The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Steven sibuk urusan kerja


__ADS_3

"Mia,kalian mau makan apa? Mau saya pesan saja atau aku masakin?". Tanya Jasmine.


"Tidak usah Jasmine,kita mampir doang buat main". Jawab Mia.


"Tidak masalah,ayo lah,aku dan Jasen juga perlu makan. Mumpung kalian sudah disini,enakan kita makan bareng". Kata Jasmine.


"Ya sudah terserah kamu saja". Kata Mia.


"Christine mau makan apa?". Jasmine bertanya kepada anaknya Mia.


"Tidak tau tante". Jawab Christine.


"Kalau tante masak chicken steak mau?".Tanya Jasmine lagi.


"Ok tante". Kata Christine.


"Kalau begitu saya bantu kamu masak,Christine jaga adik Jasen ya?". Ucap Mia.


"Baik Ma". Jawab Christine.


Christine yang lebih besar usianya dari Jasen di suruh menjaga adik,sementara Mia membantu Jasmine memasak di dapur. Sembari memasak,mereka juga membicarakan banyak hal sampai menyinggung soal Steven.


"Jas,apa Steven sekarang sudah sering pulang telat?". Tanya Mia.


"Iya Mia,sudah dua bulan belakangan ini". Kata Jasmine.


"Oh....". Ucap Mia yang tidak mau membahas lebih jauh.


"Kenapa Mia? Kamu takut Steven macam-macam di luar?". Tanya Jamsine.


"Hmmm...tidak dong,kan masalah kerjaan. Jabatannya sudah naik pasti kerjaan dan tanggung jawab juga lebih banyak". Terang Mia.


"Benar,selama Steven tidak mengabaikan keluarga dan bisa berbagi waktu untuk keluarga,saya pasti mendukung pekerjaanya". Jelas Jasmine.


"Iya yang terpenting adalah kalian harus saling percaya dan saling setia". Kata Mia.


Mia ingin sekali menyuruh Jasmine untuk lebih waspada kepada suaminya,walaupun mungkin itu masalah kerjaan,tapi sebagai seorang istri,dia ingin agar Jasmine lebih peka terhadap situasi. Namum kata-kata itu tidak bisa di ungkapkan Mia kepada Jasmine. Mia takut jika apa yang disampaikannya akan menjadi beban untuk Jasmine.


"Selesai...ayo kita makan". Kata Jasmine.


"Ayo makan Jasen,Christine". Kata Mia.


"Enak tidak masakan tante?". Tanya Jasmine.


"Enak sekali,saya suka steak buatan tante". Kata Christine.


"Masakan mommy ku paling enak". Lanjut Jasen.


"Mia,gimana rasanya? Enakan?". Tanya Jasmine.


Mia yang hanya menikmati steak di depannya namum tatapannya kosong membuat dia tidak merespon apa yang Jasmine katakan.


"Mia...Mia...". Jasmine memanggil sambil melambaikan tangannya di depan muka Mia.


"Hah...apa Jas? Tadi kamu bilang apa?". Tanya Mia.


"Aku tanya masakan aku enak tidak? Kamu malah melamun". Kata Jasmine.


"Oh enak dong,aku lagi menikmati dengan pelan-pelan". Kata Mia.


"Tidak,kamu jelas-jelas bengong tadi. Katakan ada apa?". Tanya Jasmine.


"Aku hanya terlalu fokus sama steak ayamnya. Ini terlalu enak soalnya". Kata Mia.


"Yang benar?". Tanya Jasmine.


"Iya dong,kamu tanya saja sama Christine. Masakan tante enak kan?". Tanya Mia ke Christine.


"Mama,tadi tante kan sudah tanya. Saya jawab enak". Ucap Christine.


"Oh udah tanya ya,mama sudah pikun". Jawab Mia.


"Kamu bukan pikun, saya tau kamu memikirkan sesuatu. Kamu sedang ada masalah apa? ceritakan saja. Mana tau saya bisa membantu". Kata Jasmine.


"Tidak Jasmine. Mungkin saya terlalu lapar tadi,jadi fokusku hanya sama makanan". Jawab Mia.


"Yakin? Kalau kamu ada masalah atau butuh bantuan,jangan segan-segan kasih tau ke saya". Kata Jasmine.


"Saya mana mungkin segan sama kamu Jasmine". Kata Mia.


"Baguslah kalau begitu". Ucap Jasmine.


Kemudian ada panggilan masuk dari Steven. Jasmine pun segera mengangkat teleponnya. Jasmine juga bilang ke Steven jika Mia dan anaknya berkunjung ke rumah. Kemudian Jasmine lalu menutup telepon.


"Steven telepon?". Tanya Mia.


"Iya,dia sedang makan malam dengan petinggi perusahaan. Dan mungkin agak larut baru pulang". Kata Jasmine.


"Oh,kamu tidak apa-apa? Kalau bosan,kita bisa teleponan sampai Steven pulang".Kata Mia.


"Saya tidak apa-apa. Tidak perlu teleponan,kamu juga butuh quality time sama suami dan anak-anak. Saya disini ada Jasen, setelah Jasen tidur,saya akan tidur juga. Tidak perlu menunggu sampai Steven pulang,dia punya kunci sendiri". Terang Jasmine.


"Baguslah,saya hanya khawatir sama kamu dan Jasen". Kata Mia.


"Iya tau. Kamu selalu mengkhawatirkan aku ini dan itu". Kata Jasmine.


"Ini kita sudah selesai makan,saya bantu cuci piring ya". Kata Mia.

__ADS_1


"Tidak perlu,biar saya saja". Kata Jasmine.


"Ya sudah kita cuci bareng". Kata Mia.


"Mia,kamu ini tamu. Mana ada yang suruh tamunya mencuci". Kata Jasmine.


"Aku bukan tamu,aku ini temanmu,sahabatmu,kakakmu. Jadi,ayo kita cuci bareng". Ucap Mia.


"Aku selalu kalah jika berdebat denganmu suhu". Kata Jasmine.


Setelah selesai mencuci,Mia dan Christine anaknya pamit pulang. Mia memastikan Jasmine untuk mengunci pintu dengan benar. Setelah Mia pulang,Jasmine dan Jasen masuk ke kamar untuk beristirahat.


"Mommy,daddy kok hari ini pulang malam lagi? Jasen mau ajak main". Kata Jasen.


"Jasen,daddy kan sibuk kerja. Demi apa daddy kerja?". Tanya Jasmine.


"Buat Jasen dan mommy". Jawab Jasen.


"Benar sekali. Jadi,kalau daddy pulang kerja sudah malam,jangan ajak main,harus kasih daddy istirahat ok?".Ucap Jasmine.


"Ok mommy,tapi besok boleh tidak daddy tidak pulang malam?". Tanya Jasen.


"Iya,nanti mommy tanya daddy ya,sekarang sudah malam,saatnya Jasen tidur. Besok masih mau ikut mommy ke kantor kan?". Kata Jasmine.


"Mau mommy,Jasen tidur dulu ya. Good night mommy". Ucap Jasen.


"Sleep well honey". Kata Jasmine sambil mencium pipi Jasen.


Setelah Jasen tidur,Jasmine yang lelah pun akhirnya tertidur. Steven yang pulang larut itu melihat anak istrinya sudah tertidur pulas,dia tidak membangunkan Jasmine,Steven segera mandi dan beristirahat.


Keesokan paginya,Jasmine menyiapkan sarapan untuk anak dan istrinya,dia juga mempersiapkan pakaian yang akan dipakai Steven ke kantor.


"Selamat pagi sayang,masak apa hari ini?". Tanya Steven.


"Masak mie,semalam jam berapa pulang? Kok tidak membangunkan saya?". Tanya Jasmine.


"Hampir jam dua belas malam,kamu sudah tidur nyenyak. Saya tidak tega membangunkan kamu. Maaf ya sayang,belakangan ini saya sibuk sekali,waktu saya berkurang untuk kamu dan Jasen". Kata Steven.


"Tidak apa-apa. Oh ya,hari ini apakah kamu pulang telat lagi?". Tanya Jasmine.


"Sepertinya iya,ada apa?". Kata Steven.


"Hmmmm....tidak apa-apa. Semalam Jasen bertanya kenapa kamu pulang telat terus,tapi sudah saya kasih pengertian". Terang Jasmine.


"Saya akan coba jelaskan juga ke Jasen,mudah-mudahan setelah selesai kontrak ini,saya sudah bisa sering temanin kalian". Kata Steven.


"Jasen ingin bisa bermain dengan kamu". Lanjut Jasmine.


"Saya mengerti,nanti akan saya bicara dengan Jasen". Kata Steven.


"Daddy...". Teriak Jasen sambil memeluk Steven.


"Jasen,kenapa? Kangen daddy?". Tanya Steven memeluk balik anaknya.


"Iya,daddy sudah lama kita tidak main bersama". Kata Jasen.


"Jasen,dengar kata daddy. Sekarang daddy masih sibuk,nanti kalau sudah selesai,daddy bisa temanin Jasen main lagi". Terang Steven.


"Tapi kapan daddy tidak sibuk?". Tanya Jasen.


"Masih harus beberapa hari lagi,Jasen yang sabar dulu ya. Daddy janji,setelah selesai kerjaan,daddy gak pulang malam lagi". Kata Steven.


"Janji ya?". Kata Jasen.


"Iya janji". Ucap Steven.


"Jasen dengar kan daddy bilang apa. Daddy sibuk kerja,kasih semangat dong buat daddy". Kata Jasmine.


"Muachh....". (Jasen mencium pipi Steven).


Setelah selesai makan,Steven mengantar Jasmine dan Jasen ke kantor. Hari ini adalah hari terakhir Jasen di titipkan ke kantor Jasmine.


Besok kakek dan nenek Jasen sudah balik dari luar negeri,Jasen sudah akan dititip ke rumah kakek neneknya seperti biasa.


"Selamat pagi paman dan tante,selamat pagi pak". Sapa Jasen seperti biasanya.


"Selamat pagi Jasen sayang". Ucap teman kantor Jasmine.


"Jasen,selamat pagi. Nanti siang ke ruangan saya ya,paman kasih es krim". Kata Pak Hadi.


"Horee....!!!". Teriak Jasen.


"Jasen,bilang apa?". Kata Jasmine.


"Terimakasih paman". Ucap Jasen.


"Anak pintar". Kata Pak Hadi.


"Pak,maaf ya Jasen saya bawa ke kantor lagi. Hari ini hari terakhir dia ikut saya ke kantor,besok orang tua saya sudah pulang,saya bisa titip Jasen disana". Kata Jasmine.


"Tidak perlu minta maaf,kamu sudah minta izin dan sudah diizinkan. Setiap staf disini boleh membawa anaknya ke kantor jika darurat. Lagian Jasen sangat manis,selalu membawa keceriaan". Kata Pak Hadi.


"Terimakasih pengertiannya Pak,saya takut Jasen menganggu staf lain. Tapi untungnya tidak". Kata Jasmine.


"Besok bawa ke kantor lagi juga tidak apa-apa,dia sangat lucu dan tidak menganggu sama sekali". Kata Pak Hadi.


"Terimakasih Pak,besok sudah saatnya dia ke rumah orang tuaku,mereka juga pasti sudah merindukan Jasen". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Kalau begitu sering-sering lah bawa Jasen ke kantor". Kata Pak Hadi.


"Baik Pak". Kata Jasmine.


"Wuahh...Pak Hadi saja senang dengan Jasen. Anakmu memang mengemaskan sekali Jasmine". Kata Mia.


"Kamu belum liat dia membandel". Kata Jasmine.


"Ini bungamu Jasmine. Oh ya ini bunga apa ya? Kenapa harumnya segar sekali seperti lemon?". Tanya Mia yang menyodorkan bouquet bunga untuk Jasmine.


"Ini bunga geranium. Bunga ini memang beraroma lemon". Kata Jasmine.


"Kamu memang sangat mengerti bunga". Kata Mia.


"Karena saya menyukai bunga". Kata Jasmine.


"Oh ya semalam Steven pulang jam berapa?". Tanya Mia.


"Hampir jam dua belas katanya". Jawab Jasmine.


"Hah..!! Serius itu kerja apa jam dua belas malam baru pulang?". Tanya Mia lanjut.


"Pertemuan dengan client penting perusahaan untuk membahas kontrak. Ya biasalah namanya tamu penting,temanin mereka makan-makan dan minum". Terang Jasmine.


"Tapi kamu yakin sampai selarut itu?". Tanya Mia lagi.


"Saya pernah beberapa kali mengikuti dia bertemu orang penting,dan memang selarut itu". Jelas Jasmine.


"Hmm...tapi kan kalau begini terus dampaknya sama kalian". Kata Mia.


"Benar,tapi mau gimana lagi. Jasen sudah mulai protes tentang ayahnya yang pulang malam. Kami hanya bisa memberikan penjelasan". Kata Jasmine.


"Jas,hmmm.....". Ucap Mia yang mulai terbata-bata.


"Ada apa Mia?". Tanya Jasmine.


"Hmm...bisa tolong aku email ke perusahaan ini,saya mau cek laporan lainnya". Kata Mia.


"Tentu saja bisa,kenapa mau minta bantuan email aja sungkan sih,ada apa lagi yang bisa saya bantu?". Tanya Jasmine.


"Ehhh...itu aja". Kata Mia.


"Ok". Ucap Jasmine.


Mia masih mau berusaha menyuruh Jasmine untuk memantau Steven. Namun lagi-lagi kata itu sulit untuk di ucapkan dari mulut Mia. Jasmine tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya pengen di ucapkan Mia.


Di malam itu Steven masih juga telat pulang karena urusan pekerjaan. Seperti biasanya Jasmine tidak pernah menunggu sampai Steven pulang,dia selalu tidur terlebih dahulu.


Keesokan paginya,Steven mengatakan hal yang membuat Jasmine dan Jasen diam seribu bahasa.


"Jasmine,Jasen ada sesuatu yang mau saya bicarakan". Kata Steven.


"Ada apa?". Tanya Jasmine.


"Kalian dengar ya,lusa saya akan melakukan pejalananan kerja ke luar negeri selama empat hari. Jadi kalian akan saya tinggal selama empat hari. Setelah pulang dari luar negeri,saya janji akan cuti kerja untuk membawa kalian jalan-jalan". Terang Steven.


"Eh....". Ucap Jasmine yang merasa bingung harus mengatakan apa.


"Daddy mau keluar negeri? Dimana ? Jauh gak luar negeri itu?". Tanya Jasen yang belum mengerti.


"Begini Jasen,jadi daddy mau keluar negeri untuk bekerja. Luar negeri itu jauh tempatnya,perlu naik pesawat". Jelas Steven.


"Daddy boleh ngak tidak perlu ke luar negeri?". Tanya Jasen yang air matanya sudah mulai jatuh.


"Tidak boleh sayang,ini kan urusan kerja. Daddy janji nanti kalau sudah pulang,daddy bawa Jasen dan mommy keluar negeri juga gimana?". Kata Steven.


"Tapi daddy lama pulangnya". Ucap Jasen yang sudah mulai menangis.


"Tidak kok,cuma empat hari saja Jasen". Kata Steven.


"Empat hari itu lama daddy". Kata Jasen.


"Tidak lama,percaya sama daddy". Kata Steven berusaha memberikan pengertian.


"Jasen,empat hari tidak lama. Sama seperti Jasen ke kantor mommy selama tiga hari,ini cuma tambah sehari". Kata Jasmine.


"Empat hari lama mommy....!Jasen tidak mau". Kata Jasen.


"Jasen,kan mommy sudah bilang kan,daddy untuk urusan pekerjaan. Jadi Jasen harus mendukung daddy,kasih daddy semangat". Kata Jasmine.


"Tidak mau,Jasen benci daddy....!!" Teriak Jasen sambil lari ke kamar.


"Bagaimana ini Jasmine? Jasen belum bisa terima". Kata Steven.


"Nanti kita pelan-pelan kasih penjelasan lagi. Lagian kamu mendadak sekali". Kata Jasmine.


"Benar,maaf ya sayang. Saya sendiri pun tidak tau kalau mendadak ada jadwal pejalanan yang harus saya selesaikan". Kata Steven.


"Ya sudah lah,mau gimana lagi. Hari ini Jasen akan di titipkan ke rumah orang tua saya. Mungkin setelah pulang dari sana,Jasen sudah merasa tenang baru kita jelaskan ke dia lagi". Kata Jasmine.


"Baiklah,jika kamu merasa sunyi di rumah,kamu boleh nginap di rumah orang tuamu". Kata Steven.


"Baik". Ucap Jasmine.


Selama Steven di luar negeri,Jasmine memanfaatkan kesempatan ini membawa Jasen nginap di rumah orang tuanya. Jasmine sangat senang bisa kembali kumpul dengan orang tuanya,begitu pula dengan Jasen yang sangat bahagia tinggal bersama kakek dan neneknya.


Seketika Jasen merupakan Steven ayahnya yang berada di luar negeri. Namum Jasmine khawatir jika semakin lama Jasen semakin tidak dekat dengan Steven. Untuk sementara Jasen bisa melupakan kekesalan dia terhadap Steven karena sibuk bermain dengan kakek dan neneknya. Bagaimana ketika Steven pulang nanti, apakah Jasen akan sehangat dulu atau malah bersikap dingin terhadap Steven?

__ADS_1


__ADS_2