The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Acara ulang tahun ayah Jasmine


__ADS_3

Ini yang sudah di tunggu-tunggu,acara akan segera di mulai. Semua tamu undangan sudah duduk di meja mereka masing-masing.MC acara melakukan kata sambutan terlebih dahulu,lalu MC akan mempersilakan anak-anak,menantu serta cucu-cucunya untuk masuk kedalam gedung,baru kemudian yang terakhir adalah bintang utama yaitu ayah Jasmine beserta ibunya yang akan memasuki gedung acara.


Sementara kedua kakak Jasmine dan kedua kakak ipar beserta keponakan sudah berdiri di posisi mereka masing-masing,Jasmine segera berjalan ke tempat Steven untuk membawa Jasen. Namum setelah sampai di meja Steven,Jasmine tidak melihat Jasen.


"Steven dimana Jasen?". Tanya Jasmine.


"Dia ada disana,duduk dengan orang yang bernama Vincent".Jawab Steven.


"Kamu kenapa membiarkan Jasen duduk disana?". Tanya Jasmine.


"Dia tidak mau ikut denganku,Jasen lebih memilih duduk dengan orang itu dari pada ayahnya sendiri.


Vincent itu siapa sebenarnya?Dia bos kamu kan? Kenapa Jasen sangat dekat dengannya?". Tanya Steven dengan kesal.


"Kalau begitu saya akan menjemputnya disana". Kata Jasmine.


"Tunggu Jasmine,jawab dulu pertanyaan ku,siapa Vincent itu?". Ucap Steven.


"Dia adalah bos aku". Kata Jasmine.


"Lalu kenapa Jasen bisa begitu dekat dengannya?". Tanya Steven sambil menarik tangan Jasmine.


"Lepaskan aku Steven! Sekali lagi kamu sentuh aku,awas saja kamu. Dia kenapa bisa dekat dengan Jasen? kamu tanya saja anakmu sendiri". Kata Jasmine yang langsung pergi meninggalkan Steven.


Steven kembali duduk dengan wajah yang kesal. Jasmine bergegas ke meja Vincent untuk menjemput Jasen.


"Mommy duduk disini". Ucap Jasen.


"Jasen ayo ikut mommy. Kita harus berbaris di depan,acara sudah mau mulai". Kata Jasmine.


"Tidak mau,kenapa harus berbaris? Duduk disini saja". Jawab Jasen.


"Jasen,kamu belum mommy hukum sudah sembarangan duduk di meja orang. Sekarang kamu ikut dengan mommy atau mommy akan marah". Tegas Jasmine.


"Tapi paman Vincent juga ikut berbaris kan?". Tanya Jasen.


"Tidak Jasen,paman Vincent disini saja. Kamu jangan nganggu paman Vincent terus,nanti paman bisa marah". Kata Jasmine.


"Eh Jasmine,sejak kapan aku marah?". Lanjut Vincent.


"Kamu seharusnya membantu aku membujuk Jasen,berani-berani nya kamu membiarkan Jasen duduk disini". Bisik Jasmine kepada Vincent.


"Banyak saksi yang melihat kalau Jasen sendiri yang mau disini bersama saya". Kata Vincent.


"Jadi Jasen mau gerak atau tidak? Jangan buat mommy marah disini". Ucap Jasmine.


"Mommy jangan marah,Jasen akan ikut mommy tapi paman Vincent ikut juga,boleh ya mommy?". Kata Jasen memohon agar Vincent bisa ikut dengan mereka.


"Mommy bilang tidak ya tidak". Kata Jasmine dengan nada tinggi.


"Kalau begitu Jasen tidak mau ikut berbaris". Kata Jasen.


"Jasen,kamu dengarin kata mommy.Jasen ikut mommy baris di depan,setelah selesai kamu boleh kesini lagi duduk bersama dengan paman Vincent". Kata Jasmine.


"Jasen,jangan buat mommy kamu marah,paman akan tunggu disini,Jasen ikut berbaris dulu". Bujuk Vincent.


"Tidak mau".Ucap Jasen.


"Ya sudah kalau tidak mau,mommy pergi sendiri. Duduk saja disini sampai puas". Kata Jasmine yang kesal lalu meninggalkan mereka.


"Mia gawat,Jasmine sepertinya benar-benar kesal dengan Jasen". Kata Marco.


"Bukan hanya Jasmine,Steven juga kelihatan kesal".Kata Mia.


"Itu karena Jasen hari ini lengket dengan Pak Vincent terus". Ucap Marco.


"Jasen hanya anak kecil,dia sudah menemukan kenyamanan dalam diri Pak Vincent. Bahkan anak kecil saja tau kalau Pak Vincent itu tulus,Jasmine kenapa buta tidak bisa melihat ketulusan seseorang". Terang Mia.


"Hmmm...tidak bisa salahkan Jasmine,kamu tau sendiri dia pernah kecewa". Jelas Marco.


"Semoga waktu akan menjadi obat Jasmine untuk sembuh dan dia bisa menerima Pak Vincent". Kata Mia.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka". Kata Marco.


Sementara di tempat Jasmine,orang tua dan kedua kakak Jasmine aneh melihat Jasmine yang datang tanpa Jasen. Melihat muka Jasmine,mereka sudah mengetahui pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Jas,mana Jasen?". Kata ayahnya.


"Hmm...dia tidak mau ikut Pa,biarkan saja". Jawab Jasmine.


"Kenapa Jasen tidak mau ikut? Apa karena tidak ada Steven? Kamu ajak saja Steven sekalian". Kata ayahnya.


"Bukan Pa,Jasen tidak bersama Steven,dia...". Kata Jasmine.


"Lalu Jasen dimana? Biar saya yang menjemputnya". Kata kakak pertama.


"Dia duduk di meja paman Robert". Kata Jasmine.


"Hmmm...paman Robert yang tempat papa itu ya? Jasen bukan sedang bersama paman Robert,tapi bersama Vincent.Benarkan?". Kata kakak kedua.


"Itu semua gara-gara Steven,dia membiarkan anaknya duduk bersama orang lain". Kata Jasmine.


"Itu bukan salah Steven,papa mengerti kalau kamu kesal. Tapi Steven tidak bisa berbuat apa-apa, Jasen sendiri yang mau duduk dengan Vincent". Terang ayahnya.


"Benar,jangan salahkan Steven terus.Melihat anaknya sendiri lebih memilih duduk dengan orang lain, Steven juga pasti sakit hati". Lanjut ibunya.

__ADS_1


"Jadi saya harus bagaimana? Saya ingin sekali menarik Jasen dari sana,tapi melihat Jasen seperti sudah mau menangis membuat saya pasrah".Terang Jasmine.


"Sudah biarkan saja jika Jasen tidak mau ikut,kamu jangan terlalu memikirkan hal itu". Kata ayahnya.


"Saya yang akan membawa Jasen kesini". Kata kakak pertama.


"Tapi...gimana caranya? Saya saja tidak bisa membujuknya,bagaimana bisa kakak membawanya kesini?". Tanya Jasmine.


"Biarkan saya mencobanya dulu". Kata kakak pertama.


"Baiklah,Jimmy kamu coba pergi bicara dengan Jasen". Kata ayahnya.


"Baik Pa". Jawab kakak pertama.


Ayahnya Jasmine menyuruh kakak pertamanya untuk mencoba bujuk Jasen agar bisa ikut berbaris dan masuk ke gedung bersama. Jasmine hanya bisa berharap bujukan kakaknya berhasil. Jasmine hari ini sudah cukup pusing mengetahui kebenaran orang tua Vincent,masih harus melihat anaknya yang begitu lengket dengan Vincent. Belum lagi Steven marah dan minta penjelasan.


"Itu kakak Jimmy berhasil membawa Jasen kesini". Kata kakak kedua.


"Syukurlah". Ucap Jasmine.


"Jasen kamu baris disini ya sayang". Kata kakak pertama.


"Baik paman Jimmy". Jawab Jasen.


"Vincent maaf ya merepotkanmu. Kamu berdiri disini,di sebelah Jasmine". Kata kakak pertama.


"Baiklah,tidak apa-apa". Ucap Vincent.


"Vincent,kamu kenapa disini?". Tanya Jasmine.


"Kakak Jimmy yang menyuruh saya kesini". Jawab Vincent.


"Benar,saya yang suruh. Begini beres kan,Jasen juga sudah mau ikut". Kata kakak pertama.


"Ini apa yang di namakan berhasil? Sama saja".Kata Jasmine.


"Apa yang sama saja,tadi kan tidak ada Jasen,sekarang ada Jasen". Kata kakak pertama.


"Maksud saya bawa Jasen saja,kenapa kamu bawa Vincent juga.Untuk apa dia ikut kesini?". Bisik Jasmine.


"Jika tidak ada Vincent,Jasen tidak mau ikut dengan saya". Kata kakak pertama.


"Kan tadi Jasmine sudah bilang biarkan saja Jasen tidak usah ikut, daripada Vincent disini untuk apa coba? Dia bukan anggota keluarga kita". Kata Jasmine.


"Ehemmm...kalau Jasmine keberatan,tidak apa-apa saya tidak akan ikut berbaris". Kata Vincent.


"Eh,tidak apa-apa Vincent. Paman minta bantuan kamu ya,mau kan ikut bersama kita? Anggap saja kamu pacar Jasmine,daripada dia tidak ada pasangan". Terang ayahnya.


"Papa ngomong apa sih". Ucap Jasmine.


"Sudah Jasmine diam. Demi Jasen dan demi papa,biarkan Vincent ikut dengan kita".Kata ayahnya.


"Tidak apa-apa mereka salah paham,kan bentar lagi juga Vincent jadi menantu papa,iya kan Pa?". Ucap Kakak kedua.


"Semoga saja". Kata ayahnya.


"Kakak,jangan ngomong sembarangan. Jaga perasaan Vincent,itu tidak nyaman di dengar". Kata Jasmine.


"Nyaman kok,aku senang dengarnya. Jika keluargamu mau menerima aku sebagai menantu,aku tidak akan menolak". Kata Vincent.


"Vincent,kamu diam juga".Ucap Jasmine.


"Dari awal juga paman dan ayahmu mau menjodohkan kalian, namum yang tolak perjodohan bukan paman,Jasmine sendiri yang menolaknya. Seandainya saja dari dulu Jasmine terima,kalian mungkin sudah menikah sekarang".Jelas ayahnya kepada Vincent.


"Papa sudah cukup Pa". Kata Jasmine.


Semuanya ketawa bahagia melihat Jasmine terpaku dengan keadaan sekarang.Keluarga Jasmine kini sudah tau siapa Vincent sebenarnya,orang tua Jasmine bahkan kakaknya sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan mereka,apalagi melihat Jasen yang begitu dekat Vincent.


Vincent sendiri merasa selangkah lebih dekat dengan Jasmine,seperti Steven yang dulu,kini Vincent juga mendapat dukungan dari keluarga Jasmine dan orangtuanya sendiri. Hanya tinggal melihat bagaimana cara Vincent bisa menaklukkan hati Jasmine.


Setelah MC memulai dengan kata sambutan,kini MC mempersilakan keluarga untuk masuk terlebih dahulu kedalam gedung. Kedua kakak dan kakak iparnya kelihatan menawan,namum yang mencuri perhatian tamu undangan adalah Jasmine dan Vincent.


Jasmine yang visualnya cantik seperti putri disandingkan dengan Vincent yang tampan layaknya pangeran.Mereka berdua kelihatan sangat serasi,membuat para tamu undangan begitu terpanah melihat keduanya kecuali Steven.Jasmine sebenarnya malu,namun dia harus mengikuti permintaan ayahnya.Untuk pertama kalinya Jasmine mau di gandeng oleh Vincent. Jasen juga tidak kalah mencuri perhatian, dia yang di gendong oleh Vincent memberikan senyum paling bahagia. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang bahagia.


"Marco,haruskah kita mengambil foto yang sangat langka ini?". Tanya Mia.


"Tentu saja,wajib di abadikan". Jawab Marco.


"Pak Robert,saya merasa Pak Vincent dan Jasmine sangatlah cocok". Kata Pak Hadi.


"Saya juga merasa begitu". Kata Pak Robert.


"Seandainya Jasmine lebih duluan bertemu dengan Pak Vincent mungkin mereka akan....". Ucap Pak Hadi.


"Cinta memang penuh pengorbanan dan perjuangan". Kata Pak Robert.


"Saya berharap semoga mereka bisa bersama,namun saya juga takut jika status Jasmine akan mempengaruhi penilaian kalian terhadap dirinya".Kata Pak Hadi.


"Kamu takut kita tidak akan menerima Jasmine karena statusnya?". Tanya Pak Robert.


"Benar sekali,maaf apalagi keluarga bapak adalah orang yang sangat berpengaruh dan terpandang". Kata Pak Hadi.


"Dari dulu keluarga kita sudah menerima Jasmine,saya percaya Vincent tidak akan salah memilih. Walaupun dengan status Jasmine yang sekarang,tidak akan mengubah pandanganku terhadapnya. Dia tetap lah Jasmine yang baik,sama seperti ayahnya". Terang Pak Robert.


"Saya sangat senang sekali mendengar anda berkata demikian". Kata Pak Hadi.

__ADS_1


"Saya melihat kalian sangat tulus menyayangi Jasmine". Kata Pak Robert.


"Dia pantas mendapat ketulusan kami,Jasmine adalah anak yang baik dan ceria,bagi kami dia sudah sudah seperti adik kita sendiri". Jelas Pak Hadi.


"Bagus sekali,sudah seharusnya saling menyayangi". Kata Pak Robert.


"Hmmm...maaf Pak,ada satu hal yang mau saya tanyakan". Kata Pak Hadi.


"Silakan tanya saja Pak Hadi". Ucap Pak Robert.


"Apakah kalian juga menerima Jasen? Karena jika Jasmine dan Pak Vincent bersama,Jasen akan ikut masuk ke keluarga kalian. Jasmine sudah sangat berusaha mendapatkan hak asuh anaknya di pengadilan,jadi...". Tanya Pak Hadi.


"Saya mengerti maksud kamu. Kita akan menerima Jasen seperti kita menerima Jasmine. Jasen begitu pintar dan menggemaskan,saya dan istri saya akan memperlakukan dia seperti cucu kami sendiri. Saya yakin Vincent akan bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk Jasen". Terang Pak Robert.


"Terimakasih banyak Pak,berkah selalu untuk keluarga Bapak,saya sangat terharu mendengarnya". Kata Pak Hadi.


"Yang seharusnya kamu takutkan adalah apakah Jasmine bersedia membuka hati untuk Vincent atau tidak,saya tau Jasmine sangat berprinsip,jika dia memutuskan untuk tidak mau lagi berkeluarga, maka usaha Vincent akan sia-sia". Kata Pak Robert.


"Saya yakin Jasmine akan luluh dengan ketulusan Pak Vincent,hanya waktu yang akan memberikan jawaban nanti, yang paling penting adalah Pak Vincent jangan menyerah. Aku,Mia dan Marco akan membantu agar mereka berdua bisa lebih dekat". Jelas Pak Hadi.


"Terimakasih Pak Hadi,saya akan senang jika kalian ikut membantu". Ucap Pak Robert.


Setelah Jasmine dan kakak beserta kakak iparnya masuk ke dalam ruangan,kemudian MC mempersilakan ayah Jasmine dan ibunya untuk memasuki ruangan acara. Semua tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah.


Acara kemudian dilanjutkan dengan memotong kue ulang tahun dan makan bersama. Ayahnya Jasmine kelihatan sangat bahagia merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh ini. Doa dan harapan ayahnya Jasmine tahun ini adalah agar Jasmine dan Vincent bisa bersama.


"Vincent,terimakasih sudah membantu.Kamu sudah boleh kembali ke meja mu". Kata Jasmine.


"Hmmm...baiklah". Ucap Vincent.


"Etttt Jasen tetap disini bersama mommy". Kata Jasmine.


"Tadi mommy yang bilang kalau Jasen baris dulu nanti boleh duduk dengan paman Vincent". Kata Jasen.


"Kapan mommy ada ngomong seperti itu?".Tanya Jasmine.


"Ada Jasmine,saya mendengar kamu memang berkata seperti itu". Kata Vincent.


"Vincent kamu ini... tidak bisakah kamu membantu saya?". Tanya Jasmine.


"Saya hanya mengatakan kebenaran,kamu memang ada mengatakannya tadi". Kata Vincent.


"Jadi mommy mau ingkar janji?". Ucap Jasen.


"Jasen,kamu kenapa mau bersama paman Vincent terus? Kamu sudah tidak sayang dengan mommy?". Tanya Jasmine.


"Jasen kan bisa setiap hari bersama mommy,tapi Jasen tidak bisa setiap hari bersama paman Vincent". Jawab Jasen.


"Jasen ada benarnya,biarkan saja dia bersama Vincent". Kata kakak pertama.


"Benar Jasmine,kamu tenang saja, saya bisa menjaga Jasen". Kata Vincent.


"Tidak boleh,Jasen sudah mulai berontak sama mommy. Pokoknya Jasen harus tetap disini bersama mommy". Kata Jasmine.


"Jasen lapor kakek saja,mommy tidak menepati janji". Kata Jasen yang berlari ke tempat kakeknya.


"Hmmm...".Jasmine menghela nafas.


"Apa begitu sulit ya bagi kamu membiarkan Jasen bersama aku?". Tanya Vincent.


"Dia dari tadi menempel dengan kamu terus,kamu malah biarkan saja. Aku ini ibunya,oh.. Jasen sampai tidak mau bersama ayahnya juga karena kamu". Kata Jasmine.


"Jadi kamu marah Jasen tidak mau bersama ayahnya karena lebih memilih aku?". Tanya Vincent.


"Steven bertanya kenapa dia bisa begitu dekat denganmu? aku sendiri tidak tau harus menjawab apa". Kata Jasmine.


"Jika dia bisa menjadi ayah yang baik maka tidak akan ada kejadian seperti ini". Ucap Vincent.


"Vincent kamu....". Ucap Jasmine.


"Aku kenapa? Kamu tidak terima saya berkata begitu tentang Steven?". Tanya Vincent.


"Bukan begitu,apa yang kamu katakan adalah benar. Tapi kamu setidaknya bisa menasihati Jasen, bukan berarti Jasen masih kecil semua kemaunya harus di turuti". Kata Jasmine.


"Jasen tidak minta tiap hari,mungkin setelah hari ini dia bertemu dengan saya,besok belum tentu dia bisa bertemu saya. Dia tidak minta sesuatu yang keterlaluan,dia hanya ingin duduk bersama dengan saya.Apa kamu tidak mempertimbangkan perasaan Jasen?". Terang Vincent.


"Saya tidak mau berdebat dengan kamu". Kata Jasmine.


"Yang dikatakan Vincent benar. Hari ini ada kesempatan bertemu Vincent,biarkan saja Jasen bersamanya. Belum tentu besok mereka bisa bertemu. Jasmine kamu sudah menjadi seorang ibu,mengalahlah sedikit,turunkan egomu". Jelas ayahnya Jasmine.


"Pa,bukan begitu maksud Jasmine". Ucap Jasmine.


"Sekarang kamu ikutin kata papa, biarkan Jasen bersama Vincent. Kamu pilih saja,Jasen duduk disana bersama Vincent atau Vincent yang duduk disini bersama kita?". Tanya ayahnya Jasmine.


"Pa...dengarkan Jasmine dulu". Kata Jasmine.


"Papa selalu dengarkan kamu,hari ini kamu yang dengarkan papa". Kata ayahnya.


"Jika Vincent tidak keberatan,duduk disini saja bersama kita". Ajak kakak pertama.


"Saya setuju,lebih baik Vincent yang duduk disini bersama kita,mau kan Vincent? Maafkan adik kita yang nyebelin ini". Kata kakak kedua.


"Saya terserah kepada Jasen saja". Kata Vincent.


"Jasen mau paman Vincent yang duduk bersama kita,bersama mommy juga disini".Kata Jasen.

__ADS_1


"Oke".Kata Vincent.


Akhirnya Jasmine harus mengalah membiarkan Vincent duduk semeja bersama keluarganya.Steven juga merasa ada hubungan yang tidak biasa antara Jasmine dan Vincent,sampai anaknya sekarang sudah mulai melupakannya. Lalu apa yang akan terjadi kepada Jasmine dan Vincent?


__ADS_2