The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Hari kedua Vincent menjadi tukang kebun


__ADS_3

Jasmine juga akhirnya terdiam,dia tau jika dia masih memilih berdebat dengan Vincent tetap saja dia akan kalah. Melihat Vincent yang begitu percaya diri,hati Jasmine semakin goyah dan merasa tidak yakin akan menang. Walaupun Jasmine belum siap membuka hati,tapi dia sudah berjanji kepada Pak Robert untuk memberikan Vincent kesempatan berjuang.


"Apa yang kamu pikirkan Jasmine?". Tanya Vincent.


"Ehm,tidak apa-apa". Jawab Jasmine.


"Kamu takut kalau aku akan menang?". Tanya Vincent lagi.


"Tidak,siapa yang takut". Kata Jasmine.


"Ekspresi wajahmu tidak bisa berbohong Jasmine". Kata Vincent.


"Memangnya kamu pakar membaca ekspresi wajah?". Tanya Jasmine.


"Bisa di bilang begitu,saya pernah belajar ilmu Fisiognomi". Kata Vincent.


"Apa maksud dari ilmu Fisiognomi?". Tanya Jasmine.


"Fisiognomi adalah ilmu firasat wajah atau ilmu membaca karakter seseorang lewat wajah". Jelas Vincent.


"Astaga...,kamu bahkan mempelajari ilmu membaca firasat wajah?".Kata Jasmine.


"Benar". Ucap Vincent.


"Sebenarnya ilmu pengetahuan apa saja yang kamu kuasai?". Tanya Jasmine.


"Hmmm...hampir semua kecuali pengetahuan tentang cinta,saya suka belajar dan membaca buku". Jawab Vincent.


"Ya,saya percaya itu,tidak heran jika kamu unggul dalam semua bidang". Kata Jasmine.


"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah mulai terpesona dengan saya?". Tanya Vincent.


"Apa ilmu percaya diri juga kamu pelajari? Karena kamu sering sekali memakai ilmu itu,termasuk sekarang".Kata Jasmine.


"Kamu sedang menyindir aku". Kata Vincent.


"Tidak,saya sedang bertanya". Kata Jasmine.


"Aku memang kadang-kadang bisa sangat percaya diri,tapi kadang-kadang merasa saya bukan apa-apa". Kata Vincent.


"Hmmm...masa iya?". Kata Jasmine.


"Jika rasa percaya diri saya selalu ada,mungkin saya sudah muncul duluan di hadapan kamu sebelum Steven muncul. Untuk bisa bertemu denganmu,saya sangat berusaha menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Karena saya tau,kamu tidak menyukai orang bodoh". Terang Vincent.


"Vincent,maafkan aku". Kata Jasmine.


"Kamu tidak salah Jasmine,karena kamu lah saya bisa menjadi yang sekarang ini". Kata Vincent.


"Berjanjilah satu hal untukku,mulai sekarang jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri hanya karena aku. Oke?". Kata Jasmine.


"Tidak bisa. Saya harus lebih berusaha lagi menjadi yang terbaik,supaya kamu mau bersamaku". Kata Vincent.


"Hmmm...makan cemilan dulu. Ini sudah malam,sudah saat nya kamu pulang". Kata Jasmine.


"Terimakasih atas hari ini,besok saya akan datang lagi". Kata Vincent.


"Datang lagi?". Tanya Jasmine.


"Mulai hari ini saya akan datang tiap hari". Kata Vincent.


"Tidak perlu,aku juga butuh privasi. Aku butuh istirahat dan masih banyak yang harus saya lakukan. Tidak ada waktu untuk menerima tamu tiap hari". Terang Jasmine.


"Aku tidak akan menganggu kamu,lakukan saja pekerjaan mu. Saya bisa bermain dan mengobrol dengan Jasen". Kata Vincent.


"Vincent,kamu ini...". Ucap Jasmine.


"Baiklah,kita sepakat seperti itu,ini sudah jam sembilan malam,bagiku ini belum terlalu malam,tapi karena tuan rumah sudah mau istirahat,sudah saat nya saya pulang. Kalau begitu,sampai jumpa besok". Kata Vincent.


"Tunggu Vincent,kamu datang tiap hari,nanti orang lain akan berpikir kalau kita mempunyai hubungan". Kata Jasmine.


"Memang kita punya hubungan,walaupun kita belum resmi pacaran,tapi hubungan pendekatan memang seperti ini. Semakin banyak orang yang tau,akan semakin baik".Terang Vincent.


"Aku tidak mau orang berpikir aneh-aneh dan negatif tentang kita". Kata Jasmine.


"Siapa yang berani berpikir aneh dan negatif tentang kita,saya yang turun tangan menangani". Kata Vincent.


"Intinya jangan tiap hari datang,aku tidak mau terlihat seperti orang sedang pacaran". Kata Jasmine.


"Saya tidak peduli,saya datang mencari Jasen jika kamu tidak mau menerima kehadiranku". Kata Vincent.


"Kamu selalu saja menjadikan Jasen sebagai tamengmu". Kata Jasmine.


"Hehe...kan kamu yang bilang sendiri tadi kalau Jasen sudah nyaman dengan saya,bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah nyaman dengan saya?". Tanya Vincent.


"Apa masih perlu aku jawab?". Kata Jasmine.


"Ehm...tidak perlu,saya sudah tau jawabannya,kamu pasti sudah nyaman juga". Kata Vincent.


"Terserah kamu saja,Pak Vincent yang terhormat jadi pulang gak ini? Saya mau istirahat". Kata Jasmine.


"Saya sih berharap kamu menyuruh saya menginap disini". Kata Vincent.


"Rumah ku bukan hotel,silakan pulang Pak Vincent yang terhormat. Pintu di sebelah sana". Kata Jasmine.


"Baiklah,tapi aku mau pamit dulu dengan Jasen". Kata Vincent.


"Silakan". Ucap Jasmine.


"Jasen,paman pulang dulu ya,besok paman datang lagi. Oke?". Kata Vincent.


"Baik paman,hati-hati di jalan".Kata Jasen.


"Sampai jumpa Jasmine,selamat malam". Kata Vincent.


"Selamat malam,hati-hati di jalan". Ucap Jasmine.


Malam penuh perdebatan akhirnya berakhir. Setelah Steven dan Vincent pulang,Jasmine merasa setengah beban nya sudah hilang. Dia benar-benar lelah menghadapi kedua orang itu. Besok akan datang lagi hari yang baru,malam yang melelahkan ini membuat Jasmine tertidur pulas.


Keesokan harinya di kantor,Jasmine menerima lagi bouquet bunga dari Vincent. Dia berharap tidak ada lagi memo dengan tulisan yang menurut dia sedikit lebay itu,namun memo tersebut ternyata masih ada "Untukmu Jasmine,melalui memo ini saya ingin mengucapkan selamat pagi bidadariku, semoga hari ini indah seperti senyummu. Semoga kamu menyukai bunga yang aku pilih sendiri untukmu. Dari Your Secret Man".

__ADS_1


"Hahaha...selamat pagi bidadariku". Ucap Mia.


"Haizz...kamu juga Mia,pagi-pagi tolong jangan buat aku mual". Kata Jasmine.


"Sejak kapan Pak Vincent jadi begitu lebay?". Tanya Mia.


"Hmm..,ntah lah.Tulisan di memo hari ini lebih parah dari yang kemarin". Kata Jasmine.


"Bagaimanapun ini adalah sebuah ungkapan isi hatinya,kamu harus menghargainya". Kata Mia.


"Mia,saya merasa semenjak ada Vincent,kamu tidak pernah ada di pihak ku lagi". Kata Jasmine.


"Kamu ini,aku tidak di pihakmu terus di pihak siapa? Saya cuma merasa Pak Vincent itu keren,dia juga baik,tidak salah kan aku mengaguminya. Jangan cemburu". Terang Mia.


"Tapi kamu selalu membela Vincent daripada aku". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu,dasar bodoh. Sampai kiamat pun,aku selalu ada di pihakmu". Jelas Mia.


"Hmmm...ya oke. Saya cukup terharu mendengar kamu berkata begitu". Kata Jasmine.


"Kamu bisa terharu hanya mendengar kata-kata ku yang tidak seberapa ini,kapan kamu terharu dengan perjuangan Vincent?". Tanya Mia.


"Nah tuh kan,kamu mulai lagi". Ucap Jasmine.


"Serius Jasmine,please deh buka mata dan hatimu,lihatlah betapa besar perjuangan Vincent dan sampai sejauh ini dia masih terus berjuang. Hargailah dia,pria seperti Vincent hanya satu persen di dunia". Terang Mia.


"Iya..iya..saya hargai dia". Kata Jasmine.


"Baguslah,Hmm...apakah dia ada ke rumah mu lagi?". Tanya Mia.


"Oh ya,ada yang mau saya ceritakan tentang kejadian semalam". Kata Jasmine.


"Ada apa dengan semalam?". Tanya Mia.


"Begini... ".Jasmine menceritakan semua yang terjadi dirumahnya semalam,termasuk perseteruan antara Steven dan Vincent.


"Apa...?". Teriak Mia.


"Sttt...Mia suaramu". Ucap Jasmine.


"Maaf,saya sedikit terkejut. Berani sekali Steven datang tanpa memberitahukan kamu terlebih dahulu. Bukankah sudah ada perjanjian sebelumnya?".Tanya Mia.


"Saya sudah menegaskan kepadanya,jika kali ini Steven melanggar perjanjian,saya akan memberikan konsekuensi kepadanya". Jelas Jasmine.


"Hmmm...berarti dia mau bersaing dengan Vincent. Dia tidak mau melihat kamu bersama dengan Vincent. Dasar pria egois,sedangkan dia sendiri seenaknya selingkuh dari kamu". Mia meluapkan amarahnya.


"Sudah Mia,yang penting saya tidak akan pernah kembali bersamanya". Kata Jasmine.


"Jasmine,cepatlah terima Vincent. Saya khawatir jika Steven akan...". Kata Mia.


"Mia,kamu tenanglah. Percayalah padaku,saya tidak punya perasaan apapun lagi terhadap Steven. Dan mengenai Vincent,saya butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri". Terang Jasmine.


"Baiklah saya mengerti". Kata Mia.


"Ya sudah,jangan pikirkan tentang mereka,kita bekerja saja". Kata Jasmine.


"Hari ini sepertinya Vincent tidak masuk kantor lagi,apakah dia masih menjadi tukang kebun di perusahaan ayahnya?". Tanya Mia.


"Dia baik sekali,hmmm...tapi ada seseorang masih membutuhkan waktu begitu lama untuk menerima cintanya. Kasihan sekali Vincent". Kata Mia.


"Mia...kamu menyindirku?". Tanya Jasmine.


"Eh,tidak. Saya salah ngomong. Baiklah,saya mau melanjutkan kerja saya". Jawab Mia.


Dan di perkebunan perusahaan ayahnya,Vincent masih melanjutkan janjinya untuk menjadi pekerja kebun. Dia melakukan aktivitas seperti yang biasa dilakukan para pekerja kebun,menyiram bunga, memetik bunga,memberikan pupuk,membersihkan taman dan memberikan makanan untuk hewan.


Tidak terasa jam makan siang telah tiba,Vincent yang merasa kelelahan berteduh di gazebo yang ada di taman bunga. Steven tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Pak Vincent masih disini?". Tanya Steven.


"Iya". Jawab Vincent.


"Ini minumlah". Steven memberikan sebotol air mineral kepada Vincent.


"Tumben kamu perhatian,Terimakasih".Ucap Vincent.


"Sama-sama". Jawab Steven.


"Kamu tidak mencoba untuk meracuni saya dengan air mineral ini kan?". Tanya Vincent.


"Jika kamu memang mencurigai saya,tidak mungkin kamu langsung meminumnya". Jawab Steven.


"Heh..duduklah. Kamu sudah makan siang?".Tanya Vincent.


"Belum".Jawab Steven.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?". Ajak Vincent.


"Tidak,sebaiknya saya tidak boleh begitu akrab denganmu". Jawab Steven.


"Hanya makan siang bersama,apa bisa di bilang akrab?". Tanya Vincent.


"Walaupun kamu ini sainganku dalam hal pribadi,bagaimanapun juga kamu adalah anak bos perusahaan. Saya hanya karyawan biasa,tidak baik jika kita terlihat akrab". Terang Steven.


"Kamu ini adalah karyawan teladan,tapi karyawan seperti kamu ini yang membuat jarak antara bos dan pekerjanya. Di perusahaan ku,saya sangat akrab dengan karyawanku dan bahkan pernah makan bersama karyawanku di kantin". Terang Vincent.


"Itu karena ada Jasmine dan teman-temannya". Kata Steven.


"Aku bahkan akrab dengan pekerja kebun disini,apa Jasmine juga tukang kebun disini?". Kata Vincent.


"Apapun itu,saya harus tetap menjaga jarak dengan anda. Maaf Pak Vincent". Kata Steven.


"Baiklah,saya mengerti. Lalu apa tujuan kamu kesini memberikan air mineral kepadaku?". Tanya Vincent.


"Hmmm...kamu yang menyuruh saya kesini untuk membantu kamu.Apa anda lupa?". Tanya Steven.


"Saya kira kamu sudah menolak membantu saya kemarin". Kata Vincent.


"Saya memang menolak membantumu. Karena itu,saya hanya bisa membawakan air mineral untukmu". Jelas Steven.

__ADS_1


"Kalau di lihat,kamu cukup pengertian". Kata Vincent.


"Hmmm...saya mau minta maaf soal kejadian semalam di rumah Jasmine,mungkin saya terlalu terbawa emosi dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tapi anda jangan salah paham,bukan berarti saya mundur. Kamu tetaplah saingan ku". Jelas Steven.


"Sudahlah lupakan saja,mulai sekarang kita bersaing lah secara sehat". Kata Vincent.


"Saya setuju,dan satu hal lagi. Kamu tidak ingin saya menyentuh Jasmine,maka kamu juga jangan menyentuhnya". Kata Steven.


"Kamu sedang mengajari ku atau sedang mengancam ku?". Tanya Vincent.


"Aku hanya memperingatkan kamu".Ucap Steven.


"Steven...Steven...,harusnya saya bertepuk tangan buat kamu. Kamu seolah mengatakan kepadaku bahwa Jasmine masih milikmu. Memegang tangan dan memeluknya adalah bagian dari menyentuh dan saya sudah melakukan itu. Saya tidak akan menyentuhnya lebih dari itu,apalagi melakukan perbuatan asusila seperti kamu lakukan kepada wanita yang bukan istrimu". Terang Vincent.


"Perbuatan saya memang salah,tapi sampai saat ini perasaanku kepadanya masih tetap sama".Kata Steven.


"Tapi perasaan Jasmine terhadapmu sudah berbeda". Balas Vincent.


"Tidak akan,semua hanya perlu waktu". Kata Steven.


"Terserah,saya sedang lapar males berdebat denganmu". Kata Vincent.


"Saya datang bukan untuk berdebat. Ini sudah mendung,lebih baik kamu segera makan dan menyelesaikan semua ini sebelum hujan. Saya balik ke kantor dulu,permisi".Kata Steven.


Steven lalu pergi meninggalkan Vincent di gazebo. Melihat cuaca memang sudah mendung,Vincent kembali melanjutkan pekerjaanya sampai selesai.Setelah semuanya selesai,dia pulang untuk beristirahat.


Tidak terasa Vincent tidur begitu nyenyak sampai berjam-jam. Setelah dia bangun dan melihat langit sudah gelap,dia langsung melihat jam. Waktu menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima. Vincent bergegas mengeluarkan mobilnya menuju rumah Jasmine.


Sesampainya di depan rumah Jasmine,Vincent di sambut oleh Jasen yang begitu bahagia melihat dia datang.


"Selamat datang paman". Sambut Jasen.


"Halo Jasen,kamu sudah makan malam?". Tanya Vincent.


"Belum paman,saya menunggu paman untuk makan malam bersama". Kata Jasen.


"Maaf Jasen,saya terburu-buru. Paman hari ini tidak membawa apa-apa untuk Jasen". Kata Vincent.


"Lain kali paman tidak perlu membawa apapun. Mainan Jasen sudah cukup banyak. Jasen hanya perlu paman datang". Terang Jasen.


"Kamu pasti belum makan malam,duduklah makan dengan kita".Kata Jasmine.


"Kamu benar,saya memang lapar sekali. Saya tadi lupa makan siang".Kata Vincent.


"Kamu di kebun seharian,tapi tidak makan siang?". Tanya Jasmine.


"Saya mau menyelesaikan pekerjaan di kebun sebelum hujan,setelah selesai saya lalu pulang ke rumah untuk beristirahat,tapi tidak terasa saya tidur begitu lama". Terang Vincent.


"Kamu kelelahan,seharusnya kamu tidak perlu datang,istirahat lah di rumah". Kata Jasmine.


"Saya sudah cukup istirahat tadi,jangan khawatir". Kata Vincent.


"Kamu dan Steven tidak lanjut bertengkar lagi kan disana?". Tanya Jasmine.


"Tidak,tenang saja. Dia bahkan memberikan aku sebotol air mineral. Saya hanya minum air dari tadi tanpa makan". Jelas Vincent.


"Kamu ini,makan lah yang banyak". Kata Jasmine.


Setelah selesai makan,seperti biasa Vincent selalu menemani Jasen bermain. Namum Vincent tiba-tiba batuk dan bersin tanpa henti. Jasen merasa khawatir segera memberikan segelas minuman untuk Vincent.


"Paman kenapa? Paman ini minumlah dulu". Kata Jasen.


"Kamu kenapa Vincent? Tidak enak badan?". Tanya Jasmine.


"Tidak apa-apa,mungkin saya terkena flu. Jasen,menjauh dari paman nanti kamu ketularan". Kata Vincent.


"Vincent kamu minum ini saja,air hangat akan membuat mu merasa lebih baik". Jasmine membawakan secangkir air hangat untuk Vincent.


"Terimakasih Jasmine. Lebih baik aku segera pulang,saya tidak mau nanti kalian ketularan". Kata Vincent.


"Paman,jangan pulang". Ucap Jasen.


"Jasen,paman Vincent harus istirahat".Kata Jasmine.


"Paman bisa istirahat di rumah kita". Kata Jasen.


"Jasen...". Ucap Jasmine.


"Paman harus segera pulang,besok paman kesini lagi. Oke?". Kata Vincent.


"Baiklah paman". Kata Jasen.


"Saya permisi Jasmine". Kata Vincent.


Di saat Vincent mau berdiri,dia merasa sedikit pusing dan duduk kembali. Jasmine melihat Vincent merasa sangat khawatir. Jasen juga panik melihat Vincent yang tidak biasa ini.


"Vincent,apa kamu merasa pusing?". Tanya Jasmine.


"Iya,saya sedikit pusing". Jawab Vincent.


"Kamu mau makan obat atau saya bawa kamu ke dokter?". Tanya Jasmine.


"Tidak perlu,saya duduk sebentar". Kata Vincent.


"Hmm...baiklah,kamu duduklah dulu. Saya ambilkan minyak angin". Kata Jasmine.


"Tidak perlu Jasmine,saya baik-baik saja". Kata Vincent.


"Aku ingin memberikan kamu obat,tapi kamu harus menyetir. Saya khawatir kamu akan mengantuk di jalan". Jelas Jasmine.


"Kalian jangan panik,saya baik-baik saja". Kata Vincent.


"Berbaringlah sebentar,jika sudah lebih baik baru pulang". Jasmine membawakan sebuah bantal untuk Vincent.


"Paman jangan sakit". Ucap Jasen.


"Jasen,biarkan paman tidur,kamu jangan mengganggu nya". Kata Jasmine.


"Baik mommy". Balas Jasen.

__ADS_1


Vincent pun kembali tertidur di sofa ruang tamu Jasmine,apa tindakan yang harus di lakukan Jasmine? Seharusnya dia menahan Vincent untuk menginap di rumahnya atau membiarkan Vincent pulang?


__ADS_2