
Sementara di meja Jasmine terdapat Vincent yang duduk semeja dengan keluarganya Jasmine,kedua kakak Jasmine bahkan terlihat akrab dan menyambut Vincent dengan baik. Jasmine hanya bisa diam dan menyantap hidangan yang ada di meja nya.
"Jasmine,kenapa hari ini kamu menjadi begitu pendiam? Apa karena ada Vincent disini kamu jadi salah tingkah".Ejek kakak kedua.
"Kakak tidak melihat saya sedang makan? Saya lagi menikmati makanan saya". Balas Jasmine.
"Ehmm...Jasmine,apakah ada Vincent di samping kamu,makanannya menjadi lebih enak?". Canda kakak kedua.
"Tolong kalian berdua jangan menganggu orang yang sedang makan". Ucap Jasmine.
"Setidaknya kamu ngobrol sedikit dengan kita,kamu bisa sambil mengobrol sambil makan seperti biasanya". Kata kakak pertama.
"Saya tidak bisa masuk dalam obrolan kalian,yang kalian bahas tentang mobil. Saya tidak mengerti apapun tentang otomotif,sebaiknya saya diam". Terang Jasmine.
"Kalau begitu kita bahas yang lain saja". Kata kakak kedua.
"Kamu harus mengajak Vincent ngobrol,jangan diam saja. Vincent adalah tamu kita,jangan bersikap cuek seperti itu". Kata kakak pertama.
"Tidak apa-apa,bukan pertama kalinya Jasmine dingin terhadapku". Kata Vincent.
"Jasmine kamu sungguh keterlaluan". Kata kakak kedua.
"Maafkan adikku ku ini Vincent,semoga kamu nyaman bersama kami". Kata kakak pertama.
"Hmmm...kalau kamu malu mau bicara berdua dengan Vincent,kami boleh pindah tempat lain". Ucap kakak kedua.
"Kenapa harus malu,emangnya saya salah apa? Kalian ngobrol saja,saya mau lanjut makan". Kata Jasmine.
"Jasmine,bahkan Jasen lebih baik dari kamu dalam memperlakukan tamu. Kamu ini gimana sih? Sudahlah kamu ajak Vincent ngobrol,Jerry kalian semua ikut dengan aku,ada yang mau saya bicarakan". Ajak kakak pertama agar mereka semua meninggalkan Jasmine dan Vincent berdua.
"Eh,kalian mau kemana?". Tanya Jasmine.
"Mau ke toilet". Ucap kakak pertama.
"Tadi kakak bilang ada yang mau di bicarakan". Kata Jasmine.
"Iya,ada yang mau kita bicarakan,tapi kita mau bicarakan di toilet,kamu tidak mungkin ikut kan". Kata kakak pertama.
"Kalian aneh-aneh saja,mana ada yang bahas sesuatu di toilet". Kata Jasmine.
"Eh,Jasen yuk ikut dengan paman. Kamu mau pipis kan? Paman bawa kamu ke toilet.Biarkan mommy dan paman Vincent berdua.oke?". Kakak kedua mengajak Jasen meninggalkan meja Jasmine dan Vincent.
"Oke paman Jerry". Jawab Jasen.
"Jasen,kenapa kamu ikut juga?". Tanya Jasmine.
"Jasen mau ke toilet,biar Jasen ikut paman Jerry saja". Balas Jasen.
"Hmmm...kamu lihat kan Vincent,dimana ada kamu,semua orang meninggalkan saya. Kemarin di acara BBQ juga saya di tinggalkan,sekarang disini juga". Kata Jasmine.
"Mereka tidak pernah meninggalkan kamu,karena mereka semua sayang kepada kamu makanya ingin memberikan kesempatan kepada kita berdua untuk mengobrol". Terang Vincent.
"Dan kamu merasa senang mereka semua berpihak kepada kamu,benarkan?". Tanya Jasmine.
"Tentu saja,tapi kamu tetap saja dingin terhadap saya". Kata Vincent.
"Kamu memang licik,kamu tau ayahmu dan ayahku adalah teman,tapi kamu tidak memberitahukan aku". Kata Jasmine.
"Kamu masih bilang saya licik? Kamu tau betapa menyedihkan ketika kamu menolak perjodohan kita? Kamu bahkan belum melihatku tapi kamu sudah menolaknya". Kata Vincent.
"Saya tidak menyukai perjodohan". Kata Jasmine.
"Jika sekarang mereka menjodohkan kita berdua lagi,apa kamu menerimanya?". Tanya Vincent.
"Tetap tidak".Kata Jasmine.
"Hmmm....jadi sampai kapan kamu baru bisa menerima saya?". Tanya Vincent lagi.
"Kamu mundur saja,saya tidak akan menerima kamu. Maaf". Kata Jasmine.
"Semua karena Steven,di saat saya pulang ke negara ini,Steven sudah mendekati kamu dan akhirnya kalian bersama. Tapi dia tidak menjaga kamu dengan baik,luka yang dia berikan membuat aku susah untuk membuktikan bahwa aku berbeda dengannya". Terang Vincent.
"Kamu tidak seharusnya berkata begitu". Kata Jasmine.
"Kamu masih membela nya? Saya tau sekarang,di hati kamu masih ada dia". Kata Vincent.
"Kamu jangan ngomong sembarangan. Aku dan dia sudah berakhir,dan tidak akan bisa kembali lagi. Tapi bukan berarti saya bisa menerima orang lain". Jelas Jasmine.
"Jasmine,walaupun kamu sekarang belum bisa menerima orang lain,saya akan berusaha,saya akan menunggu. Bagiku tidak masalah saya berusaha sekeras apapun,yang terpenting adalah kamu jangan membela Steven di depanku,itu sudah cukup bagiku". Terang Vincent.
"Saya tidak ada membicarakan tentang Steven,kamu sendiri yang berasumsi seperti itu". Kata Jasmine.
__ADS_1
"Hmmm...maaf,saya terbawa perasaan. Saya begitu emosional dengan hal yang berhubungan dengan Steven". Kata Vincent.
"Sudahlah,lupakan saja. Jangan membahas dia lagi". Ucap Jasmine.
"Setuju,kita bahas tentang kita berdua saja". Kata Vincent.
"Hmmm...tidak ada yang perlu di bahas soal kita berdua". Kata Jasmine.
"Kamu tidak mau mengetahui sesuatu tentang aku atau orang tuaku?". Tanya Vincent.
"Saya sudah tau siapa kamu,seorang yang pandai menyembunyikan kebenaran. Dan saya sudah tau siapa orang tuamu,lalu apa lagi yang perlu saya tau?". Kata Jasmine.
"Dulu kamu pernah bertanya siapa sebenarnya orang tua saya,dan saya bilang waktu yang akan menjawab semuanya. Sekarang semua sudah terjawab". Terang Vincent.
"Selain ini ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku? Aku lelah dengan kejutan-kejutan kamu". Kata Jasmine.
"Hmmm...aku ingin jujur kepada kamu,ada satu hal membuat aku patah hati dan akhirnya aku memutuskan untuk mundur mengejar kamu waktu itu". Kata Vincent.
"Karena aku membatalkan perjodohan kan? Kamu sudah bilang tadi". Kata Jasmine.
"Bukan". Ucap Vincent.
"Lalu apa?". Tanya Jasmine.
"Tujuh tahun lalu saya menyaksikan sendiri orang yang saya cintai menerima cinta dari pria lain di tempat ku sendiri".Terang Vincent.
"Tujuh tahun lalu? Maksud kamu adalah?". Tanya Jasmine.
"Kamu menerima Steven waktu dia menyatakan cinta".Kata Vincent.
"Tujuh tahun lalu di saat Steven menyatakan cinta,saya dan lainnya ada di kota Vilas".Ucap Jasmine.
"Benar,kalian berwisata di kota Vilas tepatnya di Heaven Hill,Steven menyatakan cinta dan kamu menerimanya". Jelas Vincent.
"Apa maksud dari kamu melihat sendiri,apa kamu ada disana juga waktu itu?". Tanya Jasmine.
"Iya,saya juga ada disana bersama kalian,hanya saja kalian tidak tau siapa saya. Heaven Hill adalah milik keluargaku,disana ada sebuah taman bunga yang di ukir dengan namamu Jasmine. Saya berharap suatu hari saya bisa melamar kamu disana,tapi ternyata Steven lah yang lebih dahulu menyatakan cinta". Terang Vincent.
"Hmmm...Vincent aku...". Ucap Jasmine.
"Tidak masalah,itu bukan salahmu. Di saat itu kamu bahkan tidak tau aku,tapi betapa sakitnya hatiku waktu itu".Kata Vincent.
"Bagaimana pun juga saya minta maaf,saya tidak bisa membayangkan sesakit apa kamu". Kata Jasmine.
"Saya tidak bermaksud tidak menghargai kamu. Hmmm...jika kita bersama,mungkin saja saya bisa menyakiti kamu juga atau sebaliknya. Lebih baik kita berteman,itu akan lebih baik". Kata Jasmine.
"Sebenarnya kamu takut aku akan seperti Steven,kamu takut akan sakit hati untuk kedua kalinya". Kata Vincent.
"Benar,dan saya juga mengatakan sebaliknya. Bagaimana jika aku tidak cukup baik untukmu? Di luar banyak sekali wanita baik yang lebih cocok untukmu. Percayalah padaku". Kata Jasmine.
"Untuk kesekian kalinya saya katakan kepadamu Jasmine,saya sudah pernah mundur dan saya menyesal. Saya tidak akan berhenti berjuang sekarang. Saya tidak mau menyesal untuk kedua kalinya". Kata Vincent.
"Vincent,saya tidak mau melukai hatimu,saya tidak sebaik yang kamu kira. Kamu lihat sendiri sifatku tidak selembut wanita lain". Kata Jasmine.
"Jika kamu tidak mau melukai hatiku,terimalah aku. Bagiku,kamu lebih dari wanita manapun yang pernah saya temui". Kata Vincent.
"Haizz...selalu tidak berujung jika berbicara dengamu". Kata Jasmine.
"Apa sih kelebihan Steven yang tidak aku miliki? Dan apa yang kamu suka darinya?". Tanya Vincent.
"Sudah ya Vincent,kamu sendiri yang bahas Steven terus,malas saya dengarnya". Kata Jasmine.
"Tidak Jasmine kamu harus menjawab apa kelebihan dia daripada aku?". Kata Vincent.
"Apa sepenting itu? Itu pertanyaan tidak berguna". Ucap Jasmine.
"Tidak penting bagi kamu,tapi buat aku itu hal yang penting. Kamu bilang saja dengan jujur,apa yang kamu suka dari dia yang tidak aku miliki? Apa dia ganteng dan aku tidak? Atau dia lebih pintar dari aku,atau lebih romantis?". Tanya Vincent lagi.
"Baiklah Vincent,dengar baik-baik. Tidak ada kelebihan Steven yang tidak kamu miliki. Kamu lebih segalanya dari dia,sekarang sudah puas?". Jelas Jasmine.
"Benarkah? Apa kamu mengatakan dengan jujur?". Tanya Vincent.
"Saya sudah jujur,tolong jangan bertanya lagi". Jawab Jasmine.
"Hahaha...(Vincent ketawa dengan gembira) saya sangat senang mendengarnya. Lalu kenapa kamu tidak mau menerima aku? Kenapa kamu mau terima dia?". Tanya Vincent lagi.
"Vincent sudahlah cukup, kalian hadir di waktu berbeda. Kamu sekarang tau sendiri kondisi saya". Kata Jasmine.
"Pertanyaan terakhir...".Ucap Vincent.
"Apa lagi?". Kata Jasmine yang mulai kesal.
__ADS_1
"Jika saya hadir terlebih dahulu sebelum Steven,apa kamu akan menerima aku? Cukup jawab Ya atau Tidak". Tanya Vincent.
"Ya".Jawab Jasmine.
"Baiklah,Terimakasih Jasmine". Ucap Vincent dengan tersenyum.
"Sekarang giliran saya yang bertanya,bukankah kamu bilang ada acara keluarga hari ini? Kenapa malah ada di acara ulang tahun ayahku?". Tanya Jasmine.
"Hmmm...ini termasuk acara keluarga,saya dan keluarga saya menghadiri pesta". Kata Vincent.
"Jadi kamu sudah tau dari kemarin kalau kamu akan menghadiri acara pesta ayahku,benarkan?". Tanya Jasmine.
"Saya tidak tau,pagi tadi saya baru tau ternyata orang tua ku di undang". Jawab Vincent.
"Benarkah?". Tanya Jasmine menatap Vincent dengan sinis seolah tidak percaya apa yang dikatakan Vincent.
"Saya tidak berbohong Jasmine,jika kamu tidak percaya,tanyakan saja kepada orang tua ku". Kata Vincent.
"Ya sudah saya percaya,tapi jangan lupa janjimu padaku besok". Kata Jasmine.
"Saya ingat Jasmine,saya besok akan ke taman belakang menjadi tukang kebun". Kata Vincent.
"Baguslah jika kamu ingat. Eh,Vincent berarti ayahmu paman Robert adalah bos Steven?". Tanya Jasmine.
"Benar sekali". Kata Vincent.
"Apakah ayahmu tau jika Steven adalah mantan suamiku?". Tanya Jasmine.
"Tentu saja tau". Kata Vincent.
"Hmmm...lalu dia tau juga apa penyebabnya?". Tanya Jasmine.
"Saya sudah menceritakan kepada mereka". Kata Vincent.
"Oh..". Kata Jasmine.
"Kamu takut orang tua saya tidak menerima kamu?".Tanya Vincent.
"Bukan begitu,memang seharusnya mereka tidak boleh menerimaku". Kata Jasmine.
"Saya pernah bilang jika orang tuaku menerima kamu dan mengenal kamu dengan baik,bahkan mereka sangat menyukai kamu,sekarang kamu mengerti kan?". Kata Vincent.
"Ternyata mereka adalah teman baik ayahku,makanya kamu berani bilang begitu". Kata Jasmine.
"Hmmm...jika orang tua ku bukan teman ayahmu,mereka juga akan menerima kamu". Terang Vincent.
"Atas dasar apa mereka menerima aku? Keluarga kalian adalah keluarga terpandang. Mereka pasti punya standart menantu mereka sendiri". Kata Jasmine.
"Standart tidak bisa menentukan kebahagiaan,yang terpenting adalah anaknya bahagia terhadap pilihannya sendiri. Kamu selalu melihat semua orang itu sama. Kamu melihat keluarga ku seolah keluargaku sama dengan keluarga pada umumnya. Kamu juga melihat aku dan menganggap aku sama saja seperti Steven. Saya katakan kepadamu Jasmine,saya dan keluarga saya berbeda". Jelas Vincent.
Jasmine terdiam mendegar penjelasan Vincent. Dia merasa Vincent dan keluarganya memang begitu berbeda,mereka adalah keluarga terpandang namun dengan siapa pun Vincent dan kedua orang tuanya sangat menghargai orang lain bahkan tidak merendahkan siapapun.
Walaupun begitu,Jasmine tetap berat untuk membuka lembaran baru. Baginya adalah menjadi orang tua tunggal untuk Jasen merupakan pilihan terbaik. Vincent sangat berharap setelah ini,Jasmine perlahan akan membuka hati untuknya.
Vincent tidak mau menyerah dan terus berjuang,dia juga tidak memaksa Jasmine.Semoga saja berkat bantuan dan dukungan dari banyak orang,Jasmine dan Vincent bisa bersama sesuai yang di harapkan.
"Gimana sudah ngobrol sampai mana kalian berdua?". Tanya kakak kedua yang sudah kembali ke meja mereka.
"Jerry,kenapa kamu bertanya,itu kan urusan mereka berdua. Dasar kepo". Lanjut kakak pertama.
"Kita hanya bincang soal pekerjaan dan...". Kata Vincent.
"Dan soal perasaan...benarkan tebak kan ku?". Tanya kakak kedua.
"Kak Jerry,kenapa kamu selalu mengejek ku?". Ucap Jasmine.
"Karena kamu adikku,siapa suruh kamu jadi adikku". Kata kakak kedua.
"Sudah-sudah,kamu membuat mereka berdua malu. Maafkan kita ya Vincent,saya bersulang untuk mu dan untuk kita semua,semoga kita semua sehat sentosa". Kata kakak pertama.
"Terimakasih kak Jimmy". Jawab Vincent.
"Dan satu lagi,saya hampir lupa, kita bersulang lagi semoga Vincent bisa segera masuk menjadi keluarga kita". Ucap kakak pertama.
"Ini harus ucap AMIN paling kencang". Kata kakak kedua.
"Terimakasih kak Jimmy dan kak Jerry atas dukungannya". Balas Vincent.
"Eh,mereka sedang mengejek kita,apanya yang Terimakasih". Ucap Jasmine kepada Vincent.
"Itu artinya Vincent mengiyakan doa kita,kamu bodoh sekali Jasmine". Kata kakak pertama.
__ADS_1
"Ayo bersulang Jasmine". Kakak kedua mengangkat gelas Jasmine.
Jasmine stres melihat aksi kedua kakaknya,tapi Vincent sangat senang melihat kedua kakaknya Jasmine yang begitu welcome terhadap dia. Jasen tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang dewasa tersebut,namun dia sangat bahagia melihat Jasmine dan Vincent bersama.