The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Jasen bertemu ayahnya


__ADS_3

"Seru sekali ngobrolnya,apa yang kalian bicarakan?". Tanya Jasmine.


"Rahasia laki-laki,iya kan Jasen?". Kata Vincent.


"Iya,rahasia laki-laki". Kata Jasen.


"Hmmm...ya udah kalau begitu. Jasen,nanti ketemu daddy harus patuh ya". Kata Jasmine.


"Ok mommy". Kata Jasen.


"Paman,Jasen boleh susun bentuk lain legonya?".Tanya Jasen.


"Tentu saja,Hmm...Jasen mau bentuk apa,nanti paman mau lihat". Kata Vincent.


"Paman tunggu ya,aku susun dulu". Kata Jasen.


"Ok Jasen". Ucap Vincent.


Jasen lalu pergi menjauh dari Vincent dan Jasmine. Dia begitu antusias menyusun lego untuk dia pamerkan karyanya kepada Vincent.


"Apa Jasen merepotkan kamu?". Tanya Jasmine.


"Tidak sama sekali". Kata Vincent.


"Hmm...baguslah". Kata Jasmine.


"Ini foto keluarga kalian,Jasen masih kecil disini". Kata Vincent sambil menunjuk photo yang ada di depannya.


"Foto itu diambil waktu Jasen berumur dua tahun".Kata Jasmine.


"Hmmm...kamu masih memajang foto pernikahan kalian disini? Ternyata Steven ganteng juga ya". Kata Vincent.


"Biasa saja". Kata Jasmine.


"Ya tapi tetap lebih ganteng saya". Kata Vincent.


"Ujung-ujungnya memuji diri sendiri". Kata Jasmine.


"Hmmm...Jasmine,apakah kamu masih punya perasaan dengan mantan suami kamu?". Tanya Vincent.


"Bagaimana masih ada atas apa yang sudah dia lakukan kepada saya". Kata Jasmine.


"Apa kamu membencinya?". Tanya Vincent lagi.


"Tidak,terlepas dari kesalahannya,dia tetaplah ayah Jasen. Jika sampai saya membencinya,itu akan berpengaruh kepada hubungan Jasen dan Steven". Kata Jasmine.


"Saya mengerti. Jika suatu hari Steven ingin kembali kepadamu,apa kamu akan menerimanya?". Tanya Vincent.


"Itu tidak mungkin,dia sangat tau sifatku. Untuk dia menginjakkan kakinya di rumah ini saya tidak sudi, apalagi harus kembali bersama". Kata Jasmine.


"Jasmine,apa pandangan kamu terhadap lelaki? Apakah kamu melihat semua laki-laki sama dengan Steven?". Tanya Vincent.


"Jujur saja saya tidak terlalu mengerti laki-laki. Steven adalah pacar pertama saya dan kita sampai ke jenjang pernikahan.Saya merasa dia adalah orang yang tepat dalam hidupku saat itu.Dari dia saya tau rasanya dicintai dan mencintai,tapi pada akhirnya...". Kata Jasmine.


"Maaf Jasmine,seandainya aku lebih cepat dari Steven,mungkin kita berdua...".Kata Vincent.


"Kenapa harus minta maaf,ini adalah jalan takdir yang harus saya terima.Kita tidak bisa mengubahnya walaupun kita mau". Terang Jasmine.


"Tetap saja saya sangat menyesal". Kata Vincent.


"Mungkin kita tidak berjodoh". Kata Jasmine.


"Tidak,mungkin kamu memang jodohku dan di takdirkan untukku". Kata Vincent.


"Hmmm...kamu mulai lagi". Kata Jasmine.


"Jasmine,aku serius mau berjuang. Berikan aku kesempatan". Kata Vincent.


"Aku tidak mau membahas ini". Kata Jasmine.


"Jasmine,saya tidak mau peduli berapa kali kamu menolak saya,aku akan berusaha agar kamu bisa merasakan aku tulus mencintai kamu". Kata Vincent.


"Aku sudah tidak percaya dengan cinta. Jangan buang-buang tenaga dan waktumu". Kata Jasmine.


"Aku Vincent bukan Steven. Aku sudah menyukai kamu dari SMA sampai sekarang. Kalau mau menilai setia,aku lebih setia dari Steven. Dia bisa membuat kamu merasa dicintai dan mencintai?Aku juga bisa. Dia bisa menghidupi kamu dan Jasen? Aku juga bisa. Please Jasmine,dulu aku hanya bisa menyesal dalam diam dan turut bahagia melihat kamu menikah dengan orang lain. Dan kini aku punya kesempatan mendapatkan kamu,jangan menyuruh aku berhenti. Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya". Terang Vincent.


"Vincent...ini demi masa depanmu". Kata Jasmine.


"Masa depanku ada kita,ada kamu,aku dan Jasen". Ucap Vincent.


"Aku takut aku yang akan mengecewakan kamu nanti. Percayalah aku tidak sebaik yang kamu lihat".Kata Jasmine.


"Kamu tidak pernah mengecewakan siapapun,saya juga tidak akan mengecewakan kamu". Kata Vincent.


"Kamu bisa terima aku,apa kamu bisa terima Jasen? Dia bukan anak kandung kamu,aku percaya keluarga kamu tidak akan pernah setuju". Kata Jasmine.


"Jika aku sudah memilih kamu,anak kamu adalah anakku juga. Keluargaku tidak pernah menentang. Mereka sangat mendukung aku,walaupun mereka tau siapa kamu". Jelas Vincent.


"Mereka tau status aku dan mereka mendukung? Kamu becanda?". Tanya Jasmine.


"Tidak,suatu hari kamu akan tau kebenarannya,yang aku katakan semua bukanlah bohong". Kata Vincent.


"Karena mereka sayang kamu sebagai anak mereka. Mereka hanya menghargai keputusan kamu dan tidak berani menentang karena kamu akan sakit hati,bukan karena mereka bisa menerima aku. Sudah lah jangan bahas ini lagi". Terang Jasmine.


"Jika kamu sebagai orang tua saya,apa yang kamu lakukan?". Tanya Vincent.


"Apa maksudmu?". Tanya Jasmine.


"Anggap saja suatu hari Jasen mencintai seorang janda satu anak dengan kasus yang sama denganmu,apa kamu akan menentang? Apa seorang janda tidak berhak bahagia? Apa kamu yakin Jasen akan lebih bahagia dengan menikahi gadis daripada janda pilihannya?". Tegas Vincent.


"Vincent...kita jangan bahas ini lagi". Kata Jasmine.


"Jawab dulu pertanyaan saya". Kata Vincent.


"Saya... saya tidak tau". Kata Jasmine.


"Cukup jawab saja,kamu menentang atau tidak jika Jasen memilih janda?". Tanya Vincent lagi.


"Aku...jika memang mereka bisa saling menjaga,saya tidak akan menentang". Terang Jasmine.


"Itu baru namanya tidak egois,begitu juga dengan orang tua saya. Mereka tidak peduli dengan status kamu sebagai apa,jika kita bisa saling menjaga,mereka akan senang menerima kamu dan Jasen di keluarga kita".Kata Vincent.


"Apa dunia ini masih ada orang seperti itu?". Tanya Jasmine.


"Buktinya kamu juga adalah orang seperti itu". Kata Vincent.


"Hmmm....". (Jasmine benar-benar kehabisan kata-kata).


"Paman,lego nya sudah selesai". Kata Jasen.


"Wuahhh...bentuk dinosaurus. Kamu hebat sekali Jasen". Kata Vincent.


"Paman,aku bisa buat lego bentuk paman". Kata Jasen.


"Hah! Masa iya bentuk aku?coba buat paman mau liat. Tapi awas ya jangan sampai bentuk monyet". Kata Vincent.


"Hahaha...tidak dong,paman kan bukan monyet". Kata Jasen.


Mereka bertiga langsung ketawa.Jasmine merasa Jasen cepat sekali akrab dengan Vincent karena anaknya extrovert dan mudah bergaul. Padahal nyatanya Jasen sama dengan Jasmine, sama-sama introvert dan hanya bisa akrab dengan orang yang membuat mereka nyaman.


"Sudah hampir waktunya,Jasen pergi mandi dulu. Bentar lagi kita akan pergi ketemu daddy". Kata Jasmine.


"Tapi Jasen belum siap bentuk lego nya". Jawab Jasen.


"Nanti di lanjutkan,sekarang pergi mandi dulu". Tegas Jasmine.


"Hmmm...paman,Jasen belum selesai susun lego yang bentuk paman". Kata Jasen.

__ADS_1


"Begini saja,Jasen mandi dulu terus pergi ketemu daddy. Setelah pulang ke rumah baru lanjut". Kata Vincent.


"Setelah Jasen selesai susun legonya,apakah paman akan datang lagi untuk melihat hasilku?". Tanya Jasen.


"Oh tentu. Paman harus datang melihat. Sekarang Jasen pergi mandi dulu ya?". Kata Vincent.


"Sudah negonya?Waktunya mandi Jasen". Kata Jasmine.


"Baik mommy". Jawab Jasen.


"Kamu bukannya juga harus siap-siap?". Tanya Vincent.


"Hmmm..kamu tunggu disini sendiri tidak apa-apa kan? Saya siap-siap dulu".Kata Jasmine.


"Baiklah,santai saja".Ucap Vincent.


Setelah beberapa menit kemudian,Jasmine dan Jasen sudah siap untuk pergi.


"Jas,kamu tidak dandan?". Tanya Vincent.


"Emangnya mau ke kondangan?".Kata Jasmine.


"Tapi mau ketemu mantan suami,setidaknya dandan sedikit biar di pangling dan menyesal". Kata Vincent.


"Aku tidak perlu dandan saja dia sudah menyesal. Lagian kamu lupa aku kesana untuk mengantar Jasen bukan untuk bertemu Steven". Kata Jasmine.


"Hmmm...benar sih,bagaimana bisa sih kamu tidak dandan saja sudah secantik ini". Kata Vincent.


"Boleh kita jalan sekarang driver?". Tanya Jasmine.


"Eh..ok. Ayo Jasen kita jalan". Vincent mengandeng tangan Jasen.


"Baik paman". Kata Jasen.


Jasmine aneh melihat Jasen mau saja digandeng Vincent yang baru ketemu sekali. Namum dia membiarkan itu terjadi,yang penting Jasen nyaman dan aman. Mereka pun berangkat menuju lokasi tempat Steven janjian.


"Jasen,nanti kalau daddy tanya dengan siapa kita datang,jawab Jasen apa?". Tanya Jasmine.


"Dengan paman". Jawab Jasen.


"Tidak boleh Jasen,nanti daddy bisa marahin paman. Mau paman di marahin?". Kata Vincent.


"Jadi Jasen harus bilang apa?". Tanya Jasen.


"Naik taxi online". Jasmine dan Vincent menjawab.


"Taxi online? Iya,nanti Jasen jawab naik taxi online". Kata Jasen.


"Hmmm...jangan sampai Steven melihat mobil kamu. Mana ada taxi online dengan mobil mewah". Kata Jasmine.


"Serahkan padaku,bisa di atur". Kata Vincent.


Akhirnya mereka sampai. Vincent memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari restoran. Lalu Jasmine turun membawa Jasen menuju kedalam restoran untuk bertemu dengan Steven.


"Jasmine,aku tunggu kamu disini". Kata Vincent.


"Tidak apa-apa,kamu pulanglah. Terimakasih". Kata Jasmine.


"Aku tidak akan kemana-mana sampai kamu datang. Ya udah cepat pergi". Kata Vincent.


"Hmm...baiklah". Ucap Jasmine.


Di dalam resto terlihat Steven sedang duduk sendirian menunggu Jasen dan Jasmine. Steven terlihat lebih kurus dan tidak terurus.


"Hai Jasen,Hi Jasmine. Lama tidak bertemu". Kata Steven.


"Halo daddy". Ucap Jasen.


"Aku akan pergi,setelah semua selesai. Tolong telepon aku,nanti biar saya yang menjemput Jasen". Kata Jasmine.


"Jasmine,kamu tidak mau ikut bersama kami?". Tanya Steven.


"Baik Mommy". Ucap Jasen.


Jasmine tidak berlama-lama,segera dia meninggalkan Jasen dan Steven. Dia segera berjalan kembali menuju mobil Vincent.


"Hah,sudah?". Tanya Vincent.


"Iya".Ucap Jasmine.


"Bahkan tidak sampai lima menit". Kata Vincent.


"Tugasku selesai,aku hanya mengantar Jasen". Kata Jasmine.


"Hmmmm...tidak apa-apa kamu meninggalkan Jasen sendiri?". Tanya Vincent.


"Tidak apa-apa,itu ayahnya".Kata Jasmine.


"Ya sudah kalau begitu,kita mau makan dimana?". Tanya Vincent.


"Kamu boleh antar aku ke mall seberang. Turunkan saja aku disana,kamu boleh pulang". Kata Jasmine.


"Sepertinya kamu tidak nyimak apa yang saya tanyakan,saya tidak tanya kamu mau turun dimana,saya tanya kita mau makan dimana?". Kata Vincent.


"Tidak perlu,antar saja aku ke seberang". Kata Jasmine.


"Haizz,ya sudah begini saja,kita ke restoran seberang,kita makan siang dulu.Setelah makan siang aku akan temanin kamu jalan-jalan.Sampai waktunya Steven menelepon kamu,aku akan membawa kamu menjemput Jasen pulang". Terang Vincent.


"Vincent,aku tidak mau menganggu dan membuang waktumu. Kamu pikir kamu benaran driver taxi online?". Tanya Jasmine.


"Untuk hari ini iya. Baiklah,saya putuskan begitu. Saya tidak mau menerima segala komentar dari kamu". Kata Vincent.


Mendengar Vincent sudah berkata begitu,Jasmine tidak ada pilihan. Lagian dia juga akan menunggu Jasen. Vincent membawa Jasmine ke restoran yang tidak jauh dari tempat Steven dan Jasen. Disana mereka berdua makan siang bareng.


Sementara ditempat Steven,dia melepas rindu kepada Jasen yang sudah lama tidak bertemu. Namum ada sesuatu yang sudah hilang,Steven menyadari dulu dia punya keluarga kecil yang begitu harmonis dan hangat sekarang sudah tidak utuh lagi.


"Jasen,mau pesan apa lagi? Daddy pesan es krim kesukaan Jasen ya?". Tanya Steven.


"Oke daddy". Jawab Jasen.


"Jasen,apakah di rumah kamu dan mommy baik-baik saja?". Tanya Steven.


"Kita baik-baik saja. Kenapa daddy tidak pulang ke rumah? Kata mommy,daddy sudah tidak tinggal bersama kami lagi.Kenapa?". Kata Jasen.


"Hmmm...begini Jasen,daddy dan mommy sudah...pokoknya nanti Jasen sudah besar baru akan mengerti". Kata Steven.


"Baiklah". Kata Jasen.


"Tadi kakek yang antar kalian ya?". Tanya Steven.


"Bukan,kita diantar paman...".Kata Jasen.


"Paman?Paman yang mana?". Tanya Steven lagi.


"Hmmm...paman taxi".Ucap Jasen.


"Oh,kalian naik taxi?". Tanya Steven.


"Iya daddy,kita naik taxi".Jawab Jasen.


"Jasen kangen tidak sama daddy?". Tanya Steven.


"Tidak". Jawab Jasen.


"Kenapa? Marah sama daddy?". Tanya Steven.


"Tidak,kata mommy tidak boleh marah sama daddy karena daddy sibuk kerja demi masa depan Jasen". Terang Jasen.

__ADS_1


"Hmmm...maafkan daddy ya Jasen.Seharusnya daddy lebih perhatian sama Jasen". Kata Steven.


"Tidak apa-apa daddy. Jasen tidak marah sama daddy". Kata Jasen.


"Terimakasih sayang,makan yang banyak". Kata Steven.


Sementara di tempat Jasmine dan Vincent,mereka juga sedang makan siang bersama. Vincent merasa senang sekali bisa duduk berdua makan siang dengan Jasmine. Sementara Jasmine hanya menyantap makanannya dengan tatapan kosong.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?". Tanya Vincent.


"Hmmm...tidak ada". Kata Jasmine.


"Kamu khawatir sama Jasen?". Tanya Vincent.


"Tidak sama sekali. Tidak ada apa-apa". Kata Jasmine.


"Apa makananya kurang enak? Kalau tidak kita ganti restoran gimana?". Ucap Vincent.


"Tidak perlu,aku hanya sedang menikmati makanan. Tidak bisakah kamu jangan menganggu aku yang sedang makan?". Kata Jasmine.


"Aku merasa kamu tidak menikmati makananmu. Tatapan kamu kosong". Kata Vincent.


"Terus? Apa aku mesti makan sambil tatap kamu supaya tidak kosong?". Tanya Jasmine.


"Benar,itu yang saya mau. Kamu makan siang denganku. Tapi kamu seoalah makan sendirian". Kata Vincent.


"Baiklah kamu mau aku makan sambil melihat kamu kan? Akan saya praktikan". Kata Jasmine.


Jasmine mengunyah makananya sambil melotot Vincent tanpa kedip sedikitpun.Membuat Vincent tidak berkutik melihat tingkahnya.


"Jasmine tolong,saya suruh kamu sambil melihat saya bukan melotot. Sorotan matamu seperti melihat mangsa di depan". Kata Vincent.


"Benar.Jika kamu bisa di telan,maka aku akan menelan kamu hidup-hidup". Kata Jasmine.


"Hahahaha...aku rela jika bisa menjadi makananmu". Kata Vincent.


"Hah udah stop,santap saja makananmu". Kata Jasmine.


Telepon Jasmine tiba-tiba berdering,ternyata Steven menelopon Jasmine. Membuat Vincent seketika berhenti makan.


"Halo". Kata Jasmine.


"Jas,kita sudah selesai makan,saya akan membawa Jasen pulang ke rumah orang tua ku". Kata Steven.


"Baiklah". Kata Jasmine.


"Kamu sudah makan?". Tanya Steven.


"Saya lagi makan sekarang". Kata Jasmine.


"Oh,dengan siapa?". Tanya Steven lagi.


"Dengan papa ku". Kata Jasmine.


"(Pa..papa? Sejak kapan saya jadi papanya?)". Ucap Vincent dalam hati.


"Oh,kalau begitu titip salam untuk papa mama kamu ya?". Kata Steven.


"Baiklah,Pa...Steven titip salam". Kata Jasmine sambil melihat ke arah Vincent.


"(Muncrat) ". Lirikan Vincent ke Jasmine terlihat kesal.


"Ya sudah kalau begitu selamat makan,saya akan jalan sekarang". Kata Steven.


"Ok,telepon aku jika sudah selesai". Kata Jasmine.


"Baiklah".Ucap Steven.


"Sejak kapan saya jadi papa kamu?". Tanya Vincent.


"Untuk hari ini". Kata Jasmine.


"Kamu ini benar-benar bikin gemes". Kata Vincent.


"Mending jadi papaku,daripada aku bilang kakekku".Kata Jasmine.


"Iya,terserah kamu saja ibu ratu.Setelah selesai makan kita mau kemana?". Tanya Vincent.


"Aku tidak tau,lebih baik duduk-duduk saja disini". Kata Jasmine.


"Hmmm...kamu mau kita duduk di restoran ini berjam-jam?". Tanya Vincent.


"Intinya saya males jalan-jalan". Kata Jasmine.


"Ya sudah kita ke cafe lain saja sambil minum kopi". Kata Vincent.


"Tidak ahhh,kamu gila baru juga makan". Kata Jasmine.


"Hmm...apa kamu yakin tidak mau jalan-jalan dulu. Mana tau ada sesuatu yang mau kamu beli". Kata Vincent.


"Tidak ada". Ucap Jasmine.


"Aku tau sebenarnya kamu takut jika ada yang melihat kita jalan berdua. Benarkan?". Tanya Vincent.


"Iya benar".Jawab Jasmine.


"Heran,apa yang kamu takutkan? Kita sama-sama single. Kamu bukan pelakor dan aku tidak lagi selingkuh". Terang Vincent.


"Aku tidak mau ada orang kantor yang melihat kita terus buat gosip di kantor". Kata Jasmine.


"Mereka tidak akan bergosip. Mereka akan sangat senang melihat kita bersama". Kata Vincent.


"Pokoknya saya tidak mau". Kata Jasmine.


"Ikut aku. Hmmm...aku tau tempat dimana bisa duduk lama dan kemungkinan besar tidak ada yang tau". Kata Vincent sambil menarik tangan Jasmine.


"Eh..eh..kita mau kemana!". Teriak Jasmine.


"Pertama-tama kita beli dulu ini". Kata Vincent.


"Apa-apaan ini?". Tanya Jasmine.


"Seperti yang kamu lihat,ini adalah masker dan kaca mata hitam". Kata Vincent.


"Untuk apa ini semua?". Tanya Jasmine.


"Pokoknya ikutin saya saja. Mbak,tolong bungkuskan dua masker dan kaca mata ini. Oh ya,dua jaket ini juga". Kata Vincent.


"Baik Pak". Ucap seorang karyawan store.


"Vincent,ini boutique terkenal". Kata Jasmine.


"Ya terus? Kamu takut saya tidak sanggup bayar?". Tanya Vincent.


"Hmmm...kamu beli masker dan kacamata saja di boutique". Kata Jasmine.


"Daripada kita keliling,kamu bilang tidak mau dilihat orang". Kata Vincent.


"Ya bukan begitu juga maksud saya". Kata Jasmine.


"Ini Pak barangnya,ini kartunya. Terimakasih sudah berbelanja disini". Kata Karyawan store.


"Pakai ini Jasmine,kita akan ke suatu tempat. Saya jamin orang lain tidak akan tau kalau itu kita". Kata Vincent.


"Hah...mau kemana?". Tanya Jasmine.


"Pokoknya ikut saja".Kata Vincent.

__ADS_1


Vincent menarik Jasmine untuk mengikutinya. Mau tidak mau Jasmine mengikuti perintah Vincent. Kira-kira Vincent akan membawa Jasmine kemana?


__ADS_2