The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Jasmine kecewa


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam mobil Mia,dia langsung memeluk Jasen anaknya yang sedang tertidur. Mia berulang kali menghibur Jasmine agar dia bisa lebih tegar. Karena ketika Jasmine sampai di rumah,dia masih harus melihat muka Steven dan pura-pura seoalah tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa harus aku Mia? Anakku masih kecil,kenapa suamiku harus selingkuh? Saya harus bagaimana menghadapi kenyataan pahit ini?". Ucap Jasmine yang hatinya begitu hancur.


"Jasmine,kamu yang tenang ya. Saya juga tidak habis pikir seorang Steven bisa melakukan hal yang sangat mengecewakan. Tapi Jasmine,kamu harus bertahan sedikit lagi,kita sama-sama pikirkan jalan yang terbaiknya. Untuk sementara,kamu harus menjadi Jasmine yang biasanya di depan Steven". Terang Mia kepada Jasmine.


"Hatiku sakit sekali Mia,sakit sekali. Kita tidak pernah bertengkar dan berantam,kenapa dia tega sekali kepadaku,apa salahku?". Kata Jasmine.


"Steven yang selingkuh,yang salah adalah dia. Kamu adalah istri dan ibu yang baik,kamu sama sekali tidak bersalah". Kata Mia.


"Aku takut aku tidak bisa berpura-pura lagi". Kata Jasmine.


"Kamu bisa,kamu pasti bisa Jasmine! Aku akan selalu mendukungmu. Saya berjanji akan selalu ada untuk kamu. Kamu harus lebih kuat lagi dan bersabar,kita akan cari waktu yang tepat untuk melabrak Steven". Mia berusaha menguatkan Jasmine.


"Baiklah Mia,kamu sudah sangat membantu aku. Aku akan berusaha semampu ku". Kata Jasmine.


"Sudah sampai rumahmu Jasmine,pas sekali Steven belum sampai.Kamu cepat bawa Jasen turun dan tidurkan Jasen di kamar. Jangan lupa ganti pakaian tidurmu agar Steven tidak curiga".Kata Mia.


"Ok Mia,kamu hati-hati di jalan ya,kabarin saya jika sudah sampai rumah". Kata Jasmine.


"Baik". Ucap Mia.


Setelah masuk ke rumah,Jasmine membaringkan Jasen di kamar,dia segera menganti piyama sambil duduk di depan sofa menunggu Steven pulang. Jasmine duduk terbengong dengan pandangan kosong. Tidak terasa sudah setengah jam lebih dia termenung sampai suara klakson dari mobil Steven membangunkannya.


"Jasmine saya pulang". Kata Steven.


"Oh...kamu sudah pulang". Jawab Jasmine.


Setelah melihat wajah Steven,dia tiba-tiba teringat dengan perselingkuhan Steven. Jasmine hampir terjatuh lemas untungnya Steven segera menggapainya.


"Kamu kenapa Jasmine? Sakit? Kamu kelihatan pucat?". Tanya Steven.


"Tidak kok,saya mungkin kelaparan". Kata Jasmine.


"Ini martabak telur yang kamu minta,cepat kamu makan". Kata Steven sambil memapah Jasmine ke meja makan.


"Baiklah,kamu pasti lelah. Maaf ya sudah malam tapi saya masih menyuruhmu beli makanan". Kata Jasmine.


"Tidak masalah Jasmine,yang paling penting kamu tidak kelaparan".Kata Steven.


"Ya udah aku makan ya,kamu sudah makan?". Tanya Jasmine.


"Sudah,tadi makan sama client". Kata Steven.


"Berapa orang?rame?". Jasmine memancing kejujuran Steven.


"Ada lima orang". Steven berbohong.


"Oh,baguslah. Kamu ngak usah tunggu aku,pergilah mandi dan tidur". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,aku jarang temanin kamu makan sekarang. Aku mau temanin kamu sampai selesai". Kata Steven.


"Tidak perlu,kita bukan sedang pacaran. Kamu lupa kita sudah suami istri". Kata Jasmine.


"Justru karena kita sudah suami istri bukannya kita harus lebih sering bersama". Kata Steven.


"Orang kalau sering bersama biasanya akan cepat bosan,apa kamu pernah bosan dengan saya?". Tanya Jasmine.


"Kenapa kamu bertanya begitu,tentu saja tidak". Kata Steven.


"Baguslah kalau begitu,saya sudah selesai makan,kamu cepat pergi mandi". Kata Jasmine.


"Baiklah sayang,aku mandi dulu ya". Kata Steven.


Darah Jasmine serasa mendidih mendengar apa yang dikatakan Steven. Dia tidak pernah menyangka bahwa suaminya tercinta ternyata lebih hebat dari aktor dalam berakting. Melihat wajah Steven saja sudah muak baginya. Namum begitu,dia tau jika dia mau menang,maka dia harus bersabar untuk mendapatkan lebih banyak bukti.


Keesokan harinya,Jasmine kembali bercerita kepada Mia tentang percakapan dia dan Steven. Jasmine sama sekali tidak akan pernah memaafkan perselingkuhan. Mereka kembali berdiskusi apa lagi rencana mereka selanjutnya untuk mendapatkan bukti.


"Saya sangat benci sekali pengkhianatan dan ketidakadilan.Apa kesalahan Steven pantas untuk di maafkan?". Tanya Jasmine.


"Setiap orang punya kesalahan,tapi untuk memaafkan dia atau tidak,hanya kamu yang berhak memutuskan". Kata Mia.


"Aku tidak akan pernah memaafkannya Mia,tidak akan pernah!". Kata Jasmine.


"Lalu apa rencanamu setelah mengumpulkan bukti-bukti?". Tanya Mia.


"Aku mau bercerai,tidak akan ada kata damai". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Apa kamu sudah yakin Jas?" Tanya Mia.


"Bagaimana jika Steven adalah suamimu? Kamu akan memaafkannya begitu saja?". Tanya Jasmine balik.


"Walaupun mungkin tidak ada lagi cinta,tapi saya tidak akan bercerai,saya tidak mau anak-anak saya kehilangan sosok ayah". Kata Mia.


"Jasen sekarang juga sudah kekurangan sosok ayah,apa bedanya dengan bercerai? Aku lebih baik memerankan dua peran sekaligus untuk Jasen daripada dia harus punya ayah yang kurang memperhatikan dia". Terang Jasmine.


"Jas....".Ucap Mia.


"Apa yang harus aku lakukan lagi untuk mendapatkan lebih banyak bukti? Saya sangat butuh itu semua untuk sidang perceraianku". Kata Jasmine.


"Saya sebenarnya kurang setuju terhadap perceraian,tapi saya sudah berjanji akan ada untukmu,akan selalu mendukung setiap keputusanmu". Kata Mia.


"Terimakasih Mia,untuk saat ini saya sangat membutuhkan dukunganmu". Kata Jasmine.


"Baiklah,saya mengerti. Jika kamu sudah memutuskan begitu,maka hal yang penting yang kamu harus lakukan adalah pergokin mereka lagi. Semakin banyak bukti,kamu akan semakin kuat dalam persidangan". Kata Mia.


"Aku pasti bisa,aku ingin menangis untuk saat ini". Kata Jasmine dengan mata yang berkaca-kaca.


"Menangislah Jasmine,itu akan membuat kamu lebih baik". Kata Mia.


Kebetulan di ruangan mereka hanya ada empat orang,dan kedua orang lainnya punya jarak yang jauh dari meja Jasmine dan Mia. Jasmine tidak bisa menahan kuasa untuk menangis,dia segera mencurahkan semua kekecewaannya dalam tangisan.


Mia tidak tega melihat Jasmine sahabatnya di dihianati,dia berjanji akan membantu Jasmine sebisanya.


Dia menawarkan diri agar dia saja yang mata-matain Steven. Karena dia tau Jasmine akan kesulitan jika harus selalu membuntuti Steven dan menyaksikan langsung suaminya selingkuh dengan orang lain.


"Jas,saya ada ide". Kata Mia.


"Ide apa?" Tanya Jasmine.


"Mulai hari ini,jika Steven bertemu client di luar,biar saya saja yang mengikutinya. Kamu di rumah cukup memantau dari GPS kemana Steven pergi".Kata Mia.


"Kamu yakin Mia? Kamu harus izin dulu dengan suamimu". Kata Jasmine.


"Tidak susah untuk mendapatkan izin suamiku, dia pasti akan mendukung aku".Kata Mia.


"Aku sangat berterimakasih". Ucap Jasmine.


"Tidak perlu berterimakasih Jasmine,yang terpenting adalah kondisi mental kamu.Jasmine,kamu harus kuat,kamu masih ada Jasen yang harus kamu jaga. Kita tidak mungkin sering membawa dia keluar malam-malam setiap hari demi membuntuti Steven.Maka dari itu,tindakan yang paling tepat adalah biarkan aku yang melakukannya untukmu. Kamu dan Jasen harus tetap di rumah". Terang Mia.


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Steven setiap malam tiba dengan alasan bertemu client,dia pergi berselingkuh dengan sekertarisnya itu,seakan dia lupa dengan janji nya kepada orang tua Jasmine bahwa dia akan lebih memperhatikan waktu bersama keluarga.


Jasmine pun seperti biasa memberikan izin serta bersikap manis kepada Steven. Perasaan muak yang dia rasakan harus dia tutupi,yang ada di benak Jasmine adalah kini lelaki yang tinggal seatap dengannya adalah musuhnya,bukan suami lagi.


Setelah Steven pergi dengan mobilnya,Jasmine segera menelepon Mia yang berada di lokasi yang lumayan berdekatan dari rumah Jasmine.


"Halo Mia,apa kamu sudah melihat mobil Steven yang baru saja keluar?". Tanya Jasmine.


"Iya Jas,saya melihatnya. Saya akan mengikuti dia dari belakang". Kata Mia.


"Dia melewati Jalan Surakarta dan sepertinya akan berbelok di sebelah kanan. Saya akan pantau terus dari GPS". Kata Jasmine.


"Baiklah Jasmine". Ucap Mia.


"Dia berhenti di lampu merah persimpangan. Kamu masih menemukan mobilnya?". Tanya Jasmine.


"Iya Jasmine,saya berada lima mobil di belakangnya. Saya berusaha tidak terlalu dekatnya agar dia tidak curiga". Kata Mia.


"Kamu hati-hati ya Mia". Kata Jasmine.


"Saya mengerti,ini sudah lampu hijau,sepertinya dia menuju ke sebuah restoran langganan aku dan suami". Kata Mia.


"Sepertinya kamu benar,dia berbelok parkiran Cave Resto". Kata Jasmine.


"Ok,saya tau apa yang harus aku lakukan,kamu tutupkan dulu. Jika dia sudah selesai dari sini,saya akan telepon kamu". Kata Mia.


"Baiklah Mia,kamu masuk dan duduklah di dalam restoran,pantau dengan santai. Tolong pesan makanan dan minuman yang kamu suka,saya yang akan membayarnya". Kata Jasmine.


"Kalau begitu saya akan memesan menu yang paling mahal". Ejek Mia.


"Tentu saja harus,silakan memesan". Kata Jasmine.


"Baiklah,sekarang kamu istirahat dengan Jasen. Saya akan mulai menjalankan tugas". Kata Mia.


Setelah Jasmine tutup telepon.Mia masuk ke dalam restoran tersebut dan duduk beberapa meter dari meja Steven. Mia mengambil tempat duduk yang strategis agar bisa leluasa memantau dan mengambil gambar.

__ADS_1


Terlihat Steven masih duduk sendiri dan sambil memesan minuman.Dia sedang menunggu Lidya sekertarisnya yang belum datang. Steven sesekali melihat handphone nya dan bertelepon. Beberapa menit kemudian,Lidya datang dengan baju yang terlihat seksi dan menggoda.


Moment tersebut segera di abadikan Mia melalui ponsel miliknya. Steven juga memberikan bunga serta kotak kado untuk Lydia. Sepertinya sekretaris Steven itu sedang berulang tahun. Dinner romantis pun di mulai,Mia yang tampak begitu gerah melihat Steven sedang makan malam bersama selingkuhannya,namum dia menahan semua itu demi Jasmine. Untung saja dia yang berada disitu,tidak bisa di bahyangkan jika Jasmine sendiri yang melihat semua itu.


Setelah makan malam selesai,Steven menggandeng tangan Lydia dan mereka berdua keluar dari restoran tersebut. Mia pun diam-diam mengikuti mereka dari belakang,dan mencoba menelepon Jasmine untuk mengarahkan kemana arah Steven pergi melalui GPS.


"Halo,Jas. Ini Steven sudah keluar dari restoran,mereka sepertinya akan menuju ke suatu tempat. Saya sedang mengikuti dia dari belakang". Kata Mia.


"Titik Steven sekarang berada di jalan Mahoni,titiknya berada di tengah,sepertinya dia akan lurus terus". Kata Jasmine.


"Baiklah,saya akan ikutin mereka terus". Kata Mia.


"Mereka berdua saja atau ada orang lain?". Tanya Jasmine seoalah berharap kali ini bukan Lydia orang yang di temui Steven.


"Hanya mereka berdua,tidak ada orang lain. Besok saya akan tunjukan apa yang saya foto". Kata Mia.


"Baiklah,arah Steven sepertinya menuju ke hotel Sky Ten lagi". Kata Jasmine.


"Kamu benar Jas,Steven sudah masuk ke dalam basement hotel. Apa-apa an ini Jas,Steven memarkirkan mobilnya di tempat yang sama dengan yang kemarin". Kata Mia.


"Berarti mereka adalah pelanggan tetap di hotel tersebut. Biarkan mereka masuk dulu ke dalam,setelah kamu masuk,check in saja kamar empat ratus tujuh. Jika kamar tersebut sudah terisi, kemungkinan itu adalah Steven dan Lydia". Terang Jasmine.


"Baiklah,mereka sudah selesai check in,saya akan tanya resepsionisnya.Nanti saya telepon lagi".Kata Mia.


"Baiklah Mia". Kata Jasmine.


Mia masuk dengan sangat hati-hati dan dia mulai bertanya kepada resepsionis hotel tersebut.


"Selamat malam,saya mau pesan satu kamar di kamar empat ratus tujuh".Kata Mia.


"Selamat malam,kamar empat ratus tujuh ya,mohon tunggu sebentar ya,biar saya cek dulu". Kata resepsionis.


"Baik". Ucap Mia.


"Maaf ibu,kamu tersebut sudah terisi. Apakah mau memesan kamar lain?". Tanya resepsionis itu.


"Kamar empat ratus tujuh apakah adalah teman saya Pak Steven?". Tanya Mia.


"Benar sekali Bu,Pak Steven baru saja menempati kamar tersebut".Kata resepsionis.


"Kalau begitu saya mau pesan kamar empat ratus enam atau empat ratus delapan". Kata Mia.


"Baik saya cek dulu ya Bu". Kata resepsionis tersebut.


"Baik". Kata Mia.


"Maaf Bu,kedua kamar tersebut juga sudah terisi,di kamar sebelahnya lagi kosong. Kamar empat ratus sepuluh,apakah ibu mau kamar tersebut? Biar saya bantu check in". Tanya resepsionis.


"Baiklah,saya pesan kamar itu". Kata Mia.


"Baik". Kata resepsionis.


Setelah check in,dengan hati-hati Mia naik ke kamar hotel yang dia pesan tersebut. Karena kamar Mia lebih jauh dua kamar dari kamar Steven. Mia harus lebih memperhatikan gerak-gerik pintu yang ada di luar.


"Halo Jas,kamu benar. Steven dan Lydia ada di kamar delapan ratus tujuh. Berarti mereka sudah sering memesan kamar tersebut. Saya ada di kamar empat ratus sepuluh,saya akan pantau Steven jika dia sudah keluar dari kamar". Terang Mia.


"Maaf Mia,harus membuat kamu melihat apa yang seharusnya tidak di lihat". Kata Jasmine.


"Lebih baik saya yang melihat daripada kamu harus melihat sendiri". Kata Mia.


"Saya sudah liat semuanya Mia,saya hanya bisa pasrah". Kata Jasmine.


"Apa yang saya foto hari ini di tambah dengan apa yang kamu foto,saya rasa kita sudah cukup bukti bahwa dia berselingkuh". Kata Mia.


"Tentu saja,dan sudah beberapa bulan dia berselingkuh tapi saya baru tau sekarang". Kata Jasmine.


"Yang penting sekarang kamu sudah tau,dan Steven tidak akan bisa leluarsa untuk berselingkuh lagi". Kata Mia.


"Karena saya sudah tau,maka saya akan biarkan dia berselingkuh sepuasnya". Kata Jasmine.


"Apa maksud kamu Jasmine?". Tanya Mia.


"Saya akan biarkan dia bersama Lydia sesuai kemauannya,tapi saya akan membuat Steven membayar dengan mahal". Kata Jasmine.


"Saya tidak mengerti Jasmine". Ucap Mia.


"Besok saya akan ceritakan apa yang akan saya lakukan". Kata Jasmine.

__ADS_1


Jasmine sudah sangat sakit hati terhadap Steven,menurutnya perselingkuhan adalah hal yang tidak bisa dimaafkan. Jasmine akan membuat Steven membayar mahal konsekuensinya,apa kira-kira rencana Jasmine?


__ADS_2