The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Orang ketiga


__ADS_3

Setelah beberapa jam,Jasmine akhirnya menyelesaikan semua pekerjaanya.Dia menawarkan Steven untuk makan siang bersama,tentu saja moment tersebut tidak di sia-sia kan Steven. Akhirnya mereka bertiga bisa makan siang bersama lagi untuk pertama kali.


"Silakan di makan,saya masak seadanya saja". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,saya suka masakan kamu. Seperti sedang bernostalgia,saya sangat merindukan kenangan ini". Kata Steven.


"Makan saja,jangan banyak bicara". Ucap Jasmine.


"Semua masih seperti yang dulu,kecuali sikapmu terhadapku yang sudah dingin". Kata Steven.


"Nikmati saja moment ini,mungkin lain kali saya tidak akan bersikap ramah". Kata Jasmine.


"Jasmine,sebenci itukah kamu padaku?". Tanya Steven.


"Saya berusaha untuk tidak membenci mu,tapi setiap aku melihatmu saya seperti melihat kebodohan ku sendiri,lebih tepatnya saya lebih membenci diri saya sendiri karena mau menikah denganmu". Terang Jasmine.


"Jasmine,kamu tidak bodoh,saya yang kurang bersyukur. Tolong jangan menyesali pernikahan ini, saya yang salah". Jelas Steven.


"Sudahlah Steven,tidak habisnya kita membahas ini dan tidak ada lagi yang bisa di perbaiki". Kata Jasmine.


"Jasmine,kita bisa mulai dari awal lagi,saya akan mengembalikan kehangatan rumah tangga kita seperti dulu".Kata Steven.


"Mulai dari awal lagi?". Tanya Jasmine.


"Benar Jasmine,saya harap kamu memberikan aku satu kesempatan,saya akan memperbaikinya". Kata Steven.


"Baiklah Steven,saya akan memberikan kamu kesempatan dengan syarat kembalikan waktuku,masa muda ku,kembalikan aku ke waktu dimana kita baru bertemu. Jika kamu bisa mengembalikan itu semua kepadaku,baru kita bisa mulai dari awal". Terang Jasmine.


"Jasmine,itu tidaklah mungkin". Kata Steven.


"Begitu juga hubungan kita juga tidak akan mungkin bisa kembali lagi". Kata Jasmine.


"Apa kamu sudah menetapkan pilihanmu kepada Vincent?". Tanya Steven.


"Itu bukan urusanmu". Kata Jasmine.


"Jasmine,jika kamu sudah yakin memilih Vincent,aku janji aku akan mundur. Jika kamu belum yakin dengan hatimu,artinya kamu masih ragu dengan perasaanmu saat ini".Kata Steven.


"Kamu jangan berbicara seolah kamu tau perasaanku". Kata Jasmine.


"Saya tau hatimu terluka karena aku,tapi untuk saat ini sebenarnya kamu masih memiliki keraguan dengan perasaanmu.Kamu sendiri tidak tau yang kamu cintai sekarang mantan suamimu atau orang baru". Terang Steven.


"Kamu sadar apa yang barusan kamu katakan?". Tanya Jasmine.


"Saya hanya mengatakan berdasarkan analisis saya". Kata Steven.


"Steven,jika saya masih ada sedikit saja perasaan terhadap kamu,saya mungkin tidak akan melarang kamu masuk ke rumah ini. Saya menyuruhmu bertemu Jasen di luar bukan tanpa alasan. Karena saya tidak mau terlibat dalam hubungan kalian,bagiku hubungan kita berdua telah selesai,yang ada hanya hubungan antara kamu sebagai ayah dan Jasen sebagai anak". Terang Jasmine.


"Jasmine kita memang sudah bercerai,tapi tidak ada yang tau kedepannya. Cinta masih bisa dibina". Kata Steven.


"Benar kata-kata mu itu,kamu memang bisa membina cinta dengan wanita manapun,kapanpun,dan dimanapun.Lalu kamu berpikir aku sama seperti kamu?". Jelas Jasmine.


"Jasmine...saya tau saya salah.Hanya satu kesalahan ku kamu menghakimi ku seumur hidup?". Tanya Steven.


"Satu kesalahan mu itu fatal,membuat hidup istri dan anakmu hancur". Kata Jasmine.


"Saya sudah berjanji akan memperbaiki hubungan kita,kamu dan Jasen butuh aku. Tolong di pertimbangkan lagi Jasmine". Kata Steven.


"Jika aku dan Jasen memang butuh kamu,saya tidak mungkin minta cerai. Aku sudah mempertimbangkan perceraian kita dengan matang,itu artinya aku dan Jasen sudah sangat siap tanpa kamu. Begitu juga dengan kamu Steven,kamu berselingkuh berarti kamu harus siap untuk menerima konsekuensi retaknya rumah tangga mu". Terang Jasmine.


"Aku sangat mengerti itu,tapi...". Ucap Steven.


"Stop bilang mengerti. Setelah selesai makan,pulanglah dan renungkan kata-kata ku tadi". Kata Jasmine.


Steven hanya bisa diam seribu bahasa,walaupun Jasen masih kecil dan belum mengerti maksud dari pembicaraan kedua orang tuanya,namun dia tau bahwa hubungan ayah dan ibunya tidak baik-baik saja.


Setelah Steven selesai makan,dia lalu pamit pulang kepada Jasmine dan Jasen. Sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan Steven kepada Jasen bahwa dia berharap Jasen bisa menjadi jembatan penghubung kembali antara dia dan mantan istrinya. Namun dengan melihat wajah Jasen,dia mengetahui bahwa di hati Jasen sudah ada Vincent.


"Daddy pamit pulang ya". Ucap Steven.


"Hati-hati di jalan daddy". Balas Jasen.


"Jasen,daddy tanya pertanyaan terakhir. Apakah paman Vincent itu begitu baik?". Tanya Steven.


"Ehm...(Jasen menganggukkan kepalanya sambil tersenyum) Daddy juga baik". Kata Jasen.


"Terimakasih Jasen,daddy mengerti". Kata Steven.


Malam pun tiba,Jasmine yang siap-siap mau tidur di kejutkan dengan suara telepon yang berdering.


"Halo". Ucap Jasmine.


"Jasen sudah tidur?". Tanya Vincent.


"Kamu tau ini jam berapa? Ya tentu saja sudah tidur". Balas Jasmine.


"Oh baguslah, saya bisa bicara denganmu sepuasnya". Kata Vincent.


"Maaf,saya tidak bisa menemani kamu bicara,saya harus tidur". Kata Jasmine.


"Sebentar saja,saya kan tidak menelepon kamu seharian,kamu juga tidak mencari aku,apa yang kamu lakukan seharian ini?". Tanya Vincent.


"Banyak,semua pekerjaan rumah". Kata Jasmine.


"Hmmm...saya belum di perbolehkan oleh papaku masuk kerja besok". Kata Vincent.


"Ya sudah istirahat di rumah". kata Jasmine.


"Tapi aku tidak bisa melihat kamu di kantor". Kata Vincent.


"Jangan konyol,kantor adalah tempat kerja,apa yang mau kamu lihat?". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Sehari saja tidak melihat kamu rasanya ada kurang". Kata Vincent.


"Saya tidak akan terharu mendengarnya". Kata Jasmine.


"Susah sekali mencairkan hatimu yang beku". Kata Vincent.


"Ada lagi yang mau kamu katakan? Saya sudah mengantuk". Kata Jasmine.


"Baiklah,selamat malam Jasmine, semoga kita bertemu di alam mimpi". Kata Vincent.


"Semoga saja tidak,saya tidak mau kamu mengganggu ku lagi di alam mimpi". Kata Jasmine.


"Sungguh tidak romantis". Ucap Vincent.


"Bye". Kata Jasmine.


Keesokan harinya,Jasmine di kantor mendapatkan pelukkan hangat dari Mia yang sudah kangen banget dengan Jasmine.


"Kamu ini kenapa? Seperti sudah lama tidak bertemu". Kata Jasmine.


"Walaupun kita bertemu di rumah sakit,tapi di kantor ini rasanya sudah lama sekali kamu tidak masuk". Bisik Mia.


"Apakah staf lain tau tentang Vincent masuk rumah sakit?". Tanya Jasmine.


"Tidak,mereka hanya tau jika kamu cuti. Mereka tidak mempertanyakan tentang Vincent". Terang Mia.


"Ehmm...baguslah". Kata Jasmine.


"Oh ya,ini bunga dari pangeranmu". Kata Mia.


"Apaan sih". Kata Jasmine.


"Ehmmm...Jasmine,apa yang kalian lakukan waktu menginap di rumahnya?". Tanya Mia.


"Tidak ada,saya seperti sedang berwisata, rumahnya besar dan luas. Pak Robert akan membuat lapangan golf di dalam rumah, Ehmm...orang kaya memang ada aja idenya". Terang Jasmine.


"Aduh,bukan itu maksud saya. Kegiatan kalian ketika kamu menginap di rumahnya?". Bisik Mia.


"Istirahat,makan siang,makan malam,dan istirahat lagi". Jelas Jasmine.


"Astaga Jasmine,yang aku tanyakan apakah tidak ada terjadi sesuatu di antara kalian?". Tegas Mia.


"Ya itu sudah saya jelaskan apa yang terjadi". Kata Jasmine.


"Kalian berdua dalam satu kamar,tidak mungkin tidak terjadi sesuatu kan?". Ucap Mia yang semakin penasaran.


"Siapa yang bilang kita sekamar? Tentu saja aku tidur di kamar tamu". Kata Jasmine.


"Haizzz...pupus sudah harapanku,sudahlah kembali bekerja". Kata Mia dengan kesal.


"Isshhh apa an sih Mia ini,Terimakasih ya Mia sudah bantu aku menghandle kerjaanku". Kata Jasmine.


"Ya ya,sudah kerja. Aku sedikit kesal denganmu". Kata Mia.


Setelah Jasmine meletakkan bunga tersebut di vas,terdengar bunyi telepon dari ruangan. Jasmine segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo,dengan Jasmine". Kata Jasmine.


"Jasmine,ini saya Marco. Kamu sudah masuk kantor?".Tanya Marco.


"Sudah". Jawab Jasmine.


"Eh,apakah Pak Vincent masuk kantor hari ini?". Tanya Marco.


"Tidak,dia masih rehat di rumah. Ada perlu apa?". Tanya Jasmine.


"Eh,tidak apa-apa". Jawab Marco.


"Ayo katakan ada apa? Apa yang kamu sembunyikan?". Tanya Jasmine.


"Begini Jasmine,di luar ada seorang wanita bernama Merry yang mencari Pak Vincent". Kata Marco.


"Oh begitu,kamu boleh langsung infokan ke Pak Vincent dan bertanya tujuan kedatangan tamu tersebut kepada Pak Vincent". Terang Jasmine.


"Hmmm...Jasmine,wanita tersebut mengatakan bahwa dia adalah calon tunangan Pak Vincent". Ucap Marco.


"Calon tunangan?". Tanya Jasmine.


"Benar. Saya juga bingung. Sepertinya dia baru datang dari luar negeri". Kata Marco.


"Lalu kenapa dia tidak punya nomor telepon Pak Vincent,tidak mungkin calon tunangannya tidak punya nomor teleponnya". Jelas Jasmine.


"Saya juga berkata demikian,tapi wanita bernama Merry tersebut bilang jika dia tidak punya nomor Pak Vincent di negara ini,tujuan dia datang adalah untuk memberikan kejutan kepada Pak Vincent. Dia sekarang sedang menunggu di ruang tamu. Pak Hadi belum sampai ke kantor,saya belum bisa mengatakan kepadanya tentang hal ini. Haruskah saya langsung menelepon Pak Vincent?". Kata Marco.


"Tentu saja harus memberitahukannya, katakan saja kepada Pak Vincent bahwa calon tunangannya datang mencarinya di kantor". Kata Jasmine.


"Jasmine,saya rasa ini hanya salah paham,belum tentu benar dia adalah calon tunangan Pak Vincent". Kata Marco.


"Benar atau tidak kamu tetap harus memberitahukannya". Kata Jasmine.


"Kamu tidak apa-apa kan Jasmine? Saya tidak seharusnya meminta pendapatmu". Kata Marco.


"Oh jadi menurutmu saya tidak pantas memberikan pendapat?". Tanya Jasmine.


"Bukan...Pak Vincent dia...". Ucap Marco.


"Dia tidak ada hubungannya denganku. Jalankan saja sesuai prosedur kantor". Kata Jasmine.


"Jas...". Ucap Marco.


"Ada lagi yang mau di tanyakan?". Tanya Jasmine.

__ADS_1


"Tidak ada". Kata Marco.


"Baik Marco,saya kerja dulu ya". Kata Jasmine.


Marco merasa bimbang akan hal ini,namun dia mendengarkan saran Jasmine segera menelepon Vincent untuk mengantisipasi terjadi sesuatu.


"Halo Pak Vincent,selamat pagi. Maaf Pak mengganggu waktu anda". Kata Marco.


"Pagi Marco,tidak mengganggu sama sekali. Ada apa?". Tanya Vincent.


"Pak Vincent,Ehmm....". Kata Marco.


"Ada apa Marco? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Jasmine?". Tanya Vincent panik.


"Tidak. Begini Pak Vincent,ada seorang wanita bernama Merry mencari Pak Vincent di kantor. Tapi dia mengaku bahwa dia adalah calon tunangan Pak Vincent". Terang Marco.


"Saya tidak mengerti Marco,wanita itu mengatakan bahwa dia adalah calon tunangan saya?". Tanya Vincent.


"Benar Pak". Jawab Marco.


"Bagaimana bisa saya punya calon tunangan,siapa namanya tadi?". Tanya Vincent.


"Merry,dia datang dari luar negeri". Kata Marco.


"Saya tau sekarang,dia adalah teman kuliah saya. Tapi kenapa dia bilang calon tunangan,kamu tidak salah dengar?". Tanya Vincent.


"Tidak Pak Vincent,kebetulan saya yang langsung bicara dengannya. Jika terdengar oleh orang lain maka...". Kata Marco.


"Baiklah,saya mengerti. Dimana dia sekarang?". Tanya Vincent.


"Di ruang tamu,dia bilang akan menunggu Pak Vincent di kantor. Dia juga bilang tujuan dia datang adalah ingin memberikan suprise untukmu".Terang Marco.


"Hmmm...apa yang perlu di suprise kan,saya akan segera datang ke kantor". Kata Vincent.


"Pak Vincent,ada satu hal lagi". Kata Marco.


"Ada apa?". Tanya Vincent.


"Semua adalah kesalahanku...". Kata Marco.


"Apa salahmu? kamu tidak salah apa-apa". Kata Vincent.


"Karena saya panik,saya berencana memberitahukan kepada Mia untuk meminta pendapatnya,tapi yang angkat teleponnya adalah Jasmine. Dia sudah tau akan hal ini". Jelas Marco.


"Apa yang Jasmine katakan?". Tanya Vincent.


"Dia menyuruhku untuk segera memberitahumu". Kata Marco.


"Selain itu,dia tidak mengatakan apa-apa?". Tanya Vincent.


"Tidak,saya takut sekali Jasmine akan salah paham. Pak Vincent harus segera menyelesaikan semua ini". Kata Marco.


"Baiklah,saya akan segera ke kantor". Kata Vincent.


"Pak Vincent maafkan aku,tidak seharusnya saya memberitahunya. Jika terjadi salah paham, bagaimana saya harus bertanggung jawab?". Kata Marco.


"Sudahlah Marco,kamu jangan terlalu merasa bersalah. Cepat atau lambat dia juga akan tau. Aku hanya ingin bertanya,apakah kamu percaya sama aku?". Tanya Vincent.


"Saya sangat percaya,kamu bukan lah orang yang seperti itu. Jika kamu punya tunangan,tidak mungkin kamu mengejar Jasmine". Kata Marco.


"Terimakasih kamu sudah percaya padaku,aku akan segera membuktikan bahwa wanita yang bernama Merry itu bukanlah calon tunanganku,dia hanya teman kuliah. Aku masih butuh dukungan kalian untuk membantuku meyakinkan Jasmine". Terang Vincent.


"Kami pasti akan terus mendukungmu Pak Vincent". Kata Marco.


"Baiklah. Marco,jika ada sesuatu mengenai Jasmine,tolong beritahu aku". Kata Vincent.


"Siap Pak Vincent". Ucap Marco.


Vincent segera ke kantor menyelesaikan kesalah pahaman ini, sementara Marco juga memberitahukan Pak Hadi dan Mia apa yang barusan Vincent katakan. Mereka sangat khawatir dengan Jasmine, tentu saja kesalah pahaman ini akan mempengaruhi hubungan Vincent dengan Jasmine menjadi lebih buruk.Pak Hadi yang sudah tau akan hal ini segera menelopon dan menyuruh Mia ke ruanganya.


"Halo,selamat pagi". Kata Pak Hadi.


"Pagi,dengan Jasmine". Balas Jasmine.


"Jas,tolong sampaikan kepada Mia untuk segera membawa proposal kerja sama ke ruangan saya". Kata Pak Hadi.


"Baik Pak Hadi". Jawab Jasmine.


"Terimakasih". Balas Pak Hadi.


"Mia,Pak Hadi menyuruhmu untuk segera ke ruanganya membawa proposal kerja sama". Kata Jasmine.


"Oh,baik Terimakasih". Kata Mia.


Dengan sigap Mia segera menuju ke ruangan Pak Hadi, disana juga ada Marco.


"Hmmm...kenapa ini bisa terjadi?". Kata Mia.


"Semua salah saya Mia,harusnya saya tidak memberitahu Jasmine dulu". Kata Marco.


"Bukan salahmu Marco. Orang yang bernama Merry tersebut kenapa harus hadir di saat seperti ini, hubungan Pak Vincent dan Jasmine sudah semakin baik,tapi...". Kata Mia.


"Marco,Mia,kalian tenang lah. Yang terpenting adalah kita percaya Pak Vincent bukanlah pria seperti itu, mungkin saja wanita itu hanya mengaku-ngaku bahwa dia calon tunangan Pak Vincent". Jelas Pak Hadi.


"Tapi sungguh berani sekali,Pak Vincent adalah CEO perusahaan besar,dan ayahnya adalah bos besar. Berani sekali menyebarkan fitnah". Kata Mia.


"Sepertinya wanita itu juga bukanlah orang biasa,makanya dia berani.Satu hal yang pasti adalah walaupun Jasmine terlihat biasa saja,tapi dia pasti terpukul dengan berita ini". Kata Pak Hadi.


"Kita harus bagaimana?". Tanya Marco.


"Kita harus tetap tenang. Percayakan kepada Pak Vincent untuk menyelesaikannya. Mia kamu harus perhatikan Jasmine,katakan hal yang baik tentang Pak Vincent". Kata Pak Hadi.

__ADS_1


"Baik,saya mengerti Pak". Kata Mia.


Vincent dalam pejalanan menuju kantor untuk menemui Merry. Semua kesalah pahaman ini harus segera di selesaikan. Mia,Marco dan Pak Hadi berpikir positif tentang Vincent,tapi bagaimana dengan Jasmine? Akankah Jasmine semakin menjauh dari Vincent? Dan siapa Merry ini sebenarnya?


__ADS_2