The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 45


__ADS_3

Kerelyn tengah duduk di sebuah cafe dengan kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, ia tengah menunggu Alexa dan Raina yang mengajaknya makan siang bersama sebelum Raina pulang ke Indonesia.


“Apa kau sudah menunggu lama?” suara seorang perempuan membuat Kerelyn mengalihkan pandangannya ke arah Alexa dan Raina yang baru saja datang dan duduk di hadapannya.


“Tidak aku baru saja datang,” jawab Kerelyn sambil melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum menyambut kedua sahabatnya.


Seorang pelayan pria yang cukup tampan mendatangi mereka untuk menanyakan pesanan, dan matanya terlihat berbinar ketika melihat ketiga gadis cantik itu dan mulutnya langsung menganga tak percaya ketika menyadari salah satu dari mereka adalah seorang artis terkenal.


“Jadi kapan kau akan pulang?” tanya Kerelyn sambil menatap Raina yang hari ini menguncir rambut hitam panjangnya.


“Hari senin,” jawab Raina sambil tersenyum ramah.


“Aku pasti akan merindukanmu.” Kerelyn berkata dengan sungguh-sungguh, beberapa minggu terakhir ini ia sudah merasa dekat dengan sepupu Daniel itu, sama seperti dengan si kembar.


“Aku juga pasti akan merindukanmu. Kalian bisa mengunjungiku di Indonesia sekalian berlibur,” ucap Raina dengan semangat.


“Kau benar, aku sudah lama tidak pulang ke Indonesia.” Alexa berkata sambil mengambil pesanan pasta miliknya yang baru saja diantarkan pelayan.


“Mamah dan yang lainnya pasti senang mengetahui kau datang, Lexa, ajak Alex dan Gerard juga.”


“Sepertinya bukan aku yang diharapkan kedatangannya... terutama oleh Mamahmu,” ucap Alexa yang membuat semua tertawa karena mengerti siapa orang yang dimaksud gadis bermata amber itu.


“Apa sudah ada kemajuan?” tanya Kerelyn dengan penasaran.


Raina menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut, “Tidak ada... yang dilakukannya hanya mengikutiku seperti anak ayam mengikuti induknya, tapi dia tak mengatakan apapun.”


“Kenapa bukan kau saja yang mengatakannya terlebih dahulu kalau kau mencintainya,” ujar Kerelyn sambil mengaduk salad sayur dan potongan dada ayam kukus itu.


Raina menggeleng malu, pipinya bersemu merah, “Well, Kerelyn... kami cukup kolot untuk hal seperti itu, kami tak berani menyatakan perasaan terlebih dahulu.” Alexa berkata mewakili dirinya dan juga Raina, dan yang dikatakannya memang benar mungkin karena didikan sang ibu yang sangat kuat, jadi dia lebih memegang adat ketimurannya walaupun tinggal di kota Mega politan seperti New York. Kerelyn mengangguk mengerti, mereka kemudian terdiam larut dalam makanan masing-masing, sampai akhirnya Alexa memecah keheningan.


“Kerelyn, boleh kami bertanya sesuatu?”

__ADS_1


Kerelyn mengangguk menjawab pertanyaan itu, “Iya, tentu saja.”


“Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Kakakku? Apa benar kalian berpisah?”


Kerelyn terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Alexa itu, “Kami memutuskan untuk berpisah dulu untuk sementara.”


Alexa dan Raina saling pandang lalu kembali mengalihkan perhatian mereka kepada Kerleyn yang mulai memakan saladnya, “Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Raina membuat Kerelyn terdiam lalu menggeleng sebagai jawaban.


“Jangan katakan kalau dia selingkuh?”


“Tidak, Lexa, Daniel tidak selingkuh, dan aku juga tidak,” ucap Kerelyn dengan meyakinkan membuat kedua perempuan di hadapannya mengangguk mengerti, “Hanya saja, kami memerlukan waktu untuk sendiri sampai keadaan membaik, dan aku berharap itu secapatnnya,” lanjut Kerelyn dengan kesungguhan.


Dia sangat berharap mimpi buruk ini akan segera berakhir, mengetahui ada beberapa orang yang terbunuh karena dirinya cukup membuatnya syok dan merasa bersalah, setiap dia pulang, dia selalu diliputi rasa was-was karena takut menemukan sekuntum bunga tulip putih dengan bercak merah di depan pintunya. Tapi untung saja setelah perpisahaannya dengan Daniel sampai saat ini dia belum pernah menerima bunga itu lagi yang artinya tidak ada nyawa yang terbunuh karena dirinya.


Mereka menikmati makan siang bersama diselingi dengan canda dan tawa layaknya para sahabat yang tengah berkumpul bersama. Sehabis makan siang mereka melanjutkan berjalan-jalan di Time Squere dan Raina membeli beberapa oleh-oleh khas New York dari mulai miniatur patung Liberty, bola kaca miniatur kota New York sampai dengan gantungan kunci untuk ia bagikan kepada keponakan dan sepupunya yang lain.


Waktu telah menunjukan pukul 3 sore ketika Kerelyn memeriksa posenselnya yang ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Daniel, ia mengerutkan keningnya melihat banyaknya panggilan dari Daniel.


“Daniel menghubungiku, tapi aku tak mendengarnya,” ujar Kerelyn sambil berusaha menelpon balik Daniel tapi ponselnya tak aktif, “Tidak aktif,” ia berkata sambil menatap Alexa dan juga Raina yang terlihat memeriksa teleponnya juga.


“Dia tak menghubungi kami... mungkin dia merindukanmu,” goda Alexa yang membuat Kerelyn merona. Dia kembali melihat ponselnya dan kembali terdiam ketika melihat ada sebuah pesan dari Harry Robert.


“Mr. Robert, Bossku... dia mengirimiku pesan dan memintaku untuk datang ke alamat ini, katanya ada sesuatu yang sangat penting,” ujar Kerelyn sambil melihatkan ponselnya kepada Alexa dan Raina.


“Ini daerah Bronx,” ujar Alexa setelah melihat alamat yang Kerelyn perlihatkan.


Kerelyn mengangguk membenarkan, “Hmm... maafkan aku, sepertinya aku harus pergi sekarang sebelum membuat Bossku menunggu terlalu lama,” ucap Kerelyn dengan sangat menyesal.


“Boleh kami ikut denganmu?” tanya Raina tiba-tiba membuat Kerelyn tersenyum, “Aku akan segera pulang tapi aku tak pergi kemana-mana selain West Village, apartemen Lexa dan Time Squere. Aku ingin melihat daerah Bronx kalau kau tak keberatan.”


“Tentu saja, aku senang kalau kalian mau ikut denganku jadi aku tak pergi sendirian. Eddy sedang sakit jadi dia tak bisa menemaniku,” ujar Kerelyn dengan senyum merekah membuat Raina dan Alexa ikut tersenyum lebar dan merekapun langsung pergi menuju alamat yang dituju.

__ADS_1


***


Daniel berlari di lorong apartemen Gerard di susul oleh kedua sahabatnya, “Sial!” dia mengumpat ketika Kerelyn tak mengangkat teleponnya.


“Kau masih belum bisa menghubunginya?” tanyanya Gerard yang dijawab gelengan dari Daniel dan dia kembali berusaha menghubungi Kerelyn.


“Kumpulkan semua orang, aku sudah mengetahui siapa baj*ngan itu.” Alex tengah berbicara dengan Phillip rekannya di kepolisian.


Mereka memerlukan waktu cukup lama untuk mendapatkan bukti kuat dan akhirnya itu di dapat dari kamera mobil yang berhasil diperbaiki Gerard. Daniel langsung menghubungi Kerleyn untuk memberitahu gadis itu tentang penemuan mereka sekaligus memperingatinya, tapi Kerleyn tak bisa dihubungi hingga membuatnya khawatir dan dia pun langsung berlari keluar apartemen Gerard.


“Harry Robert, benar... kirim beberapa orang ketempatnya dan buat surat penangkapan, sekarang juga.” Alex menutup teleponnya lalu berlari menuju mobilnya, “Kalian berdua cari Kerelyn, lalu bawa dia ke kantor NYPD, itu adalah tempat paling aman untuknya saat ini,” ujar Alex sebelum masuk ke dalam mobil. Lalu pergi meninggalkan Gerard dan Daniel yang juga masuk ke dalam mobil masing-masing lalu pergi menuju apartemen Kerelyn berharap kalau gadis itu ada di sana.


Daniel datang terlebih dahulu, sepanjang jalan dia mencoba menghubungi Kerelyn tapi tak pernah tersambung, dia menjalankan mobilnya seperti kesetanan meninggalakan Gerard jauh di belakanganya karena merasa khawatir, jam di dasbor mobilnya menunjukan pukul 2 siang, ini jamnya Kerelyn tidur siang dan mudah-mudahan ia memang sedang tidur siang.


Bunyi decitan ban menggema di parkiran apartemennya yang sepi ketika Daniel berbelok lalu berhenti dengan tiba-tiba kemudian keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Dengan setengah berlari dia menuju lift dan untungnya pintu liftnya langsung terbuka tapi ia segera menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang ada di dalam lift itu. Jantungnya berdetak kencang, kakinya seolah tak mau bergerak.


“Mr. Robert, apa yang sedang anda lakukan di sini?” tanya Daniel dengan berhati-hati, dia melihat ke arah parkiran berharap Gerard segera datang dan mencari bantuan.


“Well... well.. Daniel Winchester, aku tak mengira akan bertemu denganmu di sini.” Harry Robert berjalan keluar dari lift membut Daniel mundur dengan wapada, “Aku mau bertemu dengan Kerelyn tapi sayang dia sedang tidak ada di apartemennya.” Daniel membuang napas lega mengetahui hal itu, ia bersyukur karena Karelyn sedang berada di luar.


“Tapi aku senang bertemu denganmu,” ucap Harry dengan senyum dingin menghiasi wajahnya membuat Daniel kembali siaga, ia harus bertahan dan mengulur waktu sampai Gerard datang.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Daniel mencoba bersikap normal dan setenang mungkin.


“Ya... sesuatu yang sangat penting, bukankah begitu?”


Harry Robert berkata sambil menatap ke arah belakang Daniel, membuatnya membalikan badan tapi semua terlambat ketika sebuah jarum suntik menusuk lehernya membuatnya merasa lumpuh dalam waktu sekejap, penglihatannya mengabur dan kesadarannya perlahan menghilang. Tapi ia masih bisa mendengar suara Harry Robert ketika menyuruh pria itu mengangkat tubuhnya yang tak bisa bergerak.


****


Haiiii.... nah ketahuankan, ternyata Harry Robert, dan hanya 1 orang yg betul, dari awal dia sudah curiga sama Harry @Mazaya selamaaat 👏👏👏👏 tapiiii... siapa laki" yg membius Daniel dan menjadi kaki tangan Harry???? 😈

__ADS_1


__ADS_2