
Lagi-lagi Vincent menggoda Jasmine untuk memeluknya jika ingin tau apa percakapan antara dia dan Steven. Jasmine tentu saja lebih memilih tidak mau tau daripada harus memeluk Vincent. Terlebih lagi posisi mereka sekarang ada di kantor.
"Maaf,simpan saja untukmu jika tidak bersedia memberitahuku". Kata Jasmine.
"Hmm...kamu yakin tidak ingin tau?". Tanya Vincent.
"Jika caramu memberitahuku seperti ini,saya lebih baik tidak perlu tau".Kata Jasmine.
"Kamu sungguh tidak seru". Ucap Vincent.
"Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan,aku permisi". Kata Jasmine.
"Ya sudah saya kasih tau". Kata Vincent.
Jasmine seketika menoleh langsung ke arah Vincent,padahal Jasmine awalnya sudah berbalik arah untuk siap-siap keluar dari ruangan.
"Ya sudah katakan". Ucap Jasmine.
"Saya tidak tau apa yang ada di pikiranmu. Sebenarnya kamu penasaran dengan percakapan kita atau cuma ingin tau apa yang Steven katakan?". Tanya Vincent.
"Aku penasaran dengan percakapan kalian". Jawab Jasmine.
"Saya bertanya kepadanya bagaimana cara dia saat pendekatan denganmu?". Kata Vincent.
"Kenapa kamu bertanya kepada dia seperti itu?". Tanya Jasmine.
"Saya hanya penasaran saja,pakai cara apa Steven sehingga kamu bisa luluh". Kata Vincent.
"Hmmm...lalu apa yang dia katakan?". Tanya Jasmine.
"Dia tidak mau memberitahuku,tapi intinya dia tau bahwa saya punya perasaan terhadap mu dan dia berkata bahwa dia juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu dan Jasen kembali". Terang Vincent.
"Dia masih berani berkata seperti itu,sungguh besar nyalinya". Kata Jasmine.
"Saya juga emosi dengarnya". Kata Vincent.
"Kenapa kamu harus emosi?". Tanya Jasmine.
"Gimana tidak emosi,dia jelas-jelas berkata seperti itu untuk menantang ku,dia mau bersaing denganku untuk mendapatkan kamu". Kata Vincent.
"Lagian kamu juga untuk apa bersaing dengannya? Aku bukan barang yang bisa kalian perebutkan". Kata Jasmine.
"Dia yang mulai". Kata Vincent.
"Kamu yang mulai,bukannya kamu yang duluan bertanya kepadanya?". Kata Jasmine.
"Hmmm...iya sih saya yang bertanya duluan,tapi dia menantang saya". Kata Vincent.
"Pokoknya diantara kalian jangan ada bersaing merebutkan apapun yang berhubungan dengan saya". Kata Jasmine.
"Tidak bisa. Saya kan sedang mengejar kamu,jika dia juga ikut mengejarmu berarti dia adalah sainganku". Terang Vincent.
"Hmmm...terserah". Ucap Jasmine.
"Apa kamu masih memberikan kesempatan kepada Steven untuk kembali bersama?". Tanya Vincent.
"Itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi". Kata Jasmine.
"Oh baguslah. Tapi bagaimana jika dia bersikeras dan berusaha ingin kembali? Apa hatimu akan luluh?". Tanya Vincent lagi.
"Saya tidak akan pernah luluh kepada penghianat.Dia sendiri yang merusak keluarga kecilnya dan sekarang dia ingin kembali? Manusia seperti dia sudah di tampar oleh karmanya masih tidak sadar diri". Jelas Jasmine.
"Saya senang mendengar kamu mengatakan hal itu. Aku jadi lebih bersemangat sekarang. Hehe... baiklah,kamu sudah boleh kembali ke ruanganmu". Kata Vincent.
"Kamu tidak perlu senang,tidak berarti kamu punya keuntungan disini". Kata Jasmine.
"Hmmm,apa kamu senang dengan bunga yang saya kasih tadi pagi?". Tanya Vincent.
"Biasa saja". Kata Jasmine.
"Apakah bunga ku sekarang menjadi biasa saja bagimu? padahal dulu kamu sangat senang menerima bungaku. Apa perlu saya ganti bouquet yang lebih besar lagi?". Tanya Vincent.
"Eh,tidak perlu.Maksud saya bungamu sudah bagus. Hanya saja...tolong jangan tulis memo dengan kata-kata yang lebay". Kata Jasmine.
"Lebay? Hahaha...aku pikir semua wanita akan suka dengan kata-kata indah seperti itu". Kata Vincent.
"Apanya yang indah,kata-katamu di memo sedikit menjijikkan". Kata Jasmine.
"Oh begitu,ya sudah besok saya akan ganti kata-kata lain yang lebih menjijikkan lagi". Ejek Vincent.
"Kamu...saya bisa darah tinggi berlama-lama disini,saya permisi". Kata Jasmine.
"Oh ya tolong katakan kepada Jasen,hari ini saya akan datang. Jadi,kamu sebagai tuan rumah harus bersikap baik terhadap tamu terhormat ini". Kata Vincent.
"Maaf,tidak menerima tamu hari ini. Saya permisi". Kata Jasmine yang segera keluar dari ruangan Vincent.
Setelah waktunya pulang,ayahnya Jasmine pun tiba tepat waktu untuk menjemput Jasmine pulang. Jasmine yang baru keluar dari kantor segera naik ke mobil ayahnya. Tapi tidak disangka,Vincent datang untuk menyapa ayahnya Jasmine yang membuat orang-orang di sekitar yang melihatnya merasa jika Vincent dan Jasmine sudah menuju jenjang yang serius.
"Selamat sore paman". Sapa Vincent.
"Selamat sore Vincent,eh seharusnya saya memanggilmu Pak CEO disini". Kata ayahnya Jasmine.
__ADS_1
"Tidak perlu paman,saya lebih terbiasa di panggil Vincent". Kata Vincent.
"Baiklah Vincent,kamu juga baru mau pulang ya?". Tanya ayahnya Jasmine.
"Iya paman,nanti malam saya mau bertemu dengan Jasen,bolehkan paman?". Tanya Vincent.
"Tentu saja boleh,Jasen pasti senang jika kamu datang". Kata ayah Jasmine.
"Tapi sang tuan rumah tidak mengizinkan aku datang,dia sudah mengatakan tidak mau menerima tamu". Ngeluh Vincent.
"Apa benar Jasmine kamu mengatakan hal itu?". Tanya ayahnya.
"Eh...aku". Ucap Jasmine.
"Tuh kan paman,Jasmine tidak mau aku datang". Kata Vincent.
"Dasar tukang ngadu,cari perhatian sekali". Kata Jasmine.
"Jasmine,kamu tidak boleh begitu terhadap Vincent,apalagi dia adalah anak teman papa dan bos kamu". Terang ayahnya Jasmine.
"Iya Pa,silakan datang saja Pak Vincent yang terhormat. Apa perlu saya sediakan red carpet untuk menyambutmu?". Tanya Jasmine.
"Eh,tidak perlu. Cukup berikan senyuman saja untukku". Kata Vincent.
"Kalau begitu sudah clear ya Vincent,jika nanti anakku ini tidak bersikap ramah kepadamu,laporkan saja kepadaku". Kata ayahnya Jasmine.
"Siap paman,Terimakasih atas perhatian paman. Kalau begitu saya pulang dulu ya,saya akan atur pertemuan selanjutnya bersama paman". Kata Vincent.
"Baik,saya juga akan mengantarkan anak manja ku ini pulang". Kata ayah Jasmine.
"Sampai ketemu nanti ya Jasmine". Kata Vincent.
"Iya,sama-sama. Sampai ketemu Pak Vincent yang terhormat". Jasmine mengucapkannya dengan terpaksa.
Selama di perjalanan Jasmine pasang muka kesal karena Vincent sekarang sudah berani ngadu kepada ayahnya.Berbeda dengan ayahnya Jasmine,beliau justru senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Jasmine dan Vincent.
"Papa kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri?". Tanya Jasmine.
"Papa lucu melihat kalian berdua". Kata ayahnya.
"Apanya yang lucu?". Tanya Jasmine.
"Entah lah,yang jelas kisah kalian bisa membuat siapapun tersenyum".Kata ayah Jasmine.
"Papa ini ada-ada saja". Kata Jasmine.
"Jasmine,inilah takdir yang tidak bisa kamu hindari,kamu harus menghargai takdir ini". Kata ayah Jasmine.
"Pertemuan kamu dan Vincent adalah takdir,dari SMA kalian menjadi teman kelas,lalu terpisah beberapa tahun dan kini akhirnya kalian bertemu kembali. Papa salut dengan kesetiannya,pria seperti Vincent bisa saja mendapatkan wanita manapun yang dia mau. Tapi dia memilih tetap mencintai dan mengejar wanita keras kepala. Kamu harus lebih menghargai apa yang sudah Vincent lakukan selama ini untukmu". Terang ayahnya.
"Hmmm...sekarang giliran papa yang di cuci otak oleh Vincent". Kata Jasmine
"Papa hanya melihat kenyataan,tidak seperti kamu tidak menerima kenyataan". Kata ayahnya Jasmine.
"Baik Pa,saya akui dia memang sudah baik terhadap Jasmine,tapi jika soal setia sih Jasmine tidak yakin. Manusia seperti Steven saja tidak setia apalagi yang sekelas Vincent". Jelas Jasmine.
"Hanya satu manusia yang bersalah kepadamu,orang lain juga kena imbasnya? Coba kamu lihat papa,apakah papa tidak setia? Apakah kedua kakakmu tidak setia? Apakah Pak Hadi dan Marco tidak setia?. Tidak semua pria di dunia ini sama seperti Steven. Berlapang dada lah Jasmine,jangan mengjudge orang lain dengan apa yang kamu pikirkan".Terang ayah Jasmine.
"Hmmmm....". Jasmine menghela nafas.
"Jangan menghukum Vincent atas apa yang di lakukan Steven,mereka adalah dua orang yang berbeda. Mengerti Jasmine?". Tanya ayah Jasmine.
"Baik Pa,Jasmine mengerti". Jawab Jasmine.
"Nanti sampai rumah,katakan kepada Jasen bahwa Vincent akan datang. Kamu jangan membuat kekacauan,awas saja kalau papa terima laporan dari Vincent". Kata ayah Jasmine.
"Papa ini,aku yang anak papa bukan Vincent. Kenapa tidak berpihak sama Jasmine?". Keluh Jasmine kepada ayahnya.
"Karena kamu anak kesayangan papa,saya tidak mau kamu melakukan kesalahan. Sampai kapanpun papa berhak mendidik anak papa untuk menjadi orang yang baik". Kata ayahnya.
"Tapi kan Jasmine bukan orang jahat,apa Jasmine kurang baik?". Tanya Jasmine.
"Kamu memang tidak jahat,tapi tidak menghormati tamu adalah hal yang salah. Papa tidak mau kamu menjadi manusia tidak sopan". Kata ayahnya.
"Baik Pa,nanti saya akan memperlakukan tamu itu dengan baik dan sopan,biar papa senang". Kata Jasmine.
"Nah begini baru anak papa". Ucap ayahnya.
Setelah sampai di rumah,Jasmine segera beberes dan menyiapkan beberapa cemilan untuk menyambut tamu yang akan datang. Jasen senang sekali mendengar bahwa Vincent akan datang ke rumah mereka.
Waktu menunjukan pukul tujuh malam,terdengar suara bel berbunyi. Jasen yang girang segera membuka pintu.
"Selamat datang paman". Jasen memberikan ucapan.
"Paman?". Tanya Steven.
"Kenapa daddy bisa datang?". Jasen tanya balik.
"Eh,Jasen daddy mau memberikan sesuatu untukmu. Boleh kan saya masuk?". Tanya Steven.
"Mommy,daddy datang". Teriak Jasen.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa kesini? Sudah saya ingatkan jangan pernah menginjak rumah ini lagi". Kata Jasmine.
"Tapi saya rindu sekali dengan kalian". Kata Steven.
"Sudah saya jelaskan juga,jika kamu ingin bertemu dengan Jasen,kamu boleh telepon saya dulu". Kata Jasmine.
"Aku hanya ingin berikan sedikit kejutan untuk kalian dengan datang tiba-tiba". Kata Steven.
"Oh begitu,kamu berhasil. Saya dan Jasen sangat terkejut kamu ada disini". Kata Jasmine.
"Kamu tidak mengharapkan kehadiran saya?". Tanya Steven.
"Tentu saja tidak". Jawab Jasmine.
"Tapi Jasen... dia berharap saya ada disini. Iyakan Jasen?". Tanya Steven.
Jasen berlari ke Jasmine dan memeluknya dengan erat. Walaupun Jasen tidak menjawab,namun apa yang dilakukan Jasen cukup menjelaskan semuanya bahwa dia juga tidak mengharapkan kehadiran Steven ayahnya.
"Jasen,kenapa kamu...". Kata Jasmine.
"Mommy,katanya paman Vincent mau datang,kenapa daddy yang datang?". Tanya Jasen.
"Paman Vincent mau datang? Jasen sini peluk daddy. Tidak ada paman Vincent,yang ada cuma daddy. Aku sangat merindukan kamu Jasen". Terang Steven.
"Hmmm...pergilah peluk daddy mu,dia kesini karena kamu". Kata Jasmine.
Namum Jasen tetap memeluk Jasmine dengan erat,selangkah pun dia tidak maju untuk memeluk Steven. Membuat Steven merasa murka akhirnya dia berjalan ke arah Jasmine dan Jasen lalu memeluk mereka.
"Lepaskan aku Steven". Kata Jasmine.
"Mommy...aku tidak mau daddy". Kata Jasen sambil menangis.
"Jangan begitu Jasen,daddy sangat mencintai kalian". Ucap Steven sambil memeluk mereka berdua dengan erat.
"Saya bilang lepaskan saya ya Steven". Teriak Jasmine.
"Apa yang kamu lakukan Steven?". Vincent datang dan menarik Jasmine dan Jasen dari pelukan Steven.
"Kenapa kamu disini?". Tanya Steven.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa disini,bukankah penghuni rumah ini tidak menginginkan kehadiranmu?". Kata Vincent.
"Atas dasar apa kamu berani berkata seperti itu? Mereka adalah keluargaku,ini juga adalah rumahku. Seharusnya kamu yang tidak boleh ada disini". Kata Steven.
"Paman Vincent,kenapa kamu baru datang. Jasen takut sekali". Kata Jasen yang memeluk Vincent dengan erat.
"Lepaskan Jasen,dia anakku". Kata Steven yang merampas paksa Jasen dari pelukkan Vincent.
"Minggir kamu!!! jangan membuat Jasen takut". Teriak Vincent.
"Jasen sini,aku daddy kamu". Kata Steven.
"Steven jangan coba-coba merebut Jasen dari aku. Kamu lihat dia begitu ketakutan melihat kamu. Apa ini yang kamu sebut ayahnya?". Kata Vincent.
"Diam kamu,disini kamu tidak berhak bicara apapun. Ini keluargaku". Ucap Steven.
"Kalian berdua berhenti!! Jangan ribut dirumah ku". Kata Jasmine.
"Mommy,Jasen takut". Kata Jasen.
"Sini Jasen sama mommy saja. Kalian berdua silakan duduk dulu dan jangan ada keributan". Kata Jasmine yang mengizinkan Steven dan Vincent masuk dan duduk di ruang tamu.
Vincent dan Steven pun mengikuti yang di katakan Jasmine,mereka berdua duduk diam tanpa kata dan tidak saling pandang. Namunsi Jasen lagi-lagi lengket dengan Vincent. Karena Jasmine sudah perintahkan untuk jangan ribut,maka Steven hanya bisa diam melihat kedekatan Jasen dan Vincent.
"Kalian minum dulu. Begini ya,saya tidak mau ada diantara kalian berdua yang ribut di rumah aku atau ribut di luar yang berhubungan dengan aku dan Jasen. Mengerti kan?". Kata Jasmine.
"Saya hanya membantu untuk....". Ucap Vincent.
"Cukup jawab iya saja Vincent". Nimbrung Jasmine.
"Hmmm...iya". Balas Vincent.
"Kamu juga ya Steven,jangan tiba-tiba datang cari masalah di rumahku. Lain kali mau ketemu Jasen, kamu telepon duluan dan jangan mencoba untuk memeluk ku lagi. Sekali lagi kamu lakukan,saya akan menampar kamu". Terang Jasmine.
"Jasmine apa perlu begitu? Aku hanya...". Kata Steven.
"Jika kamu tidak bersedia mengiyakan apa yang saya katakan tadi,jangan harap kamu bisa melihat Jasen lagi. Ini ancaman!". Kata Jasmine.
"Baiklah,maaf soal yang tadi". Kata Steven.
"Jasen,daddy mu bukan moster.Kamu tidak perlu takut dengannya,dia datang hanya ingin melihat Jasen". Jelas Jasmine kepada Jasen.
"Mommy,tadi daddy peluk aku sakit sekali". Kata Jasen.
"Maafkan daddy ya Jasen,daddy bawakan makanan dan mainan kesukaan Jasen". Kata Steven.
"Jasen ambil,bilang apa sama daddy?". Perintah Jasmine.
"Terimakasih daddy". Kata Jasen.
Dengan terpaksa Jasen memberanikan diri mengambil makannya dan mainan yang Steven bawakan untuknya. Suasana seharusnya bahagia buat Jasen menjadi menegangkan. Jasmine tidak pernah membayangkan jika Steven dan Vincent akan bertamu di rumahnya dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Bagaimanakah sikap Jasmine sebagai tuan rumah menghadapi dua tamu yang merepotkan itu?