
“Kerelyn sayang, bisakah kau tenang dulu?” Eddy berusaha menenangkan Kerelyn yang terlihat sangat cemas, dia berdiri tak jauh dari garis kuning yang dipasang polisi, kehadirannya menarik perhatian para wartawan yang kini sudah berkerubung meliput kejadian dari pesta amal kaum jetset menjadi penyanderaan orang-orang ternama negri itu.
“Tenang! Bagaimana bisa tenang, apa kau tak mendengar suara tembakan tadi? Daniel dan yang lainnya sedang barada di dalam, mereka dalam bahaya, Eddy!” Seru Kerelyn sambil menatap managernya dengan marah.
“Aku tahu, tapi apa kau tidak sadar kalau sekarang kau tengah menjadi perhatian para wartawan,” bisik Eddy yang membuat Kerelyn semakin menatapnya garang.
“Aku tak peduli!”
Eddy membuang napas berat, dia terlihat putus asa dengan kekeras kepalaan gadis berambut merah itu, “Dengar, dengan kau berdiri di sini juga itu tak akan merubah apapun, biarkan para polisi melakukan tugasnya, kita bisa menunggu mereka di dalam mobil seperti yang dilakukan Sarah,” ucap Eddy mencoba memberi pengertian, Kerelyn menatapnya sebentar kemudian menatap para polisi yang tengah menyusun rencana, “Ayolah Kerelyn, aku berjanji tak akan pergi dari sini sebelum mendapat kabar tentang Daniel.” Kerelyn terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia menyetujui permintaan Eddy. Mereka berjalan ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari sana, tapi mereka harus melewati para pemburu berita yang langsung mengerubuni dan berebutan mengajukan pertanyaan.
“Apa sudah ada kabar dari mereka?” Sarah langsung mengajukan pertanyaan setelah Kerelyn masuk ke dalam mobil, Eddy terlihat tengah mengatasi para wartawan supaya tidak mengganggu mereka saat ini.
“Belum, aku tak bisa menghubungi Daniel maupun Lexa,” ucap Kerelyn dengan putus asa, “Aku harap mereka semua baik-baik saja,” lanjutnya dengan wajah cemas sambil menatap ke arah bangunan dimana orang yang sangat dia sayangi tengah berada di sana di balik tembok tinggi yang memisahkan mereka dan dalam bahaya.
Menit berlalu tapi keadaan di dalam masih sama, mereka menuntut polisi menyiapkan sejumlah uang tebusan dengan jumlah fantastis, ahli negosiasi yang didatangkan tengah berusaha membujuk para penjahat itu untuk membebaskan para sandera dan meminta waktu untuk memenuhi permintaan mereka. Di sisi lain Kerelyn bisa melihat tim SWAT dan FBI yang telah bergabung dengan kepolisian New York tengah melakukan persiapan dengan persenjataan lengkap. Demi Tuhan, dia sering kali memerankan adegan seperti ini dalam serial TV-nya yang fenomenal, tapi dalam keadaan nyata ini jauh lebih kompleks dan jauh lebih berbahaya, tak seperti di serial drama yang ada skenarionya hingga ia mengetahui apa akhir dari kisah itu, tapi sekarang ia benar-benar tidak tahu, dan itu membuatnya hampir menjadi gila.
Ia tahu kalau ia mencintai Daniel tapi kini ia sadar ini bukan hanya cinta biasa yang selama ini sempat ia rasakan kepada mantan pasangannya yang lain. Ini cinta yang lebih besar dan dalam, hanya dengan memikirkan pria itu dalam bahaya telah membuat ia kehilangan akal sehatnya, ia tadi bahkan nekad untuk menerobos ke dalam bangunan itu kalau saja Eddy dan Sarah tidak menahannya, belum lagi ia berani memarahi para polisi yang bertugas untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kekasih dan teman-temannya, dan ia yakin sorot kamera berhasil menangkap kejadian itu tapi ia tak peduli... ia tak peduli pemberitaan tentang dirinya yang besok akan beredar yang ia pedulikan saat ini adalah melihat pria bermata hitam itu menatapnya sambil tersenyum tak kurang satu apapun.
“Eddy, lakukan sesuatu atau aku yang akan melakukannya!”
Eddy membuang napas berat sambil menatap Kerelyn dengan pandangan lelah, “Kerelyn, aku baru saja duduk di dalam mobil ini selama lima menit apa kau lupa? Dengar, aku tadi telah bertanya kepada para polisi dan kondisi saat ini masih sama, mereka belum mengetahui apa ada korban yang disebabkan oleh tembakan tadi atau tidak.” Kerelyn kembali terlihat putus asa, bagaimana kalau tembakan itu melukai Daniel? Atau Alexa? Atau Raina? Atau Gerard? Bahkan Alex? Ia mengumpat dan itu membuat Sarah mengangkat alis matanya karena ia baru mengetahui ternyata artis terkenal yang ia baru kenal itu bisa mengeluarkan umpatan seperti itu.
“Aku bisa gila kalau hanya duduk di dalam sini,” ujar Kerelyn sambil bergerak hendak membuka pintu mobilnya tapi Eddy cepat-cepat menahannya.
“Kerelyn sayang, dengarkan aku seandainya ada informasi baru di luar sana kita bisa melihatnya dari sini, para wartawan tak akan tinggal diam saja, mereka pasti akan telihat sangat sibuk... seperti sekarang ini,” ucap Eddy terlihat bingung ketika ia melihat para wartawan tiba-tiba berlari ke arah belakang mereka setelah sebelumnya beberapa polisi berjalan dengan cepat terlebih dahulu.
__ADS_1
Mereka bertiga menatap ke arah terjadinya kehebohan dimana para wartawan tengah mengerubuni sesuatu dengan pengawalan para polisi, jantung Kerelyn tiba-tiba berhenti sepersekian detik sebelum akhirnya berdetak mengila ketika matanya menangkap gerombolan orang-orang yang tengah di kerubuni para wartawan itu.
“Ya Tuhan, itu mereka!” Seru Sarah dengan mata berbinar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Kerelyn membuka pintu mobil itu dengan tergesa-gesa lalu berlari ke arah kerumunan wartawan, dia menyeruak keramaian tak peduli bila harus mendorong para kuli tinta itu untuk memberinya jalan, “Daniel!” Teriaknya hingga mengalihkan perhatian para wartawan yang kini mulai mengalihkan fokusnya kepada gadis berambut merah itu.
Tak memedulikan sorot kamera yang mengawasinya ia berlari sambil berurai airmata ke dalam pelukan pria yang telah membuatnya seperti orang gila, dia mencium Daniel yang balas memeluknya, setelah melepaskan pelukannya ia menatap mata hitam yang sangat ia rindukan yang kini tengah menatapnya lembut.
“Apa kau tak apa-apa? Apa kau terluka?” tanya Kerelyn sambil menatap tubuh Daniel dari atas sampai bawah.
“Aku tak apa-apa,” jawab Daniel sambil tersenyum, mereka saling pandang untuk beberapa saat sebelum Gerard berdehem menginterupsi acara pandang-pandangan itu.
“Guys, bisakah kalian melanjutkan saling pandangnya nanti saja?” tanyanya yang membuat Kerelyn tersipu malu karena telah melupakan keberadaan teman-teman yang lainnya.
“Maafkan aku.. apa kalian tak apa-apa?” tanya Kerelyn sambil memeluk Alexa dan Raina yang mengenakan jas milik Gerard dan Daniel di bahu masing-masing, dan ia bisa melihat Sarah kini tengah bergelayut mesra di tangan Gerard yang sepertinya tak keberatan dengan perlakukan gadis itu.
Daniel berdiri tegak sambil menatap para wartawan yang menyodorinya microphone dengan berbagai logo televisi, ada juga yang menyodorkan alat perekam, mereka berebut memberikan pertanyaan tapi Daniel hanya terdiam dengan Kerelyn di sampingnya, sedangkan Alexa, Raina, Gerard dan juga Sarah berdiri di belakangnya, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut untuk menjawab pertanyaan yang membabi buta itu, pertanyaan berputar tentang apa yang sedang terjadi di dalam kediaman milik Simon Javier? Bagaimana mereka melarikan diri? Tapi ada juga yang bertanya tentan hubungannya dengan Kerelyn, dan Daniel bisa mengetahui kalau itu adalah pertanyaan dari para wartawan entertainment yang tadi meliput pesta amal sebelum terjadinya teror. Keramaian itu tiba-tiba berhenti setelah Daniel mengangkat tangan kanannya meminta semua untuk diam.
“Aku tak bisa menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi karena itu bukan kapasitasku, aku yakin para polisi sebentar lagi akan menjelaskannya kepada rekan-rekan semua setelah mereka berhasil mengatasi ini, jadi mari kita beri kesempatan dan dukungan kepada mereka untuk melakukan tugasnya dengan baik. Dan tentang hubunganku dengan Miss. Howard... dia adalah kekasihku, terimakasih.”
Setelah mengatakan itu Daniel dan yang lainnya langsung pergi menerobos kerumunan para wartawan yang terkejut dengan pengakuan Daniel tentang hubungannya dengan Kerelyn yang berhasil mengalihkan perhatian mereka dari kondisi yang terjadi saat ini. Eddy yang daritadi berdiri di antara kerumunan para wartawan langsung membelalakan mata tak percaya menatap Daniel yang hanya tersenyum miring menatapnya, dan ia bisa melihat Eddy mengumpat kesal mengingat bagaimana dia berusaha menyembunyikan hubungan mereka berdua tapi Daniel mengacaukannya dengan memberi pernyataan seperti itu.
Mereka semua diobati oleh paramedis dan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para polisi tentang apa yang telah terjadi di dalam, setelah itu mereka diminta untuk pulang, Gerard dan Sarah pulang bersama, sedangkan Daniel dan yang lainnya pulang ke rumah orangtuanya di West Village yang sangat mengkhawatirkan keadaan putra-putrinya. Eddy berencana mengantarkan Kerelyn pulang tapi gadis itu memilih untuk ikut bersama dengan Daniel.
Sedangkan Alex walaupun dengan kondisi badan penuh dengan luka tapi dia ikut kembali dalam upaya penyelamatan para sandera. Dengan rambut gondrong yang berantakan, jambang yang menutupi rahangnya, ditambah sarung pistol di atas kemeja putihnya yang terkena percikan darah malah membuat pria itu semakin keren dan berbahaya, dan membuat para juru kamera memfokuskan lensa mereka kepada aksi detektif NYPD itu.
__ADS_1
Selama perjalanan ke kediaman keluarga Winchester, mereka menceritakan bagaimana mereka bisa melarikan diri, pintu rahasia yang ditemukan Daniel mengantarkan mereka ke pabrik narkoba yang selama ini dicari para polisi, di tempat itu mereka juga menemukan barang bukti berupa bahan-bahan pembuat barang haram dan juga tumpukan barang yang telah siap edar. Tapi selain itu mereka menemukan pintu keluar rahasia yang ternyata terhubung dengan sebuah bangunan yang terdapat di belakang benteng kediaman Simon. Alex menduga kalau bangunan itu menjadi akses para pekerjanya untuk keluar masuk pabrik itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan lewat bangunan itu pula Alex berencana membawa tim SWAT dan FBI untuk menyelamatkan para sandera dan menangkap para penjahat itu.
Mereka akhirnya sampai di kediaman Winchester, rumah yang terlihat hangat dan asri. Pintu rumah tiba-tiba terbuka dan penghuni rumah itu mulai berhamburan keluar ketika melihat mobil Daniel berhenti di depan rumah mereka,
“Ya Tuhan! Kalian tak apa-apa?” Seru Mrs. Winchester sambil memeluk Alexa, Raina dan juga Daniel setelah mereka turun dari mobil.
“Kami tak apa-apa, Mom,” jawab Daniel sambil tersenyum menenangkan wanita paruh baya yang terlihat menangis karena bahagia putra-putrnya bisa pulang dengan selamat.
“Kalian telah membuat kami terkena serangan jantung waktu mengetahui tentang peristiwa tadi,” ujar Emily sambil memeluk kembarannya.
“Kami bersumpah akan menyusul dan menerobos ke sana kalau lima menit tidak mendapat kabar dari kalian!” Seru Dylan dengan wajah serius yang mendapat dukungan dari Theo dan ayah Daniel, “Berjanjilah kalau ini terakhir kalinya kau berhubungan dengan kondisi berbahaya?” lanjutnya sambil memeluk Alexa penuh kasih sayang, setelah gadis itu terlepas dari pelukan ayahnya.
Di belakangnya berdiri Theo dan Calista yang bergantian memeluk mereka bertiga, meninggalkan Kerelyn yang hanya berdiri dengan canggung melihat kehangatan keluarga mereka, sampai akhirnya Dylan menyadari kehadirannya.
“Kerelyn,” sapanya sambil memeluk gadis itu ramah, “Maafkan kami, kami begitu mengkhawatirkan mereka bertiga sampai tak menyadari keberadaanmu,” lanjutnya sambil tersenyum, membuat semua orang kini menyadari keberadaanya.
“Oh maafkan aku... apa kau baik-baik saja?” ujar Emily sambil memeluk Kerelyn dengan hangat.
“Aku baik-baik saja, terimakasih, Em.”
Daniel tersenyum melihat ibunya yang menatapnya dengan mata berbinar menggoda sambil menatap Kerelyn, “Apa kau kekasih Daniel?” tanyanya dengan terus terang membuat gadis itu memerah.
“Mom, ini bukan saatnya kau mewawancarai calon menantumu,” ucap Daniel yang membuat wajah Kerelyn semakin memerah.
“Oh iya, maafkan aku, kau benar... ayo kita masuk, kalian pasti sangat lelah dan lapar,” ucap Mrs. Winchester yang melepaskan rangkulan Daniel lalu merangkul tangan Kerelyn sambil menariknya masuk ke dalam rumah. Melihat itu Daniel hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Jadi berapa mobil yang kau hancurkan kali ini, Lexa?” Goda Theo sambil merangkul Alexa masuk ke dalam rumah, membuat gadis itu tertawa.
****