The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-THIRTY SEVEN


__ADS_3

Seorang wanita menangis tersedu-sedu di balik pintu rumahnya. Dia ingin mencaci maki pria itu tapi dia juga syok melihat wajah babak belur pria itu.


"Hiksss jahat, hikss," isak Eunbi.


Dia berusaha bangkit dan berjalan gontai ke kamarnya. Eunbi menatap pantulan dirinya di cermin. Bibir mugilnya pucat pasi. Sorot matanya terlihat lelah.


Dia mengusap air matanya dan berjalan ke kamar mandi. Dia memberishkan dirinya.


"Ke mana Gata dan Gita?" gumam Eunbi. Dia merasa bersalah kepada kedua putrinya.


Tak lama suara bel terdengar. Eunbi turun dan mendapati Aeri bercucuran air mata.


"Mom," panggilnya kaget.


"Ap-apa hiks Ryung ke sini?" Mendada perasaan tak enak menyelimuti hati Eunbi.


"Tadi dia ke sini, Mom." Eunbi menangkap sorot mata penyelesan di mata wanita paruh baya di depannya.


"Mom," panggil Eunbi membuat Aeri tersadar dari lamamunannya.


"Lalu setelahnya?" tanya Aeri.


"Dia bi--bilang mau pergi dan pamit," ujar Eunbi terbata-bata. Dia terlalu kecewa hingga mengabaikan kondisi Ryung.


"Hikss maafkan, Mom," lirih Aeri memejamkan mata mengingat wajah anaknya.


Eunbi menuntun Aeri masuk ke dalam dan memberikan Aeri air putih. Dia menemani Aeri yang setia diam.


"Maafkan, Mom. Apa kamu sudah makan, Nak?" tanya Aeri.


"Belum, Mom." Aeri mengajak Eunbi ke rumah Jeneni. Mereka tiba di sana setelah menempuh perjalanan hampir satu jam.


"Mamaaam!" teriak Gata dan Gita girang. Mereka antuasi melihat ibunya kembali, sejak kemarin dia memang tidak mendapat perhatian sang ibu.


"Sayang," lirih Eunbi dan memeluk Gata dan Gita. Eunbi mencium putrinya lama.


"Mari makan," ajak Jeneni.


Mereka makan dan dihiasi racauan candel kedua putri Eunbi.


"Eunbi, kamu sudah berhenti jadi Dosen, Nak?" tanya Jeneni.


"Ya, Grandama," jawab Eunbi.


"Bagaimana jika kamu buka usaha aja, Nak," usul Jeneni.


"Doakan," ujar Eunbi karena dia butuh modal untuk itu.

__ADS_1


"Mommy akan memberikan modal." Eunbi hendak menolak dan Aeri cepat menyela."Ini tidak ada kaitannya dengan Ryung, Nak."


Aeri jadi sedih kembali mengingat putranya pergi tanpa ia tahu ke mana. Bahkan suaminya sudah mencari tahu tapi nihil. Ponsel Ryung juga tidak aktif.


"Ryung tadi ke sini, bagaimana kondisinya?" tanya Jeneni yang belum tahu jika cucunya hilang bak ditelam bumi.


Aeri mendadak kelu untuk bicara. Hingga Jeneni mengatakan hal yang membuatnya sakit.


"Dia salah, Grandma tidak menutupi itu. Tapi, dia ke sini memberikan boneka begitu banyak kepada Gata dan Gita. Grandama juga bisa melihat sorot mata penyesalannya, dia bahkan memeluk grandma," ujar Jeneni sedih. Eunbi merasa pasokan oksigennya menipis. Dadanya sesak.


"Mom, sebaiknya kita bahas yang lain." Jeneni salah paham. Dia pikir Aeri enggan dan masih marah prihal Ryung.


***


Di tempat lain sepasang suami-istri berbaring di kasur dengan TV menyala.


"Em aku yakin Oppa akan baik-baik saja," ujar Keyra kepada suaminya. Ia tahu sejak tadi pikiran suaminya melayang ke tempat lain.


Cup.


"Aku berharap, Sayang. Aku menyesal mengabaikannya," ujar Ryeong.


"Jangan terlalu keras dalam berpikir. Kamu nanti cepat botak, hehehe," canda Keyra. Ryeong tersenyum.


"Kamu pikir aku seperti di novel, eoh. Yang pintar dan pake kaca mata tebal, aku berbeda." Keyra tergelak mendengar ucapan suaminya.


"Dengarkan aku, apa yang terjadi pada keluarga kita jadikan sebuah pelajaran."


"Istriku sangat bijak," ujar Ryeong.


"Ini semua karena kamu. Menuntunku dan selalu bersabar menghadapiku." Ryeong bersyukur Keyra sudah tidak pemalu seperti dulu. Tidak enakan seperti dulu dan tidak sesungkan dulu.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Ryeong.


"Aku hanya menunggu untuk menyusun skripsi. Aku tidak sabar wisudah."


"Aku juga tidak sabar, ingat setelah wisudah kita harus punya anak."


Keyra dan Ryeong memang menunda memiliki anak. Seperti ucapan Ryeong jika ia tidak ingin mengrkakng istrinya. Ia akan membiarkan istrinya mengejar impiannya.


"Ya, aku tahu." Pipi Keyra sangat memerah malu. Ryeong menarik istrinya dan menindihnya.


"Haruskan kita membuatnya sekarang? Usaha dari sekarang," ujar Ryeong mesum mendapat anggukan dari Keyra. Keduanya tertawa dan Ryeong membawa istrinya kepada kenikmatan yang hanya bisa ia berikan.


***


Ray POV

__ADS_1


Sudah sejak tadi gua mencari keberadaan Ryung dan sialnya dia tidak bisa ditemukan. Keberadaannya menghilang.


Ternyata banyak teman Ryung yang tak tahu. Preman pun kenal dia.


"Permisi, Bang. Kenal ini gak?" tanya gua sama preman yang berbadan kekar.


"Ryung," ujarnya membuat gua kaget.


"Iya, ini hyung gua. Gua cari dia, Bang."


"Dia ada masalah? Dia hilang?" Para preman ini berjanji akan mencari Ryung dan menanyakan pada kenalannya.


"Gua akan bantu cari, gua banyak hutang budi sama dia."


Gua sangat sadar sakarang. Disetiap orang nakal yang gua temui dan setiap petunjuk yang gua terima, mereka menagatakan Ryung sangat baik.


"Hyung," lirih gua merasa bersalah.


Gua duduk di pembatas jalanan. Hari sudah semakin gelap, gua masih duduk di sini.


"Terimalah ini," ujar seseorang kepada gua.


"Apa Ini?" Orang ini hanya menyodorkan ponselnya dan gua menempelkan pada kuping gua.


"Ray," panggil Ryung.


"Hyung," sentak gua.


"Kamu di mana, Hyung?" tanya gua panik.


"Gua baik-baik di sini. Jangan cari gua lagi. Gua gak apa-apa. Gua pasti pulang. Tolong jagakan Eunbi dan kedua anak gua juga."


"Hyung," panggil gua.


"Sampaikan pada yang lain juga. Gua baik-baik di sini. Maaf kalau harus hilang kontak dulu. Gua mau tenangin diri dan intropeksi diri."


TutttttĀ  ....


Ray mengacak rambutnya frustrasi. Dia ingin Ryung berada di sini. Dia menahan air matanya. Sudah dibilang, Ray sangat sayang pada keluarganya.


Ray menyodorkan ponsel orang itu dan berjalan gontai ke mobilnya.


"Baiklah, Hyung. Aku akan menjalankan amanahmu," ujar Ray dan menancap gas mobilnya.


TBC


Jejak :)

__ADS_1


__ADS_2