The Secret Flowers Sender

The Secret Flowers Sender
Kehidupan masing-masing


__ADS_3

Setelah kebenaran yang memalukan di hotel tersebut telah selesai,sekarang Jasmine mengantongi semua bukti perselingkuhan dan formulir perceraian yang sudah di tanda tangani mereka berdua yang nantinya akan di serahkan kepada kuasa hukum Jasmine. Walaupun perceraian tersebut belum sah karena belum sidang,namum Jasmine sudah tidak bersedia untuk serumah dengan Steven lagi.


Sesuai hukuman yang diberikan Jasmine,Steven harus mengangkat kaki dari rumah mereka dengan membawa barang-barang miliknya.


Keesokan paginya di kantor,Jasmine bekerja seperti biasa. Terlihat jelas Jasmine bermata sembab dan kelihatan tidak begitu sehat, dia bersikeras untuk tetap fokus dengan pekerjaan dan bekerja dengan profesional.


"Jasmine,ini ada jamu sehat untukmu,buatanku sendiri. Kamu kelihatan kurang sehat,pulanglah beristirahat". Kata Mia.


"Tidak kok,saya baik-baik saja". Kata Jasmine.


"Kamu harus jaga kesehatan,yang sudah terjadi biarlah terjadi. Jangan terlalu di pikirkan". Mia menghibur Jasmine.


"Terimakasih Mia,kamu juga jangan terlalu khawatir dengan saya. Aku baik-baik saja". Kata Jasmine.


"Jasmine,handphone kamu bergetar. Sepertinya ada yang menelepon". Kata Mia.


"Biarkan saja". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu silent kan nada deringmu?". Tanya Mia.


"Terlalu ribut,itu Steven yang menelepon. Sudah dua puluh kali dia menelepon pagi ini". Kata Jasmine.


"Lebih baik kamu angkat telepon,tanya apa yang mau dia katakan". Saran Mia.


"Apa yang mau dikatakan sudah jelas semalam,tidak ada yang perlu di bicarakan lagi". Kata Jasmine.


"Mungkin ada sesuatu yang penting. Jasmine aku ada disini,disampingmu. Angkatlah dan dengarkan apa yang mau dia katakan,setelah itu suruh dia jangan menganggumu lagi". Terang Mia.


"Baiklah". Kata Jasmine.


Setelah mendengar saran dari Mia,Jasmine mengangkat panggilan telepon dari Steven dengan terpaksa.


"Halo". Kata Jasmine.


"Jasmine,tolong izinkan aku tinggal bersama kalian sampai sidang keputusan selesai". Kata Steven.


"Jadi,kamu masih mau tinggal di rumah itu?". Tanya Jasmine.


"Benar". Jawab Steven.


"Kalau begitu kamu boleh tinggal di rumah itu sampai sidang keputusan selesai. Tapi saya dan Jasen akan tinggal di rumah orang tuaku. Kunci rumah sudah ada padamu,silakan tinggal semaumu,jika tidak mau tinggal,silakan ambil barang-barangmu pergi dan kembalikan kuncinya". Terang Jasmine.


"Jasmine untuk apa aku tinggal disini sendiri tanpa kalian?". Ucap Steven.


"Untuk apa saya dan Jasen punya kamu,setiap malam waktumu tidak pernah ada untuk kami. Begitu lah yang kami rasakan selama ini". Kata Jasmine.


"Jasmine....". Ucap Steven.


"Ini peringatan sekaligus ancaman untukmu Steven,lakukan sesuai apa yang aku katakan. Jangan telepon aku lagi,sekali lagi kamu telepon,saya akan blok nomormu. Dan satu hal lagi,jangan pernah cari aku di rumah orang tuaku atau di kantorku. Jika aku melihat wajahmu,aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bertemu Jasen lagi". Tegas Jasmine.


"Jas...". (Jasmine langsung menutup telepon). Itu adalah ancaman Jasmine agar Steven tidak menganggu dia lagi,Jasmine tidak mau terpengaruh sama Steven yang akan membuatnya semakin sakit hati. Untuk sementara,Jasmine dan Jasen tinggal di rumah orang tuanya.


Hari demi hari berlalu,kini setiap pulang kerja,Jasmine sama seperti dulu di jemput oleh ayahnya. Dia kembali tinggal bersama orang tuanya sampai Steven siap meninggalkan rumah. Jasmine kembali mendapatkan ketenangan saat berada di rumah orang tuanya.


Jasen juga sangat senang mendapat kasih sayang dari kakek dan neneknya,dia bahkan secepat itu melupakan Steven ayahnya. Walaupun dia pernah bertanya dimana ayahnya,Jasmine hanya mengatakan bahwa ayahnya pergi kerja di tempat yang jauh.


Kring...Kring...(Telepon rumah berdering),segera ayahnya mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata adalah Steven yang menelepon.


"Halo". Kata ayahnya.


"Halo Pa,apakah Jasen ada? Saya sangat rindu dengannya".Kata Steven.


"Hmmm...Jasen ada,dia baik-baik saja". Jawab ayahnya.


"Pa,aku boleh bicara sebentar dengan Jasen?". Tanya Steven.


"Jasen,daddy kamu telepon". Teriak ayahnya.


"Pa,tutup saja telepon nya. Untuk apa dia mencari Jasen". Kata Jasmine.


"Tidak boleh begitu Jasmine,bagaimanapun juga dia adalah ayahnya Jasen. Biarkan Jasen berbicaranya dengannya". Terang ayahnya.


"Halo daddy,kapan daddy pulang?". Tanya Jasen.


"Daddy akan berusaha secepat mungkin pulang,kamu sudah makan sayang?". Tanya Steven.


"Sudah,nenek buat makanan kesukaan aku setiap hari,kakek juga mengajari saya menanam bunga". Kata Jasen.


"Baguslah,kamu harus jadi anak yang baik. Daddy kangen banget sama kamu". Kata Steven.


"Jasen juga kangen daddy". Jawab Jasen.


"Mommy ada gak? Daddy ingin bicara dengan mommy". Kata Steven.


"Mommy...ini...daddy mau bicara dengan mommy". Jasen menyerahkan teleponnya kepada Jasmine.


"Baik Jasen,pergi main sana". Kata Jasmine.


"Halo Jasmine,kamu baik-baik saja kan?". Tanya Steven.


"Tentu saja,lebih dari kata baik. Oh ya,kapan kamu akan keluar dari rumah itu? Kamu sudah ambil barang-barangmu? Ini sudah seminggu lebih". Kata Jasmine.


"Sebelum saya pergi,ada yang mau saya tanyakan". Kata Steven.


"Tanya apa?". Tanya Jasmine.


"Apakah kamu masih punya rasa cinta terhadap saya? Walaupun sedikit?". Tanya Steven.


"Tidak ada.Aku jujur saja,saya sama sekali tidak ada perasaan lagi terhadap kamu". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Kamu pasti sangat membenci saya". Kata Steven.


"Tentu saja,tapi anakku masih darah dagingmu. Demi Jasen aku berusaha untuk tidak membencimu". Kata Jasmine.


"Jasmine,apakah saya masih boleh menghubungi kamu? Jika kita sudah tidak bisa jadi suami istri,aku hanya ingin berteman". Ucap Steven.


"Jangan pernah sekalipun kamu menghubungiku,kita tidak bisa menjadi teman. Bulan depan adalah sidang perceraian kita,setelah semuanya selesai,saya harap kita seperti orang yang tidak saling kenal". Ketus Jasmine.


"Jasmine,sejujurnya saya sangat menyesal dengan perbuatanku. Saya tau apapun yang saya katakan sudah tidak berarti untukmu. Aku hanya ingin kamu tau,kamu dan Jasen sampai kapanpun adalah orang yang paling aku cintai.Sekarang saya sadar,hal terindah dalam hidupku adalah mempunyai istri sepertimu,hal terbodoh dalam hidupku adalah aku telah mengecewakan istriku yang terbaik. Terimakasih Jasmine pernah ada dalam hidupku". Terang Steven.


"Kata-kata kamu itu adalah hal yang seharusnya tidak perlu aku dengar. Kamu pikir aku akan luluh kembali hanya dengn kata-kata indahmu itu? Baiklah,aku kasih tau juga isi hatiku. Hal terbodoh yang pernah ada dalam hidupku adalah mengenalmu dan menikah dengamu". Kata Jasmine.


"Jasmine aku jujur,aku tidak berbohong". Kata Steven.


"Sama,aku juga tidak berbohong. Sudah cukup untuk hari ini,saya mau istirahat. Tolong jangan menganggu saya lagi". Kata Jasmine.


"Baiklah Jasmine,aku mengerti. Besok aku akan serahkan kuncinya kepadamu. Aku akan tinggal di rumah orang tuaku". Kata Steven.


"Saya tidak peduli kamu mau tinggal dimana,yang terpenting adalah sebelum kamu menyerahkan kunci rumah,pastikan dulu barang-barangmu sudah tidak ada dirumah itu. Jika ada barang kamu yang ketinggalan,saya akan membuangnya". Kata Jasmine.


"Baiklah,titip salam untuk ayah dan ibumu,jaga Jasen dengan baik". Kata Steven.


"Tidak perlu titip salam segala,tidak perlu. Bye...". Jasmine langsung mematikan teleponnya.


Keesokan paginya di kantor,wajah Jasmine tampak kelelahan seperti orang yang kurang istirahat. Dia juga menjadi semakin tidak ceria,walaupun Jasmine adalah seorang yang profesional dalam bekerja, namum perceraian dia sedikit berdampak pada pekerjaan nya.


"Mia,kamu melihat proposal yang semalam aku buat gak? Padahal perasaan aku taruh meja tapi kenapa tidak ada ya?". Tanya Jasmine.


"Sini aku bantu cari". Kata Mia.


Setelah mereka berdua mencari kesana kesini tetap saja tidak ada,padahal itu adalah proposal penting kerjasama yang sudah di tanda tangani.


"Dimana ya? Kok gak ada. Mampus lah aku". Kata Jasmine.


"Tenang dulu,kita cari di lemari arsip". Ucap Mia.


"Seingat saya tidak ada saya taruh di lemari arsip". Kata Jasmine.


"Tidak apa-apa,kita cari dulu mana tau ketemu". Kata Mia.


Namum hasil sama saja,mereka belum menemukan proposal yang disebut. Dalam situasi panik,Marco asisten Pak Hadi masuk ke ruangan mereka.


"Sudah kalian tidak perlu cari lagi,proposalnya ada di saya". Kata Marco sambil menunjukan proposal yang ada di tangannya.


"Astaga,saya kira hilang. Gimana ini bisa sama kamu?". Tanya Jasmine.


"Kamu lupa ya,semalam setelah kamu kasih Pak Hadi tanda tangan,kamu langsung pergi ke mesin fotokopi. Tapi proposal ini kamu letakkan di meja Pak Hadi". Jelas Marco.


"Oh iya,sory ya Marco,repotin kamu bawa kesini". Kata Jasmine.


"Kenapa kamu sekarang jadi linglung begini?". Tanya Marco.


"Ngapain minta maaf,saya yang seharusnya minta maaf". Kata Marco.


"Minta maaf apa?". Tanya Jasmine.


"Saya sudah mendengar semua dari Mia. Sebenarnya kita juga sedikit bersalah,saya tidak habis pikir kalau Steven sebrengsek itu,yang saya tau dia itu baik,makanya.....". Ucap Marco.


"Tidak apa-apa,jodohku dengan dia mungkin hanya sampai disini. Tidak orang lain yang perlu disalahkan,semua murni adalah kesalahan dia pribadi". Terang Jasmine.


"Apa Pak Hadi juga sudah mengetahuinya?". Tanya Mia.


"Beliau masih belum tau,tapi setelah semuanya selesai,kamu sendiri yang harus kasih tau Pak Hadi. Dia juga yang sangat mendukung kamu dengan Steven dulu". Kata Marco.


"Baiklah saya mengerti". Jawab Jasmine.


Siang harinya ketika mereka sedang makan siang,Jasmine hanya sibuk kerja. Mia yang melihat itu merasa khawatir akan kesehatan Jasmine.menawarkan Jasmine untuk makan bersama. Namum ajakan tersebut di tolak oleh Jasmine dengan alasan masih kenyang.


"Saya tidak melihat kamu makan apapun daritadi".Kata Mia.


"Tadi sarapan di rumah kebanyakan,serius Mia,saya masih kenyang. Kamu makanlah". Kata Jasmine.


"Ya sudah kalau tidak mau makan,tapi ini roti dimakan ya". Kata Mia.


"Terimakasih". Ucap Jasmine.


Jasmine pun melanjutkan mengetik komputer yang ada di depannya. Telepon kantor berbunyi,Jasmine segera mengangkat.


"Halo,bisa tolong dengan ibu Jasmine?". Tanya sekuriti.


"Ya,dengan saya sendiri. Ada apa pak Deni?". Tanya Jasmine yang sudah kenal suara sekuritinya.


"Oh,maaf Bu menganggu ibu, tapi ini ada suami ibu di depan ingin bertemu dengan ibu". Kata sekuriti.


"Hmmmm..,baiklah Terimakasih Pak Deni". Kata Jasmine.


"Baik,sama-sama Bu". Ucap sekuriti.


Jasmine segera menelepon Mia yang berada di ruang makan kantor. Jasmine meminta Mia yang menemui Steven,karena dia tidak mau menemui Steven.


"Halo Mia,boleh tolong saya?". Kata Jasmine.


"Katakan saja,ada apa?". Tanya Mia.


"Pak Deni telepon katanya Steven sekarang ada di depan kantor kita. Dia sepertinya akan mengembalikan kunci rumah,tapi saya males bertemu dengannya". Kata Jasmine.


"Kamu mau saya yang bertemu Steven?". Tanya Mia.


"Iya,aku minta tolong". Kata Jasmine.

__ADS_1


"Biar saya saja,ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Steven. Bolehkan Jasmine?". Marco merebut telepon Mia dan minta izin Jasmine agar dia yang bertemu Steven.


"Kamu yakin Marco?". Tanya Mia.


"Yakin,jika Jasmine mengizinkannya".Kata Marco.


"Hmmm...baiklah Marco,tapi.....". Kata Jasmine.


"Kamu tenang saja Jasmine,saya mau bicara dengan Steven sebagai teman,saya janji tidak akan membuat keributan dengannya". Terang Marco.


"Baiklah,tolong temui dia ya,bilang saja saya sibuk". Kata Jasmine.


"Ok". Ucap Marco.


Akhirnya Marco yang menemui Steven di depan. Steven terkejut kenapa Marco yang keluar menemuinya,namum Marco mengajak Steven berbicara di ruang tamu kantor agar bisa bicara lebih nyaman.


"Hai Steven,lama tidak bertemu". Kata Marco.


"Marco,saya datang mau menemui Jasmine". Kata Steven.


"Saya tau, karena Jasmine sedang sibuk,saya menawarkan diri untuk menemui kamu. Kamu mau kembalikan kunci kan?". Kata Marco.


"Hmmmm...Marco aku...". Ucap Steven yang mulai panik.


"Yuk,kita ngobrol di ruang tamu saja". Kata Marco.


Setelah masuk ke dalam ruang tamu,Marco memberikan minuman yang ada di dalam kulkas ruang tamu kantor. Disana hanya mereka berdua,sehingga lebih leluarsa untuk berbicara.


"Ini minum dulu,saya sudah tau cerita kalian". Kata Marco.


"Marco,saya memang salah. Tapi kamu harus percaya sama aku. Saya sangat mencintai Jasmine hingga sekarang". Kata Steven.


"Maaf,saya tidak percaya. Orang yang benar mencintai tidak akan membuat orang yang di cintainya terluka". Kata Marco.


"Marco,kamu tau aku. Kamu juga bisa melihat bagaimana hubungan aku dan Jasmine berjalan". Kata Steven.


"Mana kuncinya?". Tanya Marco.


"Ini". Steven menyerahkan kuncinya kepada Marco.


"Saya bertemu denganmu hari ini karena,pertama...saya mau mewakili Jasmine untuk mengambil kunci rumah ini. Dan kedua,saya ingin bilang kalau saya sangat kecewa sama kamu".Kata Marco.


"Marco,saya tau kamu kecewa. Saya mengecewakan semua orang,tapi....". Kata Steven.


"Stop!! Disini kamu cukup mengecewakan,jangan ada kata tapi dan tapi". Kata Marco.


"Saya berharap hanya kamu bisa memandangku sebagai teman di saat orang lain tidak mau lagi melihatku". Kata Steven.


"Saya mewakili Jasmine disini bertemu dengamu,itu karena saya memandangmu sebagai teman. Saya selalu melihat yang terbaik dari dirimu,sampai kamu menunjukan sendiri kalau selama ini aku salah. Aku salah menilaimu,bagaimana kamu begitu menjijikkan Steven?Yang aku tawarkan untukmu adalah berlian yang tak ternilai,tapi kamu sendiri yang memilih sampah". Terang Marco.


"Saya salah". Kata Steven.


"Steven,saya juga seorang pria,seorang suami dan seorang ayah. Di luar memang banyak yang kelihatan lebih menarik,tapi yang memberikan kehangatan dan kebahagiaan tetaplah keluarga kecil kita sendiri". Kata Marco.


"Saya sudah mengaku salah dan akan memperbaikinya,Jasmine tidak mau memberikan saya kesempatan". KataSteven.


"Semua sudah terlambat Steven,saya sebagai temannya dan temanmu juga ikut kecewa,apalagi Jasmine. Anggap saja ini sebagai pelajaran berharga untukmu,sebelum kamu melakukan perbuatan tercela,ada baiknya kamu pikirkan dulu akibatnya. Penyesalan selalu datang terlambat". Jelas Marco.


"Apakah Jasmine benar sibuk atau tidak mau bertemu dengan saya?". Tanya Steven.


"Dia bahkan sering tidak ikut makan siang,menurutmu?".Kata Marco.


"Marco,jika kamu masih menganggap aku teman,tolong nasehatin Jasmine buat makan". Kata Steven.


"Itu pasti saya lakukan,tenang saja". Kata Marco.


"Boleh saya minta tolong untuk update keadaan Jasmine kepada saya?". Tanya Steven lagi.


"Maaf,tidak bisa. Jasmine tidak mungkin baik-baik saja setelah apa yang kamu lakukan ke dia". Kata Marco.


"Aku mohon Marco". Kata Steven.


"Benar maaf Steven. Sepertinya sampai disini saja pembicaraan kita,ada pesan dari Jasmine untukmu. Dia berpesan agar kamu jangan pernah datang cari dia lagi,sampai ketemu di persidangan. Mungkin ini saja yang bisa saya katakan". Kata Marco.


"Terimakasih". Ucap Steven.


Marco mengantarkan Steven keluar dan kembali ke dalam kantor untuk menyerahkan kunci yang di kembalikan Steven.


"Terimakasih Marco". Kata Jasmine.


"Sama-sama Jas,kamu harus jaga kesehatan agar tetap semangat di persidangan. Aku dan Mia akan selalu mendukungmu". Kata Marco.


"Kamu dan Mia adalah teman yang selalu buat saya terharu". Kata Jasmine.


"Oh ya Jas,apa sudah ada surat panggilan pengadilan untuk sidang perdana?". Tanya Mia.


"Sudah ada,Senin depan. Saya mungkin akan ambil cuti selama tiga hari. Akan merepotkan kamu lagi Mia". Kata Jasmine.


"Berarti besok kamu sudah mulai cuti?". Tanya Marco.


"Iya,tapi saya baru akan kasih tau HRD hari ini,saya tidak tau harus tulis keterangan apa". Kata Jasmine.


"Hmmm...tulis saja untuk acara keluarga". Marco memberikan ide.


"Benar,tulis saja seperti yang dikatakan Marco". Ucap Mia.


"Baiklah". Kata Jasmine.


Menjelang sidang keputusan,Jasmine terlihat agak sibuk mempersiapkan diri. Dia sampai minta cuti selama tiga hari. Hal itu memicu tanda tanya di kalangan staf kantor,dan mereka juga mencium sinyal keretakan hubungan pernikahan Jasmine. Apalagi sudah hampir sebulan lebih Jasmine selalu di antar jemput oleh ayahnya. Terlihat sewaktu Steven datang ke kantor,yang menemui Steven adalah Marco bukan Jasmine.

__ADS_1


Apakah sidang akan berjalan dengan lancar?


__ADS_2