The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 35


__ADS_3

“Tidak, tebakanku tak mungkin salah,” ucap Kerelyn tak mau mengakui kenyataan yang berada di depannya, “Dia sedang mabuk, jadi bisa saja itu ketidak sengajaan, iyakan?”


“Sweetheart...” ujar Daniel sambil menarik Kerelyn untuk kembali duduk di sampingnya, “Aku mengenal perempuan itu, aku pernah beberapa kali melihatnya di The Rock dan dia terbilang cantik untuk seorang polisi. Rekan-rekan mereka selalu menjodohkan mereka berdua dan aku bisa melihat kalau Lucy menyukai Alex sejak lama, tapi Alex selalu menghindar dengan berkencan dengan perempuan lain.”


“Maksudmu sebenarnya Alex juga menyukai perempuan itu? Lucy atau siapun namanya.” Daniel tersenyum melihat kekasihnya yang tidak bisa menerima kalau Alex saat ini tengah berkencan dengan perempuan lain, dia bahkan seolah enggan mengucapkan nama perempuan itu.


“Iya, aku sangat mengenal Alex, dia tak mau ketika pekerjaan dicampur adukkan dengan urusan pribadi, jadi ia memiliki aturan tak tertulis yang selama ini selalu ia pegang yaitu untuk tidak berkencan dengan perempuan yang memiliki profesi yang sama dengannya, apalagi satu kantor dengannya. Dan sekarang dia telah melanggar aturannya sendiri dengan mengencani Lucy... jadi, apalagi namanya itu kalau bukan cinta.”


“Tidak, aku tak mungkin salah,” ucap Kerelyn dengan lemas setelah mendengar penuturan Daniel, dia sangat yakin dengan pemikirannya kalau detektif NYPD itu sebenarnya mencintai Alexa, dia bisa melihatnya dari cara pria itu melindungi dan menatap gadis bermata amber itu. Tapi apa itu hanya rasa sayang yang dirasakan seorang kakak kepada adiknya? Tidak, itu sorot mata yang berbeda dari cara Daniel, Gerard dan yang lainnya menatap si kembar.


“Dengar, kau tak usah memikirkan ini terlalu berlebihan. Mereka sudah dewasa, biarkan mereka berdua menentukan perasaan masing-masing, oke?” Daniel berkata sambil mencubit pipi kerelyn lembut, yang membuat kekasihnya tersenyum walaupun masih terlihat sedikit sedih karena usahanya ternyata sia-sia untuk menyatukan Alex dan Alexa.


“Ayolah jangan terlalu bersedih, karena usahamu untuk yang satunya lagi sepertinya akan berhasil.”


Mata Kerelyn kembali bersinar setelah mendengar ucapan Daniel, “Maksudmu Gerard dan Raina?”


Daniel mengangguk membenarkan, “Gerard mulai menyadari perasaannya kepada sepupuku, tapi entah kenapa dia tak mau mengakui itu kepada Raina, dia lebih suka uring-uringan setiap melihatnya.”


“Ya Tuhan, kenapa dia sangat bodoh!”


Daniel tertawa mendengar Kerelyn menyebut sahabatnya yang jenius dengan sebutan bodoh.


“Apa selama ini dia belum pernah berkencan? Ya Tuhan jangan katakan kalau ini untuk yang pertama kalinya?” tanya Kerelyn sambil menatap Daniel tak percaya.


“Tentu saja tidak, dia pernah berkencan beberapa kali aku bisa jamin itu.”


“Tapi kenapa sekarang dia berlaku layaknya anak ingusan yang baru pertama kali jatuh cinta?”


Daniel mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala, “Aku tak tahu.”


Kerelyn kembali terlihat putus asa, dia menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit apartemen. Dia terlihat berpikir bagaimana pria sejenius Gerard-pun akan terlihat bodoh ketika menyangkut cinta? Karena cinta lahir dari perasaan bukan dari sebuah logika, dan perasaan tidak bisa dipelajari, perasaan lahir dengan tulus dan murni dari hati bukan dari hasil sebuah perkalian ataupun ilmu teori yang bisa dipelajari dengan mudah. Seperti halnya dirinya yang mencintai Daniel tanpa terencana, dia bahkan bisa bertahan selama tiga tahun untuk menyakinkan pria itu, tapi penantiannya selama ini tidak sia-sia karena semuanya terbalas dengan rasa cinta yang diterima saat ini. Bukan hanya merasa dicintai, tapi juga merasa aman dan nyaman ketika berada dekat dengannya, perasaan yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari pria manapun selain ayah dan adiknya.


“Kerelyn!” seru Daniel kembali menyadarkan lamunan gadis itu, dia kini menatap kekasihnya yang telah berdiri di balkon sambil tersenyum lembut ke arahnya dan Kerelyn bisa merasakan kehangatan di hatinya ketika melihat pria yang ia cintai berdiri di balkonnya dengan latar langit malam kota New York, yang membuatnya terlihat sempurna walaupun hanya mengenakan sebuah kaos putih dan celana jeans.


Kerelyn tersenyum lalu berdiri dan mulai berjalan untuk bergabung dengan pria pemilik rambut sekelam malam dan mata tajam yang membuat dirinya merasa tersesat ketika menatapnya. Daniel kini memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu pada bahu gadis itu sesekali ia akan mencium bahu itu lembut, tak ada kata yang terucap selama beberapa saat, yang mereka lakukan hanya menikmati keheningan disekitar sambil merasakan hembusan angin malam yang membelai wajah mereka dengan lembut memberikan kesejukan.


“Aahhh... aku merasa damai,” ucap Kerelyn sambil tersenyum lebar yang membuat Daniel ikut tersenyum.


“Karena sekarang tak ada lagi orang yang akan membuatmu merasa takut, Sweetheart.” Kerelyn mengangguk mengakui kebenaran ucapan Daniel.


Selama tiga tahun ini ia selalu dihantui oleh sosok Simon Javier, tapi sekarang pria itu telah tiada dan kini dia bisa merasakan sebuah kebebasan yang selama ini seolah terbelenggu oleh kejadian masa lalu. Mereka kembali terdiam menikmati kedamaian dan merasakan kasih sayang dalam sunyi. Kerelyn menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya, bibirnya menyunggingkan senyum tulus, matanya terpejam menikmati belaian lembut angin musim semi, dan hatinya merasakan kehangatan dari dekapan orang yang dia cintai. Daniel semakin mengeratkan pelukannya ia mengecup pucuk kepala kekasihnya dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya.


“Apa rencanamu buat besok?” tanya Daniel sambil berjalan lalu dia duduk di atas kursi yang terbuat dari besi tempa dengan bantalan duduk berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah.


“Tidak ada, aku hanya akan rapat sebentar bersama Boss jam 10 pagi setelah itu aku tidak memiliki rencana apapun,” jawab Kerelyn yang ikut duduk di samping Daniel, “Apa ada hal penting?” lanjutnya.


“Mom, mengundang kita semua untuk makan malam di rumah, apa kau bisa?”

__ADS_1


“Tentu saja, aku akan menghubungimu kalau aku sudah selesai jadi kau bisa menjemputku.” Daniel mengangguk menyetujui usalan Kerelyn, “Ibumu sangat pandai memasak, sangat berbeda dengan ibuku,” Kerelyn tertawa ketika mengingat ibunya.


“Apa kau dekat kedua orangtuamu?”


Daniel bisa melihat sorot mata kasih sayang ketika Kerelyn mulai menceritakan tentang keluarganya.


“Aku dekat dengan Ibuku tapi aku lebih dekat dengan Ayahku,” Kerelyn tersenyum dengan mata menerawang, “Kau tahukan kalau Ibuku dulu adalah seorang model?” Daniel mengangguk sambil terseyum, siapa yang tak mengenal seorang Barbara Howard, seorang model papan atas dan menjadi icon kecantikan pada zamannya tapi akhirnya mengundurkan diri setelah memiliki putri dan lebih memilih untuk fokus kepada sekolah modeling yang didirikannya.


“Ibuku mungkin hebat kalau bergaya di depan kamera atau berlenggak lenggok di atas catwalk, tapi jangan sekali-kali memintanya untuk berada di dalam dapur kalau kau tak ingin melihat kekacauan di sana,” ucap Kerelyn sambil tertawa ketika mengingat bagaimana dulu dirinya dan Ethan akan melarikan diri ketika mengetahui ibunya memasak dan akhirnya ayahnya-lah yang harus menderita sendirian karena harus menghabiskan masakan istrinya.


“Apa seburuk itu?” tanya Daniel sambil meringis.


“Oh iya, percayalah,” jawab Kerelyn sambil tersenyum dan menganggukkan kepala untuk lebih meyakinkan.


“Aku harap dia hanya menurunkan bakat modelingnya saja kepadamu, tapi tidak dengan kemampuan memasaknya,” Daniel kembali berkata sambil meringis yang membuat Kerelyn tertawa.


“Tenang saja, aku tak seburuk itu... besok aku akan memasakan sarapanmu.”


“Tidak usah, aku lebih suka minum kopi.”


“Oh tidak... itu tidak baik kalau cuma minum kopi.. aku akan membuatkanmu sarapan yang sehat mulai besok,” ujar Kerelyn dengan wajah serius.


“Tidak, aku suka sakit perut kalau makan pagi-pagi,” ucap Daniel berusaha meyakinkan Kerelyn.


“Itu karena kau hanya terbiasa minum kopi untuk sarapan,” ucap Kerelyn sambil menatap Daniel serius.


“Itu tidak cukup, sarapan itu sangat penting jadi kau harus makan makanan sehat untuk sarapan,” ucapnya dengan semangat, dia kemudian bertepuk tangan sekali sambil berdiri lalu berkata, “Baiklah, sebaiknya kita belanja bahan makanan sekarang.”


“Kau serius akan memasak sarapan untukku?” tanya Daniel tak percaya.


“Tentu saja... Ayo kita pergi ke swalayan sekarang,” ujar Kerelyn sambil berjalan dengan gembira masuk ke dalam apartemen.


“Sweetheart... tapi sekarang sudah terlalu malam untuk berbelanja bahan makanan,” teriak Daniel ketika melihat Kerelyn masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan tas.


“Tidak, sekarang baru pukul 8 malam, aku tahu swalayan yang buka 24 jam,” jawab gadis berambut merah itu sambil berteriak di dalam kamarnya.


“Sial! Kenapa harus ada swalayan yang buka 24 jam, apa mereka tak pernah tidur!” umpat Daniel sambil menggelengkan kepala lalu mulai memakai jaketnya.


Kerelyn pernah membuatkannya pancake dan itu gosong! Oke lupakan soal gosong karena itu masih dimaafkan, tapi Daniel bersumpah kalau itu adalah pancake dengan rasa paling aneh yang pernah dia makan, tapi karena dia tak ingin melukai perasaan gadis itu yang bersusah payah membuatkan sarapan untuknya maka dia mengahabiskan pancake itu dan memujinya walaupun setelahnya dia agak trauma ketika melihat kue dadar yang lembut dan nikmat itu.


Dan di sinilah mereka saat ini, Kerelyn terlihat menikmati saat berbelanjanya, bak seorang ahli dia memilah-milah bahan makanan yang terbaik, dari mulai sayuran sampai daging, seperti saat ini mereka tengah berada di tempat sayuran dan terlihat bingung ketika harus memilih antara bayam merah atau hijau.


“Daniel, kau suka yang sama? Hijau atau merah?” tanya Kerelyn sambil mengacungkan kedua sayuran itu kehadapan Daniel yang sedang mendorong troli yang terisi setengahnya.


“Yang mana saja, rasanya sama saja ketika aku memakannya.”


Kerelyn terlihat membuang napas berat sambil menatap kekasihnya, “Ini jelas berbeda, D, warnanya saja berbeda... yang ini merah sedangkan ini hijau,” ucapnya dengan serius.

__ADS_1


“Oke, katakan padaku yang beda dari keduanya selain... warnanya, tentu saja,” ujar Daniel sambil menatap Kerelyn geli. Kerelyn membuka mulutnya tapi kemudian menutupnya lagi, ia melihat sayuran itu bergantian kemudian menatap Daniel yang mengangkat alisnya menunggu jawaban darinya. Kerelyn membuka mulutnya lagi tapi kemudian menutupnya kembali.


“Kau benar mereka akan sama saja ketika dimasak nanti,” Kerelyn berkata sambil memasukkan bayam merah ke dalam troli membuat Daniel harus menyembunyikan senyumnya.


“Jadi kenapa kau memilih yang merah?”


“Aku menyukai warnanya,” jawab Kerelyn santai sambil berjalan cepat meninggalkan Daniel yang sudah tak bisa menyembunyikan senyumnya lagi.


“Sweetheart, tunggu aku... hei, lihat! Disini masih banyak sayuran berwarna merah, apa kau tak ingin membelinya? Bukankah kau menyukai sayuran berwarna merah,” goda Daniel yang membuat Kerelyn berjalan semakin cepat meninggalkannya. Daniel tertawa sambil berjalan cepat mengejar kekasihnya, tapi tiba-tiba dia berhenti ketika dirasa ponselnya berbunyi, dia melihat nama Alex di layar sebelum menjawab panggilan itu.


“Hallo.”


“D, apa ini kau?”


Daniel mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Alex yang terdengar bingung sekaligus cemas. Dia bisa mendengar suara sirine dan juga beberapa orang yang terdengar sibuk menjadi latar belakang suara Alex yang harus sedikit berteriak.


“Bukan, ini Brad Pitt.”


“Syukurlah ini benar kau.”


Daniel bisa mendengar nada lega dari suara Alex.


“Man, apa terjadi sesuatu?”


“Katakan dimana kau berada sekarang?”


“Aku sedang berada di swalayan bersama Kerelyn,” jawab Daniel sambil menatap Kerelyn yang tengah berada di rak bumbu-bumbu.


“Apa seseorang meminjam mobilmu atau mungkin mencurinya?”


“Man, apa yang sedang kau bicarakan? Tidak ada yang meminjam mobilku apalagi mencurinya, mobil kesayanganku sedang terparkir cantik di parkiran swalayan,” ucap Daniel santai sambil kembali mendorong troli dengan ponsel di telinga kirinya yang dijepit oleh bahunya, ia berhenti di samping Kerelyn yang terlihat sedang membaca petunjuk penggunaan sebuah bumbu instan.


“Apa kau mau meminjam mobilku?” lanjutnya setelah memindahkan ponsel ke telinga sebelah kanan dan memegangnya.


“Tidak, bukan seperti itu...hmmm... D, sepertinya seseorang baru saja mencuri mobilmu.” Daniel terdiam beberapa saat , dia terlihat bingung dengan perkataan Alex yang tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan kalau mobilnya telah dicuri. Bagaimana bisa seseorang mencuri mobilnya sedangkan dia baru saja menggunakannya satu jam yang lalu.


“Man! Jangan bercanda mengenai mobilku... kau tahukan tak akan ada seorangpun yang berani menyentuhnya atau aku akan memberinya pelajaran, dan aku baru saja menggunakannya bagaimana mungkin itu dicuri,” ujar Daniel sambil tertawa berusaha menyakinkan dirinya sendiri kalau sahabatnya itu hanya bercanda.


“Aku tak sedang bercanda, D, karena mobilmu sekarang ada di hadapanku dan baru saja di derek dalam keadaan tak berbentuk.”


Daniel menganga tak percaya mendengar ucapan Alex untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadar kalau Alex tidak bercanda, “Sial! Dengar, aku akan membunuhmu kalau kau membohongiku,” serunya sambil berlari keluar dari swalayan menuju tempat parkir dan dia hanya menemukan tempat mobilnya terparkir tadi dalam keadaan kosong. Daniel langsung mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya ketika menyadari seseorang telah mencuri mobil kesayangannya.


“A... seseorang telah mencuri mobilku.”


“Aku tahu,” ucap Alex sambil tertawa terbahak-bahak dan itu membuat Daniel kembali mengeluarkan sumpah serapahnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2