
Vincent dan Steven juga tidak pernah menyangka bahwa mereka berdua akan bertemu di rumah Jasmine dengan cara seperti ini.Keduanya masih saling diam yang membuat suasana semakin hening. Jasmine yang bijaksana akhirnya mencari cara untuk mencairkan suasana.
"Kalian berdua sudah makan?". Tanya Jasmine.
"Belum". Jawab Vincent dan Steven serentak.
"Kalau begitu tunggu sebentar,saya akan masakkan untuk kalian". Kata Jasmine.
"Eh,saya juga ada sesuatu untuk Jasen. Ini paman bawakan mainan baru,semoga Jasen suka". Kata Vincent kepada Jasen.
"Terimakasih paman". Ucap Jasen sambil senyum kepada Vincent.
"Hmmm...apa kalian berdua punya request mau masak apa?". Tanya Jasmine lagi.
"Terserah". Jawab keduanya serentak dan saling melihat.
"Kalau tidak ada request,saya masak yang simpel saja.Jasen,kamu duduk di tengah,ngobrol lah dengan daddy dan paman Vincent. Mommy mau masak sebentar". Kata Jasmine.
"Baik mommy". Jawab Jasen yang tubuhnya mulai bergeser mendekati Vincent.
"Jasen,mommy suruh duduk di tengah. Jangan kemana-mana. Mommy masak tidak akan lama". Pinta Jasmine.
"Eh,iya mommy". Kata Jasen.
Jasen yang menjadi rebutan Steven dan Vincent terpaksa harus duduk di tengah. Dia duduk diam sambil melihat mainan baru yang dia dapat. Sementara Vincent dan Steven masih tidak saling bicara.Tidak mendengar ada percakapan diantara mereka,maka Jasmine pun buka suara.
"Kenapa kalian diam membisu seperti patung? Saya menyuruh kalian jangan bertengkar di rumahku,bukan menyuruh kalian saling diam. Silakan mengobrol dengan santai". Kata Jasmine.
"Hmmm...tidak ada yang perlu kami bicarakan disini. Saya datang kesini untuk anakku,bukan untuk bicara dengannya". Kata Steven.
"Saya kesini untuk bermain dengan Jasen dan mengobrol denganmu Jasmine. Setidaknya saya sudah bilang akan datang,tidak seperti tamu yang tidak di undang. Aku malah menyaksikan hal yang tidak enak di lihat". Terang Vincent.
"Jika kamu merasa tidak nyaman,silakan pulang". Kata Steven.
"Yang harus pulang itu kamu,tidak ada yang menginginkan kamu disini". Kata Vincent.
"Oh jadi kamu merasa kamu lah yang mereka inginkan?". Tanya Steven.
"Tidak butuh teori,bukannya kamu bisa lihat sendiri tadi Jasen lebih butuh aku atau kamu?". Kata Vincent.
"Dia hanya belum terbiasa melihat aku setelah sekian lama tidak bertemu".Kata Steven.
"Dan caramu memeluk maksa anakmu dan mantan istrimu adalah sebuah kesalahan". Tegas Vincent.
"Kamu...". Ucap Steven.
"Kenapa? Tidak terima?". Tanya Vincent.
"Eh,kalian berdua kenapa lagi?". Tanya Jasmine.
"Mantan suami mu ini yang memulai". Kata Vincent.
"Jelas-jelas kamu yang sok menganalisis". Kata Steven.
"Eh bro,aku bicara fakta". Ucap Vincent.
"Kamu tidak perlu menilai saya". Kata Steven.
"Stop,jangan sampai mangkok ini terbang ke muka kalian berdua. Kalian berdua orang dewasa tidak malu bertengkar di depan anak kecil?".Kata Jasmine.
Akhirnya keduanya kembali diam,Jasmine segera menyelesaikan masakannya. Dia menyuruh Vincent dan Steven menuju ke ruang makan untuk makan bersama.
"Saya sudah selesai memasak,kalian berdua kemari lah,duduk dan makan disini". Jasmine menawarkan mereka.
"Jasen kok tidak di panggil?". Tanya Jasen.
"Oh iya,Jasen juga". Kata Jasmine.
"Jasen,duduk sama daddy". Kata Steven.
"Tidak. Biarkan Jasen di tengah,jangan memperebutkan Jasen lagi". Kata Jasmine.
"Kalau begitu Jasmine kamu duduk di sebelahku saja". Kata Vincent.
"Aku tidak ikut makan,kalian bertiga makanlah. Ini sop asparagus dengan daging ayam baik untuk kesehatan. Semoga kalian suka". Terang Jasmine.
"Sudah lama saya tidak masak masakan kamu". Kata Steven.
"(Alah...lebay banget orang ini)".Ucap Vincent dalam hati.
"Kalian makanlah pelan-pelan,saya akan membawakan cemilan lainnya". Kata Jasmine.
"Paman Vincent,sekarang saya sudah tidak pilih-pilih makanan. Saya senang sekali makan sayur dan buah,semoga Jasen bisa cepat dewasa seperti paman". Terang Jasen.
"Bagus sekali Jasen,paman senang dengarnya. Mari kita tos dulu". Kata Vincent.
"Apa yang kamu ajarkan kepada anakku?". Tanya Steven.
"Kamu tidak tuli kan? Seharusnya kamu mendengar jelas apa yang baru saja Jasen katakan". Balas Vincent.
"Maksud saya kenapa kamu sok mengajari anak orang?". Lanjut Steven.
"Apa aku mengajarkan ajaran sesat?". Tanya Vincent.
"Lebih baik kamu berhenti menganggu hidup Jasen. Jika kamu memang suka mengajari orang,kamu jadi guru saja di sekolah". Terang Steven.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dariku? Aku hanya mengajari Jasen jangan pilih-pilih makanan. Itu bukan hal yang negatif". Kata Vincent.
"Kamu tidak perlu repot-repot mengurusi anak orang,urus saja dirimu sendiri". Kata Steven.
"Aku hanya kasihan kepada Jasen,punya ayah tapi ayahnya tidak pernah mengurusnya". Kata Vincent.
"Vincent,tolong jaga ucapanmu". Kata Steven.
"Ucapanmu lebih tidak sopan". Kata Vincent.
"Kalian berdua bisa diam gak?". Kata Jasmine.
"Jasmine urusan anak jangan sampai orang luar ikut campur". Kata Steven.
"Kamu berani berkata seperti itu kepadaku? Saya yang mengurus Jasen selama ini dan kamu mau mengajari ku? Hebat kamu ya Steven". Kata Jasmine.
"Bukan begitu maksudku,Jasen adalah anak kita,tidak ada yang perlu mengajarkan apapun kepadanya selain kita berdua". Kata Steven.
"Kita berdua? Kamu tolong ngaca. Sejak kapan kamu pernah urus anak kita? Sejak kapan kamu pernah mendidik dia? Waktu kita belum cerai,kamu hanya menemani dia bermain,pulang larut malam bahkan jarang sekali menidurkan Jasen. Sekarang kamu berani bicara tentang mendidik anak?". Terang Jasmine.
"Jasmine aku...". Ucap Steven.
"Anakku tetaplah menjadi tanggung jawabku. Aku lah yang mendidiknya,Vincent hanya menasihati Jasen agar tidak memilih-milih makanan. Itu juga merupakan sebuah masukan yang positif untuk Jasen. Lalu apa yang salah?". Tanya Jasmine.
"Saya tidak mau anakku terlalu dekat dengannya,itu hak aku". Kata Steven.
"Lihat dengan matamu dan mikir dengan otakmu yang berkarat itu,bukannya saya melakukan hal yang adil tadi? Saya menyuruh Jasen duduk diantara kalian dari ruang tamu sampai ruang makan, apa aku ada menyuruhnya dekat dengan Vincent?". Terang Jasmine.
"Hmmm...iya saya melihatnya". Jawab Steven.
"Lalu apa yang kamu harapkan lagi? Anakmu sendiri tidak mau ikut denganmu,saya tidak bisa memaksanya. Supaya adil,maka saya menyuruh Jasen duduk di antara kalian berdua. Kamu harusnya berterimakasih kepadaku,bukan sok bahas didikan denganku disini. Mengerti!!". Jelas Jasmine.
Seketika Steven terdiam seperti di tampar oleh kebenaran yang dikatakan Jasmine,dan dalam perdebatkan antara Vincent dan Steven sudah di pastikan yang menang adalah Vincent. Merasa kalah,akhirnya Steven memilih untuk pamit pulang.
"Saya sudah selesai makan,Terimakasih atas makanannya. Saya sangat menyukai sop buatanmu. Hmmm...saya bantu kamu mencuci piring,setelah itu saya pamit". Kata Steven.
"Tidak perlu,letakkan saja biar saya yang mencucinya". Kata Jasmine.
"Tidak apa-apa,setelah selesai mencuci saya akan pulang". Kata Steven.
"Kamu adalah tamu,bukan lagi tuan rumah disini. Biarkan saya saja yang mencucinya. Kamu silakan pulang". Kata Jasmine.
"Baiklah,Jasen...daddy pulang dulu ya. Nanti daddy atur waktu ketemuan,kita keluar jalan-jalan ya?". Kata Steven.
"Baik daddy". Jawab Jasen.
"Anak baik,kalau begitu saya permisi Jasmine". Kata Steven.
"Ok,hati-hati di jalan. Ingat kata-kata ku tadi,mau ketemu dengan Jasen,telepon aku terlebih dahulu". Kata Jasmine.
"Bye-bye Steven,hati-hati di jalan". Ucap Vincent.
"Kamu tenang saja,kedua tuan rumah senang saya berlama-lama disini".Kata Vincent.
Mendengar Vincent berkata demikian,dia semakin tidak karuan. Steven segera keluar dari rumah Jasmine dan pulang. Vincent merasa senang Steven sudah pulang duluan. Dia bebas menemani Jasmine dan Jasen di rumah.
"Kamu cepat makan,bentar lagi giliran kamu di usir dari rumah ini". Kata Jasmine.
"Kamu tega sekali Jasmine. Saya masih belum mendengar kamu mengucapkan Terimakasih karena telah menolongmu". Kata Vincent.
"Terimakasih sudah menolong aku tadi". Kata Jasmine.
"Nah gitu,aku masih belum berkesempatan untuk mengobrol denganmu dan bermain dengan Jasen karena kehadiran orang itu". Terang Vincent.
"Selama bercerai baru kali ini dia berani injak rumah ini lagi.Itu juga semua gara-gara kamu". Kata Jasmine.
"Kenapa gara-gara aku?". Tanya Vincent.
"Jika kamu tidak membahas soal aku dengannya tadi pagi,tidak mungkin dia begitu nekad datang kesini". Jelas Jasmine.
"Sudah saya bilang jika dia memang ingin mencoba mendekati kamu lagi". Kata Vincent.
"Saya tidak tau apa yang dia rencanakan,yang pasti saya tidak mau jika dia datang lagi. Lebih baik kamu juga tidak perlu datang lagi". Kata Jasmine.
"Lah,kenapa imbasnya ke aku? Karena dia sudah berani untuk muncul di rumah ini,demi keamanan kamu dan Jasen,saya harus lebih sering datang". Terang Vincent.
"Dia tidak akan berani lagi". Kata Jasmine.
"Dia itu sangat agresif,saya takut jika... Ehm...Jasmine apa lebih baik kamu jangan tinggal disini lagi". Kata Vincent.
"Kamu ngomong apa,ini adalah rumahku,kenapa saya jangan tinggal disini?". Tanya Jasmine.
"Saya hanya khawatir saja jika Steven akan terus menganggumu". Jawab Vincent.
"Steven bukan orang jahat,niat dia hanya ingin mendapatkan kembali kebersamaan dengan Jasen". Kata Jasmine.
"Tapi kamu lihat sendiri kan apa yang dia lakukan? Dia seperti kesetanan membuat Jasen takut dan berani sekali dia memeluk kamu. Aku tidak mau itu terjadi lagi". Terang Vincent.
"Hmmm...tenang saja,lain kali saya akan lebih waspada. Bagaimana pun juga dia adalah ayahnya Jasen,dia tidak akan mungkin melukainya". Kata Jasmine.
"Pokoknya apapun yang terjadi,kamu harus memberitahukan aku". Kata Vincent.
"Dasar kepo,untuk apa memberitahu mu?". Tanya Jasmine.
"Mulai sekarang keselamatan kamu dan Jasen akan menjadi tanggung jawabku". Kata Vincent.
__ADS_1
"Saya bisa jaga diri dan melindungi Jasen,kamu tidak perlu khawatir akan hal itu". Kata Jasmine.
"Apa perlu saya memberikan beberapa pengawal untuk menjaga keamanan kalian?". Tanya Vincent.
"Vincent,kamu terlalu berlebihan. Steven bukan seorang kriminal,kamu ada-ada saja. Saya sudah katakan hal seperti itu tidak akan terjadi lagi,saya akan lebih waspada oke".Terang Jasmine.
"Hmmm,baiklah kalau begitu". Kata Vincent.
"Bagus jika mengerti. Kalau kamu sudah selesai makan,silakan pulang". Kata Jasmine.
"Aku datang kesini bukan untuk makan malam dan pulang. Saya mau menemani kalian berdua". Balas Vincent.
"Ya sudah,selesaikan makananmu dan bermainlah dengan Jasen. Saya akan mencuci piring". Kata Jasmine.
"Asikkk...aku sudah lama tidak bermain dengan paman". Seru Jasen.
"Lah,dari tadi Jasen menguping pembicaraan kita". Kata Vincent.
"Makanya,saya sudah bilang jangan pernah sembarangan berkata-kata jika ada Jasen". Kata Jasmine.
"Sudah selesai makan,Jasen ayo kita main". Ajak Vincent.
"Ayo". Jawab Jasen.
Vincent menemani Jasen unboxing mainan barunya dan mengobrol bersama. Ntah kenapa Jasmine merasa memang kehadiran Vincent memberikan aura yang berbeda,bahkan Jasen terlihat begitu nyaman saat bersama Vincent. Setelah selesai mencuci piring,Jasmine kembali bergabung bersama Vincent dan Jasen.
"Jasen sedang apa?". Tanya Jasmine.
"Jasen dapat mainan transformers dari paman Vincent". Jawab Jasen.
"Transformers? Itu kan mainan mobil-mobil an dan helikopter". Kata Jasmine.
"Iya mommy,tapi ini semua namanya transformers". Kata Jasen.
"Benarkah?". Tanya Jasmine.
"Yang di katakan Jasen benar". Lanjut Vincent.
"Hmmm...dari mana kamu tau mainan seperti ini?". Tanya Jasmine.
"Tentu saja saya tau". Kata Vincent.
"Kamu jangan terlalu memanjakannya". Kata Jasmine.
"Ini hanya hadiah kecil,anggap saja apresiasi untuk Jasen karena sudah tidak memilih-milih makanan". Kata Vincent.
"Terimakasih telah mengajarkan yang baik,dia sangat mendengar apa yang kamu katakan". Kata Jasmine.
"Jasmine,aku ingin bertanya sesuatu". Kata Vincent.
"Tanya apa?". Kata Jasmine.
"Hmm...apa lagi yang perlu saya lakukan agar bisa menjadi seorang ayah yang baik?". Tanya Vincent.
"Vincent kamu...?". Kata Jasmine.
"Jawab,apa lagi yang perlu saya lakukan?". Tanya Vincent lagi.
"Kamu kenapa bertanya seperti itu? Eh..suatu hari setelah kamu sudah menjadi ayah,kamu akan mengerti". Kata Jasmine.
"Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk menjadi ayah sambung bagi Jasen". Kata Vincent.
"Vincent,kamu berpikir terlalu jauh. Kamu harusnya... aku tidak tau lagi apa yang bisa saya katakan". Ucap Jasmine.
"Jasmine,saya serius. Saya tidak hanya mencintaimu,saya juga sangat mencintai Jasen. Jika Steven pernah gagal menjadi sosok seorang ayah baginya. Saya yang akan memperbaiki semuanya. Saya berani bersumpah,saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab seperti Steven". Terang Vincent.
"Vincent sudah cukup, sejauh ini kamu sudah memberikan yang terbaik. Kamu sudah berhasil membuat Jasen nyaman bersamamu. Sekarang Jasen bukan lah anakmu,jadi kamu jangan terlalu pusing akan hal ini".Kata Jasmine.
"Untuk sekarang memang aku bukan ayahnya,tapi untuk kedepannya saya akan menjadi ayahnya". Kata Vincent.
"Terimakasih telah peduli dengan Jasen,tapi tolong pikirkan juga dirimu sendiri. Kamu masih muda,punya masa depan. Kamu seharusnya memiliki anak dari istrimu sendiri". Jelas Jasmine.
"Ternyata benar kata ayahku,kamu memang peduli terhadapku". Kata Vincent.
"Bukan begitu Vincent,ayahmu mungkin salah paham akan maksudku. Saya tidak mau menghancurkan masa depanmu demi aku. Jika sampai itu terjadi,aku akan sangat berdosa". Terang Jasmine.
"Tenang saja Jasmine,aku sangat yakin kita bisa membangun keluarga yang bahagia". Kata Vincent.
"Membangun keluarga dari nol saja pasti mempunyai rintangan,apalagi membangun keluarga bersama orang yang gagal berumah tangga". Terang Jasmine.
"Saya tidak peduli akan hal itu,saya akan tulus menyayangi Jasen seperti anak kandungku sendiri, jika kamu memang tidak bersedia mempunyai anak lagi denganku,saya juga tidak masalah". Jelas Vincent.
"Vincent,otakmu ini isi apa? Saya sudah menyuruhmu memikirkan masa depanmu sendiri,bukan membina rumah tangga orang yang gagal". Tegas Jasmine.
"Rumah tangga mu yang gagal bukan karena kesalahanmu. Bagiku ini bukan sebuah kegagalan,tapi sebuah kesempatan untuk ku". Kata Vincent.
"Haizzz...kamu dan ayahmu memang adalah orang yang bisa membuat aku kehabisan kata-kata. Sudahlah,kita jangan membahas ini lagi". Kata Jasmine.
"Oh ya,baguslah. Ayah dan ibuku juga sangat menyukaimu,semua orang sangat mendukung hubungan kita,hanya kamu yang bersikeras dengan pendirianmu. Haha...". Kata Vincent.
"Kamu bahagia sekali dengan itu,kamu yakin kamu bisa menang hanya karena banyak dukungan? Saya tidak akan terpengaruh dengan omongan dan dukungan orang lain". Kata Jasmine.
"Saya sangat yakin akan menang. Dan kamu Jasmine,tetap lah seperti batu.Saya akan berusaha menjadi palu untuk menghancurkan keras kepalamu ini". Kata Vincent.
"Eh,yang kamu hadapi adalah Jasmine". Ucap Jasmine.
__ADS_1
"Dan yang kamu lawan adalah Vincent". Balas Vincent.
Seorang Jasmine tentu saja selalu tegas dalam pendiriannya,dia adalah orang yang berprinsip. Namun Vincent juga sangat yakin akan kemenangannya. Bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya?Siapakah sebenarnya yang akan menang?