The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 50


__ADS_3

"Dan bagaimana dengan Simon apa kalian juga yang membunuhnya?” tanya Raina membuat keduanya menatap mereka dengan mata berbinar.


“Tentu saja... kalian tahu, Harry selalu bercerita tentang ibunya yang cantik tapi harus meninggal dengan sangat mengenaskan, benarkan Harry?” tanya Matt membuat Harry mengangguk dengan sedih.


“Di sana... tepat di sana.” Harry menunjuk lantai di depannya dengan sedih, “Ia terbaring dengan luka-luka diseluruh tubuhnya, rambut merahnya semakin merah dan lengket oleh darah,” ucapnya tanpa berkedip, “Dan aku... aku hanya mengkerut di pojok sana menyaksikannya mati, tak melakukan apapun!” Harry berteriak dengan penuh emosi sambil berdiri, napasnya terengah-engah, matanya nyalang menatap pojok ruangan tak jauh dari tempat Kerelyn dan Raina yang saling berdempetan dan berpegangan tangan dengan kencang melihat itu.


“Harry... ssttt...” Matt berusaha menenangkannya, dia memegang wajah pria berkacata mata tebal itu dengan kedua tangannya lalu menatap matanya dengan lembut, “Harry, kau berhasil membunuh baj*ngan itu, apa kau ingat?” lanjut Matt dengan meyakinkan membuat Harry mengangguk, “Itu bagus Harry... kau sangat pintar.” Dan seketika Harry-pun tersenyum bangga mendengar ucapan Matt.


“Dan lihat sekarang.” Matt kini merangkul bahu Harry membuatnya menatap ke arah Kerelyn yang memucat, “Kita berhasil menyelamatkannya,” lanjut Matt sambil tersenyum membuat Harry ikut tersenyum lebar sambil mengangguk.


“Kita berhasil menyelamatkannya... dia masih hidup.”


Harry berkata sambil menatap Kerelyn dengan mata berbinar dan seringai yang membuat Kerelyn semakin berlindung di belakang Raina yang juga terlihat ketakutan.


“Iya... dia selamat, Harry... sekarang kau sangat kuat dan hebat, kita tak akan membiarkan siapapun melukainya, benarkan?”


“Iya benar... kita tak akan membiarkan siapapun melukainya,” ucap Harry seperti anak kecil yang mengikuti semua perkataan orangtuanya.


“Kita bahkan berhasil membunuh Simon, setelah tiga tahun!” seru Matt dengan senyum penuh kemenangan membuat mata Harry ikut membulat dengan kebanggan.


“Kerelyn kau tahu, aku berhasil membunuh Simon untukmu! Kau tak perlu khawatir lagi... dia tak akan melukaimu,” ujar Harry sambil menatap Kerelyn dengan mata berbinar berharap gadis yang kini ketakutan itu akan memujinya.


“Bukankah dia meninggal di Kanada?” Kerelyn bertanya dengan gugup. Harry menatap Matt lalu keduanya memperlihatkan senyum misteri dari keduanya.


“Kerelyn, apa kau ingat kalau tadi Harry berkata tentang kerjasama dengannya?” Matt mengambil alih pembicaraan, dia berjalan mendekati Kerelyn dan Raina dengan kedua tangan di saku celananya.


“Itulah kenapa kami tak bisa menyingkirkannya untukmu selama ini karena kami masih sangat membutuhkannya. Tapi... semua berbeda ketika polisi mengetahui tentang yayasan Javier dan membekukan semua rekening dan asetnya. Kami mengalami kerugian yang lumayan besar tapi semua terbayar dengan nyawanya.”


Kerelyn dan Raina bisa melihat rasa puas dari sorot mata Matt ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Kerleyn benar-benar tak menyangka kalau selama ini dia begitu dekat dengan dua orang pembunuh berdarah dingin ini. Bahkan yang membuatnya sedih adalah mereka membunuh demi dirinya.


“Simon telah merencanakan tentang pelariannya jauh-jauh hari... dan aku... akulah yang menyiapkan tempat persembunyian itu untuknya,” Harry terlihat menyeringai bak iblis ketika kembali berkata, “Dan tentu saja aku menyiapkannya lengkap dengan malaikat maut di dalamnya.”

__ADS_1


Matt tersenyum bangga ketika Harry menatapnya, “Kau ingat Kerelyn, kalau aku mengatakan pergi bermain sky di Vancouver? Saat itulah aku memersiapkan segalanya termasuk sebuah kado kecil untuknya yang terpasang di saluran gas rumah itu.” Matt tiba-tiba tertawa membuat Kerelyn dan Raina kembali mengeratkan pegangan tangan mereka.


“Kalian seharusnya melihat bagaimana indahnya api itu melahap tempat persembunyian ******** itu... begitu merah dan panas... seperti rambutmu, Kerelyn.” Matt berkata sambil mencium rambut Kerelyn yang membuat gadis itu mencengkram tangan Raina dengan sangat kencang sambil memejamkan matanya erat-erat, berusaha menahan diri.


“Jadi... kalian membunuh mereka semua untuk menyelamatkan Kerelyn dari bahaya?” tanya Raina berusaha mengalihkan perhatian sambil perlahan menarik Kerelyn ke belakang tubuhnya menghalangi dari Matt yang kini menatapnya penuh misteri.


“Iya tentu saja, kami hanya ingin menjauhkannnya dari segala macam bahaya,” ujar Matt sambil berjalan berbalik menjauh dari Kerelyn dan Raina yang bersyukur karena hal itu.


“Tapi kenapa kalian melakukannya secara diam-diam, tanpa memberitahunya? Bukankah kalian sangat dekat dengannya selama ini? Kenapa kalian tidak mengatakannya saja?” Raina memberanikan diri bertanya, ia akan melakukan apapun untuk mengulur waktu sampai Alex datang.


“Kami tidak melakukannya diam-diam... kami selalu mengiriminya bunga tulip setiap kami telah beraksi sebagai tanda kalau semua telah baik-baik saja. Tapi kami harus menyembunyikan hal ini selama ini karena kami tak ingin berbagi rahasia dengan yang lain, dan membodohi orang itu sangat menyenangkan. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Kadang kami berdua tertawa melihat bagaimana mereka semua bisa dengan mudah dibohongi selama ini.”


Harry mengangguk membenarkan, “Dan mereka hanya ingin melihatku sebagai pengusaha yang telah sukses menjalankan perusahan peninggalan orangtua angkatnya, tanpa mengetahui bagaimana aku mendapatkannya... aku harus berterimakasih kepada Matt karena mengingatkanku kalau aku berhak atas ini semua dan menyingkirkan kedua orangtua pelit itu.”


“Harry... kau adalah orang yang selalu ada di sampingku selama ini, tentu saja aku harus melakukannya, bukankah kau telah membayarnya dengan menyingkirkan baj*ngan tua itu untukku?” Mereka saling tersenyum lebar sedangkan Kerelyn dan Raina terbelalak tak percaya kalau mereka berdua bahkan membunuh orangtua mereka sendiri.


BRAANG..!!! mereka semua terperanjat mendengar suara keras seperti seng yang dipukul dari arah belakang, Kerelyn dan Raina saling pandang dengan jantung berdetak kecang.


“Mereka hanya anak-anak, Harry... kau ingat kita juga pernah berbuat nakal seperti mereka,” ucap Matt dengan santai membuat Harry kembali tenang.


“Apa kalian juga yang melakukan pada rem mobil Daniel?” tanya Kerelyn membuat Harry dan Matt kembali mentapnya.


“Harry, sedikit marah saat itu karena melihatmu dan Daniel di swalayan, jadi dia sedikit bermain dengan mobilnya walaupun gagal karena pencuri itu telah mengacaukan semuanya.”


“Seharusnya itu berhasil seandainya kau tidak membiarkan ******** itu mencuri mobilnya, Matt,” ucap Harry dengan mata tajam menatap Matt.


“Aku tak tahu kalau dia seorang pencuri, Harry,” ujar Matt berusaha membela diri.


“Tapi bagaiman kalau saat itu, Kerelyn ikut terluka? Bukankah kalian ingin melindunginya?” Raina bertanya membuat kedua pria itu menatapnya.


“Tentu saja tidak, karena aku telah berencana akan membawa Kerleyn dengan mobilku dengan begitu dia akan selamat. Tapi pencuri itu menggagalkannya!” geram Harry dengan emosi, “Tapi dia telah mendapat ganjarannya, aku melihat sendiri bagaimana hancurnya mobil itu dan dapat dipastikan kalau ******** itu tidak selamat,” lanjutnya dengan seringai rasa puas di wajahnya, dan Kerelyn kini mengetahui sepertinya Harry belum mengetahui kalau pencuri itu telah berhasil menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


“Kerelyn, sayang, kami melihat bagaimana kau sedihnya setelah putus dengan Daniel, dan ini kedua kalianya kau terluka oleh pria yang kau cintai.” Matt memotong berbicara dan mendapat anggukan dari rekannya itu, “Oleh karena itu aku memutuskan untuk memberitahumu sekarang, kalau kau tak memerlukan orang lain, karena kau memilikiku, akulah yang selama ini melindungimu, Kerelyn.”


“Sial, Matt! Apa maksudmu dengan kau seorang? Aku! Aku juga melindunginya!” teriak Harry sambil menatap Matt dengan mata nyalang, membuat Matt terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia tersenyum.


“Tentu saja, Harry... maksudku kita berdua,” ucap Matt berusaha menenangkan Harry yang terlihat marah.


“Jangan melupakan itu Matt.. akulah yang merencanakan pembunuhan Simon, bahkan aku hampir membunuh Daniel kalau saja pencuri itu tidak menggagalkannya... itu bukan salahku, pencuri itu yang menggagalkannya,” ujar Harry dengan mata masih marah menatap Matt.


“Tentu saja... itu bukan salahmu, Harry.” Matt kembali berkata berusaha menenangkan Harry yang terlihat hampir kehilangan kendali, “Kita akan segera menghabisi pria itu... Daniel...” lanjut Matt kemudian melihat tangannya, “Sebentar lagi.. hanya sebentar lagi dan dia akan berakhir sama seperti yang lainnya.”


“Apa maksudmu?” Kerelyn berteriak bertanya membuat Harry dan Matt kembali menatap ke arah mereka, kini mereka bisa melihat kecemasan di mata coklat gadis itu.


Matt berjalan mendekati Kerelyn lalu merangkul bahu kedua gadis itu, mereka kini berjalan ke arah pintu belakang diikuti oleh Harry yang bersiul melantunkan lagu anak-anak dengan sangat pelan membuat bulu kuduk Raina dan Kerelyn meremang. Matt membuka pintu belakang yang langsung menyuguhi mereka dengan kebun bunga tulip putih dengan bercak merah yang terhampar luas dan itu akan terlihat indah di bawah langit cerah seperti saat ini sendainya mereka tidak dalam kondisi bahaya seperti sekarang. Kebun bunga itu dibentengi oleh pagar seng setinggi dua meter sehingga tersembunyi dari luar.


“Harry sengaja membeli dan membuat kebun ini untuk mengenang ibunya, dan kini kebun ini kami persembahkan untukmu, Kerelyn.”


Kerelyn memandang sekeliling kebun bunga itu, ia bisa melihat kalau kebun itu mendapat perhatian lebih daripada rumah tadi, kebun ini terlihat terawat berbeda dengan rumah yang terlihat terbengkalai. Kebun itu sangat luas, di ujung kebun ada sebuah gudang kecil dari kayu yang sepertinya tempat penyimpanan keperluan berkebun.


“Dimana Daniel?” Kerelyn bertanya dengan cemas setelah dia melihat sekeliling dan tak melihat sosok pria yang ia cintai itu.


“Dia sedang tertidur... di sana,” ucap Matt sambil menunjuk ke arah gudang, “Kerelyn, jangan khawatir.. sebentar lagi dia tak akan melukaimu lagi,” Matt berkata dengan seringai yang membuat jantung Kerelyn berdetak kencang.


“Apa yang kalian lakukan padanya!” Seru Raina sambil memberontak tapi Harry kini menahannya dengan sangat kencang.


Matt menatap Raina dengan tajam, “Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya, dan kita akan melihatnya bersama-sama,” ucap Matt menatap ke depan dengan pandangan dingin, ada rasa puas di dalam sorot matanya begitu juga Harry yang sepertinya menikmati moment ini, seiring dengan seringai iblis yang semakin lebar Harry memijit sesuatu seperti remot yang ada di dalam sakunya dan bersamaan dengan itu gudang kecil itu-pun meledak.


Jantung Kerelyn dan Raina seolah berhenti untuk beberapa detik, mata mereka terbelalak menatap api yang membumbung tinggi membakar gudang kayu, mulut mereka menganga tak percaya, berbeda dengan Harry dan Matt yang tertawa bahagia menatap itu semua.


“Daniel kini telah tiada,” bisik Matt membuat Kerelyn langsung berlari ke arah kobaran api.


“DANIEL!!!” Kerelyn berteriak memanggil nama kekasihnya dengan berurai airmata sambil berontak karena Matt berhasil menangkapnya kembali, begitu juga dengan Raina yang meneriakan nama kakak sepupunya dengan sangat kencang, ia menyikut perut Harry hingga terlepas dan iapun berlari menuju bangunan yang telah terbakar itu berharap masih bisa menyelamatkan Daniel tapi bangunan itu kembali meledak membuatnya terpental hingga tergeletak dengan kepala menghantam batu dan membuatnya tak sadarkan diri.

__ADS_1


*****


__ADS_2