The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Makan bersama di kebun bunga


__ADS_3

Pagi harinya Jasmine menyiapkan sarapan untuk si kecil Jasen. Terdengar suara bunyi telepon dari ponsel Jasmine,dia berharap bukan Vincent yang menelepon,ternyata memang bukan. Tapi dia lebih malas lagi untuk mengangkat telepon karena yang menelepon adalah Steven mantan suaminya.


"Halo". Jasmine mengangkat ponselnya.


"Selamat pagi Jasmine,Jasen sudah bangun?". Tanya Steven.


"Sudah,dia sedang mandi. Setelah selesai mandi saya suruh dia telepon kamu". Kata Jasmine.


"Hmmm...baiklah,eh Jasmine,sembari menunggu Jasen selesai mandi,boleh kita berbicara sebentar?". Tanya Steven.


"Tidak boleh. Saya sedang menyiapkan sarapan untuk Jasen". Jawab Jasmine.


"Oh,kalau begitu saya akan tunggu telepon dari Jasen". Kata Steven.


Jasmine langsung menutup teleponnya dan kembali ke dapur. Jasen yang baru selesai mandi berjalan ke ruang makan untuk menunggu sarapannya.


"Pagi mommy? Hari ini mommy masak apa?". Tanya Jasen.


"Mommy masak Fettucini Carbonara buat Jasen,bentar ya Jasen mommy ambilkan untuk mu". Jawab Jasmine.


"Baik mommy". Ucap Jasen.


"Ini fettucini nya,ini susu nya,di habiskan semua ya sayang". Kata Jasmine.


"Mommy,ini terlalu banyak. Kenapa hari ini mommy masak banyak sekali?". Tanya Jasen.


"Makan pelan-pelan saja,jam sepuluh lewat tante Mia datang jemput,sampai disana mungkin jam sebelas.Mommy tidak tau nanti jam berapa baru kita mulai makan bersama,soalnya harus menyiapkan ini dan itu. Takutnya Jasen sudah lapar duluan". Terang Jasmine.


"Baiklah mommy,Jasen makan ya,mommy juga makan".Ucap Jasen.


"Iya sayang,ini mommy juga makan. Enak kan?". Tanya Jasmine.


"Masakan mommy selalu enak". Ucap Jasen.


"Anak pintar". Kata Jasmine.


Setelah Jasen selesai makan,Jasmine barulah menyuruh Jasen untuk menelepon ayahnya. Namum tak disangka,reaksi Jasen bukan senang mendengar ayahnya mencari dia,sikap Jasen malah menunjukan sebaliknya.


"Jasen,sudah selesai makan kan? Hmm... tadi daddy menelepon,dia ingin bicara dengan Jasen. Namum karena Jasen sedang mandi,saya bilang padanya Jasen akan menelepon kembali setelah selesai mandi. Tapi mommy mau kamu habiskan sarapan kamu terlebih dahulu baru menelepon daddy". Jelas Jasmine.


"Oh...". Ucap Jasen.


"Telepon daddy kamu,dia sudah menunggu telepon mu". Kata Jasmine.


"Biarkan saja mommy,biarkan daddy yang menelepon kesini lagi. Jika daddy benar kangen sama Jasen dia pasti akan telepon lagi". Terang Jasen.


"Tapi kan mommy tadi sudah janji suruh Jasen telepon balik,nanti mommy tidak menepati janji gimana dong?". Tanya Jasmine.


"Hmmm...baiklah mommy,saya akan menelepon daddy sekarang". Kata Jasen.


"Bagus,nah ini ponsel mommy,ini nomor daddy". Jasmine memberikan ponselnya dan membantu Jasen untuk menelepon ayahnya.


"Halo...daddy...". Kata Jasen.


"Halo Jasen sayang,kenapa lama sekali baru telepon. Kamu sekarang mandi lama sekali ya?". Tanya Steven.


"Sudah dari tadi,tapi Jasen sarapan dulu". Kata Jasen.


"Oh begitu,mommy masak apa?". Tanya Steven.


"Masak....Jasen tidak tau apa namanya". Kata Jasen.


"Fettucini Carbonara...". Jasmine menimbrung.


"Oh,Jasen makan Fettucini,enak tidak?". Tanya Steven lagi.


"Enak". Ucap Jasen.


"Hmmm...gimana kabar Jasen? Kangen gak sama daddy?". Tanya Steven lagi.


"Jasen baik,tapi Jasen tidak kangen sama daddy". Jawab Jasen.


"Jasen,ngomong yang benar". Jasmine menasihati.


"Jasen marah ya sama daddy? Tidak apa-apa,memang daddy salah tidak bisa menemani Jasen setiap hari. Bagaimana kalau hari ini daddy ajak Jasen keluar jalan-jalan?". Tanya Steven.


"Tidak mau,hari ini Jasen mau pergi bersama mommy". Kata Jasen.


"Mau kemana?". Tanya Steven.


"Ke BBQ". Ucap Jasen.


"BBQ? Kalian pergi bersama siapa?". Tanya Steven.


"Tante Mia". Balas Jasen.


"Oh,kalau begitu lain kali ya kita jalan-jalan".Kata Steven.


"Iya,lain kali saja". Kata Jasen.


"Ehm...besok kita bertemu di acara ulang tahun kakek ya,oke?". Kata Steven.


"Ok,bye daddy". Kata Jasen.


"Eh,Jasen tolong kasih teleponnya ke mommy". Kata Steven.


"Mommy,daddy mau bicara". Jasen menyerahkan ponselnya.


"Ada apa?". Tanya Jasmine.


"Kalian mengajak Jasen BBQ?". Tanya Steven.


"Benar,saya dan teman-teman lainnya akan BBQ bersama. Mereka menyuruh untuk mengajak Jasen". Terang Jasmine.


"Oh,tapi BBQ bukan untuk anak-anak seusia Jasen. Dia tidak mengerti apa-apa". Kata Steven.


"Dia hanya datang untuk makan,kamu pikir aku akan menyuruh Jasen masak?". Ucap Jasmine.


"Bukan begitu,maksud saya jika Jasen menganggu acara kalian,biar saya yang menjaganya. Aku bisa membawa dia jalan-jalan". Terang Steven.


"Tidak perlu,jika kamu mau keluar bersama Jasen lain kali saja. Hari ini dia ikut bersama saya dan dia aman ada saya yang mengawasinya". Kata Jasmine.


"Hmmm...baiklah. Makan yang banyak,kamu kelihatan lebih kurus". Kata Steven.


"Saya bisa menjaga diri saya sendiri. Ada lagi yang mau kamu katakan?".Tanya Jasmine.


"Tidak ada,sampai bertemu di acara ayah besok". Kata Steven.


"Kamu jangan panggil ayah,dia bukan ayahmu lagi. Panggil paman saja". Kata Jasmine.


"Baiklah,kalau begitu sampai bertemu besok". Kata Steven.


Tanpa basa-basi,Jasmine langsung menutup telepon. Betapa terkejut Jasmine melihat Jasen yang kelihatan tidak peduli lagi dengan ayah kandungnya sendiri. Jasmine merasa perceraian mereka memang berdampak besar untuk mental Jasen.


Jasmine tidak tau harus sedih atau senang,yang awalnya dia takut bagaimana kehidupan Jasen jika berpisah dengan ayahnya,maka Jasmine berusaha memerankan sosok ibu sekaligus ayah untuk Jasen.


Seiring berjalannya waktu,Jasen semakin tidak peduli akan hal itu. Dia sudah tidak merindukan sosok seorang ayah.


(Tinnn..,tin...bunyi klakson mobil) Mia datang lebih cepat dari yang di janjikan,membuat Jasmine panik dan segera membuka pintu.


"Mia...kamu salah lihat jam ya? Ini baru jam sembilan lewat". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Tidak,aku memang sengaja datang lebih cepat". Kata Mia.


"Haizz,kamu membuat jantungku hampir copot. Saya masih belum siap-siap". Kata Jasmine.


"Santai saja,saya memang datang lebih cepat sekalian mengunjungi kamu". Kata Mia.


"Baguslah,silakan masuk. Saya buatkan kopi untukmu,kamu sudah sarapan? Jika belum saya buatkan sarapan untuk mu juga". Kata Jasmine.


"Tidak perlu Jasmine,saya sudah sarapan sebelum kesini. Aku mau kopi saja".Kata Mia.


"Baiklah Mia,tunggu sebentar". Kata Jasmine.


"Tante Mia". Panggil Jasen.


"Halo Jasen,Wuahh... sekarang kamu tambah ganteng". Kata Mia.


"Tambah ganteng apanya,tambah lasak yang ada". Lanjut Jasmine.


"Saya tidak sedang memuji dia,tapi kenyataan Jasen tambah ganteng". Kata Mia.


"Terimakasih tante Mia". Ucap Jasen.


"Iya sayang. Jasen main-main dulu ya,tante mau mengobrol dengan mommy Jasen". Kata Mia.


"Baik tante". Kata Jasen.


"Lihat Jasmine,dia tidak pernah membantah perkataan orang dewasa". Kata Mia.


"Mudah-mudahan sampai dewasa dia akan selalu patuh. Ini kopi mu Mia". Kata Jasmine.


"Terimakasih Jasmine,apakah Jasen sudah terbiasa tanpa Steven?". Tanya Mia.


"Sekarang dia sama sekali tidak merindukan ayahnya. Tadi dia berbicara di telepon dengan Steven,Jasen sama sekali tidak menunjukan rasa kangen. Dia hanya menjawab singkat saat Steven bertanya". Terang Jasmine.


"Apa separah itu?". Tanya Mia lagi.


"Benar,saya sedikit khawatir soal ini,tapi mau gimana lagi". Kata Jasmine.


"Dia belum mengerti,setelah dia sudah dewasa,sikapnya mungkin tidak akan sedingin ini terhadap Steven". Jelas Mia.


"Tapi saya sama sekali tidak pernah mengatakan hal negatif tentang Steven kepadanya. Saya hanya menjelaskan bahwa ayahnya tinggal di luar kota dan sibuk bekerja demi dia". Terang Jasmine.


"Baguslah,untuk saat ini memang penjelasan itu adalah yang terbaik". Kata Mia.


"Kalau begitu kamu tunggu sebentar,saya dan Jasen bersiap-siap dulu". Kata Jasmine.


"Baiklah,jangan terburu-buru". Kata Mia.


Setelah bersiap-siap,akhirnya mereka berangkat ke lokasi tujuan yaitu perusahaan tempat Steven bekerja. Mereka semua janjian berkumpul disana pada jam sebelas siang. Sesampainya disana, sudah ada Pak Hadi dan Bu Yenny istri Pak Hadi yang menyambut mereka.


"Jasmine,Mia,Jasen halo". Kata Pak Hadi.


"Halo Pak Hadi,Bu Yenny apa kabar? Lama tidak bertemu". Sapa Jasmine.


"Pak Hadi,Bu Yenny,kami tidak telat kan?". Tanya Mia.


"Halo Jasmine,Mia. Lama tidak bertemu,kabar saya baik Jasmine.Kalian tidak telat kok Mia,Marco saja belum sampai". Kata Bu Yenny.


"Halo paman Hadi,tante...". Ucap Jasen.


"Jasen,ini tante Yenny". Kata Jasmine.


"Halo tante Yenny". Salam Jasen.


"Ini pasti Jasen ya? Pintar sekali,ternyata kamu ganteng sekali". Kata Bu Yenny.


"Terimakasih". Balas Jasen.


"Senang,mommy bilang kita mau BBQ". Kata Jasen.


"Ya ampun lucunya Jasen". Kata ibu Yenny.


"Itu mobil Marco,dia baru sampai". Kata Pak Hadi.


"Maaf teman-teman,Pak Hadi dan Bu Yenny. Saya tidak telat kan?". Ucap Marco.


"Kamu memang tidak telat sesuai perjanjian,karena ini belum jam sebelas. Tapi kamu orang yang terakhir sampai". Kata Pak Hadi.


"Maaf,tadi macet di jalan". Kata Marco.


"Halo Paman Marco". Salam Jasen.


"Halo Jasen,sini paman gendong. Wuah ternyata Jasen sudah besar ya". Kata Marco.


"Kalau begitu,ayo kita masuk sekarang". Kata Pak Hadi.


Ternyata Pak Hadi sudah permisi duluan untuk masuk ke dalam,karena memang tidak ada aktivitas kantor di hari Sabtu. Mereka di bukakan gerbang oleh sekuriti yang memang sudah diperintahkan untuk diberikan akses masuk ke dalam.


"Silakan masuk". Kata seorang sekuriti.


"Terimakasih Pak". Kata Pak Hadi.


Ketika di dalam,mereka bertemu dan bersapa dengan ibu dan pekerja kebun yang lain. Semuanya sangat menyukai Jasen,dia sangat mudah bergaul dan beradaptasi.Mereka semua gotong royong untuk memasak daging BBQ dan lainnya.Namum hal yang tidak terduga terjadi.


"Maaf saya telat". Terdengar suara seorang pria.


"Paman Vincent......!". Teriak Jasen.


Membuat orang-orang disana terdiam seketika melihat Vincent yang tiba-tiba datang,namum yang teriak paling keras dan bahagia adalah Jasen. Jasmine sampai membeku melihat Vincent ada disana tepat di hadapannya.


"Halo,Jasen. Kamu ikut juga?". Tanya Vincent yang lalu menggendong Jasen.


"Iya,kenapa paman ada disini? Kata mommy paman di luar negeri". Kata Jasen.


"Oh ya? Ehm...paman baru saja pulang". Ucap Vincent.


"Tuan muda Vincent selamat siang dan selamat datang". Sahut pekerja lainnya.


"Selamat siang semuanya. Kita santai saja,jangan anggap aku tuan muda disini,kita semua disini bagaikan keluarga.Maaf jika saya telat". Kata Vincent.


"Tidak telat kok Pak Vincent,kita baru saja mulai bakar-bakar". Kata Pak Hadi.


"Oh baguslah". Kata Vincent.


"Saya baru pertama kali bertemu dengan Pak Vincent,salam kenal. Saya Yenny istrinya Pak Hadi". Kata ibu Yenny.


"Salam kenal Bu Yenny,senang bertemu dengamu. Saya harap Bu Yenny bisa menikmatinya". Kata Vincent.


"Tentu saja.Saya sangat gembira bisa ikut meramaikan". Kata Bu Yenny.


"Jasmine,Mia,Marco,kenapa dengan kalian bengong begitu? Apa kehadiran saya menganggu kalian?". Tanya Vincent.


"Eh,tidak sama sekali. Maaf Pak Vincent,saya terlalu senang Pak Vincent bisa bergabung dengan kami membuat saya speechlessness". Kata Marco.


"Ya,saya juga. Selamat bergabung dengan kami Pak Vincent. Maaf saya juga speechlessness". Kata Mia.


"Tidak apa-apa,saya becanda. Sepertinya cuma Jasmine yang tidak menyambutku,tapi tidak masalah, sudah ada Jasen disini menyambutku. Benarkan Jasen? Senang bertemu dengan Paman?". Tanya Vincent.


"Senang sekali,mommy tidak ada nomor paman Vincent,padahal saya ingin sekali menelepon paman". Kata Jasen.


"Hmmm...ternyata Jasen ingin menelepon aku tapi karena tidak punya nomorku?". Kata Vincent.

__ADS_1


"Iya".Ucap Jasen.


"Jasmine,sepertinya mulai hari ini kamu harus menyimpan nomor saya". Kata Vincent.


"Jasmine,Pak Vincent berbicara denganmu". Kata Mia yang menyenggol tangan Jasmine.


"Eh...baik Pak Vincent". Ucap Jasmine.


"Jasmine,bagaimana bisa Jasen sedekat ini dengan Pak Vincent? Kapan Jasen bertemu Pak Vincent?". Tanya Marco berbisik.


"Iya Jasmine,bahkan Jasen kelihatan senang sekali melihat Pak Vincent". Lanjut Mia.


"Eh...itu karena....". Kata Jasmine.


"Karena apa Jasmine?". Tanya Mia.


"Ceritanya panjang,biar saya jelaskan nanti". Kata Jasmine.


"Kalian jangan bergosip disini,nikmati kebersamaan hari ini. Jangan sampai Pak Vincent mendengar kalian bergosip tentangnya di belakang". Kata Pak Hadi.


"Baik Pak". Sahut Mia dan Marco.


Semuanya sangat bahagia menikmati makanan dan minuman,Jasmine seperti berada di neraka karena kedekatan Jasen dan Vincent sudah diketahui orang lain. Dia juga hampir ketahuan oleh Jasen karena berbohong soal nomor telepon Vincent. Tapi untunglah Vincent langsung peka dan membuat semua seolah sesuai dengan perkataan Jasmine.


"Jasen,jangan menganggu paman Vincent.Ayo kesini". Kata Jasmine.


"Saya tidak menganggu". Kata Jasen.


"Ini mommy mau kasih Jasen sate yang sudah mommy bakar". Kata Jasmine.


"Tapi paman Vincent sudah bakar kan sate buat Jasen". Kata Jasen.


"Aduh Jasen,jangan menyuruh paman Vincent buatkan untukmu,biar mommy saja". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa Jasmine,kamu duduklah.Kita makan bersama. ". Kata Vincent.


"Hmmm...Terimakasih Pak Vincent,maaf Jasen sudah merepotkan anda". Kata Jasmine.


"Tidak sama sekali,saya senang sekali bisa bersama Jasen".Kata Vincent.


"Paman,kenapa mommy memanggil paman dengan sebutan Pak?".Tanya Jasen.


"Jasen....". Kata Jasmine.


"Biar saya jelaskan ke dia Jasmine. Jasen,disini banyak orang dewasa. Sesama orang dewasa harus saling menghargai,jadi kita bisa menyebutkan Pak atau Bu kepada seseorang". Terang Vincent.


"Oh begitu". Kata Jasen.


"Sepertinya Jasen sangat senang berada dekat Pak Vincent dan kelihatan sangat akrab". Kata Pak Hadi.


"Paman Vincent pernah datang ke rumah kita". Lanjut Jasen.


"Jasen..,tutup mulutnya!". Jasmine mulai emosi.


"Daripada kalian bertanya-tanya,biar saya kasih tau". Kata Vincent.


"Pak Vincent....". Ucap Jasmine (berharap Vincent tidak mengatakan yang sebenarnya).


"Dua minggu yang lalu,saya bertemu Jasmine dan Jasen di sebuah restoran.Mereka ternyata sedang menunggu taxi,lalu saya menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang. Awalnya Jasmine menolak,setelah saya bujuk akhirnya dia bersedia saya antar pulang. Sesampainya di rumah Jasmine, mereka menawarkan aku masuk untuk minum teh sebagai tanda Terimakasih. Dan begitulah akhirnya saya akrab dengan Jasen. Benarkan Jasen?". Jelas Vincent.


"Benar paman". Ucap Jasen.


"Oh,ternyata begitu Jasmine?". Tanya Mia.


"Ehmm...iya". Balas Jasmine.


"Jasen masih kecil,dia tidak mengerti mengenai jabatan dan semacamnya. Saya hanya memperkenalkan diri saya sebagai teman Jasmine. Beginilah Jasen menganggap ku". Terang Vincent.


"Hmmm...sekarang saya mengerti". Kata Marco.


"Kita mengenal Jasen duluan sebelum Pak Vincent,percayalah dia adalah anak yang manis. Semua orang di kantor sangat menyukainya". Kata Pak Hadi.


"Benar,saya juga sangat menyukainya". Kata Vincent.


"Mia,Marco,kalian boleh tolong saya menyiapkan jus segar untuk dibagikan ke yang lain?". Kata Pak Hadi.


"Tentu saja". Jawab Mia dan Marco.


"Saya juga mau membantu". Kata Jasmine.


"Kamu disini saja Jasmine bersama Jasen dan Pak Vincent". Kata Pak Hadi.


Mia,Marco dan Pak Hadi beserta istrinya pergi meninggalkan mereka. Kemudian Pak Hadi meminta tolong kepada ibu pekerja untuk mengajak Jasen jalan-jalan di taman agar Vincent dan Jasmine bisa bicara berdua.


"Hi Jasen,nenek ingin mengajak kamu jalan-jalan di taman itu,disana ada burung dan kelinci. Mau lihat?". Ajak ibu pekerja.


"Mau nenek". Jawab Jasen.


"Kalau begitu ayo". Ibu pekerja menggandeng tangan Jasen.


"Ibu,biar saya saja yang membawa dia berkeliling. Jangan repotin ibu". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,saya saja yang membawa Jasen berkeliling. Kamu temanin tuan muda mengobrol". Kata ibu pekerja.


"Bu saya ikut...". Ucap Jasmine. (Namum tangan nya ditarik oleh Vincent yang menyuruh nya untuk tidak pergi).


"Biarkan saja ibu itu mengajak Jasen berkeliling". Kata Vincent.


"Pak Vincent,hmmm...untung saja tidak ada yang melihat kamu menarik tanganku". Kata Jasmine.


"Mereka semua sengaja meninggalkan kita berdua disini agar kita bisa ngobrol berdua. Hargailah usaha mereka". Kata Vincent.


"Hmmm...Terimakasih sudah membantuku menjelaskan kepada Jasen dan lainnya". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu harus berbohong kepada Jasen kalau kamu tidak punya nomorku? Dan kenapa kamu berbohong lagi kalau saya berada di luar negeri?". Tanya Vincent.


"Jasen ribut terus memintaku menelepon kamu. Saya tidak mau Jasen menganggu aktivitasmu, makanya saya berbohong kepadanya bahwa aku tidak punya nomor kamu dan sekarang kamu sedang di luar negeri". Terang Jasmine.


"Seharusnya kamu tidak perlu berbohong,biarkan saja dia menelepon ku. Saya tidak akan terganggu sama sekali". Kata Vincent.


"Abaikan saja Jasen,dia hanya anak-anak. Setelah beberapa lama,dia juga bakalan lupa". Kata Jasmine.


"Jasen saja bisa kangen sama aku,masa kamu tidak kangen?". Tanya Vincent.


"Tidak sama sekali".Kata Jasmine.


"Apa kamu gengsi untuk menelepon saya duluan?". Tanya Vincent.


"Tidak,saya hanya tidak mau anakku mengganggu kehidupan orang lain". Ucap Jasmine.


"Kalau begitu,biar saya yang mengganggu kehidupan mu".Kata Vincent.


"Pak Vincent,kita hanya atasan dan bawahan. Tolong jangan membuat saya merasa tidak nyaman". Kata Jasmine.


"Saya akan membuat kamu senyaman mungkin". Kata Vincent.


"Pak Vincent,tolong saya hanya ingin hidup tenang bersama anak saya". Kata Jasmine.


"Jasmine,percayalah aku akan menjaga kamu dan Jasen". Kata Vincent.


"Kan mulai lagi,saya mau menyusul Jasen dan lainnya". Kata Jasmine.

__ADS_1


Jasmine yang baru ingin berjalan,tangannya lagi-lagi ditarik oleh Vincent,dan kemudian Vincent memeluk Jasmine dengan sangat erat. Jasmine syok mendapat perlakuan Vincent,namum dengan tubuhnya yang kecil,Jasmine tidak dapat mendorong Vincent. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2