabkan seorang pria yang tengah duduk melihat televisi terlihat marah, dia menggeram lalu melempar asbak di hadapannya tepat ke arah layar televisi dan membuat benda itu mati seketika, yang telihat sekarang hanya sebuah layar kaca yang retak dan pecahan asbak yang berserakan di lantai.
Dadanya naik turun, napasnya memburu, cuping hidungnya kembang kempis menandakan kalau dia tengah dilanda amarah, “Dia kekasihku, bagaimana bisa kalian bilang dia kekasih baj*ngan itu!” Serunya sambil membungkuk menghadap televisi yang sudah mati seolah tengah berbicara dengan para reporter yang daritadi memberitakan tentang Simon, Kerelyn dan juga Daniel.
“Kerelyn... dia adalah milikku,” ucapnya sambil menepuk dadanya keras, “Aku yang telah menjaganya selama ini.. AKU!” teriaknya menggema di rumah sempit itu.
“Dan sekarang, baj*ngan itu mengambilnya dariku...tidak, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi,” ujarnya sambil berdiri lalu berjalan mundar-mandir sambil menggelengkan kepalanya, wajahnya memerah, matanya menyorotkan amarah, tangannya gemetar, giginya gemerutuk, “Berpikir bodoh, berpikir!” serunya pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya seolah-olah tindakannya itu bisa memberinya jalan keluar setelah beberapa menit merasa terhimpit dengan kepala kosong tak bisa beripikir cerdas seperti biasanya. Dia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, matanya memicing tajam terlihat sedang berpikir dan seketika bibirnya menyunggingkan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Tentu saja...” lanjutnya dengan seringai lebar sambil berjalan ke taman tulipnya dan mulai memetik satu tangkai bunga putih dengan bercak merah itu, dia kembali masuk ke dalam dengan santai lalu meletakkan bunga itu di atas koran dimana terdapat foto Kerelyn dan Daniel ketika memberikan pernyataan pada malam pesta amal di kediaman Simon. Seringai jahat kembali terlihat ketika menatap foto itu sebelum akhirnya dia keluar dari rumah itu sambil bersiul mengalunkan lagu anak-anak dengan nada lambat di antara hembusan angin dingin yang menusuk tulang.
***
Kerelyn keluar dari lift dan berjalan di lobi apartemen, kacamata hitam menghiasi wajah cantiknya, dengan anggun dia berjalan dan menyunggingkan senyum ramah ketika bertemu dengan beberapa orang yang menyapanya. Ia keluar dari gedung bercat putih itu langsung masuk ke dalam mobil APV yang telah menunggunya. “Selamat siang, Kerelyn,” sapa Eddy ramah di balik setir mobil sambil menghadap ke belakang dimana Kerelyn baru saja duduk dan membuka kaca matanya.
“Selamat siang, Ed,” jawab Kerelyn sambil tersenyum ramah.
“Sepertinya acara semalam sangat menyenangkan,” ucap Eddy sambil menyalakan mesin kendaraan itu lalu mulai membelah keramaian lalulintas kota New York di senin pagi yang padat.
“Oh iya.. sangat menyenangkan,” jawab Kerelyn dengan senyum lebar ketika mengingat pesta pernikahan Emily dan Dylan yang berlangsung meriah.
Sebenarnya bukan pestanya yang membuat dia bahagia tapi pria yng bersamanya yang membuat dia merasa jadi orang penting di pesta itu. Daniel mengenalkannya kepada seluruh saudara dari pihak ayahnya yang hadir malam itu, termasuk Kakek dan Neneknya yang menyenangkan, bahkan dia dikenalkan kepada keluarga Alex dan Gerard yang hadir pada malam itu, hingga dia menjadi bahan candaan Nick, kakak Alex yang isengnya sama persis seperti adiknya yang malam itu bertindak seperti bodyguard Alexa.
__ADS_1
“Hmmm.. Red,” panggil Eddy memanggil Kerelyn dengan panggilan kesayangannya, “Apa hubungan kalian serius? Maksudku, apa ada kemungkinan kalian akan menikah?” Manager Kerelyn itu bertanya sambil serius menatap jalanan.
Kerelyn terdiam beberapa saat, lalu sebuah senyum bahagia muncul di bibirnya ketika membayangkan ia menikah dengan seorang Daniel Winchester, pria yang selama ini sangat ia cintai, “Mungkin saja,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
Eddy menatap Kerelyn dari kaca spion beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan fokus menyetir mobil, “Apa kau sudah menonton berita TV atau membaca koran?” tanya Eddy tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan kota New York.
“Belum, semalam aku sangat lelah dan langsung tertidur. Aku bahkan baru terbangun ketika kau meneleponku dan mengatakan kalau sudah dalam perjalanan untuk menjemputku, jadi aku belum sempat nonton TV ataupun baca koran... apa ada berita tentangku?” tanya Kerelyn dengan antusias.
“Iya dan tidak.”
Kerelyn mengangkat alis matanya mendengar jawaban Eddy, “Apa maksudmu?”
“Ini tentang Simon.”
Kerelyn langsung terlihat malas ketika mendengar nama mantan kekasihnya itu, “Apa dia sudah tertangkap? Oh aku harap dia tertangkap dan dihukum seumur hidup karena kelakuannya yang telah melukai teman-temanku dan menghancurkan kehidupan orang lain dengan menjual barang haram itu.”
“Ya Tuhan, apa dia benar-benar tertangkap?” Kerleyn kembali bertanya dengan antusias setelah melihat reaksi dari Eddy.
“Hmm... iya dan tidak.”
Kerelyn membelalakan matanya terkejut mendengar jawaban Eddy, ia kini memajukan badannya ke arah depan dimana pria berambut berantakan itu duduk di belakang stir, “Maksudmu dia benar-benar sudah tertangkap? Demi Tuhan Eddy ceritakan kepadaku apa yang terjadi!”
Eddy melirik Kerelyn sesaat sambil tersenyum miring dia berkata, “Kau telah aman sekarang, Red.”
__ADS_1
***
Dua hari terakhir ini Kerelyn menjadi target para kuli tinta untuk dimintai komentarnya mengenai kematian Simon, mantan kekasih dan juga orang yang hampir saja membunuhnya. Eddy sudah mewanti-wanti untuk tidak memberikan komentar apapun dan Kerelyn melakukan itu. Jujur saja ia masih syok mendengar kematian Simon yang mengenaskan, ia kira ia akan merasa bahagia mendengar kematiannya, tapi tidak. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak puas mendengar berita itu, seolah berita itu tidak nyata.
“Aku tak percaya kalau dia akan mati dengan cara seperti itu,” ucap Kerelyn sambil berjalan menuju sofa krem apartemennya dimana Daniel tengah duduk sambil memindah-mindahkan saluran televisi.
“Orang jahat cepat atau lambat akan mendapat hukumannya,” ujar Daniel santai sambil terus menatap televisi layar datar milik Kerelyn.
“Aku tahu, tapi tidak dengan cara mengenaskan seperti itu.”
Daniel kini menatap Kerelyn yang terlihat terpukul dengan kematian Simon, “Apa kau sedih mendengar kematianya?” tanyanya sambil menatap Kerelyn penuh selidik.
“Tidak bukan seperti itu, maksudku semua orang tidak layak mati dengan cara seperti itu. Aku mendengar bahkan mayatnya sudah tak bisa dikenali lagi. Aku lebih suka dia ditangkap hidup-hidup dan menjalani hukuman seumur hidup untuk menebus kesalahannya atau mungkin hukuman mati, tapi ini... aku tak yakin apa mayat itu benar-benar Simon atau bukan.”
“Kau benar, aku juga ingin dia ditangkap hidup-hidup jadi aku bisa memukulnya lebih dulu. Alex bahkan terlihat sangat marah setelah mengetahui kematiannya, dia tak percaya kalau mayat itu adalah Simon, tapi hasil autopsi menyatakan 99,9% kalau mayat yang ditemukan memiliki kecocokan dengan baj*ngan itu. Jadi untuk menyalurkan rasa frustasinya karena tak mungkin memukuli mayat, akhirnya dia pergi ke The Rock dan berakhir di kamar salah satu rekan kerjanya sesama polisi NYPD.”
Kerelyn membelalakan matanya tak percaya, mulutya menganga leber, “Tidak mungkin!” serunya tak percaya sambil berdiri saking terkejutnya mendengar ucapan Daniel yang mengangguk dengan yakin.
“Itu benar, jadi tebakanmu salah tentang Alex yang menyukai Lexa.”
*****
Haiii...
__ADS_1
Ada yg nebak pemilik tulip itu Matt, ada jg Eddy, ada juga yg masih blm dapat pencerahan 😁...
Jadi udah nih tersangkanya cuma mereka ber2? atau ada yang punya tersangka lain? 😁😁