The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Vincent Vs Steven


__ADS_3

Setelah jam makan siang,Steven pergi ke kebun bunga di belakang kantor untuk menemui Vincent.


Steven juga begitu penasaran sebenarnya apa yang di lakukan Vincent disana,ada apa dia dipanggil untuk menemuinya.


Sesampainya disana,Steven tidak melihat siapapun disana. Tidak ada satu pun pekerja,dia kemudian berkeliling di sekitar kebun dan terdengar suara Vincent memanggilnya.


"Steven,saya disini". Kata Vincent.


"Apa yang Pak Vincent lakukan disini? Dimana semua pekerja kebun?". Tanya Steven.


"Saya meliburkan semua pekerja kebun,hmmm...saya baru selesai mencabut rumput. Ternyata melelahkan sekali". Terang Vincent.


"Apa? Kamu meliburkan semua pekerja kebun?". Tanya Steven lagi.


"Iya,karena mereka libur jadi saya yang menggantikan pekerjaan mereka". Kata Vincent.


"Tapi untuk apa anda menggantikan mereka?". Tanya Steven lagi.


"Karena saya mendapatkan hukuman,saya sudah berjanji akan menjalankannya". Jelas Vincent.


"Pak Vincent mendapatkan hukuman? Siapa yang berani kasih hukuman kepada anak bos?". Kata Steven.


"Jasmine". Ucap Vincent.


"Ehmm...kenapa dia memberikan hukuman seperti ini?". Tanya Steven.


"Kerena saya melakukan sebuah kesalahan yang membuat dia marah.Tapi tidak apa-apa,saya senang mendapatkan hukuman ini,daripada dia tidak mau melihat saya lagi,itu hukuman jauh lebih mengerikan". Vincent menyidir Steven.


"Hmmm...lalu kenapa anda menyuruh saya kesini?". Tanya Steven.


"Saya sudah menyiram bunga dan mencabut rumput dan memotong rumput,tolong buang sampah dari rumput yang saya cabut tadi.Oh ya,bersihkan juga kandang kelinci dan berikan makanan untuk burung beo".Perintah Vincent.


"Apa? Saya harus melakukan ini semua?". Tanya Steven.


"Saya sudah bekerja dari tadi,tidak ada seorang pun disini, tidak bisakah kamu membantu saya?". Kata Vincent.


"Tapi Pak Vincent,saya kan harus melakukan pekerjaan kantor". Kata Steven.


"Pekerjaan kantor nanti saja,kamu kerjakan pekerjaan disini dulu. Oke?". Kata Vincent.


"Tapi aku sama sekali tidak mengerti cara membersihkan kandang". Kata Steven.


"Sama,saya juga tidak mengerti. Kamu siram saja kadangnya dan letakkan balik kelinci nya di dalam". Terang Vincent.


"Tapi kan anda yang mendapatkan hukuman,kenapa saya yang ikut kerja?". Tanya Steven.


"Hmmm..,karena saya yakin Jasmine akan lebih senang jika kamu juga ikut di hukum". Kata Vincent.


"Hah? Saya tidak mengerti maksud anda". Kata Steven.


"Saya tanya dulu apakah kamu sudah makan siang?". Tanya Vincent.


"Sudah". Ucap Steven.


"Kalau begitu baguslah,lanjutkan pekerjaan kamu disini,saya mau makan siang dulu. Semangat ya Steven". Kata Vincent.


"Pak,saya...". Steven sudah kehabisan kata.


Vincent pergi meninggalkan Steven sendiri,betapa jengkelnya Steven merasa Vincent semena-mena menggunakan kekuasaanya untuk menyuruhnya ini dan itu. Walaupun Steven merasa kesal,dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan apa yang di perintahkan.


Setelah selesai makan,Vincent kembali ke kebun belakang untuk melihat pekerjaan Steven. Vincent merasa lucu melihat Steven bekerja sambil berguman,ntah apa yang di ocehankan Steven,yang jelas adalah mimik wajah Steven kelihatan sangat kesal.


"Sudah selesai Steven?". Tanya Vincent.


"Belum". Ucap Steven dengan kesal.


"Kenapa kamu Steven? Kesal dengan saya karena menyuruhmu membantu?". Tanya Vincent.


"Hmmm...sedikit". Kata Steven.


"Apa kamu sudah membuang semua sampahnya?". Tanya Vincent lagi.


"Sudah,saya sudah membuangnya". Jawab Steven.


"Baguslah". Ucap Vincent.


"Bukankah seharusnya kamu juga ikut membersihkan kadang kelinci ini?". Tanya Steven.


"Saya punya kebiasaan setelah selesai makan saya tidak bisa langsung bekerja,jadi maaf ya repotin kamu". Kata Vincent.


"Alasan saja". Ucap Steven.


"Apa yang kamu katakan tadi?". Tanya Vincent.


"Eh,tidak". Kata Steven.


"Sembari kamu kerja,ada yang mau saya tanyakan". Kata Vincent.


"Jangan bertanya soal kebun dan kandang,saya tidak akan bisa menjawabnya". Kata Steven.


"Tidak,saya ingin bertanya tentang Jasmine". Kata Vincent.


"Saya tidak bisa menjawabnya juga". Kata Steven.


"Aku bahkan belum kasih pertanyaan,kamu sudah menolak untuk menjawab". Kata Vincent.


"Saya tau kamu ingin mendekati Jasmine". Kata Steven.


"Salah,bukan hanya mendekatinya,aku ingin mengejarnya". Kata Vincent.


"Seorang CEO seperti kamu ingin mengejar wanita apa perlu bertanya kepada orang lain?". Tanya Steven.


"Wanita yang mau saya kejar ini bukan wanita pada umumnya,harta dan tahta tidak dapat merayu hatinya. Ke intinya saja,bagaimana cara kamu melakukan pendekatan kepada Jasmine?". Tanya Vincent.


"Saya tidak akan memberitahu mu". Kata Steven.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu kan sudah mantan nya,apa salahnya berbagi informasi". Kata Vincent.


"Setiap orang punya cara yang berbeda,kamu pikirkan saja caramu sendiri. Belum tentu dengan caraku Jasmine akan menerima kamu". Terang Steven.


"Haizz...kamu keliru Steven,tujuan saya bertanya kepada kamu adalah agar saya tidak usah menggunakan caramu. Jika saya mengejar Jasmine seperti kamu mengejarnya,dia pasti tidak akan terima,mendengar nama kamu saja sudah membuat dia marah apalagi menggunakan caramu". Jelas Vincent.


"Apa maksudmu? Kamu sengaja ingin memanasi aku?". Tanya Steven.


"Saya tidak bermaksud apa-apa,saya hanya menjelaskan agar kamu tidak keliru". Kata Vincent.


"Saya tau apa niatmu,tapi maaf saja,saya tidak akan memberitahu kamu informasi apapun tentang Jasmine". Kata Steven.


"Hmmm...kalau begitu beritahu aku informasi mengenai Jasen,apa kesukaannya?". Tanya Vincent.


"Apa sebenarnya yang kamu mau dari aku?". Tanya Steven.


"Ya itu,informasi tentang Jasen". Kata Vincent.


"Apalagi soal Jasen,saya tidak akan memberitahu kamu apapun tentang anakku". Kata Steven.


"Oh,atau jangan-jangan kesukaan Jasen saja kamu tidak tau". Kata Vincent.


"Saya ayahnya,tentu saja saya tau apa yang dia sukai". Balas Steven.


"Salah besar,kamu sama sekali tidak tau apapun tentang Jasen". Kata Vincent.


"Jika aku tidak tau,apakah kamu yang lebih tau?". Tanya Steven.


"Tentu saja,Jasen suka menyusun puzzle,merakit lego dan menggambar. Dia ingin agar apa yang dia rakit dan apa yang dia gambar mendapat penilaian dari orang. Dan yang paling dia sukai adalah ada orang yang menemani dia bermain dan mendengarkan ceritanya. Tapi kamu tidak memberikan itu,apa kamu bisa di sebut seorang ayah?". Terang Vincent.


"Kamu jangan berpikir hanya dengan kamu tau akan hal itu,kamu sudah mengerti Jasen?". Tanya Steven.


"Buktinya dia lebih dekat denganku daripada kamu". Kata Vincent.


"Heh,saya memang tidak cukup banyak waktu bersama dengannya karena waktuku terbatas,kamu juga tau itu". Kata Steven.


"Kamu tidak cukup waktu bersama dengan Jasen? Tapi kamu banyak sekali waktu bersama sekertaris mu itu". Ucap Vincent yang mulai memancing emosi Steven.


"Pak Vincent,apa perlu kita bahas soal ini disini?". Tanya Steven.


"Disini bukan kantor,ini sudah termasuk di luar kantor". Kata Vincent.


"Saya mengerti sekarang,tujuan kamu menyuruh aku kesini adalah untuk membahas ini". Kata Steven.


"Anggap saja ini sebuah percakapan santai,kamu jangan terlalu terbawa perasaan". Kata Vincent.


"Percakapan santai? Tapi kamu berbicara seolah sudah memenangkan Jasen". Kata Steven.


"Baik,maaf Steven,tapi yang saya bicarakan adalah kenyataan". Kata Vincent.


"Jasen adalah anak saya,bagaimana pun caramu memperlakukannya,dia akan tetap memilih saya". Tegas Steven.


"Sepertinya tidak begitu Steven,kamu bisa lihat sendiri betapa Jasen merindukan saya daripada kamu ayahnya sendiri". Kata Vincent.


"Steven,saya salut dengan percaya dirimu. Percaya diri itu bagus,tapi sadar diri juga penting. Kamu ingin kembali bersama Jasmine? Saya juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalian memang pernah saling mencintai,tapi kamu adalah masa lalu nya dan saya masa depannya". Jelas Vincent.


"Dengan cara apa kamu mau mengejar Jasmine? Dengan uangmu? Jabatanmu? Atau mengemis dukungan dari keluarga dan teman Jasmine?". Tanya Steven.


"Saya tidak perlu mengemis dukungan,mereka sendiri sukarela mendukungku. Dan pastinya Jasen juga mendukungku. Saya yakin suatu hari Jasmine akan menerimaku bukan karena materi,tapi karena ketulusanku".Ucap Vincent.


"Sepertinya aku di ajak untuk menjadi pesaing".Kata Steven.


"Saya tidak mengajak,tapi jika kamu merasa ya sudah,bagaimana jika kita bersaing dengan sehat?". Tanya Vincent.


"Terserah kamu saja. Saya sudah selesai dengan kandang kelinci ini. Saya harus kembali bekerja, aku serahkan kembali hukuman mu". Kata Steven.


"Terimakasih Steven,tapi bisakah kamu besok membantu aku lagi?". Tanya Vincent.


"Hukuman ini adalah untukmu,bukan untukku. Aku adalah staf akuntansi perpajakan bukan pekerja kebun. Saya harus bekerja sesuai gaji yang ayahmu keluarkan untuk ku. Permisi". Jawab Steven.


"Ayahku hanya membayar gajimu bekerja di kantor,dia tidak pernah membayar uang lembur di luar jam kantor,tapi kamu beberapa kali bilang ke Jasmine bahwa kamu lembur dan harus bertemu klien sampai larut malam.Sejak kapan kantor kita belaku kerja lembur? Bukankah kamu terlalu royalitas?". Kata Vincent.


"Saya permisi". Ucap Steven yang langsung keluar meninggalkan Vincent.


Vincent tersenyum puas setelah melontarkan beberapa kalimat yang membuat Steven diam membisu tanpa kata. Walaupun Vincent merasa puas,dia juga merasa waspada terhadap Steven. Dia tau sekarang jika Steven masih ingin memperbaiki rumah tangga bersama Jasmine.


Steven memang bukan saingan Vincent dalam hal apapun,tapi apa yang dikatakan Steven ada benarnya. Bagaimana pun juga Steven dan Jasmine pernah saling mencintai,mereka pernah berumah tangga dan mempunyai anak. Hal itulah yang membuat Vincent merasa waspada,dia takut Jasmine akan luluh dan kembali kepada Steven.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di kebun bunga,Vincent pun pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan kembali masuk kantor.


"Selamat sore Pak Vincent". Ucap anggota staf di PT.Intan Permata Berlian.


"Selamat sore semuanya". Balas Vincent.


"Astaga Pak Vincent ganteng sekali,dia seperti aktor tampan di film". Kata seorang staf wanita.


"Benar sekali,dia ganteng,tinggi,harum,dan baik lagi. Perfect banget". Ucap staf lainnya.


"Tapi kita semua hanya bisa melihatnya,pemilik hatinya hanyalah Jasmine". Kata staf yang satu lagi.


"Jasmine sangat beruntung jika bisa bersama Pak Vincent,semoga Jasmine segera membuka hati untuknya". Kata seorang staf cowok.


"Benar sekali,kita doakan saja mereka bisa segera bersama". Ucap staf wanita.


"Amin". Kata mereka serentak.


Karena gosip Vincent dan Jasmine sudah menyebar,semua orang yang ada di kantor itu kini sudah mengetahuinya. Mereka juga sangat mendukung dan berharap Jasmine bisa bersama Vincent.


"Selamat sore Pa". Kata Vincent kepada Pak Robert.


"Kamu sudah selesai disana?". Tanya Pak Robert.


"Sudah Pa,ternyata tidak segampang yang saya kira". Kata Vincent.


"Hahaha...tapi kamu pasti belajar sesuatu dari sana". Kata Pak Robert.

__ADS_1


"Benar sekali,banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapat dari sana". Kata Vincent.


"Sekarang sudah pukul empat sore,kenapa kamu kembali ke kantor. Jika kamu lelah,Istirahatlah di rumah". Kata Pak Robert.


"Hmmm...sebenarnya saya memang lelah,tapi ada sesuatu yang mau saya kerjakan,makanya saya kembali". Terang Vincent.


"Bukan ada yang mau kamu kerjakan,ada seseorang yang mau kamu lihat di kantor ini". Kata Pak Robert.


"Lagi-lagi isi otakku bisa di tebak dengan benar". Kata Vincent.


"Papa kamu juga pernah muda". Ucap Pak Robert.


"Tapi kisah cinta papa pasti tidak serumit kisah cintaku". Kata Vincent.


"Semua kisah cinta itu rumit,mama kamu juga sama seperti Jasmine. Untuk mendapatkan wanita berkelas memang harus lebih berjuang". Kata Pak Robert.


"Ehm,tapi papa lah yang akhirnya jadi pemenangnya". Kata Vincent.


"Dan kamu juga harus percaya diri,kamu juga bisa menjadi pemenang". Kata Pak Robert.


"Terimakasih Pa". Ucap Vincent.


"Kamu sudah ada di kantor,kalau begitu saya sudah boleh pulang. Sebelum saya pulang,sebaiknya saya melakukan sesuatu untukmu".Kata Pak Robert.


"Sesuatu untukku?". Tanya Vincent.


"(Pak Robert menekan telepon) Halo...Jasmine,tolong kesini sebentar,ada yang mau saya bahas". Kata Pak Robert.


"Baik Pak Robert". Jawab Jasmine.


"Wuah,calon ayah mertua menyuruhmu kesana lagi?". Tanya Mia.


"Mia,jangan ngomong sembarangan. Saya harus kesana sekarang". Kata Jasmine.


Jasmine berjalan menuju ruangan CEO,dia tidak tau jika Vincent sudah berada disana. Jasmine mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.


"Selamat sore Pak Robert,anda mencari saya?". Tanya Jasmine.


"Bukan saya,tapi Vincent. Kalian ngobrol lah,saya sudah mau pulang. Sampai jumpa Jasmine". Kata Pak Robert.


"Pak Vincent kenapa disini? Bukannya kamu...". Ucap Jasmine.


"Jasmine,ingat janji kamu dengan saya tadi oke? Kalau begitu saya permisi". Kata Pak Robert.


"Baiklah Pak Robert,hati-hati di jalan". Kata Jasmine.


"Kamu terkejut saya disini?". Tanya Vincent.


"Kamu sudah selesai disana?". Tanya Jasmine kembali.


"Sudah selesai,melelahkan sekali". Kata Vincent.


"Kalau lelah untuk apa kamu kembali ke kantor? Sisa satu jam lagi sudah waktunya pulang". Kata Jasmine.


"Karena lelah saya harus kembali kesini,disini ada penyemangatku". Kata Vincent.


"Katanya ada yang mau kamu bahas? Mau bahas apa? Jika bukan soal kerjaan,saya akan keluar dari ruangan ini". Kata Jasmine.


"Ini tentang hukuman yang kamu berikan,emangnya kamu tidak penasaran aku kerja apa saja disana?". Tanya Vincent.


"Kalau begitu ceritakan dengan cepat,singkat,dan jelas". Kata Jasmine.


"Saya menyiram bunga,mencabut rumput dan memotong rumput". Jelas Vincent.


"Hah? Hanya itu saja? ". Tanya Jasmine.


"Apa yang hanya itu,kamu tidak tau seluas apa kebun bunganya?". Kata Vincent.


"Mana buktinya jika kamu yang mengerjakan?". Tanya Jasmine.


"Saya tau kamu akan minta bukti,untung saja saya merekam kegiatanku". Kata Vincent sambil memberikan bukti rekaman di handphone nya.


"Bagus sekali. Lalu bagaimana dengan kandang hewan yang disana? Kamu ada bersihkan?". Tanya Jasmine lagi.


"Tentu saja ada,ini ada bukti videonya". Kata Vincent yang menunjukan buktinya.


"Hah? Bukankah ini Steven?". Tanya Jasmine.


"Benar,saya menyuruhnya untuk membantu saya membersihkan kandang hewan". Kata Vincent.


"Tapi kenapa kamu menyuruhnya?". Tanya Jasmine.


"Siapa suruh dia bertemu dan menyapa saya disana. Dia pasti kepo kenapa saya ada disana. Untuk mengatasi rasa penasarannya,saya suruh saja dia membantu saya". Kata Vincent.


"Hebat sekali kamu,hukuman kamu dibagi ke orang lain". Kata Jasmine.


"Kami tidak keberatan kan? Jangan bilang kalau kamu marah kalau menyuruh Steven membantu?". Tanya Vincent.


"Terserah kamu saja,ngapain juga saya harus marah".Kata Jasmine.


"Baguslah". Kata Vincent.


"Lalu apa lagi yang kamu kerjakan disana?". Tanya Jasmine.


"Hmmm...aku berdebat dengan Steven". Kata Vincent.


"Apa yang kamu debatkan? Kamu pasti mencari masalah dengan orang itu". Kata Jasmine.


"Kalau kamu ingin tau,berikan aku sebuah pelukkan dulu". Kata Vincent.


"Jangan basa-basi,cepat katakan!". Tegas Jasmine.


"Sebelum kamu kasih pelukkan,saya tidak akan memberitahu kamu".Kata Vincent.


Jasmine penasaran apa yang mereka debatkan antara Vincent dan Steven. Namun tidak mungkin Jasmine mau memberikan sebuah pelukkan untuk Vincent. Lalu apakah Jasmine akan mendapatkan apa yang ingin dia tau?

__ADS_1


__ADS_2