The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 21


__ADS_3

“Apa kalian sudah makan malam? Aku sangat lapar,” ucap Alexa sambil mengambil keripik kentang di hadapannya.


“Aku juga sangat lapar,” ujar Raina sambil bersandar dengan lemas di atas sofa.


“Bagaimana kalau makanan Cina? Aku melihat ada restoran Cina yang baru buka tak jauh dari sini, dan mereka sedang mengadakan promo,” ujar Gerard yang langsung mendapat persetujuan dari semuanya.


“Kita memiliki pewaris group Royal dan juga Regan di sini, seorang ahli IT yang digaji ribuan dolar, seorang artis papan atas dan produser terkenal tapi kita masih mencari makanan promo,” ucap Alexa yang disambut tawa semuanya.


Mereka terbiasa hidup sederhana sampai tidak menyadari kalau mereka sebenarnya bisa saja makan di restoran bintang lima setiap hari, tapi mereka lebih menyukai makanan di kaki lima walaupun sekali-kali mereka juga menikmati fasilitas kelas atas, karena mereka semua memiliki prinsip kekayaan yang sebenarnya bukanlah berapa banyak jumlah uang di dalam rekening ataupun seglamor apa kehidupan mereka, tapi kekayaan sesungguhnya adalah yang ada di dalam hati dan apa yang telah mereka lakukan untuk menolong orang lain.


“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi untuk membeli makan malam kita,” ucap Gerard sambil berdiri.


“Gerard, boleh aku ikut denganmu?” Raina bertanya dengan mata berbinar.


“Ya, tentu saja,” jawab Gerard yang membuat Raina langsung berdiri dan bersiap pergi.


“Hei, Superman, jaga sepupuku,” ujar Alexa yang membuat Gerard mengerutkan alis.


“Kenapa dia selalu memanggilku Superman?” tanya Gerard dengan bingung.


“Sudah tidak usah di dengarkan, ayolah semua orang sudah kelaparan,” jawab Raina sambil mendorong tubuh tinggi Gerard keluar dari apartemen itu.


“Percayalah, Lexa, kalau ada sesuatu terjadi, Rain-lah yang akan melindungi Gerard bukan sebaliknya,” ucap Daniel sambil tertawa.


Restoran Cina yang dibicarakan Gerad hanya berjarak satu blok dari gedung apartemen si kemabar jadi mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki, udara malam yang dingin memberikan kesejukan yang menenangkan bagi Raina, selama berada di New York ia belum sempat untuk mengeksplore kota itu jadi kesempatan seperti saat ini keluar dan menikmati malam kota New York yang ramai menjadi pengalaman tersendiri baginya, belum lagi ditemani oleh seorang pria yang telah mencuri perhatiannya dari awal. Restoran itu terlihat cukup ramai, mungkin karena baru saja buka membuat orang penasaran dengan rasa dan menu yang di tawarkan. Mereka memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia sambil menunggu pesanan mereka selasai.


“Gerard, apa yang sedang kau lakukan di sini?” Seorang gadis berambut panjang warna coklat tua dengan kaca mata minus menghiasi wajahnya yang tersenyum cerah menatap Gerard yang terlihat terkejut melihat gadis yang Raina anggap tidak cantik hanya cukup menarik saja dan terlihat pintar, hanya itu titik tidak lebih.


“Sarah, apa yang kau lakukan di sisni?” Gerard balik bertanya sambil memeluknya, membuat Raina menaikkan alis matanya.


“Well, aku sedang makan malam bersama rekan-rekanku ketika aku melihatmu masuk tadi,” jawab perempuan yang ternyata bernama Sarah itu, ia kini duduk bergabung dengan mereka tanpa permisi membuat Raina kini mengerutkan alisnya,

__ADS_1


”Hei, tidak ada yang mengundangmu duduk!” protesnya di dalam hati.


“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” ulang Sarah sambil membelakangi Raina seolah tak ada orang di sana.


“Kami sedang memesan makan malam,” jawab Gerard sambil tersnyum.


“Kami?” Sarah mengangkat alis matanya terlihat bingung.


“Iya, Sarah kenalkan ini Raina,” ucap Gerard sambil menatap Raina yang terlihat cemberut.


“Oh, hai, maafkan aku, aku tak melihatmu tadi,” ujar sarah setelah membalikan badannya dan melihat ada seorang gadis berambut hitam tengah menatapnya.


“Yeah, tentu saja,” jawab Raina sambil tersenyum yang sangat terlihat dipaksakan, “Anggap aja aku ini makhluk astral yang tak kasat mata,” lanjut Raina dengan menggunakan bahas Indonesia yang membuat Sarah dan Gerard hanya menatapnya bingung.


“Lupakan saja, silahkan lanjutkan percakapan kalian,” ujar Raina sambil tersenyum, dia lalu menuangkan teh di dalam teko kramik yang tersedia di meja mereka ke dalam cangkir yang sangat kecil yang bisa langsung habis hanya dalam satu tegukan saja.


“Apa dia kekasihmu?” tanya Sarah sambil menatap Gerard dengan penasaran.


“Yeah, tentu saja hanya sepupu dari seorang teman,” ujar Raina dalam bahasa Indonesia sambil kembali menuangkan teh dan langsung diminumnya sampai habis.


“Apa aku mengganggu kalian?” Sarah kemabli bertanya setelah melihat Raina yang terlihat terganggu dengan kedatangannya.


“Tidak, tidak sama sekali,” jawab Gerard sambil tersenyum, ia kembali menatap Raina yang untuk kesekian kalinya menuangkan teh ke dalam cangkirnya dan langsung menghabiskannya, ia mengerutkan alisnya melihat tingkah gadis berambut hitam itu, “Apa dia sangat kehausan? Atau dia sangat menyukai teh ini?” tanya Gerard dalam hati sambil mengerutkan alis matanya.


Gerard melanjutkan percakapannya dengan Sarah, sesekali ia mengalihkan tatapan kepada Raina yang lagi-lagi meminum tehnya dengan semangat, seandainya itu minuman beralkohol Gerard yakin gadis itu saat ini sudah jatuh pingsan karena mabuk. Dan akhirnya pesanan mereka selasai bersamaan dengan habisnya teh dalam teko di meja mereka.


“Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang, senang bertemu denganmu lagi, Sarah,” ucap Gerard sambil berdiri setelah sebelumnya Raina berjalan terlebih dahulu meninggalkannya berdua dengan Sarah.


“Iya, senang bertemu denganmu lagi.”


Gerard baru saja membalikan tubuhnya ketika Sarah kembali memanggilnya, “Gerard, bolehkah aku menghubungimu lain kali?”

__ADS_1


Gerard terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum, “Iya, tentu saja,” jawabnya yang membuat gadis di hadapannya tersenyum bahagia.


Raina berdiri di luar restoran itu dengan plastik berisi makanan, ia mengetuk-ngetuk ujung kakinya di atas aspal, entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Dia tahu dia menyukai Gerard, dia menyadari itu sejak pertama melihat pria itu di bandara dengan papan yang bertuliskan namanya.


Gerard adalah pria dengan daya tarik tersendiri, selain karena ketampanannya, kepintarannya menjadi nilai lebih pria berkacamata itu dan Raina sangat menyukai pria-pria pintar. Seharusnya ia sadar, bukan hanya dirinya yang akan tertarik pada pria seperti itu, seperti halnya Sarah, perempuan yang well kalau mau jujur memang cantik dan anggun berbanding terbalik dengan dirinya yang terkesan tomboy dengan menyukai kegiatan-kegiatan yang memacu adrenalin tidak seperti perempuan pada umumnya.


“Ayo kita pergi sekarang,” ucap Gerard yang telah berdiri di hadapannya sambil mengambil plastik dari tangan Raina.


Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya terdiam dan Gerard merasa sedikit aneh melihat perubahan dari gadis yang berjalan di sampingnya yang biasanya tak pernah mau diam, apa mungkin perutnya kembung karena terlalu banyak minum teh? Gerard bertanya dalam hati.


“Apa kau baik-baik saja?” Gerard bertanya karena tidak tahan lagi dengan kebisuan diantara mereka.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Raina singkat, “Jadi katakan padaku, apa Sarah mantan kekasihmu?” Raina bertanya setelah terdiam beberapa saat yang membuat Gerard menatapnya sambil menaikan alis matanya.


“Bukan, dia teman kuliahku dulu,” jawab Gerard sambil tersenyum, “Kami belum pernah bertemu lagi semenjak lulus kuliah.”


Raina terdiam mendengarkan cerita Gerard yang ternyata tidak sampai di sana saja, dia juga menceritakan bagaimana pintarnya Sarah pada saat menjadi mahasiswa dulu, bahkan mereka berdua terkenal sebagai pasangan jenius dan banyak yang berharap kalau mereka berpacaran.


“Jadi kenapa kalian tidak berpacaran? Kau sepertinya sangat menyukai Sarah dan aku yakin dia juga demikian,” ujar Raina setelah mendengarkan cerita Gerard dia bisa mengambil kesimpulan kalau pria disampingnya telah memendam perasaan kepada temannya itu.


“Entahlah, aku tak tahu,” jawab Gerard terlihat bingung, dalam hati ia juga mengajukan pertanyaan yang sama kenapa ia tak berpacaran dengan Sarah?


Dia adalah gadis yang sempurna untuknya yang bisa mengimbanginya dalam hal kepintaran, mereka memiliki banyak kesamaan dan kebiasaan tapi kenapa dia tak pernah meminta Sarah untuk menjadi kekasihnya? Semua orang bahkan dirinya tahu kalau Sarah menyukainya dari dulu, begitu pula dengannya.


“Mungkin nanti aku akan menghubunginya dan memintanya untuk berkencan denganku, aku harap sekarang belum terlambat,” ujar Gerard yang membuat Raina terdiam dan tersenyum walaupun hatinya terasa sesak.


Saat ini mereka sudah berada di depan apartemen si kembar dan sambutan hangatpun diterima mereka berdua, lagi-lagi Raina berusaha bersikap senormal mungkin, dia tertawa dan berceloteh saat mereka menikmati makan malamnya tapi Daniel dan Alexa tahu ada sesuatu yang salah dengan sepupu mereka, dan tebakan mereka terbukti ketika Gerard bercerita tenang pertemuannya dengan Sarah dan niatnya untuk mengajaknya berkencan.


Sebagai sahabat tentu saja Daniel dan Alex tahu siapa Sarah sebenarnya, dia adalah Gerard dalam sosok perempuan, mereka berdua juga sangat menyukai Sarah sebagai seorang teman dan mereka juga mengetahui kalau keduanya saling menyukai dari dulu, jadi walaupun ini menyakitkan untuk sepupunya tapi Daniel harus mendukung sahabatnya yang akhirnya memiliki keberanian untuk mengajak Sarah berkencan.


****

__ADS_1


__ADS_2