The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FOURTEEN


__ADS_3

💟Happy Reading💟


.


.


Hayalan tinggallah hayalan. Memiliki pacar sedingin es kutub membuat Jena harus setia mengelus dada.


Jena POV


Sudah ucapin selamat buat gue? Sudah dong ya hehehe, gua pacaran sama si Kutub yang nggap gue hama.


Tapi  ... Tapi hati gua lagi dag dig dug ser. Serakarang gue sama Ray pacaran! Yeeee!


Kesenangan gue bertahan cuma beberapa jam saja, karena sampainya di Hotel bukan romantisan malah kena omelannya.


Dia bilang pipinya perih karena ditampar Ulfie. Sahabat gue lope deh. Tapi kasihan juga pacar gue ditampar.


Gue cuma mengangguk saat dia mengomel. Ikhlas hati dedek dimarahin sama Bang Ray, hihihi. Bucin banget gue sama Ray.


"Aku mau pulang besok," ujar Ray.


"Ray! Ihh kecepatan banget kita pulangnya sama-sama," cerocosku.


"Gak, siapa suruh main pergi." Ini juga karena dirimu. Gue mencibirkan bibir. Untung sayang.


Mata tajamnya menatap gue, gue dengan cepat menyengir. Bisa-bisanya dia mengintimidasi pacarnya sendiri.


"Ray, kamu pesan tiketnya dua 'kan?" tanyaku dengan perasaan waswas.


"Satu." Untuk semua~Andaikan ucapan Ray seindah iklan SCTV pasti gue senang.


"Terus aku gimana dong?" tanyaku panik.


"Kamu tinggal di sini,  sesuai keingunan kamu," ujar Ray santai. Gue pegang lengannya dan mengguncangnya. Merengek-rengek.


"Yaaaa Rayyyy,  hummm ya ya ya aku ikut pulang," rengekku.


"Aku mau kamu di sini. Lanjutkan studymu di sini dan pulang dengan Jena yang lebih dewasa," ujar Ray membuat gue tertegun. Apalagi tangannya mengusap lembut pipi gue. Gue merinding dapat sentuhannya. Kapan lebih sih? Astaga,  pikiran gue mulai kotor guys,  hihihi.

__ADS_1


"Awww!" Gue menatap sebal kepadanya yang tiba-tiba menyentil dahi gue. Bibir gue mengerucut.


"Appayooo!" Dia malah tertawa. Matanya tajamnya masih memandang gue. Dengan posisi kami dudui berdekatan, dia menatap gue dari samping.


"Kapan sih adegan ciumannya, Thor," batin gue berharap romantisan dengan Ray pagi ini.


"Ayo kita ke Bandara. Gua sebentar lagi flight," ujar Ray. Gua pasrah dan bahu gue merosok. Huwaaaa LDR-an gue.


***


Di terik matahari yang panas membara. Seorang pria tampan dengan wajah babak belurnya memungut sampah-sampah di lapangan sepak bola.


Keringat menetes dari dahi turun ke pelipisnya. Namanya sudah tenar di kampus, banyak yang tahu sosok pembuat onar itu.


Bukan dijauhi malah membuat cewek-cewek terjerak dengan kenalakannya. Jejeran gadis di sana dengan botol meneral serta handuk putih kecil di tangannya.


Jung Aegie Ryung sudah di kenal sebelum masuk ke dalam Universitas ini. Nunanya yang sering ia jemput dan namanya diluar memang populer. Apalagi dia anak dari pengusaha nomor satu Jung Jungkook.


"Ryung!" sapa seorang gadis memberikan Ryung sebotol minuman. Ryung menerimanya dan membuka tutup botolnya.


"Slrupp!" Gadis itu meneguk ludah melihat air mengalir dari tenggorokan Ryung. Dia menenguk ludahnya.


Tidak jauh darinya seorang wanita menatapnya datar. Hatinya terasa perih tapi ia cukup sadar kan posisinya.


"Memangnya aku siapa?" gumamnya dan meninggalkan Ryung. Ryung melihat siulet wanita itu tapi tetap berciuman.


"Gua masih ada hukuman," pamitnya dan memberikan kiss jauh pada semua gadis di sana.


Ryung menabrak Ryeong. Terlihat wajah datar hyungnya. Ryung merangkul pundak hyungnya.


"Butuh bantuan?" tanya Ryeong. Ryung malah berjalan hingga Ryeong ikut berjalan. Melihat kedua anak om Juki berjalan berdampingan sungguh pencuci mata.


"Butuh teman?" tanya Ryung. Ryeong tersenyum tipis dan mengangguk.


Mereka meninggalkan kampus dan Eunbi hanya menggelengkan kepala saat pria itu tidak melakukan hukumannya.


Balkom Kamar Ryeong.


Ryung menyodorkan soju kepada Ryeong yang diterima baik oleh pria itu. Matanya memandang sejauh.

__ADS_1


"Aku dijodohkan," ujar Ryeong. Ryung menatap hyungnya tidak terbaca.


"Sejak kapan zaman Siti Nurbaya ada di sini?" Ryeong terkekeh.


"Nanti biar gua yang ngomong sama Daddy," ujar Ryung. Ryeong menggelengkan kepala.


"Lo kenal gadis itu?" tanya Ryung yang dibalas gelengan Ryeong. Wajah Ryung tidak bisa dibilang santai saat ini.


"Kapan peejodohan itu?" tanya Ryung. Ryeong menyesap sojunya.


"Tahun depan, tepatnya saat dia kelas 3." Ryung tersedak, "Uhukk uhukkk."


"Gila! Bocah, Man," ujarnya tidak percaya.


"Itu masalahnya, gua bisa apa sama bocah?"


Ryung yang otaknya mesum memang selalu ambigu disetiap pemikirannya.


"Walau bocah tapi gua yakin, Bro. Bisalah lu sama dia main," ceplas-ceplosnya. Ryeong memandang kesal adiknya.


"Otak gua tidak sekotor otak lo yang gak bisa jauh dari selangkang," ketus Ryeong. Ryung terbahak. Dia memegang perutnya karena tertawa.


"Hahaha hufgghhh  ... haha arasso," ujar Ryung disela tawanya.


Keduanya sama-sama terdi as m sampai Ryeong membuka bibirnya.


"Ryung, gua kangen sama kita bertiga. Seiring berjalannya waktu kita sibuk," ujar Ryeong.


Ryung menoleh sebentar dan mengangguk."Bagaimana dengan Bali? Kita ke Indonesia," saran Ryung.


"Setuju, sekakian ajak Ray," ujar Ryeong.


"The Triplek's, hehehehhh." Ryung menyengir saat meraka akan mimiliki quality time.


Mereka akan ke Bali tanpa siapapun. Hanya bertiga.


TBC


Jejaknya :)

__ADS_1


Hayoo next part bakal moment Tripleks :)


__ADS_2