The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 16


__ADS_3

Daniel mengambil minuman dingin dari dalam lemari pendinginnya, dia sangat menginginkan bir dingin saat ini tapi tidak, saat ini dia memerlukan pikiranya untuk tetap berpikir jernih kalau tidak... well, dia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan kepada perempuan yang saat ini berada di kamar tamu miliknya.


Kerelyn setelah awalnya menolak akhirnya bersedia untuk tinggal di apartemen miliknya, bukan tanpa alasan ia mengajak gadis berambut merah itu tinggal bersamanya mengingat Simon, mantan kekasihnya mengetahui tempat dimana dia tinggal dan bisa saja masuk ke sana tanpa sepengetahuan siapapun dan membahayakan hidupnya lagi.


Daniel berjalan menuju balkon dan duduk di kursi ayunan panjang miliknya dengan kaleng soda di tangan kanannya, matanya menatap pemandangan sungai Hudson dengan kerlip lampu kota New York yang tak pernah tidur. Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari tapi ia belum bisa menutup matanya, bagaimana bisa ia tidur ketika telinganya tiba-tiba menjadi sangat sensitif, pendengarannya menjadi seperti Superman yang bisa menembus dinding hingga ia bisa mendengar suara kasur dari kamar tamu setiap Kerelyn pindah posisi tidurnya, dan seketika pikirannya berkelana membayangkan hal yang tidak-tidak.


Daniel kembali membuang napas panjang mencoba menghalau pikiran nakal itu sambil meneguk sodanya, seketika ia dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar di saku celananya, setelah melihat nama Alex yang keluar di layar telepon ia mengangkatnya.


“Apa kau tak ada kerjaan lain selain menghubungiku di jam sekarang?”


“Dan apa kau tak ada kerjaan lain selain mengangkat telepon dariku, mengingat ada perempuan seksi yang menginap di tempatmu? Oh biar ku tebak, apa kau baru selesai mandi air dingin?”


“Diam kau!” Seru Daniel sambil tertawa yang membuat Alex ikut tertawa karena tebakannya benar.


“Ada apa dengan kau, Dylan dan Theo.. kenapa tidak kalian lakukan saja daripada mandi air dingin setiap malam?”


Daniel mendengus mendengar pertanyaan Alex, “Kau akan merasakan setelah kau bertemu dengan perempuan yang tepat karena pada saat itu yang ingin kau lakukan adalah menjaga dan melindunginya dan kau akan bertahan untuk tidak menyentuhnya hingga pada saat dia menjadi milikmu.”


“Dan menurutmu kau sudah menemukan perempuan yang tepat?”


Daniel terdiam memikirkan pertanyaan Alex, apa dia benar-benar telah jatuh cinta pada Karelyn? Apa dia perempuan yang tepat untuknya? Daniel mengerutkan alisnya mencoba memahami arti perasaannya untuk gadis itu.


“Entahlah, aku tak tahu, A! Aku menyukainya, sungguh aku sangat menyukainya.”


“Dan hanya pria tak normal yang tak menyukainya.”


“Iya kau benar, hanya yang tak normal yang tidak menyukainya.”


“Tapi... apa kau mencintainya?”


Daniel terlihat putus asa, ia berdiri lalu sikunya ia tumpukan di atas pagas balkon, “Entahlah... apa menurutmu aku mencintainya?”


“Oh iya.. kau sedang jatuh cinta saat ini.”


“Dan dariman kau tahu?”


“Ayolah, D, kau seperti Dylan dan Theo yang akan membunuh siapa saja yang berani menatap Em dan Calista, bahkan Theo.. dia cemburu pada Dylan yang calon Kakak iparnya sendiri.. bukankah itu sangat konyol?”


“Seperti kau yang akan menembak siapapun yang mendekati Lexi?”


“Hei! Itu tidak sama!” Protes Alex yang membuat Daniel tersenyum.


“Apanya yang beda?”


“Itu... itu jelas berbeda hanya perhatian dari seorang kakak terhadap adiknya, seperti yang akan kau dan Gerard lakukan.”

__ADS_1


Daniel kembali mendengus mendengar jawaban Alex.


“Tapi aku dan Gerard tak akan mengancam mereka dengan senjata.”


“Karena kalian tidak memiliki senjata, dan hanya aku yang memilikinya... hei, kita sedang membicarakan kau dan Kerelyn bukan aku!”


Daniel kembali membuang napas panjang, tangan kanannya menggoyang-goyong kaleng soda yang hampir habis sebelum akhirnya ia meneguknya sampai tandas.


“Jadi katakan kepadaku, apa aku sedang jatuh cinta? Ya selain soal membunuh siapapun yang berani menantapnya, karena bahkan kita semua akan melakukan itu terhadap siapapun yang berani mendekati si kembar.”


“Dengar, yang bisa menjawab itu hanya kau sendiri karena kau yang tahu apa yang sedang kau rasakan padanya, jadi untuk yang satu ini aku tak bisa jawab secara pasti.”


Daniel menghembuskan napas panjang ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi ayunan, kepalanya ingin menyangkal semua yang ia rasakan tapi sepertinya percuma karena perasaannya jauh lebih kuat saat ini sehingga semua logika pembantahan yang ia siapkan dapat dipatahkan dengan mudah.


“Aaahh... sial, aku tak tahu kalau jatuh cinta akan menyusahkan seperti ini,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutnya, dan seketika dia bisa mendengar suara tawa Alex yang terdengar bahagia melebihi dirinya.


“Berhenti tertawa seperti itu! Apa kau menghubungiku tengah malam seperti ini hanya untuk menertawakanku? Kalau iya, aku akan menutupnya sekarang.”


“Tunggu dulu! Percayalah ini hanya bonus untukku... tapi ada yang lebih penting saat ini.”


Daniel bisa mendengar nada suara sahabatnya itu yang berubah serius, dan membuatnya duduk tegak.


“Ada apa?”


Daniel terhentak mendengar ucapan Alex, dia kini terlihat serius.


“Jelaskan padaku.”


“Aku mendengarnya di The Rock, Simon memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Kerelyn sebelum gadis itu memberi tahu orang lain, dan sayangnya aku tidak tahu apa yang di ketahui Kerelyn, tapi aku menebak ini berhubungan dengan sebuah lokasi.”


“Lokasi?”


Daniel mendengar Alex membuang napas berat sebelum menjawab pertanyaannya.


“Seharusnya aku tak memberi tahu tentang ini tapi, untuk saat ini kami memerlukan bantuanmu, jadi aku akan menjelaskannya kepadamu... Simon dicurigai memiliki tempat pembuatan heroin di New York.”


“Sial!”


“Dan seharusnya menjadi tugasku untuk mencari lokasi itu, maka dari itu aku menyamar sebagai seorang bandar tapi sampai saat ini aku belum menemukan titik terang, dia belum setuju untuk memerlihatkan lokasi pembuatan barang haram itu, dan sepertinya Kerelyn tanpa sadar mengetahui lokasinya... jadi, maukah kau mencari tahu tentang lokasi itu? Kami tidak bisa menanyainya secara langsung karena hanya akan membuat baj*ngan itu curiga.”


Daniel terdiam beberapa saat memikirkan kalau sampai apa yang diucapkan Alex itu benar maka Kerelyn benar-benar dalam bahaya karena dia adalah kunci dari kerajaan bisnis haram seorang Simon Javier.


“Baiklah aku akan bertanya padanya dan akan memberitahumu seandainya ia mengetahui tentang itu.”


“Bagus.. aah aku harap dia mengingatnya supaya aku bisa mengakhiri penyamaran ini. Baiklah, D, aku perlu tidur sekarang dan sebaiknya kau juga tidur, besok kau akan memerlukan tenaga ekstra untuk melindungi kekasihmu.”

__ADS_1


“Yeah kau benar, aku akan menghubungimu besok.”


Daniel menutup teleponnya, ia berdiri kemudian masuk ke dalam apartemenya, ia melewati ruangan yang dihiasi sofa warna coklat dan TV LED 42’ yang menempel di dinding depan sofa, sedangkan dinding satunya seperti wall of frame pribadi pria itu, dimana dipenuhi oleh foto-foto hasil karyanya ketika berkeliling dunia.


Ia kini berdiri di depan pintu kamar tamunya dimana Kerelyn tengah terlelap malam ini, ia menatap pintu itu beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar tamu.


Setelah beberapa menit berbaring di atas tempat tidur, Daniel akhirnya bisa terlelap dan baru bangun ketika ketika jam menunjukan pukul 9 pagi, ia telah menghubungi kantornya dan mengajukan cuti selama beberapa hari kedepan. Ia tidak mau kejadian seperti yang menimpa adik kembarnya dan ia tak ada di samping mereka kembali terulang, oleh sebab itu kali ini ia akan selalu mengawasi Kerelyn selama gadis itu di dalam bahaya.


Daniel keluar dari kamarnya masih dengan rambut berantakan dan hanya mengenakan celana training putih dan kaos oblong putihnya, ia berjalan ke arah dapur dimana tercium bau kopi yang langsung membuatnya tersenyum.


“Selamat pagi,” ucapnya masih dengan suara serak yang membuat Kerelyn memutar tubuhnya dari kompor dimana dia tengah membuat pancake untuk sarapan, matanya terbelalak melihat pemandangan yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya saja dan ini melebihi khayalan terliarnya sekalipun, Daniel terlihat sangat seksi dengan rambut berantakan, mata yang masih sedikit mengantuk, suara yang seksi dan senyum manis mengembang yang menyapanya.


Kerelyn masih menatapnya tanpa berkedip ketika Daniel melintasi meja makan yang terbuat dari kayu mahoni berwarna hitam, lalu mengecupnya singkat.


“Apa kau sengaja membuat pancake gosong, Sweetheart?” goda Daniel sambil tersenyum miring yang membuat Kerelyn kembali tersadar.


“Ya Tuhan!” Ia langsung mengangkat pan cake yang sudah terlihat menghitam, lalu menaruhnya di atas piring.


“Sarapan kita sepertinya gagal,” ucapnya lesu sambil menatap tumpukan pan cake yang ditata di atas piring, Daniel menaruh dagunya di atas bahu Kerelyn lalu matanya ikut menatap makanan yang sebagian besar memang gosong.


“Bagaimana kau tahu kalau aku sangat menyukai pancake gosong?” tanyanya yang membuat Kerelyn seketika tertawa, dan tanpa di sangka Daniel mencium pipinya sebelum pria itu meninggalkannya dengan santai menuju mesin pembuat kopi, lalu mengisi cangkirnya dengan minuman berkafein itu yang masih panas meninggalkan Kerelyn yang masih menenangkan jantungnya yang berdetak kencang karena tindakan sederhana pria itu tadi.


“Apa kau mau kopi?” Daniel bertanya sambil mengambil cangkir lagi.


“I-iya, aku sangat memerlukan kopi saat ini,” ujar Kerelyn sambil berjalan menuju meja makan yang membuat Daniel diam-diam tersenyum karena memahami kenapa gadis berambut merah itu sangat memerlukan kafein saat ini.


Daniel membawa dua cangkir berisi kopi mereka lalu duduk di hadapan Kerelyn yang pagi ini sudah terlihat santai dengan skiny jeans yang membalut kaki jenjangnya dan kaos merah dengan logo salah satu brand ternama yang menghiasi bagian tengahnya.


“Apa rencanamu hari ini?” tanya Daniel sambil duduk santai dengan kopi ditangannya.


“Hari ini aku akan menjalani shooting episode terakhir FBI season ini.”


Daniel mengangguk sambil menikmati kopi kentalnya, “Apa kau sudah memberi tahu Eddy mengenai pengawal?”


Kerelyn menggelengkan kepalanya, “Belum, rencananya hari ini aku akan membicarakan masalah ini dengannya.”


Daniel kembali berjalan ke arah meja dapur dan membawa pancake gosong buatan Kerelyn, “Sebaiknya kau tak menunda-nundanya lagi,” ucap Daniel sambil memindahkan 2 buah pancake ke atas piring yang lebih kecil lalu menyiramnya dengan sirup rastbery kemudian mulai memakannya yang membuat Kerelyn mengernyit membayangkan rasanya.


“Kita tak bisa meremehkan mantan kekasihmu itu,” ujarnya dengan mulut penuh kemudian menelan sarapannya sebelum melanjutkan ucapannya, “Alex telah menceritakannya padaku kalau dia sangat berbahaya, jadi kita harus sangat berhati-hati.”


Rasa takut kembali menyerang Kerelyn, dia sangat tahu dan pernah merasakan seberapa bahayanya seorang Simon Javier, tiga tulang rusuk dan hidungnya patah, pendarahaan di dalam kepalanya, matanya hampir mengalami kebutaan, dan membuatnya harus menjalani serangkaian operasi dan tinggal di rumah sakit selama berminggu-minggu, belum lagi rasa trauman yang membuatnya harus menjalani konseling teratur dengan seorang psikiater.


Daniel menyadari rasa takut yang dirasakan gadis di hadapannya, dia menggenggam tangan Kerelyn yang langsung terlonjak ketakutan, dia memerlukan beberapa waktu untuk menyadari kalau yang kini menarik tangannya untuk di genggam adalah pria bermata hitam yang menatapnya dengan lembut, pria yang dulu menyelamatkannya, pria yang semalam melindunginya, pria yang ia cintai... ya ia kini bisa kembali tersenyum setelah menyadari kalau yang duduk di hadapannya adalah Daniel Winchester sang malaikat pelindung bukan Simon Javier sang iblis.


*****

__ADS_1


__ADS_2