The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Jasen di intrograsi oleh Steven


__ADS_3

Malam hari di rumah Vincent,mereka bertiga Pak Robert,Vincent dan Jasmine akan makan malam bersama. Mereka sedang duduk menunggu hidangan yang sedang di masak oleh koki profesional.


"Jasmine,saya harap kamu menyukai masakan koki kita". Kata Pak Robert.


"Tentu saja paman". Kata Jasmine.


"Apakah Vincent sudah mengajak kamu berkeliling?". Tanya Pak Robert.


"Sudah paman. Jujur saja jika saya berkeliling sendirian di rumah ini mungkin akan tersesat". Kata Jasmine.


"Haha...kamu ini bisa saja". Kata Pak Robert.


"Di belakang masih ada lahan yang luas,itu untuk?". Tanya Jasmine.


"Oh,itu untuk lapangan golf nantinya. Masih dalam tahap pengerjaan". Kata Pak Robert.


"Lapangan golf dalam rumah?".Jasmine tercengang.


"Iya,apa kamu bisa bermain golf?". Tanya Pak Robert.


"Tidak bisa,saya tidak pernah main golf".Jawab Jasmine.


"Oh ya? Kalau begitu boleh suruh Vincent mengajari kamu bermain golf". Kata Pak Robert.


"Terimakasih paman,tapi saya merasa kurang cocok bermain olahraga yang satu ini". Kata Jasmine.


"Golf adalah olahraga yang menyenangkan,kamu harus mencobanya". Kata Pak Robert.


"Kelak kamu akan menemani suamimu bermain golf,makanya kamu harus belajar". Kata Vincent.


"Eh,maksudmu?". Tanya Jasmine.


"Maksud Vincent adalah kelak kamu akan menemani dia bermain golf". Lanjut Pak Robert.


"Eh,paman...aku...". Ucap Jasmine.


"Tidak perlu malu-malu,semoga kita bisa segera menjadi keluarga". Kata Pak Robert.


Mendengar itu membuat Jasmine sangat malu,Vincent hanya tersenyum mendengar apa yang Pak Robert katakan. Setelah makan malam selesai,Pak Robert izin masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara Vincent meminta Jasmine untuk menemani dia mengobrol di area kolam renang.


"Kenapa mengajakku kesini?". Tanya Jasmine.


"Mau mengobrol disini atau di kamarku?". Tanya Vincent.


"Eh,disini saja". Kata Jasmine.


"Ketika saya bosan,saya akan duduk disini". Kata Vincent.


"Disini memang membuat suasana jadi tenang,kolam ini sangat terawat". Kata Jasmine.


"Jasmine,aku mau bertanya". Kata Vincent.


"Kamu memang selalu banyak pertanyaan,Hmm...mau tanya apa?". Kata Jasmine.


"Kamu ingin menikah dimana? Berikan alasannya". Tanya Vincent.


"Ini pertanyaan apa?". Kata Jasmine.


"Jawab saja". Kata Vincent.


"Tidak ada pertanyaan lain?Maaf,saya tidak bisa menjawab yang ini". Kata Jasmine.


"Kalau begitu saya akan ganti pertanyaan,kamu ingin honey moon dimana?". Tanya Vincent.


"Pertanyaan apa lagi ini? Vincent,kita mau mengobrol kan? Cari topik lain". Kata Jasmine.


"Jadi kamu belum bisa menjawab juga pertanyaan kedua ini?". Tanya Vincent.


"Tidak bisa". Kata Jasmine.


"Baik,saya akan bertanya yang benar kali ini". Kata Vincent.


"Jika pertanyaan kamu aneh-aneh lagi,saya akan kembali ke kamar". Tegas Jasmine.


"Apa kamu menyesal sudah menampar Steven? Apa di hatimu masih ada dia walaupun sedikit?". Tanya Vincent.


"Sudah saya bilang jika pertanyaan kamu aneh-aneh,saya akan kembali ke kamar. Permisi saya mau balik ke kamar". Kata Jasmine.


"(Vincent menarik tangan Jasmine untuk kembali) Kamu tidak boleh pergi dari sini sebelum menjawab, lihat aku dan jawab sekarang". Tegas Vincent dengan pandangan tajam kepada Jasmine.


"Tidak ada". Jawab Jasmine.


"Apa kamu berbohong Jasmine?". Tanya Vincent.


"Kamu bisa baca ekspresi wajah orang. Kamu lebih tau saya sedang berbohong atau tidak". Kata Jasmine.


"Kamu bilang Tidak Ada maksudnya tidak menyesal menamparnya atau tidak ada hati lagi kepada Steven?". Tanya Vincent yang masih memandang Jasmine dengan sorotan tajam.


"Dua-duanya". Jawab Jasmine.


Namun Vincent masih terus melihat Jasmine bahkan belum melepaskan pegangannya. Jasmine merasa Vincent sangat serius sedang membaca mimik wajahnya untuk memastikan apakah yang di katakan adalah benar atau bohong.


"Vincent,kamu kenapa? Sudah tau jawabanya kan?". Tanya Jasmine.


"Kamu berbohong Jasmine,terlihat jelas kamu sangat menyesal menamparnya". Kata Vincent.


"Lalu apa terlihat jelas juga aku masih ada hati dengan Steven atau tidak?". Tanya Jasmine.


"Kalau itu saya yakin kamu sudah tidak ada perasaan terhadapnya,tapi kenapa menyesal menamparnya? Apa dia tidak pantas menerima itu setelah menyakiti hatimu dan memfitnah aku berpura-pura sakit?". Tanya Vincent.


"Steven memang salah,tapi aku tidak pernah melakukan kekerasan fisik terhadap seseorang, itu bagiku cukup berat". Terang Jasmine.


"Baiklah Jasmine,ternyata alasanmu itu,saya bisa menerimanya. Maaf membuat kamu teringat kembali". Kata Vincent lalu segera melepaskan tangan Jasmine.


"Vincent,aku sama sekali tidak suka membahas Steven. Kenapa selalu ada namanya dalam percakapan kita?". Tanya Jasmine.


"Maaf Jasmine,dia belum bisa move on dari kamu dan kelakuannya semakin nekad membuat aku harus selalu waspada". Jelas Vincent.


"Jangan khawatir Vincent,dia tidak akan menyakiti kamu". Kata Jasmine.


"Yang saya takutkan bukanlah diriku sendiri,saya takut dia akan...". Kata Vincent.


"(Telepon Jasmine berbunyi) Halo...". Ucap Jasmine.


"Halo Jasmine,Hmm... kamu dimana sekarang? Apakah masih di rumah sakit?". Tanya Steven.


"Tidak,Vincent sudah keluar dari rumah sakit,saya sekarang berada di rumahnya". Jawab Jasmine.

__ADS_1


"Halo Steven,apa mau mu? Tolong jangan mengganggu Jasmine". Vincent merampas telepon Jasmine.


"Vincent,maaf soal kejadian kemarin. Ternyata Jasmine ada di rumahmu sekarang". Kata Steven.


"Kamu mau menyakiti hati Jasmine lagi dengan kata-kata mu?". Tanya Vincent.


"Tidak Vincent,saya tidak mempermasalahkan dia berada di rumahmu,saya hanya ingin bicara dengannya". Kata Steven.


"Biarkan dia bersama ku untuk saat ini". Kata Vincent.


"Hmmm...baiklah,tolong sampaikan kepada Jasmine saya akan meneleponnya lagi besok". Kata Steven.


"Jasmine,Steven bilang dia akan menelepon kamu kembali besok. Dia sudah menutup telepon". Kata Vincent.


"Baiklah,saya harap kalian berdua jangan bertengkar lagi". Kata Jasmine.


"Aku merasa dia tidak marah dan tidak keberatan kamu bersama saya disini". Kata Vincent.


"Hmmm...". Ucap Jasmine.


"Aku akan menemani kamu besok". Kata Vincent.


"Tidak perlu,saya sendiri yang akan bicara dengannya". Kata Jasmine.


"Baiklah Jasmine,tapi jika kamu perlu aku,katakan saja". Kata Vincent.


"Jangan khawatir,tidak akan ada masalah".Kata Jasmine.


Setelah itu mereka berdua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Keesokan harinya Jasmine siap-siap akan pulang ke rumah,namun Pak Robert meminta nya untuk sarapan bersama baru pulang.


"Kenapa terburu-buru Jasmine,sebaiknya sarapan dulu nanti saya akan mengantarkan kamu pulang". Kata Pak Robert.


"Saya bisa sarapan di rumah". Kata Jasmine.


"Apa selama kamu disini pelayanan kami tidak baik? Kamu boleh memberitahukan aku". Kata Pak Robert.


"Tidak paman,tidak sama sekali. Saya merasa sangat terhormat di layanani dengan baik. Hmmm... karena di rumah masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan,makanya...". Terang Jasmine.


"Saya mengerti,tapi sarapan lah bersama kami". Kata Pak Robert.


"Baiklah paman". Kata Jasmine.


"Apa sarapannya enak?". Tanya Pak Robert.


"Saya yang tidak bisa masak ini boleh meragukan masakan koki profesional? Ini rasanya enak sekali paman". Jelas Jasmine.


"Saya mendengar dari Vincent bahwa kamu juga pandai memasak". Kata Pak Robert.


"Eh,itu tidak benar. Saya masih harus banyak belajar". Kata Jasmine.


"Di rumahmu tidak ada asisten rumah tangga?". Tanya Pak Robert.


"Dulu Jasen masih bayi saya pernah mempekerjakan asisten rumah tangga, setelah Jasen lebih besar,saya rasa sanggup mengurus semuanya". Terang Jasmine.


"Kamu memang wanita hebat Jasmine,Steven sungguh tidak bersyukur". Kata Pak Robert.


"Papa...kenapa membicarakan Steven?". Tanya Vincent.


"Eh,maaf Jasmine,saya keceplosan". Kata Pak Robert.


"Tidak apa-apa paman". Kata Jasmine.


"Silakan duduk paman,ini air nya. Maaf ya paman,rumah ku tidak seluas rumah paman". Kata Jasmine.


"Rumah ini sangat nyaman dan bersih,kamu mengurusnya dengan baik". Kata Pak Robert.


"Hanya aku dan Jasen berdua,tidak terlalu banyak orang masih mudah untuk mengurus rumah". Terang Jasmine.


"Jasmine,kamu jangan terlalu lelah. Jika kamu butuh asisten rumah tangga,saya akan mengutus satu pembantu untuk mu". Kata Pak Robert.


"Tidak perlu paman,saya masih muda dan masih sehat. Bersih-bersih rumah juga termasuk olahraga". Kata Jasmine.


"Baiklah,tapi kamu harus jaga kesehatanmu".Kata Pak Robert.


"Saya mengerti paman".Kata Jasmine.


"Jangan lupa pikirkan masa depanmu juga". Kata Pak Robert.


"Yang bekerja di perusahaan paman pasti punya masa depan yang cerah". Kata Jasmine.


"Haha..kamu memang pandai sekali bicara. Maksud saya berumah tangga". Kata Pak Robert.


"Paman pasti mau memaksaku untuk cepat-cepat membuat keputusan". Kata Jasmine.


"Saya hanya takut kamu terlalu sibuk dan melupakan kebahagiaan mu". Kata Pak Robert.


"Paman...". Ucap Jasmine.


"Baik-baik,saya tidak akan memaksa kamu. Kamu pikirkan pelan-pelan,oke? Saya harus kembali ke rumah untuk menemani Vincent". Kata Pak Robert.


"Terimakasih sudah mengantar saya pulang,paman hati-hati di jalan". Kata Jasmine.


"Saya yang seharusnya berterimakasih,kamu sudah banyak membantu". Kata Pak Robert.


"Jangan sungkan paman". Kata Jasmine.


"Oh ya,dimana Jasen?". Tanya Pak Robert.


"Dia masih di rumah orang tua ku,papa yang akan mengantarnya pulang nanti". Kata Jasmine.


"Titip salamku buat papa dan mama mu. Hmmm...beberapa hari lagi istriku akan pulang dari luar negeri,saya berencana untuk mengundang kamu dan keluargamu makan malam bersama". Kata Pak Robert.


"Makan malam dengan keluarga ku?". Tanya Jasmine.


"Kamu lupa aku adalah teman papamu? Saya harus berterimakasih kepadanya karena dia yang membujuk mu untuk menemani Vincent di rumah sakit". Terang Pak Robert.


"Tapi paman tidak perlu sampai repot begini,kami memang niat membantu". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa Jasmine,hanya makan malam bersama,saya dan papa mu sudah lama tidak berkumpul". Kata Pak Robert.


"Eh,baiklah". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu terlihat begitu cemas? Apa kamu takut aku dan istri ku akan membicarakan tentang lamaran kepada keluargamu?". Tanya Pak Hadi.


"Bukan begitu". Kata Jasmine.


"Jasmine,kami akan siap menunggu sampai kamu memutuskan untuk menerima Vincent baru kedua pihak membicarakan perihal lamaran.Kami akan menghargai setiap keputusanmu". Jelas Pak Robert.

__ADS_1


"Terimakasih paman". Kata Jasmine.


"Saya pulang dulu,barang-barangmu sudah saya turunkan,jika ada barangmu yang ketinggalan,kamu boleh beritahu Vincent". Kata Pak Robert.


"Eh,baiklah paman terimakasih,hati-hati di jalan". Ucap Jasmine.


Setelah Pak Robert pulang,Jasmine segera membuka tas nya untuk mengeluarkan barang-barang nya. Jasmine merasa tas nya begitu berat,setelah di buka ternyata buku-buku bacaan Vincent di rumah sakit terbawa di dalam tas Jasmine.


Dia kemudian meletakkan buku-buku tersebut di ruang tamu,Jasmine berencana mengembalikan buku tersebut ketika bertemu dengan Vincent. Lalu bel rumah berbunyi,Jasmine segera membuka pintu, ternyata Steven lah yang mengantar Jasen pulang.


"Halo Jasmine,selamat pagi". Ucap Steven.


"Mommy...Jasen kangen sama mommy". Teriak Jasen.


"Iya Jasen,mommy juga kangen". Kata Jasmine.


"Maaf ya,saya meminta papa mu untuk mengizinkan saya mengantar Jasen pulang". Kata Steven.


"Eh,tidak apa-apa,Terimakasih sudah mengantar Jasen pulang".Kata Jasmine.


"Boleh saya masuk?". Tanya Steven.


"Silakan". Ucap Jasmine.


"Mommy ini buku apa?". Tanya Jasen.


"Jasen,hati-hati ya jangan sampai koyak,itu buku paman Vincent". Balas Jasmine.


"Buku Vincent?". Tanya Steven.


"Eh,dia membaca nya di rumah sakit,tapi terbawa pulang oleh saya". Kata Jasmine.


"Heh..semua buku ini tentang menjadi ayah yang baik,sampai segitunya dia berusaha".Kata Steven.


"Steven,kamu...".Ucap Jasmine.


"Saya tidak bilang yang buruk tentang nya,saya merasa dia cukup menarik". Kata Steven.


"Steven,ada yang mau saya katakan". Ucap Jasmine.


"Ya...". Balas Steven.


"Saya minta maaf atas apa yang saya lakukan di rumah sakit. Tapi,kamu tidak perlu minta maaf karena saya tidak mau mendengarnya". Kata Jasmine.


"Jasmine kamu tidak perlu minta maaf,saya pantas mendapatkan tamparan itu". Kata Steven.


"Baiklah,saya sudah selesai. Kamu disini ingin mengatakan sesuatu?". Tanya Jasmine.


"Apa kamu mencintai Vincent?". Tanya Steven.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu ini,aku cinta atau tidak sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu". Terang Jasmine.


"Aku hanya ingin tau". Kata Steven.


"Kamu datang kesini untuk bertanya itu?". Kata Jasmine.


"Saya hanya ingin memastikan satu hal,apa Vincent adalah pria yang baik?". Tanya Steven.


"Kamu lihat dan nilai sendiri,saya tidak bisa menjawab pertanyaan mu". Jawab Jasmine.


"Buku-buku ini sudah cukup membuktikan jika dia pantas bersamamu,saya bahkan tidak pernah membaca buku menjadi seorang ayah yang baik". Kata Steven.


"Hmmm...".Kata Jasmine.


"Jasmine,walaupun begitu saya masih berharap kamu bisa menerima aku,tapi saya akan tetap menghargai keputusan kamu jika kamu lebih memilih Vincent dari pada aku". Terang Steven.


"Kamu sudah selesai bicaranya? Masih banyak kerjaan yang harus saya lakukan". Kata Jasmine.


"Apa saya boleh membantumu mengerjakan pekerjaan?". Tanya Steven.


"Tidak". Jawab Jasmine.


"Mungkin saya bisa menjaga Jasen,kamu silakan lakukan pekerjaanmu". Kata Steven.


"Tidak perlu,Jasen bukan balita lagi,dia bisa bermain sendiri". Kata Jasmine.


"Tapi tolong biarkan aku disini menemani Jasen,bolehkan?". Tanya Steven.


"Kamu tidak berniat untuk pulang?". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu terus-terang sekali mengusir orang,saya hanya ingin bersama anakku". Kata Steven.


"Terserah kamu saja,yang terpenting kamu jangan mengganggu aku bekerja". Kata Jasmine.


"Baik Jasmine,saya janji". Kata Steven.


"Jasen,mommy mau beresin rumah. Kamu bermainlah dengan daddy,janji sama mommy jangan nakal". Kata Jasmine.


"Mommy,paman Vincent mana?". Tanya Jasen.


"Dia di rumah nya sedang istirahat". Jawab Jasmine.


"Apa paman Vincent baik-baik saja?". Tanya Jasen.


"Dia baik-baik saja,hmmm...Jasen jangan bertanya terus tentang paman Vincent,kamu bermain lah dengan daddy". Kata Jasmine.


"Oke". Balas Jasen.


Terpaksa Jasmine membiarkan Steven di rumah untuk menemani Jasen,sembari Jasmine sedang berberes dan masak. Steven mulai bertanya-tanya kepada Jasen tentang Vincent.


"Jasen sayang,daddy mau bertanya,apakah paman Vincent pernah menginap disini?". Tanya Steven.


"Tidak pernah". Jawab Jasen.


"Ehm...apakah paman Vincent pernah tidur disini? Maksudnya di sofa atau di kamar?". Tanya Steven.


"Paman Vincent pernah tidur di sofa ini hari itu ketika dia sedang sakit". Kata Jasen.


"Oh begitu.Memangnya paman Vincent sakit apa?". Tanya Steven lagi.


"Dia batuk dan pilek,lalu dia bilang kepalanya sakit". Terang Jasen.


"Setelah bangun tidur,paman Vincent langsung pulang?". Tanya Steven.


"Iya,katanya tidak mau saya dan mommy ketularan". Jawab Jasen.


"(Ternyata Vincent adalah pria yang baik dan pengertian)". Ucap Steven dalam hati.

__ADS_1


Setelah mendapatkan sejumlah jawaban dari Jasen,apakah Steven akan menyerah dan berubah pikiran?


__ADS_2