The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-NINE


__ADS_3

Happy Reading :)


.


.


Sang Surya mulai menyinari dunia. Burung-burung kecil mulai bersiul merdua. Sayap kecilnya dikapakkan melintasi angkasa.


Seorang pria melengguh. Merenggakkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Setelah dipukuli bertubi-tubi,  badannya harus tidur di sofa yang lebih kecil darinya.


"Enghhh arggghh  ... **** sakit banget nih badan gua," ringisnya membuat wanita yang berdiri di hadapannya menatapnya datar.


"Mulutnya memang sering mengumpat. Bahkan masih pagi," batinnya.


Pria itu membuka mata dan mengumpulkan nyawanya. Dia melihat Eunbi berdiri tak jauh darinya.


Eunbi meneguk ludah melihat Ryung berkali lipat lebih tampan. Wajah bangun tidurnya terlihat cute.


"Khm, cuci mukalah dan ikut sarapan. Jikalau kamu lupa,  kamu ada mata kuliah hari ini," ujar Eunbi datar dan meninggalkan Ryung.


Dretttt, sebuah chat masuk.


Ryeong Hyung


~Ryung mobil gua.


"Kampret, mobilnya ditagih." Ryung malas bangun pagi-pagi.


~Nebeng dengan Ray atau naik taksi.


Ryung mematikan ponselnya cepat. Membuat Ryeong menatap ponselnya datar. Dia memesan grab saja.


Ryung ke dapur dan memutuskan ke kamar mandi mencuci muka. Dia melihat Eunbi bersama kedua putrinya mulai sarapan.


"Eunbi apa gunanya meja makan itu? Kenapa duduk di bawah?" tanyanya mulai menarik kursi meja makan. Eunbi mendongak melihat tingkah Ryung.


Dia menghela napas dan memberikan Ryung sandwich. Dia duduk lagi di dekat si Kembar.


"Dadddadda," racau Gata dan Gita. Eunbi merasa pipinya memanas. Kejadian tadi malam membuatnya tidak punya muka.


"Anak Eunbi sajangnim ingin Asi saat sarapan pun. Nafsu makannya lumayan tinggi," batin Ryung.


"Cepat habiskan sarapanmu," tegur Eunbi melihat Ryung melamun. Ryung menggerutu pelan dan mulai menikmati sandwichnya.


"Gak enak," komentar membuat Eunbi menatapnya tajam.  Melihat Ryung makan dengan lahap dan mengeluarkan protes-protes lainnya. Eunbi merasa ada api di atas kepalanya.


"Tidak usah memakannya jika tidak enak," ketus Eunbi. Ryung tergelak dalam hati melihat wajah marah Eunbi.


"Jika marah-marah terus nanti lo cepat tua," ujarnya santai. Dia pergi tanpa pamit. Eunbi dan kedua anaknya bergegas ke mobil.

__ADS_1


Beginilah Eunbi membawa kedua buah hatinya saat bekerja. Tidak ada yang bisa menjaganya. Mau sewa baby sister, kebutuhannya banyak.


Sesampainya di kampus Eunbi menggedong kedua putrinya susah payah. Hingga laki-laki menghampirinya.


"Han Eunbi sajangnim?" tanyanya membuat Eunbi menangguk.


"Kebetulan saya ada urusan dengan Anda Sajangnim," ujar pria itu membuat Eunbi menatap lekatnya.


"Ah Ryeong," ujar Eunbi saat mengingatnya. Anak berprestasi di sekolahnya dulu. Ryeong mengangguk dan tersenyum ramah.


"Boleh saya bantu,  Sajangnim?" tanya Ryeong. Eunbi menangguk. Ryeong menggedong Gita dan menoel pipi gembul bayi itu.


Mereka berjalan bersisian, seperti keluarga kecil yang harmonis. Apalagi Ryeong memakai stelan Kantornya. Dia memang ada urusan sebentar di kampusnya sebelum ke kantor.


Ryeong ditatap lapar dan kagum oleh seniornya. Betapa ramah dan menawan pria itu.


Setibanya di ruangan Eunbi, Gita meronta di turunkan. Melihat mainannya di karpet bulu, membuatnya bersemangat ingin menyerbu.


"Khamsahamnida," ujar Eunbi tulus.


"Ne, sajangnim."


Eunbi mempersilakan Ryeong duduk. Kenapa bisa Ryung sangat nakal sedangkan Ryeong begitu sopan dan ramah.


Ryeong mulai menjelaskan tujuannya.


***


Bulu mata lentinya, alis tebalnya dan juga hidung mancungnya. bibir tipisnya membuatnya terlihat tampan.


Ketampanan yang tiada duanya.


"Puas memandangku?" Jena kaget saat Ray membuka kelopak matanya. Dia mengipimpit bibirnya ke dalam. Posisinya miring dengan tangan diletakkan di atas dada Ray.


"Menyingkirlah," ujar Ray dingin. Jena cemberut.


"Ray apa beradaptasi yang kamu maksud itu seperti PDKT?" tanya Jena.


Ray terlihat berpikir."Bukan," katanya.


"M-mwo?" Jena tidak percaya.


"Beradaptasi, lalu PDKT, itu tahapannya," kata Ray membuat Jena ingin melahap Ray.


Ray mendorong Jena dan dia duduk. Jena semakin cemberut. Ray tidak ada manis-manisnya setelah semalam.


"Ingat, jika hama sepertimu bertingkah gagal beradaptasi, maka jauh-jauh dariku," ujar Ray membuat Jena meradang.


"Ray bagaimana bisa aku membuatmu jatuh cinta jika tidak ada celah?" tanya Jena kesal.


"Otakmu ada, pikir sendiri," ujar Ray dan meninggalkan Jena.

__ADS_1


"Keluar dari kamarku. Aku ingin mandi," usir Ray dan menarik paksa Jena keluar. Dia mengunci pintunya dari dalam.


"Aishhhit!" umpat Jena. Dia mengapalkan tangan dan menghentakkan kakinya kesal.


"Jena, ikutlah sarapan,  Nak," ujar Aeri.


"Mom aku ingin mandi, tapi tidak bawa baju ganti," ujar Jena.


"Pake baju Echa," ujar Aeri. Jena menatap dadanya dan mengangkat bahu cuek.


Setelah 15 menit,  Jena kbali ke dapur dan menikmati sarapannya. Ray juga turun dengan pakaian casulanya. Jena menatap Ray cemberut.


"Selalu saja keren. Bagaimana jika ada wanita mencoba mendekatinya,  aishhhh!" frustrasi Jena dalam hati.


"Jena kamu tidur di mana?" tanya Aeri membuat Ray tersedak. Jena tersenyum cerah dan menyeringai.


"Tidur di kamar Oppa. Kami tidur bersama,  Mom," ujar Jena mrndapat tatapan tajam Ray. Jungkook hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya.


"Wah apa kamu baik-baik saja,  Sayang? Tidak terjadi apa-apa 'kan?" tanya Aeri menatap Jena dengan suara menggoda kepada putranya Ray.


Ray masam mendegar pertanyaan Jena. Dia tidak menyentuh gadis itu.


"Hehehe sangat disayangkan,  Mom.  Aku ingin sekali mengatakan bahwa terjadi sesuatu,  hehehe," ujar Jena polos membuat Ray ingin melayangkan sendok ke kepala Jena.


Jungkook dan Aeri tertawa. Betapa frontalnya pikiran Jena.


"Kamu harus bersyukur,  Nak. Ray itu tipikal diam-diam mesum," ujar Jungkook membuat Jena mengangkat jedua jempolnya padanya.


"Jena, bagaimana jika Mom menjodohkanmu dengan Ryung saja,  eoh?" goda Aeri menggoda Jena. Ray tetap melanjutkan makanannya.


"Bolwh,  hehehe Mom," ujar Jena membuat Ray tersenyum devil.


"Murahan," batin Ray.


"Tapi Mom, aku dan Ray Oppa sedang beradaptasi. Kami tahap penyuasaian dan aku loyalty terhadapat perasaanku,  Mom," jawab Jena sambil menatap Ray. Aeri terharu melihat besarnya cinta Jena kepada putranya.


"Beradaptasi?" guman Aeri.


"Ya kata Oppa dia manusia dan aku hama,  jadi harus beradaptasi," jelasnya polos.


"Ray," tegur Aeri.


"Mom aku sedang makan dan tidak ingin bertengkar," ujar Ray membuat Aeri mengelus dada. Dia menatap suaminya memelas.


"Ray, Daddy ingin berbicara denganmu nanti malam. Jadi pupang lebih awal dan jangan ke mana-mana," pesan Jungkook.


Ray mengangguk. Jena melanjutkan sarapannya. Sebentar lagi seragamnya sampai. Dia akan ke sekolahnya.


TBC


Thanks for jejak :)

__ADS_1


__ADS_2