The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Vincent penuh kejutan


__ADS_3

Setelah Jasmine resmi bercerai dengan Steven. Jasmine otomatis menyandang status janda beranak satu. Kemenangannya mendapatkan hak asuh anak atas Jasen membuat dia berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi anaknya.


Jasmine masih kelihatan cantik dan seksi walaupun sudah punya anak. Perceraiannya membuat lawan jenis berkesempatan untuk mendekatinya,namum Jasmine lebih susah di dekatin pasca perceraian, pengalaman dia yang sebelumnya masih membekas dan sulit baginya untuk membuka hati lagi.


Sekarang dia hanya fokus pada anaknya Jasen,berusaha memberikan yang terbaik agar Jasen tidak kekurangan apapun dari segi materi ataupun kasih sayang.


Seperti biasa,dia masuk ke kantor dengan sebuah bouquet bunga di mejanya. Kita sudah mengetahui bahwa itu dari Vincent CEO Jasmine.


"Selamat Jasmine sidang berjalan dengan lancar dan kamu memenangkan hak asuh Jasen". Kata Mia.


"Haha,Terimakasih Mia. Aku lega sekali,sepertinya setengah bebanku hilang dari pundak". Kata Jasmine.


"Apa perceraian sebahagia itu ya?". Tanya Mia terheran.


"Itu karena saya melepaskan manusia yang tidak penting lagi dalam hidupku". Kata Jasmine.


"Jas,kamu masih benci Steven sampai saat ini?". Tanya Mia.


"Kecewa iya,kalau benci sudah tidak. Anggap saja dia datang untuk memberikan pelajaran kehidupan kepada saya.Dan saya sudah berjanji akan melihat dia sebagai ayah dari Jasen". Jawab Jasmine.


"Baguslah,hmmm...Jas,jika ada yang mengejarmu apakah kamu akan kembali membuka hati?". Tanya Mia lagi.


"Sepertinya tidak akan lagi. Saya sudah cukup tersakiti dengan satu kisah,saya tidak mau menambah kisah baru". Kata Jasmine.


"Oh,tapi kalau misalnya Pak Vincent yang....". Kata Mia.


"Saya sudah tau isi otakmu Mia. Mulai hari stop bicarakan tentang Vincent". Kata Jasmine.


"Saya masih team VJ sampai kapanpun". Kata Mia.


"Terserah". Ucap Jasmine.


"Dasar songong". Kata Mia.


Mereka pun sibuk bekerja dan pada jam makan siang,Mia mengajak Jasmine makan di kantin. Jasmine pun mengiyakan dan mereka berdua menuju kantin untuk makan siang bersama. Seperti biasa,disana ada Marco juga.Tidak berapa lama kemudian,Vincent masuk ke dalam kantin tersebut untuk memesan makanan.


"(Astaga...kenapa lagi manusia ini? Bukannya dia bilang tidak suka keramaian di kantin?)". Ucap Jasmine dalam hati.


"Wuahhh ada si ganteng". Kata Mia.


"Eh iya,Tumben Pak Vincent makan disini. Hmmmm...kita tawaran duduk disini saja". Kata Marco.


"Marco...Marco...Please,jangan buat selera makanku hilang". Kata Jasmine.


"Kamu ini gimana,justru ada Pak Vincent disini selera makan kita makin bertambah. Benarkan Marco?". Kata Mia.


"Iya Mia. Pak Vincent... sini ada tempat". Kata Marco.


Mendengar tawaran Marco,segera Vincent berjalan ke meja mereka. Kali ini Marco tidak menyuruh Mia untuk bergeser tempat. Marco ingin Vincent duduk berhadapan langsung dengan Jasmine. Mia pun sambil tersenyum melihat semuanya ini.


"Izin duduk ya,Marco". Kata Vincent.


"Untuk apa izin Pak,ini kantor punya bapak.heheh...". Kata Marco.


"Tapi saya tidak menganggu kan duduk disini? Makanya saya izin dulu,mana tau ada yang keberatan saya duduk disini". Kata Vincent.


"Mana mungkin keberatan Pak Vincent. Kami sangat senang kok,iya kan Jasmine?". Kata Mia.


"Hehe". Jasmine hanya ketawa tipis.


Semua karyawan lagi-lagi dibuat terpesona oleh Vincent yang bawaanya wibawa serta ramah.Vincent menyantap makananya sambil sekali-sekali melihat ke Jasmine.Suasana berubah menjadi begitu romantis,Mia dan Marco seolah menyaksikan drama percintaan yang nyata.


"Saya sudah siap makan,saya duluan ya. Masih ada yang harus saya kerjakan". Kata Jasmine.


"Ok Jasmine". Kata Mia.


"Baiklah Jasmine". Ucap Marco.


"Semangat ya Jasmine". Kata Vincent.


Mia dan Marco menatap Jasmine dengan penuh senyum,tapi di balas Jasmine dengan senyum kesal.


"Saya permisi". Kata Jasmine.


Jasmine terlihat buru-buru ingin masuk ke ruanganya. Dia tidak nyaman berlama-lama duduk di hadapan Vincent yang disaksikan oleh karyawan disana.


"Pak Vincent,Jasmine memenangkan hak asuh anaknya". Kata Marco.


"Baguslah". Kata Vincent.


"Dan sekarang Jasmine sudah berstatus janda". Lanjut Marco.


"Hmmmm...Marco,sepertinya kamu penuh dengan ide berlian. Aku boleh minta tolong?". Tanya Vincent.


"Tentu saja Pak,silakan". Kata Marco.


"Apa yang harus saya lakukan?". Tanya Vincent lagi.

__ADS_1


"Tentu saja bapak harus mulai berjuang sekarang". Kata Marco.


"Apa menurut kalian ini tidak terlalu cepat?". Kata Vincent.


"Menurut saya tidak,walaupun sekarang Jasmine mungkin akan lebih susah untuk membuka hati. Tapi jika Pak Vincent tulus,Jasmine akan merasakannya". Kata Mia.


"Benar,tapi Pak Vincent jangan terlalu buru-buru. Yang terpenting adalah bapak melakukan hal yang sangat berkesan untuk Jasmine". Kata Marco.


"Saya jujur saja,saya belum pernah mengejar atau menyatakan cinta kepada wanita manapun. Jasmine adalah orang pertama yang membuat aku jatuh cinta". Kata Vincent.


"Oh,Pak Vincent so sweet sekali. Seandainya Pak Vincent muncul duluan,mungkin.....". Kata Mia.


"Hati Jasmine terbuat dari apa,masa orang yang selama ini diam-diam mengirim bunga untuknya selama bertahun-tahun,tapi dia tidak tersentuh sama sekali. Malah menjadi dingin". Kata Marco.


"Jadi kalian sudah tau jika saya yang mengirimkan bunga?". Tanya Vincent.


"Sudah Pak,Jasmine yang mengatakan sendiri kepada kami". Kata Marco.


"Sebenarnya tidak bisa menyalahkan Jasmine kenapa dia bersikap dingin seperti ini setelah dia mengalami pelajaran pahit. Saya tau dia belum bisa secepat itu menerima orang baru karena masih trauma. Tapi saya akan berusaha". Terang Vincent.


"Pak Vincent ada yang mau saya tanyakan?". Kata Mia.


"Silakan Mia". Kata Vincent.


"Bapak adalah seorang CEO,sedangkan Jasmine berstatus karyawan dan dia juga janda satu anak, apakah keluarga Pak Vincent akan setuju dengan hubungan kalian. Maaf,saya takut keluarga bapak akan menganggap rendah Jasmine". Kata Mia.


"Kamu tenang saja Mia,keluarga saya mengenal baik Jasmine bahkan mengenal keluarga Jasmine". Kata Vincent.


"Hah? Maksudnya?". Tanya Mia.


"Intinya keluargaku sangat mendukung bahkan seratus persen mendukung walaupun tau Jasmine sudah berstatus janda. Karena keluargaku sudah mengenal keluarga Jasmine. Mungkin keluarga Jasmine yang belum tau siapa saya sebenarnya". Jelas Vincent.


"Serius Pak Vincent? Kenapa saya makin bingung,sepertinya ada misteri yang belum terpecahkan". Kata Marco.


"Memang suatu misteri yang belum terpecahkan. Suatu hari pasti bakal tau. Tapi kalian berdua harus janji jangan sampai Jasmine mengetahui hal ini dulu,biarkan ini suatu hari menjadi sebuah kejutan untuknya". Kata Vincent.


"Hmmm...baiklah saya janji. Tapi Pak Vincent janji harus memberitahukannya kami juga apa kejutannya". Kata Mia.


"Baik,saya janji. Jika sudah waktunya,saya akan memberitahukan kalian". Kata Vincent.


Dan mereka pun lanjut berbincang sampai sudah waktunya kembali bekerja. Marco dan Mia kini menjadi mata-mata Vincent sekaligus menjadi tim suksesnya vincent.Saat Mia kembali keruangan,Jasmine melihat Mia seolah penuh tanda tanya.


"Gosip apa kalian?Akrab banget ya sama pak CEO".Kata Jasmine.


"Ya elaaa Jas,gak usah cemburu kali. Aku bukan berduaan dengan Pak Vincent,disana ada Marco juga". Kata Mia.


"Cemburu? Buat apa? Aku cuma pengen tau aja kalian ada gosip tentang aku gak?".Ucap Jasmine.


"Haizzz... ya udah lah". Kata Jasmine.


"Yeee...jangan marah-marah,nanti kecantikan kamu memudar". Kata Mia.


"Gak ada yang marah,yang penting jangan ngomong yang aneh-aneh tentang aku saja". Kata Jasmine.


"Ya gak mungkin lah kita ngomong yang aneh-aneh tentang tuan putri kita kepada pangeran.". Kata Mia.


"Kamu kebanyakan membaca dongeng,sadar Mia ini dunia nyata". Kata Jasmine.


"Yang penting bagiku ini seperti cerita dongeng yang happy ending". Kata Mia.


"Hmmm...aku mau lanjut kerja dulu". Kata Jasmine.


"Tunggu dulu,sekarang giliran aku yang bertanya". Kata Mia.


"Tanya apa?". Tanya Jasmine.


"Kalau Pak Vincent mengejar kamu terus keluarganya tidak keberatan akan status kamu,apa kamu mau membuka hati untuknya?". Tanya Mia.


"Sepertinya kamu demam Mia,omong kosong apa yang kamu katakan. Sudah ahhh,saya mau kerja". Jawab Jasmine.


"Aku cuma pengen tau tanggapan kamu". Kata Mia.


"Ya mana mungkin keluarganya mendukung,dia itu seorang CEO,belum pernah married,terus kamu bermimpi jika keluarganya mau menerima aku janda satu anak. Aneh-aneh aja kamu ini". Terang Jasmine.


"Kalau misalnya saja,apa kamu benar-benar tidak mau? Kamu tidak mau mencoba memberikan Jasen sebuah keluarga yang utuh? Ada sosok ayah yang bisa di andalkan". Jelas Mia.


"Steven adalah ayah biologis Jasen. Sedangkan dia ayah biologis saja tidak bisa di andalkan,apakah masih berharap ada orang lain yang bisa di andalkan?apalagi Jasen yang bukan anak kandungnya".Kata Jasmine.


Kata-kata dari Jasmine tersebut seolah membungkam Mia. Teori Jasmine ada benarnya,jika seorang ayah kandung saja tidak bisa berperan apalagi yang bukan ayah kandung. Mia mulai berpikir jika Vincent dan keluarganya bisa menerima Jasmine,apakah mereka bisa menerima Jasen?


Walaupun begitu,Mia masih berharap agar Pak Vincent dan keluarga nya tulus menerima Jasmine dan Jasen di keluarga mereka. Dari yang Vincent sampaikan di kantin,seolah akan mengungkapkan misteri besar. Mia hanya berharap itu adalah sesuatu yang indah.


Sekarang Jasmine dan Jasen sudah tinggal di rumah mereka sendiri,rumah yang di beli oleh Steven atas nama Jasmine. Jasen masih seperti biasa,sepulang sekolah dia dititipkan di rumah orang tua Jasmine. Ketika pulang kerja,ayah Jasmine menjemput Jasmine pulang dulu ke rumahnya,di rumah orang tua Jasmine,dia dan Jasen makan malam disana. Setelah selesai makan malam,baru ayahnya membawa mereka pulang kembali rumah Jasmine.


Ketika malam hari Jasmine selesai menidurkan Jasen,handphone nya berbunyi. Segera Jasmine keluar dan mengangkat telepon.


"Halo". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Halo Jasmine,sudah tidur?". Ucap penelepon tersebut.


"Dengan siapa ini?". Tanya Jasmine karena dari nomor yang tidak di kenal.


"Saya Vincent,ini adalah nomor saya.Sekarang kamu boleh save nomor saya". Kata Vincent.


"Ada apa telepon malam-malam pak CEO ?". Tanya Jasmine.


"Hanya ingin dengar suara kamu saja,kita di kantor sangat jarang bisa saling komunikasi". Kata Vincent.


"Karena ini sudah di luar kantor dan di luar jam kerja maka aku tidak akan melayani hal seputar kerjaan dan aku tidak akan segan lagi untuk mengatakan bahwa...Vincent...kamu sungguh menganggu. Aku mau istirahat". Terang Jasmine.


"Hmmm...baik...baik...maaf sudah menganggu istirahat kamu. Saya akan nganggu saat kamu tidak sedang beristirahat". Kata Vincent.


"Kamu mau apa sih? Sekarang mau neror aku ya?". Tanya Jasmine.


"Kamu sensitif sekali,di kantor saya CEO kamu,di luar kantor saya temanmu. Masa teman telepon teman tidak boleh. Jika saya mau meneror kamu,sudah saya lakukan dari dulu". Jelas Vincent.


"Sudah aku bilang,kita dulu teman sekelas,sekarang kita cuma sebatas bos dan karyawan,tidak lebih dari itu". Kata Jasmine.


"Sudah saya bilang juga sekarang status kita mungkin bos dan karyawan,saya akan berusaha agar status kita bisa lebih dari sekedar teman dan akan berlanjut ke tahap yang lebih serius". Kata Vincent.


"Vincent,tolong hentikan semua ini,cinta tidak bisa dipaksa". Kata Jasmine.


"Benar,cinta tidak bisa di paksa tapi cinta bisa di bina. Saya tidak akan memaksamu. Tetaplah pada prinsipmu dan saya akan berjuang terus sesuai prinsipku. Deal?". Kata Vincent.


"Hmmmm....boleh saya tidur sekarang?". Tanya Jasmine.


"Oh tentu saja boleh,tapi sebelum kamu tidur,saya mau bertanya. Besok boleh kita makan siang bersama?". Tanya Vincent.


"Oh tentu saja,TIDAK BOLEH!!". Jawab Jasmine.


"Hmmm baiklah". Ucap Vincent.


"Ok selamat malam,bye". Kata Jasmine langsung mematikan teleponnya.


"(Dasar...dia tidak tau aja semakin dia menolakku,semakin aku tertantang untuk maju)". Kata Vincent dalam hati.


Keesokan harinya,Jasmine menceritakan kejadian Vincent telepon semalam kepada Mia. Tapi tampaknya Mia hanya tersenyum tanpa memberikan respon.


"Mia,aku tidak mau bouquet bunga ini lagi". Kata Jasmine.


"Ada apa emangnya?". Tanya Mia.


"Vincent itu...maksud saya pak Vincent seenak jidatnya menelepon saya malam-malam,untung saja Jasen sudah tidur". Kata Jasmine.


"Apa yang Pak Vincent katakan?". Tanya Mia lagi.


"Tidak jelas,hanya bertanya apakah saya sudah tidur. Jika saya sudah tidur terus yang jawab teleponnya hantu? Terus yang lebih parahnya alasan dia menelepon hanya ingin mengobrol dan mendengar suara saya,katanya kita di kantor jarang bisa komunikasi". Terang Jasmine.


"Oh..". Ucap Mia.


"Terus Vincent bilang cinta itu memang tidak bisa di paksa,tapi bisa di bina. Dia tidak mau memaksaku tapi dia akan berusaha membuat saya luluh. Apa itu namanya bukan pemaksaan?".Jelas Jasmine.


"Oh...". Ucap Mia.


"Dan dia ajak aku untuk makan siang bersama. Hmmm...saya bilang tidak boleh". Kata Mia.


"Oh...". Ucap Mia lagi.


"Mia,kamu dengar gak sih aku ngomong. Dari tadi kamu oh..oh..saja". Kata Jasmine yang mulai kesal.


"Ya aku dengar. Kan dari tadi saya lagi lihat kamu dan lagi dengar kamu". Kata Mia.


"Ya setidaknya kasih tanggapan kek,atau kritik dan saran". Kata Jasmine.


"Kamu kan tidak suruh tadi,ya aku cuma jadi pendengar yang baik. Nanti saya potong perkataanmu malah di bilang tidak sopan". Kata Mia.


"Sekarang saya sudah selesai bicara,jadi menurut kamu gimana?". Tanya Jasmine.


"Ya oke". Jawab Mia.


"Apanya oke Mia?". Tanya Jasmine lagi.


"Maksud saya oke banget Pak Vincent". Kata Mia.


"Lah,kok malah oke sih?". Jasmine mulai jengkel.


"Hmmmm...Jasmine,jika kamu memang tidak mau membuka hati,ya biarkan Pak Vincent mengejar. Nanti kalau sudah lelah,dia juga berhenti. Bukankah begini lebih baik?". Kata Mia.


"Kenapa saya merasa kamu ada di pihaknya bukan di pihak ku? Tega kamu Mia". Kata Jasmine.


"Astaga Jasmine,katanya mau mendengar tanggapan saya. Tapi kamu malah suuzon sama saya". Kata Mia.


"Ya ya,maaf. Udah lah,kita kerja dulu". Kata Jasmine.


"Ini bunganya bawa pergi,kalau kesal sama orangnya jangan kesal sama bunganya. Bunganya gak salah apa-apa". Terang Mia.

__ADS_1


"Baik-baik nyonya Mia,kenapa jadi kamu yang kesal?". Kata Jasmine.


Mia pun duduk di tempatnya sambil senyum cengar-cengir. Untung saja Mia menahan tawanya saat Jasmine bercerita. Lalu apa usaha Vincent selanjutnya untuk mengejar Jasmine?


__ADS_2