
Hari ini adalah hari Minggu,kegiatan Jasmine hampir sama dengan hari Sabtu. Dia bangun pagi untuk olahraga dan menyiapkan sarapan untuk Jasen.Jasmine membuat bihun goreng dan menyiapkan segelas susu untuk Jasen.
"Pagi mommy". Kata Jasen.
"Pagi sayang,sudah mandi dan gosok gigi?". Tanya Jasmine.
"Sudah". Jawab Jasen.
"Bagus,sekarang di makan ya sarapannya".Kata Jasmine.
"Kenapa mommy cuma masak dua piring?". Tanya Jasen.
"Hmmm...kan biasa mommy memang masak dua piring,untuk Jasen dan untuk mommy". Jelas Jasmine.
"Untuk paman mana?". Tanya Jasen.
"Untuk paman? Eh...Jasen,paman tidak datang hari ini,kan kita mau ke rumah kakek nenek nanti". Kata Jasmine.
"Ada,paman sudah janji akan datang". Kata Jasen.
Dan ternyata benar saja,bel pintu berbunyi. Jasen girang sekali berlarian keluar.Setelah sampai di depan pintu dan memang yang datang adalah Vincent,dia pun bergegas membuka pintu untuk Vincent.
"Selamat pagi paman". Ucap Jasen.
"Pagi Jasen". Balas Vincent.
"Silakan masuk paman". Kata Jasen.
"Baik". Ucap Vincent sambil masuk ke dalam.
"Pagi". Kata Jasmine.
"Pagi Jasmine".Balas Vincent.
"Kamu benar-benar datang?Tapi kenapa sepagi ini?". Tanya Jasmine.
"Saya harus menepati janji". Kata Vincent.
"Memangnya apa yang kamu janjikan kepada Jasen?". Tanya Jasmine.
"Saya sudah berjanji saya akan datang lebih pagi dan setelah itu saya akan mengantar kalian ke rumah orang tuamu". Terang Vincent.
"Hmmm...Vincent,kamu tidak perlu melakukan itu,kamu bukan supir". Kata Jasmine.
"Mommy buatkan sarapan untuk paman juga. Paman,kita sarapan bersama ya". Kata Jasen.
"Eh...kamu belum sarapan? Kalau begitu tunggu sebentar,saya akan buatkan untukmu". Kata Jasmine.
"Ini bunga untuk kamu,dan ini saya ada beli roti dan kue basah untuk kalian". Kata Vincent.
"Kamu terlalu berlebihan,lain kali jika kamu datang bawa barang sebanyak ini lagi,aku tidak akan kasih masuk". Kata Jasmine.
"Berarti lain kali saya boleh datang lagi. Asik....". Kata Vincent.
"Tidak boleh". Ucap Jasmine.
"Oke tidak masalah,lain kali aku datang bukan untuk bertemu dengamu tapi untuk menemui temanku Jasen". Kata Vincent.
"Hmmm..aku mau siapkan sarapan dulu,kamu silakan duduk". Kata Jasmine.
"Jasen,hari ini paman bawakan sesuatu untukmu,coba tebak ini apa?". Tanya Vincent sambil menunjukan kotak yang ada di tanganya.
"Paman kenapa bentuknya kotak,apa isi dalamnya?". Tanya Jasen.
"Tebak dulu dong". Ucap Vincent.
"Lego lagi ya? Paman beli lego lagi buat Jasen?". Tanya Jasen.
"Salah,bukan lego". Kata Vincent.
"(Sambil menggoyang-goyangkan kotaknya) apa ya isinya?". Jasen mulai bingung.
"Ya sudah,buka saja". Kata Vincent.
"Boleh Jasen buka?".Tanya Jasen.
"Silakan dibuka Jasen,ini sudah jadi milik Jasen sekarang". Kata Vincent.
"Terimakasih paman". Ucap Jasen.
"Vincent...mainan Jasen sudah terlalu banyak,kamu tidak perlu repot memberikan mainan lagi untuknya". Kata Jasmine yang sambil menguping pembicaraan mereka.
"Aku memberikan sesuatu yang mengasah otak bukan cuma sekedar mainan". Kata Vincent.
"Wuahhh...mommy paman memberikan hadiah puzzle untukku,Terimakasih paman". Kata Jasen.
"Sama-sama Jasen,ya udah Jasen makan dulu ya". Kata Vincent.
"Nanti kita makan sama-sama saja,mommy sedang masak punya paman".Kata Jasen.
"Hmmmm...Jas,kalau repotin,tidak perlu buatkan untukku". Kata Vincent.
"Tidak repot,tadi saya memang cuma masak untuk aku dan Jasen,siapa yang tau kamu akan datang sepagi ini". Kata Jasmine.
"Perlu aku bantu?". Vincent menawarkan bantuan.
"Memangnya kamu bisa bantu apa? Kamu bisa masak?". Tanya Jasmine.
"Tentu saja bisa". Kata Vincent.
"Ehmmm....masa iya kamu bisa memasak?". Jasmine tidak percaya.
"Bisa.Saya bisa masak,cuci baju,menyapu,dan lain-lain. Saya sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri saat kuliah di luar negeri". Kata Vincent.
"Wuahhh...kamu memang hebat". Kata Jasmine.
"Jadi butuh bantuanku tidak?". Tanya Vincent lagi.
"Tidak perlu,ini bentar lagi juga selesai". Kata Jasmine.
"Hmmm...baiklah". Kata Vincent.
"(Baru kali ini saya ketemu laki-laki yang bisa segalanya,dia memang lebih oke dari aku dari segi apapun)". Ucap Jasmine dalam hati.
"Sudah selesai,ayo makan". Jasmine memanggil Jasen dan Vincent.
Mereka bertiga kemudian sarapan bersama layaknya sebuah keluarga. Jasmine juga membuat kopi untuk Vincent seperti yang pernah dia buatkan untuk mantan suaminya.
"Ternyata kamu memang istri idaman ya". Kata Vincent.
"Makan saja jangan bawel". Kata Jasmine.
"Paman,istri idaman itu apa?". Tanya Jasen.
"Ehm...seperti mommy kamu tiap hari siapin sarapan buat Jasen dan mengurus Jasen". Terang Vincent.
"Oh,berarti nenek juga istri idaman ya,nenek juga melakukan sama seperti mommy". Kata Jasen.
"Benar,nenek juga". Kata Vincent.
"Lebih baik kurangi bicaramu,Jasen anak yang banyak tanya". Bisik Jasmine.
"Itu tandanya dia anak yang cerdas. Rasa ingin tau nya besar,kelak dia akan menjadi anak yang sukses". Kata Vincent.
"Mudah-mudahan saja. Tapi di usia dia saat ini banyak hal yang belum saatnya dia untuk tau". Kata Jasmine.
"Kita yang sebagai orang dewasa harus pintar memberikan penjelasan". Kata Vincent.
"Apa yang kalian bicarakan?". Tanya Jasen.
"Ehmm...mommy bertanya kepada paman bagaimana rasa bihun yang mommy buat?". Kata Jasmine.
"Oh".Ucap Jasen.
"Mana lego yang katanya mau di perlihatkan kepada paman?". Tanya Vincent.
"Bentar ya paman,Jasen habiskan dulu makanannya". Kata Jasen.
"Dia merakit lego sampai malam hanya untuk di pamerkan kepada kamu". Kata Jasmine.
"Benarkah?". Tanya Vincent.
__ADS_1
"Iya dong. Mommy,Jasen sudah selesai makan". Kata Jasen.
"Paman juga selesai makan,ayo kita liat legonya". Kata Vincent.
"Mari paman biar Jasen tunjukan" kata Jasen.
"Wuah ini luar biasa,ini kelihatan seperti super hero". Kata Vincent.
"Ini adalah paman". Kata Jasen.
"Serius ini adalah aku ya? Bagus sekali". Ucap Vincent.
"Iya,paman suka?". Tanya Jasen.
"Suka banget". Kata Vincent.
"Ini untuk paman". Kata Jasen.
"Apa? Jadi paman boleh bawa pulang?". Tanya Vincent.
"Tentu saja". Kata Jasen.
"Terimakasih Jasen". Ucap Vincent.
"Terimakasih juga ya paman,sudah berikan lego dan puzzle untuk Jasen". Kata Jasen.
"Sama-sama". Kata Vincent.
"Paman,hari ini kita mau ke rumah kakek dan nenek,paman ikut? Ada paman Jimmy dan paman Jerry juga". Kata Jasen.
"Oh begitu,paman hari ini cuma mengantar kalian pergi,lain kali paman baru berkunjung kesana". Kata Vincent.
"Paman ikut saja,kakek,nenek,paman Jimmy dan paman Jerry mereka semua baik". Kata Jasen.
"Paman tau mereka baik,tapi....". Kata Vincent.
"Tapi apa?". Tanya Jasen.
"Jasen,paman banyak urusan yang harus di selesaikan.Iya kan?". Lanjut Jasmine.
"Benar,hari ini paman ada urusan,lain kali paman baru ikut pergi dengan kalian". Kata Vincent.
"Hmmm...baiklah". Kata Jasen.
"Kalian sudah akan pergi sekarang?". Tanya Vincent.
"Iya,biasa setiap Minggu setelah selesai sarapan,saya langsung membawa Jasen kesana". Kata Jasmine.
"Kalau begitu aku akan membawa kalian kesana". Kata Vincent.
"Tidak perlu Vincent,kita pergi sendiri saja". Kata Jasmine.
"Tapi aku sudah janji sama Jasen akan mengantarkan kalian". Kata Vincent.
"Benar mommy,biarkan paman mengantar kita. Ayo paman". Kata Jasen yang sibuk menggandeng tangan Vincent.
"Oke". Ucap Vincent.
"Jasen,lain kali jangan begitu ya.Paman banyak urusan,kamu jangan merepotkan dia". Kata Jasmine.
"Tidak apa-apa,sebenarnya saya yang memaksakan diri untuk mengantar kalian". Kata Vincent.
Setelah Vincent mengantar Jasmine dan Jasen sampai tempat tujuan. Vincent pamit pulang,namum Jasen merasa sedikit kecewa karena waktu bersama dengan Vincent terlalu singkat.
"Ok sampai. Disini kan rumah orang tuamu?". Tanya Vincent.
"Hmmm...iya. Terimakasih sudah kasih tumpangan". Kata Jasmine.
"Tidak apa-apa". Kata Vincent.
"Jasen,bilang Terimakasih dulu kepada paman,habis itu kita turun". Kata Jasen.
"Terimakasih paman". Kata Jasen.
"Oke,bye Jasen". Ucap Vincent.
"Eh....paman bentar,legonya ada di bawa pulang kan?". Tanya Jasen.
"Baiklah,eh paman bentar....". Kata Jasen.
"Hadeh...,Jasen apalagi sih?Paman sudah mau pulang,ayo kita masuk". Kata Jasmine.
"Paman besok datang lagi tidak?". Tanya Jasen.
"Tidak". Jawab Jasmine.
"Mommy,Jasen bukan tanya mommy". Kata Jasen.
"Ehmm...Kalau besok paman ada waktu,paman datang lagi ok. Kalau paman sibuk,paman tidak datang". Jelas Vincent.
"Baiklah. Bye paman". Ucap Jasen dengan perasaan kecewa.
"Bye Jasen". Kata Vincent.
"Hati-hati di jalan". Kata Jasmine.
"Hehe (tersenyum) akhirnya kamu mencemaskan saya juga".Kata Vincent.
"Itu karena kami sudah diberikan tumpangan.Bye saya masuk dulu". Kata Jasmine.
Vincent lalu memutar balik mobilnya dan pergi. Namum pandangan Jasen belum bisa lepas walaupun Vincent sudah menjauh.
"Ayo masuk,paman sudah pulang". Kata Jasmine.
"Baik mommy". Ucap Jasen.
"Halo Jasen cucuku tersayang,sudah sarapan?". Tanya ayah Jasmine.
"Sudah kakek". Kata Jasen.
"Apa yang Jasen lihat? Ada siapa di luar sana?". Tanya kakeknya.
"Tidak ada apa-apa". Kata Jasen.
"Halo Jasen,kalian datang naik apa?".Tanya neneknya.
"Paman mengantarkan kami". Jawab Jasen.
"Paman? Paman siapa?". Tanya kakek dan neneknya.
"Ehmmm...paman taxi Pa Ma". Kata Jasmine.
"Dia bukan paman taxi,dia paman yang sangat baik". Kata Jasen.
"Ehmmm...stttt...Jasen jangan bilang lagi soal paman". Bisik Jasmine.
"Apa yang kamu sembunyikan dari kami?". Tanya ayahnya Jasmine.
"Tidak ada Pa".Kata Jasmine.
Walaupun ayah dan ibunya sudah tidak lanjut bertanya,namum mereka yakin ada yang Jasmine sembunyikan dari mereka.
"Kakak belum datang?". Tanya Jasmine.
"Mereka sedang menuju kesini". Kata ibunya.
"Hari ini ibu masak apa?". Tanya Jasmine.
"Masak masakan kesukaan kalian pastinya". Jawab ibunya.
"Jasen sini main sama kakek". Kata ayahnya Jasmine.
"Jasen main sama kakek dulu ya,mommy mau membantu nenek memasak". Kata Jasmine.
"Baik mommy". Ucap Jasen.
Jasen yang sibuk bermain dengan kakeknya dan Jasmine membantu ibunya menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.Beberapa lama kemudian,kedua kakaknya datang bersama istri dan anak mereka. Suasana menjadi semakin rame.
Menjelang siang,mereka sekeluarga makan siang bersama. Jasen yang manja memilih duduk diantara kakek dan neneknya. Banyak sekali lauk yang ada di atas meja.Ada sup,sayuran,seafood,dan daging.
"Jasen,nenek masakin udang kesukaan kamu,makan yang banyak ya". Kata neneknya.
__ADS_1
"Nah ini ada daging ayam kesukaan Jasen juga,ayo dimakan". Kata kakeknya mengambil ayam untuk Jasen.
"Pa,Ma,biarkan dia mengambil sendiri. Papa mama terlalu memanjakan dia". Kata Jasmine.
"Papa mama sayang cucu itu wajar,jangan bilang kamu iri dengan anakmu sendiri". Ucap kakak kedua.
"Iya dia masih anak-anak,wajar kita ambilkan untuknya. Walaupun papa mama sayang cucu,kalian semua tetap anak-anak ku yang saya cintai". Kata ayahnya.
"Jasen tidak mau jadi anak-anak terus,paman bilang Jasen tidak boleh pilih-pilih makanan,harus makan semua agar Jasen bisa cepat besar dan dewasa seperti paman". Terang Jasen.
"Ehm...Jasen makan jangan banyak ngomong". Kata Jasmine.
"Paman? Paman siapa maksudnya?". Tanya kakak pertama.
"Paman teman mommy,Jasen lupa namanya". Kata Jasen.
"Paman teman mommy? Ehem...Jasmine bisa tolong jelaskan,saya tidak mengerti maksud Jasen". Kata kakak pertama.
"Dari tadi Jasen juga bilang datang bersama paman,saya juga tidak mengerti maksudnya apa". Kata ayahnya.
"Maksudnya Marco teman saya,kalian tau kan Marco?. Anak kecil hanya mengingat ucapan orang dewasa yang berkesan untuknya,abaikan saja". Jasmine mengalihkan pembicaraan.
"Bukan mommy,paman itu bukan namanya Marco.Saya kenal paman Marco yang bekerja di kantor mommy". Kata Jasen.
"Jasen...sudah makan saja". Kata Jasmine.
"Jasmine,anak kecil tidak bisa berbohong. Kecuali kamu mengajarinya bohong". Kata Ayahnya.
"Hmmm...tidak Pa,itu....". Kata Jasmine.
"Kita bukan orang lain Jasmine,kita keluarga kamu. Ceritakan saja tidak apa-apa". Kata Ibunya.
"Hadehh,Jasmine bingung mau cerita dari mana". Kata Jasmine.
Semuanya melotot melihat Jasmine,begitu juga Jasen. Jasmine benar-benar frustrasi,dia tidak tau harus mulai dari mana,karena pertemuan dia dengan Vincent bisa dibilang rumit dan mendadak. Jasmine tau hari ini jika dia tidak jujur kepada keluarganya,maka mereka akan kecewa kepadanya.
"Mulai saja dari nama teman kamu.Siapa namanya?". Tanya kakak kedua.
"Hmmm...namanya Vincent". Kata Jasmine.
"Iya,paman Vincent". Ucap Jasen.
"Dia adalah teman SMA saya dan baru pulang dari luar negeri". Kata Jasmine.
"Oh,kenapa saya merasa dia begitu dekat dengan Jasen? Apa kalian.....?". Kata kakak pertama.
"Tidak,jangan berpikir sembarangan. Kita hanya berteman,karena dia baru pulang dari luar negeri makanya dia mengunjungi saya.Itu saja". Kata Jasmine.
"Jasmine,apakah dia sudah menikah?". Tanya ayahnya.
"Belum Pa". Jawab Jasmine.
"Dia tau status kamu?". Tanya ayahnya lagi.
"Tau". Kata Jasmine.
"Terus apa tanggapannya?". Tanya ayahnya.
"Ya tidak ada tanggapan. Papa,dia dan Jasmine cuma berteman,tidak lebih". Kata Jasmine.
"Oh,kamu yakin?". Kata kakak pertama.
"Yakin lah. Kalian hari ini kenapa? Kenapa meja makan jadi meja meeting,banyak sekali pertanyaan". Kata Jasmine.
"Ehmm...Jasmine,papa tidak melarang kamu berteman dengan siapapun. Apalagi teman kamu belum berkeluarga dan kalian sama-sama single.Jika dia sudah tau status kamu tapi tetap mendekati kamu,itu tandanya dia punya perasaan terhadap kamu.Cobalah membuka hati lagi,kamu masih muda". Jelas ayahnya.
"Papa mulai deh,sudah di bilang kita hanya sebatas teman". Kata Jasmine.
"Saya penasaran seperti apa orangnya?". Ucap kakak kedua.
"Kakak,dia cuma teman biasa. Jangan membahas ini lagi,bahas yang lain aja". Kata Jasmine.
"Ya sudah kalian jangan bahas ini lagi. Kita makan saja. Oh ya belakangan ini papa sering masuk angin,tapi papa lupa taruh minyak anginnya dimana.Hmmm..papa kalian ini sudah pikun". Kata ayahnya.
"Nanti biar mama yang cari saja". Kata Ibunya.
"Hmmm...kalau mama kalian yang cari,bisa sakit telinga papa dengan dia ngomel". Kata ayahnya.
"Kalau begitu biar Jasmine saja yang cari". Kata ibunya.
"Iya,nanti biar Jasmine yang cari ya". Kata Jasmine.
"Papa jangan tidur terlalu malam". Kata kakak pertama.
"Tidak,papa selalu tidur tepat waktu". Kata ayahnya.
"Saya sudah siap makan,kalau begitu Jasmine cari dulu. Di kamar ya?". Kata Jasmine.
"Iya sepertinya terakhir papa taruh di kamar".Kata ayahnya.
"Kalau begitu,saya ke kamar dulu". Kata Jasmine.
Setelah Jasmine masuk ke dalam kamar untuk mencari minyak angin ayahnya,Jasen pun di intrograsi oleh kakek dan kedua pamannya.Sebenarnya ayah dan ibu Jasmine hanya berpura-pura kehilangan minyak angin agar Jasmine mencarinya di dalam,sebuah taktik supaya mereka bisa bertanya kepada Jasen.
"Jasen,kakek mau tanya,kamu kenal paman Vincent dimana?". Tanya kakeknya.
"Kenal dirumah. Paman datang ke rumah kami dan mommy sendiri yang bilang itu temannya. Paman itu baik sekali memberikan mainan untuk Jasen,dia juga memberikan bunga untuk mommy". Kata Jasen.
"Wow...Jasen paman mau tanya,seperti apa paman Vincent itu?". Tanya kakak pertama.
"Dia baik,pintar,ganteng dan tinggi". Ucap Jasen.
"Apa dia sering datang ke rumah kalian?". Tanya kakak kedua.
"Cuma semalam dan hari ini". Jawab Jasen.
"Hari ini? Jasen sekarang masih disini,kapan dia datang?". Tanya ayah Jasmine.
"Tadi pagi paman itu datang,terus kita sarapan bersama. Setelah itu,dia yang mengantar kita kesini". Terang Vincent.
"Paman Vincent yang mengantar kalian kesini?Jadi yang Jasen bilang diantar paman, maksudnya paman Vincent?".Tanya ayahnya Jasmine.
"Iya kakek".Ucap Jasen.
"Ternyata begitu ceritanya,sekarang kakek sudah mengerti". Kata ayah Jasmine.
"Dari cerita Jasen,sepertinya orang yang bernama Vincent itu memang punya perasan terhadap Jasmine". Kata kakak pertama.
"Saya juga sepemikiran kak,hanya saja Jasmine belum bisa membuka hati dan masih ragu untuk kembali menjalin asmara". Kata kakak kedua.
"Saya mengerti keadaan Jasmine,dia sulit untuk menerima orang baru karena masih terluka atas apa yang dia alami". Kata ibunya.
"Untuk sementara kita jangan membahas soal ini di hadapan Jasmine,biarkan dia pulih dengan sendirinya.Semoga orang yang bernama Vincent tersebut adalah orang yang bisa menyembuhkan lukanya". Kata ayahnya.
"Hmmm...semoga saja,saya berharap dia bisa lebih baik dari Steven". Kata kakak kedua.
"Untuk saat ini kita tidak tau latar belakang dan bagaimana orangnya,sebaiknya kita kali ini harus lebih pintar dalam menilai orang". Kata kakak pertama.
"Jasen,janji sama kakek.Apa yang kakek tanya hari ini serta paman Jimmy dan paman Jerry tanya ke kamu hari ini jangan kasih tau mommy oke? Biarkan menjadi rahasia kita para lelaki. Setuju?". Kata kakeknya.
"Oke kakek,Jasen janji". Kata Jasen.
"Janji juga dong sama paman,kalau tidak nanti paman bisa ngambek". Kata kakak pertama.
"Saya juga ya Jasen". Kata kakak kedua.
"Oke paman Jimmy dan paman Jerry.Jasen janji tidak akan kasih tau ke mommy". Kata Jasen.
"Pa Ma,saya sudah cari di semua tempat di kamar,minyak anginnya masih belum ditemukan".Kata Jasmine.
"Jasmine coba liat di lemari kaca itu,sepertinya papa ada taruh disitu". Kata ayahnya.
"Oalahhh papa,minyak anginnya memang disini". Kata Jasmine.
"Maaf ya Jasmine buat kamu susah". Kata ayahnya.
"Tidak apa-apa Pa,mau Jasmine pakaikan minyak anginnya?". Tanya Jasmine.
"Baiklah,sudah lama anak perempuan ku ini tidak memijit aku". Kata ayahnya.
Jasmine dengan senang hati memakaikan minyak angin ke badan ayahnya sambil memijit pelan ayahnya.Dia tidak tau bahwa Jasen anaknya sudah memberitahukan semua tentang Vincent kepada keluarganya.
__ADS_1