The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FORTY NINE


__ADS_3

Ryung membuat keluarganya terperanggah. Pria itu rajin sekali ke kantornya yang baru saja cabangnya ia buka di Seoul.


Tubuh kekarnya diblaut jas hitam dengan rambut yang rapi. Dia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang sarapan.


Mereka hanya bertiga di rumah besar ini karena Echa dan V kembali ke rumahnya, begitupun dengan Keyra dan Ryeong. Mereka kembali ke aktivitas masing-masing.


Jena dan Ray? Keduanya menghabiskan waktu bersama mengelili dunia. Begitu banyak unggahan foto mereka dari romantis hingga konyol. Sungguh Jena berhasil membuat es dalam hati Ray mencair.


"Ryung!" panggil seorang pria membuat Aeri menggelengkan kepalanya. Jungkook hanya tertawa. Siapa biang keroknya,  inilah dia. Pria dengan rambut acak-cakan, jas di sampirkan di bahunya.


"Levin, Mommy bilang kalau masuk rumah jangan teriak-teriak," omel Aeri membuat Levin meringgis.


Siapa yang tak bangga memiliki istri dan sosok ibu seperti Aeri? Wanita yang memiliki hati lapang. Mendengar kisah Levin, Aeri mengakat pria itu sebagai anaknya.


Perlahan menjagari Levin untuk hidup lebih baik. Walau taj sepenuhnya, tapi pria itu perlahan meninggalkan bisnis hitamnya dan bekerja di perusahan Ryung.


"Makanlah, Nak." Jungkook mengajak Levin bergabung. Mereka tersenyum hangat melihat Levin dan Ryung layaknya saudara.


"Mommy aku ingin melamar Eunbi. Secepatnya kami ingin menikah," ujar Ryung.


"Kamu memang harus menikahinya," ujar Aeri kepada putranya.


"Apa rencanamu setelah menikah?" tanya Levin kepada Ryung.


"Aku ingin membuat rumah di dekat rumah," ujar Ryung. Dia tidak mau jauh-jauh dari ibunya.


"Lalu kamu kapan menikah? Mommy wah Levin hampir jadi bujang lapuk," ujar Ryung mengejek Levin.


Levin mencibir kesal." Bahkan gadis-gadis antrian," ujarnya sombong.


"Itu karena dia takut pistolmu,  atau karena dompetmu tebal," ujar Ryung membuat Levin mendengus.


"Sudah-sudah, setelah kamu menikah, Levin juga harus menikah," lerai Eunbi membuat Levin tersedak.


"Mommy, aku tidak mau menikah," ujar Levin mendapat tatapan tajam Aeri.


"Jadi kamu tidak mau beri Mommy cucu?! Kamu mau jadi batu karena durhaka?!" Ryung dan Jungkook menahan tawa.


"Pffhhhh." Levin mendeli sebal kepada Ryung dan Jungkook.


"Mommy," ujar Levin memelas.


"Tidak! Mommy akan menjodohkanmu jika kamu tidak bisa mencari."


"Ok ok Mommy aku akan mencari sendiri." Levin pasrah. Aeri tersenyum lembut, dia memikirkan kebahagiaan Levin. Meski Levin bukan anak kandungnya, tapi Levin sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Lalu di mana kamu berencana membangun istana bersama istrimu?" tanya Ryung.


"Ck, aku akan membuat rumah di samping rumahmu," ujar Levin.


Jungkook tertawa mendengar rencana keduanya. Baguslah jika mereka dekat, rumah mereka tidak kesepian. Lain ketiga anaknya itu jauh.


"Jadi kapan kamu mau melamar Eunbi?"


"Kalau bisa nanti Mom. Kehamilannya juga sangat besar sekarang."


Memang waktu tak terasa terus bergulir. Kehamilan Eunbi memasuki delapan bulan dua minggu.


***


Eunbi POV


Aku dan Jena beru saja melakukan Vidio Call. Mereka berdua bersemangat menunjukkan tempat yang mereka kunjungi.


Aku hanya mengenakan piayama selutut. Perutku membuatku susah berjalan dan mudah lelah. Aku berjalan pelan menuju karpet bulu di depan TV.

__ADS_1


"Gata, Gita, sudah belajarnya, Nak?" tanyaku pada keduanya. Mereka hobi sekali menggambar walau gambarnya acak-acakan.


Ini semua karena Gata dan Gita menunjukkan gamar yang mereka janjikan jika bertemu Ryung. Pria itu memuji gambarnya hingga keduanya semakin bersemangat.


Ryung benar-benar memanjakan keduanya hingga mereka mulai nakal.


"Mommy, lihat," ujarnya memperlihatkan gambarnya. Aku duduk hati-hati di dekatnya.


"Gambarnya cantik," ujarku kepadanya.


"Mommy Gita juga!" Putriku yang satu ini tak mau kalah. Dia memperlihatkan gambarnya. Melihat Gita membuatku suka tertawa sendiri saat dia memerogoki Jena dan Ray berbuat mesum.


Ting Tong


Aku bangkit hati-hati dan membuka pintu. Aku syok, teramat syok. Ryung datanga bersama keluarganya dengan pakaian rapi. Sementara aku rambut acakan dengan piayama lusuh.


"Ryung," gumamku mendapat tangkulan darinya.


"Daddy!" teriak mereka saat melihat Ryung. Ryung melepas rangkulannya dan menggedong keduanya.


"Daddy kapan bobo di sini?" tanya membuatku malu.


"Mommy," panggilku mendapat tarikan lembut darinya.


Kami akhirnya duduk, bahkan ada Grandma dan Grandfa. Aku bingung dengan kedatangan mereka.


"Sebenarnya ada apa, Mom?" tanyaku tak bisa membendung rasa penasaranku.


"Jadi begini, Nak. Kami ingin melamar kamu untuk Ryung. Kamu mau kan?" Mataku sukses membulay sempurna. Aku menoleh menatap Ryung yang hanya menyengir.


Aku sangat malu dan apakah ada kamera? Aku ingin melambaikan tanganku saat ini juga. Ryung membuatku malu, dia tidak mengatakan apa-apa.


"Tapi,  Mom aku tidak menyiapkan apa-apa." Bisa aku rasa pipiku memanas. Mommy mengenggam tanganku lembut.


"Jadi bagaimana? Kamu bersedia menjadi istri Ryung dan bagian dar keluarga kami, Nak?" tanya Jungkook.


"Iya, Dad." Mereka tersenyum bahagia. Ryung beberapa kali mengatakan kemarin ingin melamarku, aku pikir dia bercanda.


"Besok kita menikah."


Apa?!


Seseorang tolong katakan padaku, apakah ini mimpi? Dia melamarku secara tiba-tiba dan mengatakan besok kami menikah.


Dasar Ryung,  sejarah apa ini? Aku dilamar dalam keadaan memakai piayama dan rambut acak-acakan.


"Ryung," rengekku. Aku kesal sama dia.


"Iya, Sayang?" Sial pipiku malah memerah. Aku ditertawai. Kedua putriku yang polos itu juga tertawa.


Jadi kami berbincang-bincang sampai Mommy dan Daddy pergi bersama Grandma dan Grandfa.


"Dadaaaaa Grandama, Grandfaaaa! Dadaa Grandmom, granddad," ujar Gata dan Gita kepada Jeneni, Rudiger, Aeri dan Jungkook.


"Iya, Nak. Kamu cepat tumbuh besar," ujar Jeneni. Dia semakin tua tapi tetap anggung.


Kini tinggal kami berdua. Aku memperhatikan Ryung yang sejak tadi main bersama Gata dan Gita.


"Ryung kamu bikin aku malu," ujarku membuatnya menarikku ke dalam pelukannya.


"Aku gak perlu kamu dandan cantik,  By. Kamu selalu cantik dalam keadaan apapun," gombalnya membuatku memberinya kecupan di pipinya.


"Daddy, aku ingin belajar naik mobil," ujar Gata membuatku memicing menatap Ryung. Ryung hanya mengangkat alisnya.


"Kamu cepat besar biar Daddy ajarin naik mobil, terus ngebut-ngebu awwww." Aku mencubit pinggangnya. Bisa-bisanya dia mau ngajarin negbut-ngebut.

__ADS_1


"Mommy no  ... no no  ...." Gata dan Gita mengepalkan tangannya dengan menunjukkan jari telunjuknya ke kanan-kiri. Dia melarangku mencubit daddynya. Sepertinya mereka berpihak pada Ryung.


"Tos!" Gata dan Gita langsung adu tos dengan Ryung. Aku mencibir ke arahnya.


"Mommy tidak boleh marah-marah sama Daddy," ujar Gata membuatku menatap Ryung yang bangga dibela Gata.


"Heem, Mommy harus sayang Daddy. Kami sayang Daddy, makanya gak pukul Daddy apalagi cubit Daddy." Bagus ajaran Ryung membuat mereka memihaknya. Ryung tersenyum lebar dan meraih keduanya dengan gemas.


"Anak siapa sih nih?" Ryung tidak bisa menutupi gemasnya kepada Gata dan Gita.


"Anaknya Mommy sama Daddy!" pekik mereka berdua.


"Sayang, jadi kita cuma berdua," lirihku pura-pura sedih. Aku mengelus perutku,membuat mereka bertiga menatapku.


Ryung berbisik ke arah Gata dan Gita membuatku waswas. Melihat senyum kedua putriku, aku merasa tidak enak.


"Mommy kalau tidak mau berdua sama dedek, Mommy harus buat lagi sama Daddy," ujar Gata polos.


"Banyak-banyak," tambah Gita.


"RYUUUUNGGG!  MESUMMM BANGET!" Mereka bertiga terbahak dan berlari ke kamar.


"Ish, anak sama bapak sama aja," gerutuku. Aku bangkit dan memekik saat tiba-tiba tubuhku melayang.


"Kita ke kamar," ajaknya. Aku menenguk ludah gugup.


Ryung membaringkanku di kasur dengan hati-hati. Gata dan Gita sudah tidur di ayunan mereka.


"Mommy, susu Gata," teriak Gata menyembulkan kepalanya di ayunan.


"Sayang awas kamu jatuh, jangan gitu," tegurku.


"Aaaaaa Mommy! Aaaaaa Daddy!" Mereka menggoyang-goyangkan badannya. Aku pikir mereka tidur ternyata tidak, malah minta susu.


"Biar aku yang buatin," ujar Ryung dan pergi ke dapur. Aku turun dari kasur dan menghampiri keduanya.


"Gata, Gita jangan nakal," ujarku. Mereka masih saja menggoyangkan badanya. Gata sudah berhenti tapi Gita masih menggoyangkan badannya.


Tak lama, Ryung datang dengan membawa dua dok di tangannya. Gita semakin bersemengat bersama Gata.


Bruk!


Aku terbalalak kaget saat Gita jatuh. Tangisnya pecah.


"Aduh cup cup cup, Mommy kan bilang tadi, Nak," ujarku sambil merengkuhnya.


"Huwaaaaaaaa!" tangis makin kencang. Ryung mengabil Gita dan menggedongnya.


"Syuuhhtt, cup cup berhenti nangisnya, Nak. Mana yang sakit?" tanya Ryung sambil mengusap jidat Gita yang memar.


"Hikss kepala Gita sakit, Dad," ujarnya parau. Dia berusaha menghentikan tangisnya walau maish seksegukan.


"Auffffhhhhhhggg  ... muachhh, sudah sembuh." Ryung meniup dan mencium luka Gita. Gita menyandarkan tubuhnya di pelukan Ryung.


Aku memberikan Gata susu dan dia meminumnya sampai tidur. Gita juga sudah diayunananya kembali dan minum susunya. Kini mereka berdua tidur. Aku menoleh saat mendengar kekehan Ryung.


"Kenapa?" tanyaku membuat dia malah menarikku ke dalam pelukannya.


"Sekarang waktunya Daddynya yang minum susu," ujar Ryung membuat pipi Eunbi merona malu.


"Mesum," ujar Eunbi membuat tawa Ryung pecah. Menggoda Eunbi sejak dulu adalah hobinya.


TBC


Jejak😁

__ADS_1


__ADS_2