The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Vincent masuk rumah sakit


__ADS_3

Setelah Pak Robert menceritakan semuanya,Jasmine sangat terkejut. Orang yang ingin merahasiakan semua ini adalah Vincent sendiri. Dia bahkan meminta ayahnya untuk tidak memberitahukan orang-orang agar tidak membuat orang merasa khawatir.


"Pak Robert,bisa-bisanya kamu bekerja sama dengan orang yang sakit untuk menutupi semua ini". Kata Jasmine.


"Maaf Jasmine,saya tidak bisa apa-apa selain berjanji kepadanya. Melihat dia dalam keadaan kritis, saya terpaksa mengiyakan permintaannya". Terang Pak Robert.


"Vincent dia...kenapa dia selalu penuh kejutan bahkan di saat sedang sakit".Kata Jasmine.


"Jasmine,kamu boleh memarahinya setelah dia keluar dari rumah sakit,tapi tolong maafkan dia, semua ini dia lakukan agar semua orang tidak khawatir tentang keadaannya". Terang Pak Robert.


"Tidak khawatir apanya? Saya,Mia,Marco dan Pak Hadi,Ehmm..terutama Jasen. Kita semua sangat khawatir.Kita tidak mendapatkan kabar apapun tentang dia,membuat kita semua merasa panik". Jelas Jasmine.


"Saya mengerti,sekarang saya melihat sendiri ketulusan kalian semua. Baiklah,beritahu yang lain agar mereka tidak khawatir lagi". Kata Pak Robert.


"Terimakasih Pak Robert,maaf saya hari ini lebih emosional". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa saya mengerti". Ucap Pak Robert.


Jasmine segera permisi dan keluar untuk memberitahukan kepada yang lain. Mereka yang mendengar kabar tersebut merasa syok dan tidak habis pikir jika Vincent mau merahasiakan dari mereka.


"Jasmine,bagaimana?". Tanya Pak Hadi.


"Pak Vincent masuk rumah sakit,dia diagnosis deman tifoid yang kita sebut penyakit tipes dan sekarang dia sedang dirawat".Kata Jasmine.


"Apa separah itu?". Tanya Marco.


"Setelah Vincent pulang dari rumah ku hari itu,dia sempat mengeluh sakit kepala dan meminta pembantunya membawakan obat sakit kepala. Namun muncul kecurigaan jika dia hanya sakit kepala biasa karena suhu badannya meningkat,wajah dan tangannya juga memerah". Terang Jasmine.


"Tapi kenapa dia tidak menelepon kamu lagi dan tidak mau memberitahu jika dia masuk rumah sakit?". Tanya Mia.


"Dia tidak mau kita semua khawatir tentang keadaannya".Kata Jasmine.


"Hmmm...di rumah sakit mana Pak Vincent di rawat?". Tanya Pak Hadi.


"Diamond Star Memorial Hospital". Jawab Jasmine.


"Saya tau rumah sakit itu. Pak Robert juga punya saham di rumah sakit tersebut,bisa di bilang itu rumah sakit elit berstandart Internasional. Saya percaya Pak Vincent dirawat disana oleh tenaga medis yang ahli,dia pasti akan segera sembuh". Terang Pak Hadi.


"Ternyata calon mertua Jasmine bukan orang sembarangan, kaya sekali mereka". Kata Marco.


"Marco...kamu masih bisa bercanda?". Ucap Jasmine.


"Hmmm...Marco sekarang bukan saatnya kita membahas kekayaan bos kita. Jadi malam ini kita pergi menjenguk Pak Vincent atau tidak?". Tanya Mia.


"Tentu saja pergi. Jam berapa kumpul disana?". Tanya Marco.


"Bagaimana kalau kita kumpul disana jam tujuh malam?". Ajak Pak Hadi.


"Baiklah". Kata Jasmine.


"Setuju". Ucap Mia.


"Eh,Jasmine sebaiknya kamu membawa Jasen juga. Pak Vincent pasti senang jika Jasen datang menjenguknya". Kata Marco.


"Kamu benar Marco,jika Jasen tidak melihat sendiri keadaan Vincent,dia akan bertanya terus. Lebih baik saya membawa Jasen pergi menjenguknya". Kata Jasmine.


"Baiklah,kita sudah sepakat.Sebaiknya karyawan lain tidak perlu diberitahu dulu,kita pastikan keadaan Pak Vincent terlebih dahulu apakah memungkinkan menerima kunjungan.Takutnya jika banyak karyawan yang ikut menjenguk akan mengganggu". Terang Pak Hadi.


"Oke,saya juga berpikir seperti itu". Kata Marco.


"Saya juga sependapat". Kata Jasmine.


Setelah mereka sepakat untuk pergi menjenguk Vincent,Jasmine juga memberitahukan ayahnya bahwa Vincent masuk rumah sakit. Dan menceritakan semuanya kronologinya termasuk menceritakan Pak Robert teman ayahnya itu juga ikut merahasiakan berita ini.


"Vincent sama seperti ayahnya.Temanku Robert juga tidak mau membuat orang khawatir. Beberapa tahun lalu Robert juga operasi usus buntu dan merahasiakan dari semua teman-temannya". Kata ayahnya Jasmine.


"Dia merahasiakan begini malah membuat orang lain semakin khawatir". Kata Jasmine.


"Benar,tapi kita maklumi saja.Kamu pergi menjenguk Vincent,bicaralah baik-baik dengannya. Jangan menindas orang sakit". Kata ayah Jasmine.


"Kenapa kata-kata dari papa seolah Jasmine adalah orang jahat? Aku tidak pernah menindas orang lain".Kata Jasmine.


"Iya papa tau,saya hanya mengingatkan. Orang sakit tidak akan bisa menerima omelan mu, setelah Vincent sembuh barulah kamu memarahi dia". Jelas ayahnya.


"Saya mengerti Pa". Ucap Jasmine.


"Titip salam papa buat Vincent,katakan padanya saya akan menjenguknya besok". Kata ayah Jasmine.


"Baik Pa". Balas Jasmine.


Setelah jam yang sudah di tentukan tiba,mereka berkumpul di lobby rumah sakit untuk siap-siap naik ke ruangan tempat Vincent dirawat.


"Jasen,ingat kata mommy,paman Vincent sedang sakit. Kamu jangan membuat keributan". Kata Jasmine.


"Baik mommy". Ucap Jasen.


"Jasen,paman Hadi mau tanya,seberapa sayang kamu dengan paman Vincent?". Tanya Pak Hadi.


"Jasen tidak tau paman Hadi". Jawab Jasen.


"Pertanyaan Pak Hadi terlalu rumit untuk anak sekecil Jasen. Ehm..biar saya saja yang bertanya". Kata Marco.


"Pak Hadi,Marco. Kita sedang menjenguk orang sakit. Kalian...?". Kata Jasmine.


"Bentar Jasmine,aku belum kasih pertanyaan ke Jasen". Kata Marco.


"Apa yang mau kamu tanyakan?". Tanya Jasmine.


"Jasen,paman mau tanya. Jika paman Vincent jadi papamu,apakah Jasen mau?". Tanya Marco.


"Tidak perlu di jawab Jasen,paman Marco sedang stres". Kata Jasmine.


"Jasmine,biarkan Jasen menjawab dulu. Saya juga penasaran dengan jawaban Jasen". Kata Mia.

__ADS_1


"Jasen mau tidak jika paman Vincent jadi papamu?". Tanya Marco lagi.


"Apakah Jasen boleh mempunyai dua daddy?". Tanya Jasen.


"Tentu saja boleh". Jawab Marco.


"Ehmm...begini Jasen,maksud dari paman Marco adalah Jasen tetap punya daddy Steven,tapi punya papa juga yaitu papa Vincent".Jelas Mia.


"Tentu saja Jasen mau. Jika paman Vincent bisa menjadi papaku,kita bisa sering bermain dan belajar bersama". Terang Jasen.


"Nah,ini lah jawaban yang saya mau. Mantap Jasen". Kata Marco.


"Ternyata kedekatan Jasen dan Vincent sudah lebih dari yang saya kira". Kata Pak Hadi.


"Eh,bukan begitu Pak Hadi,seperti yang Jasen katakan,mereka hanya bermain dan belajar bersama". Jelas Jasmine.


"Tapi ini lah yang Jasen butuhkan,bukan hanya sekedar status saja menjadi ayah tapi juga perlu di terapkan. Apakah Steven pernah melakukannya?". Tanya Pak Hadi.


"Steven jarang sekali ikut bermain dan mengajari Jasen belajar. Dia hanya mengawasi Jasen". Jawab Jasmine.


"Sekarang kamu tau kan perbedaan dari Steven dan Vincent? Anak kecil juga tau siapa yang lebih tulus". Kata Pak Hadi.


"Kita sudah sampai lantai dua belas,kamar dua belas sepuluh ya?". Tanya Marco.


"Ini dia kamarnya". Kata Mia.


"Halo permisi". Kata Pak Hadi.


"Hah? Kenapa kalian tau aku disini?". Tanya Vincent.


"Saya memaksa Pak Robert untuk mengatakan dengan jujur". Jawab Jasmine.


"Paman Vincent kenapa ada pipa di tangan paman?"Tanya Jasen.


"Eh,ini bukan pipa Jasen,ini namanya infus". Kata Vincent.


"Pak Vincent,kamu membaca buku sebanyak ini untuk apa?". Tanya Marco.


"Apa pasien di perbolehkan untuk baca buku?". Tanya Pak Hadi.


"Eh,itu...karena saya merasa bosan tidak ada kegiatan,dari pada saya hanya berbaring disini, lebih baik memanfaatkan waktuku untuk membaca buku". Terang Vincent.


"Tapi kamu ini pasien Pak Vincent,kamu lupa ini bukan di hotel,ini rumah sakit". Kata Mia.


"Saya sudah bertanya kepada dokter. Dan saya di perbolehkan dokter membaca buku disini". Jelas Vincent.


"Bentar,Jasmine sini deh. Coba kamu lihat buku apa yang dia baca?". Kata Pak Hadi.


"Memangnya buku apa?". Tanya Jasmine.


"Wow...Bingo. Jasmine,buku yang Pak Vincent baca rata-rata tentang menjadi ayah yang baik". Kata Mia.


"Pak Vincent,saya baru saja bertanya kepada Jasen apakah ingin paman Vincent menjadi papanya,dan dia menjawab tentu saja. Lalu anda membaca buku tentang menjadi ayah yang baik. Hmmm...saya curiga ini sebuah tanda ke jenjang yang lebih serius". Terang Marco.


"Ini bukan satu dua buku tapi sebelas buku dengan jumlah halaman yang lumayan tebal. Kamu membaca semua ini Pak Vincent?". Tanya Pak Hadi.


"Eh,iya. Saya baru selesai membaca dua buku". Jawab Vincent.


"Mana,coba saya lihat judul bukunya."****Be A Good Father, As Soon As Be Father,Hero For My Son". Benar-benar semuanya berjudul tentang menjadi ayah yang baik". Jelas Mia.


"Pak Vincent,saya juga seorang ayah. Tapi saya belum pernah membaca buku tentang menjadi ayah yang baik". Kata Marco.


"Kamu tau sendiri kan Marco,Pak Vincent selalu ingin menjadi yang terbaik dalam peran apapun. Mungkin ini adalah persiapan Pak Vincent untuk menjadi calon ayah".Kata Pak Hadi.


"Eh,abaikan buku-buku itu,kalian semua duduklah. Saya hanya iseng membacanya karena bosan". Kata Vincent.


"Pak Vincent,kenapa kamu tidak mau memberitahu kami kabar kamu masuk rumah sakit? Apa hanya karena takut kita khawatir? Kita semua sangat khawatir dari kemarin,saya juga menelepon kamu tadi siang,kenapa tidak diangkat?". Tanya Jasmine.


"Jasmine,bukannya kamu bilang kita datang kesini untuk menjenguk orang sakit? tapi pertanyaan kamu seperti sedang mengintrograsi. Jangan melontarkan banyak pertanyaan kepada pasien yang sedang sakit, itu melanggar kode etik". Terang Pak Hadi.


"Benar Jasmine,kita disini untuk menjenguk Pak Vincent,bukan untuk bertanya". Kata Marco.


"Jasmine,nanti saja tanyanya setelah Pak Vincent sembuh". Sambung Mia.


"Ehmm...baiklah. Maaf Pak Vincent". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,saya yang seharusnya minta maaf kepada kalian telah membuat kalian khawatir". Kata Vincent.


"Tapi yang paling khawatir itu Jasmine". Kata Marco.


"Cukup ya Marco". Ucap Jasmine.


"Lalu bagaimana keadaan bapak sekarang? Apakah badan masih terasa tidak enak?". Tanya Pak Hadi.


"Hari ini sudah lebih baik". Kata Vincent.


"Baguslah,semoga bapak lekas sembuh". Kata Pak Hadi.


"Terimakasih Pak Hadi".Ucap Vincent.


"Ini kita membawa buah dan beberapa makanan yang mungkin bapak boleh makan. Semuanya kita letakkan di meja ini ya?". Kata Mia.


"Terimakasih banyak semuanya. Masih merepotkan kalian". Kata Vincent.


"Lah,Jasmine bicaralah. Kenapa diam saja". Kata Marco.


"Saya sudah bicara tadi". Kata Jasmine.


"Tadi itu bukan bicara tapi bertanya". Kata Mia.


"Mia,kamu ini...". Kata Jasmine.


"Bicaralah sedikit kepada Pak Vincent,jangan diam-diam saja". Bisik Mia.

__ADS_1


"Pak Vincent maaf saya membawa Jasen kesini,semoga tidak menganggu kamu. Jasen bertanya tentang kamu dari semalam,saya pikir lebih baik dia melihat sendiri kondisi mu saat ini". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,saya senang sekali melihat Jasen ada disini". Ucap Vincent.


"Paman,kapan kamu akan mencabut pipa ini dari tanganmu? Apakah ini sakit?". Tanya Jasen.


"Tidak Jasen. Ini adalah obat yang akan masuk ke tubuh paman,supaya cepat sembuh". Jawab Vincent.


"Kenapa tidak ada siapapun disini? Siapa yang menemani kamu?". Tanya Pak Hadi.


"Ayah saya sudah pulang sebelum kalian datang. Dia tidak menceritakan bahwa dia telah memberitahu kalian. Ibuku dua hari yang lalu sudah kembali ke luar negeri untuk mengurus beberapa pekerjaan disana". Terang Vincent.


"Lalu siapa yang menemani kamu selama kamu dirawat disini?". Tanya Pak Hadi.


"Hanya ditemanin oleh buku-buku itu". Jawab Vincent.


"Apa Pak Robert tidak menemani kamu disini?". Tanya Marco.


"Saya menyuruhnya untuk pulang. Dia juga kelelahan mengurus perusahaan. Saya disini tidak perlu ditemani,jika ada apa-apa,saya bisa memanggil dokter dan suster". Kata Vincent.


"Bagaimanapun juga,seorang pasien harus ada seseorang yang menemani".Kata Mia.


"Jangan khawatir,saya tidak apa-apa, saya bisa jalan sendiri ke toilet dan melakukan aktivitas lain". Jelas Vincent.


"Tapi tetap saja bahaya jika kamu melakukannya sendirian,bagaimana jika kamu tiba-tiba pusing dan terjatuh?".Kata Jasmine.


"Benar sekali". Jawab mereka serentak.


Mia,Marco dan Pak Hadi serentak melirik Jasmine untuk memberi kode supaya Jasmine menemani Vincent di rumah sakit. Namum Jasmine tidak mengerti kode yang mereka berikan.


"Kenapa kalian semua menatap aku?". Tanya Jasmine.


"Langsung katakan saja Pak Hadi,Jasmine memang tidak peka". Ucap Mia.


"Jasmine,sebaiknya kamu menemani Pak Vincent disini. Dia perlu seseorang untuk menemaninya". Kata Pak Hadi.


"Kenapa harus aku?".Tanya Jasmine.


"Jadi harus aku kah yang menjaga Pak Vincent disini? Atau Pak Hadi? Atau Mia?". Tanya Marco.


"Tapi kan tidak harus aku juga,padahal Pak Vincent sudah bilang jika dia tidak perlu ada yang temanin". Kata Jasmine.


"Jasmine,walaupun Pak Vincent bilang tidak butuh ditemanin,tapi setidaknya kamu peka dikit. Kamu tega melihat dia sendiri disini?". Kata Pak Hadi.


"Saya juga tidak bisa menemani Pak Vincent,ada Jasen yang harus saya urus". Kata Jasmine.


"Eh,kalian jangan pusingkan hal ini,saya tidak masalah sendirian. Saya juga cuma tidur atau membaca jika tidak bisa tidur". Kata Vincent.


"Hmmm...bagaimana jika Jasen biar saya urus? Saya bisa mengatarnya ke sekolah atau suruh bus sekolahnya jemput di rumah saya". Kata Mia.


"Eh,itu bukan ide yang bagus Mia". Kata Jasmine.


"Jasen titip ke papa saja". Ucap ayahnya Jasmine yang tiba-tiba masuk ke ruangan.


"Papa mama? Kenapa kalian disini? Bukannya papa bilang besok baru datang menjenguk?". Tanya Jasmine.


"Paman,tante,selamat malam". Salam dari yang Mia,Marco dan Pak Hadi.


"Paman,tante,kenapa membuat kalian datang malam-malam begini?". Tanya Vincent.


"Selamat malam semuanya.Saya memang bilang besok baru datang menjenguk Vincent. Setelah saya menelepon temanku Robert,dia memberitahukan aku bahwa Vincent sendirian dan tidak ada yang menemani di rumah sakit,saya dan istri langsung inisiatif membawa baju Jasmine kesini lalu membawa Jasen pulang. Jadi Jasmine bisa menemani Vincent disini". Terang ayah Jasmine.


"Paman memang paling gercap. Terimakasih paman,saya sudah kehabisan kata-kata tapi Jasmine masih saja tidak peka". Kata Pak Hadi.


"Apakah anak saya tadi ada menindas pasien yang sedang sakit?". Tanya ayah Jasmine.


"Hampir paman,tapi untungnya ada kita". Kata Marco.


"Kalian ini...Pa,apa yang papa lakukan? Papa membawa baju Jasmine kesini?". Tanya Jasmine.


"Iya,mama mu sudah siapkan semuanya". Kata ayah Jasmine.


"Ini Jasmine bajumu". Kata ibu Jasmine.


"Mana baju kantor Jasmine?". Tanya Jasmine.


"Pak Robert memberikan izin kamu untuk tidak masuk kerja,kamu baik-baiklah menjaga anaknya". Kata ayahnya Jasmine.


"Tapi Pa?". Ucap Jasmine.


"Paman tante,jika Jasmine tidak bersedia,jangan di paksa. Saya bisa kok sendiri disini". Kata Vincent.


"Kamu tenang saja,dia tidak punya alasan lagi menolak". Kata ayah Jasmine.


"Paman tante,maaf ya, saya sudah merepotkan kalian. Saya bilang akan membuat pertemuan dengan paman dan tante,tapi kita malah bertemu di rumah sakit". Kata Vincent.


"Tidak apa-apa,yang terpenting sekarang adalah kamu lekas sembuh. Dan jangan lagi membuat orang khawatir dengan merahasiakan keadaanmu. Jika kamu ada masalah apapun harus kabarin mereka". Kata ayah Jasmine.


"Saya mengerti paman,maaf sekali lagi. Saya siap jika paman ingin marahin saya". Kata Vincent.


"Marahin kamu adakah tugas mereka,bukan tugas saya. Tugas saya adalah marahin ayahmu yang ikut bersekongkol denganmu". Kata ayah Jasmine.


"Baiklah,saya terima dengan senang hati jika mereka memarahi saya,semua kesalahan ada di saya, ayah saya hanya mengikuti permintaanku". Kata Vincent.


"Hahaha...kamu pikir aku akan benar-benar memarahi ayahmu? Dasar anak polos,paman hanya bercanda denganmu. Mereka juga tidak akan berani memarahimu kecuali Jasmine". Kata ayahnya.


"Semua-semua Jasmine".Kata Jasmine.


"Kan papa bicara kenyataan". Kata ayah Jasmine.


"Saya sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang peduli terhadap saya,kecuali....". Kata Vincent.


"Kecuali apa? Jasmine lagi?". Ucap Jasmine.

__ADS_1


Semua tertawa mendengar Jasmine sedikit kesal mengatakan itu. Vincent juga tidak bisa menahan tawanya melihat Jasmine. Kali ini Jasmine tidak punya alasan lagi untuk tidak menemani Vincent. Apakah Jasmine akan menjadi pengasuh yang baik untuk Vincent?


__ADS_2