
Halo up again 😅 maka bersabarlah jika gaya bahasanya hanya sederhana :)
.
.
.
Tamu-tamu mulai berpulang. Suasana yang ramai tadi perlahan hening. Kini kedua pengantin itu kembali ke rumah kediaman Jung.
"Ayo masuk ke dalam," ajak Aeri kepada keluarganya. Mereka masuk dan ke kamar masing-masing untuk mandi.
"Mommy, Ey ke mana?" tanya Echa kepada Aeri.
"Dia sama V tadi, Nak. Kamu bikinin susu dulu Gata sama Gita," ujar Aeri.
Kedua anak kecil itu memahan kantuk sejak tadi. Mereka menatap polos Echa. Menunggu susunya.
"Ayo sayang kita ke depan. Kamu duduk sofa dulu," ujar Echa setiba di ruang tamu.
Echa mematung melihat seorang pria yang dirindukannya berdiri tak jauh darinya. Keluarga mereka juga terpaku pada sosok itu.
"Masuk, Nak," ajak Aeri.
"Daddyyyyyyy!" teriak Gata dan Gita bahagia. Kantuk mereka langsung hilang melihat ibunya datang bersama ayah mereka.
Gata dan Gita menubruk kaki Ryung. "Sayang, duduk dulu yuk di sofa," ajak Eunbi. Dia meraih kedua tangan anaknya.
"Daddy," panggil keduanya lagi dan berdiri di depan Ryung. Mereka meletakkan tangan mugilnya di paha Ryung. Mata bulatnya menatap Ryung sorot kerinduan.
Ryung mengusap surai mereka dan mencium pipi mereka bergantian.
"Daddy lebih rindu kalian, Sayang," ujar Ryung. Echa mendekat ke arah Ryung.
"Ryung aku rindu," ujarnya parau. Echa hendak memeluk Ryung tapi dihalangi Gata dan Gita.
"Tidak boleh, Daddy cuma boleh peluk kami," ujarnya serentak.
"Hahahaha." Keluarga mereka tergelak melihat tingkah Gata dan Gita. Ryung hendak memangku keduanya tapi Eunbi menahannya.
"Kamu sakit," lirih Eunbi.
"Kamu duduk di dekat Daddy saja. Daddy capek sayang kamu gak mau kan Daddy capek?" Eunbi mencoba memberi pengertian kepada keduanya.
"Itu sayang diminum dulu susunya," ujar Echa kepada keduanya.
"Mommy Cacha," rengek Gata dan Gita meminta susunya. Echa memberikan kedua susu. Hingga mereka mengantuk.
"Aku harus pulang," ujar Eunbi.
"Loh biarin mereka tidur di sini, kasian juga Gata sama Gitanya sudah tidur." Echa menahan Eunbi.
"Sayang," panggil Echa melihat suaminya. V mendekat ke arah Echa.
"Ya, Queen?" tanya V.
"Bantuin, angkat Gata sama Gita. Dia tidur di kamar aku aja, soalnya ada ayunan di sana." V dan Echa membawa Gata dan Gita.
"Biarin aja mereka tidur di sana. Kasian pasti lelah juga," ujar Ryung.
"Ya sudah, aku juga ngantuk," ujar Eunbi mengucek matanya lucu.
Kini tinggal mereka berdua. Seolah mereka sengaja memberi ruang kepada keduanya.
"Ayo kita tidur," ajak Ryung. Dia membawa Eunbi ke kamarnya.
"Tidur bareng gak apa-apa kan?" tanya Ryung yang diangguki Eunbi.
"He'em," jawab Eunbi sekenanya.
Dia masuk ke dalam pelukan Ryung dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantalan. Ryung miring dan menatap Eunbi intes dari samping.
Dia mengelus perut Eunbi. Eunbi sebenarnya geli tapi dia juga senang. Hal ini yang ia impikan sejak dulu.
"Kenapa dia gak bergerak?" tanya Ryung.
"Dia mungkin tidur," ujar Eunbi.
"Dia cewek apa cowok?" Eunbi menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah mau tau jenis kelamin anaknya. Biar supprise katanya.
"Hey, Sayang. Dedek sudah tidur ya? Daddy padahal mau biacara sama Dedek," ujar Eunbi membuat Ryung tersenyum.
"Ah dia menendang!" pekik Ryung bahagia. Eunbi tersenyum geli melihat binar antuasi Ryung.
Ryung mendekatkan telinganya di perut Eunbi. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar.
Eunbi mengigit bibirnya gemas. Ini Ryung tampan banget. Eunbi dibuat memeleh, apalagi tatapannya itu loh, udah buat melting.
"Selamat malam anak Daddy, tidur yang nyenyak sayang," ujar Ryung sambil mengecup perut Eunbi.
Dia kemudian menatap Eunbi dam mencium bibir Eunbi. Eunbi membalas ciuman Ryung.
"Selamat malam, Sayang," ucap Ryung.
"Selamat malam juga," ujar Eunbi.
Mereka terlelap dan saling mendekap.
__ADS_1
***
(Enak banget nih si Jena pas malam jumat first nigthnya🙈)
Di sinilah sepasang suami-istri baru masuk ke dalam kamar.
"Aku mandi duluan," ujar Ray kepada Jena.
Jena mengangguk dan memberikan Ray handuk. Ray meraihnya dan berjalan ke kamar mandi.
Jena duduk di meja rias. Di sini hanya ada cermin dan parfum laki-laki. Jena berjalan kesusahan ke kopernya dan mengambil alat make upnya. Dia membersihkan make upnya.
Sanggulannya ia lepas berserta mahkota miliknya. Jena cukup lama membersihkan make upnya sampai Ray keluar.
Jena menoleh dan melihat Ray hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Tetes demi setetes air dari rambutnya. Wajahnya juga terlihat fresh.
"Sini aku bantuin," ujar Ray yang bahkan Jena tidak sadar dia sudah ada di belakangnya.
Ray menyibakkan rambut Jena ke samping dan menarik resletingnya turun. Jena menatap pantulan Ray di cermin.
Jena berdiri dan berbalik menghadap Ray. Kedua tangannya mengalung indah di leher suaminya. Ray menyeringai melihat Jena.
Jena menarik dirinya dan merosotkan gaunnya di depan Ray. Ray meneguk ludahnya sendiri melihat Jena hanya mengenakan dalaman berenda berwarna merah.
Kulit mulus bak polesan Jena kini ditatap intes oleh Ray. Ray menarik pinggang Jena mendekat ke arahnya.
"Aku gak apa-apa gak mandi?" tanya Jena serak. Sungguh menggoda dan menggelitik indra pendengar Ray.
Ray mengangguk dan menggedong Jena ke kasurnya yang ditaburi bunga mawar merah. Tubuh Jena mendarat mulus di lembutnya sprai warna putih itu.
"I want you my wife," bisik Ray serak.
"You can doit, Im yours my Husband," balas Jena memberi lampu hijau pada suaminya. Bahkan ia tak segan menampilkan wajah menggodanya.
Jena menarik tengkuk Ray dan menyatukan bibir mereka. Begitu lembut dan intes. Perlahan berubah jadi *******-lumatanya berubah menuntut.
"Aaahhhhh." Desahan indah milik Jena lolos saat suaminya meremas dadanya.
"Rayhhh," desah Jena saat Ray mejilat leher jenjangnya. Tangan Jena menyisir surai milik suaminya.
Tangan kanannya meraba-raba dada suaminya. Jena membusungkan dadanya saat Ray membuka pengait bra miliknya.
Dada Jena begitu sintal dan menggoda. Niple merah pinknya dilumat oleh Ray. Tangan Ray sebelah kiri memainkan niple Jena. Memutar dan memilinnya hingga menekannya.
Jena mengigit bibirnya merasakan sensai permaianan Ray. Tubuhnya bergetar hebat.
"Ashhhh ahhh," desahnya lagi.
"Call me, Sayang," ujar Ray.
Ray menarik celana dalam Jena hingga wanita itu full *****. Tubuh Jena membuat Ray menenguk ludah. Dia membuka paha Jena lebar dan membenamkan kepalanya.
Lidahnya menerobos masuk keliang ****** istrinya. Rintihan dan racauan Jena semakin tidak jelaa. Tangannya menekan kepala Ray.
Jena memekik nikmat saat Ray menghisap klitorisnya. Dadanya membusung ke depan. Kedua kakinya membelit kepala Ray.
"Hoh ahhhh ahhh shhh," racaunya.
"Slruuppp ... ahhh."
Ray memasukkan kedua jarinya ke dalam ****** Jena. Gadis itu kembali mengerang nikmat.
Matanya berkabut gairah sama dengan suaminya. Tak berhenti di situ Ray menjilat leher dan telinga Jena.
Tangan Jena tak diam. Lupakan pengantin malu-malu sebab dia yang memulai. Bagi Jena malam pertama inilah yang ia nantikan.
Sekali tarikan Jena menarik handuk suaminya sampai lepas. Matanya menoleh ke bawah dan menenguk ludah kasar.
Punya Ray? Kalian penasaran, hahaha. Baiklah, sangat besar, panjang dan tegak. Dia seolah siap menerobos selaput darah milik istrinya.
Desahan Ray dan Jena bersahutan. Jena semakin tak kuasa menahan kenikmatannya. Ray semakin mengocok jarinya hingga.
Cortttttt 💦
Ray menunduk dan mengisap semua cairan milik Jena. Napas Jena tersenggal saat klimaks.
"Ray," desahnya serak. Dia bangun dan mendorong suaminya. Jena mendih Ray hingga panyudaranya menyentuh dada suaminya.
Tangannya kembali bermain di dada kekar milik Ray. Hingga ia memaikan abs milik suaminya.
"Crak ... Crak ... Crakkk." Suara decakan lidah mereka serta ciuman yang panas itu memenuhi kamar mereka.
Jena bisa merasakan junior Ray menyentuh vaginanya. Bukannya terganggu, Jena malah semakin menekan bawahnya. Dia membuat Ray mendesah.
"Ahhh Jenaaahh," desah Ray.
"Yes, Baby," sahut Jena dengan kerlingan nakalnya.
Jena bahkan menggoyangkan pinggulnya menggoda Ray. Tubuh mereka sudah berkeringat. Jena mengigit daun telinga Ray dan **********.
Lidahnya bermain di rahan suaminya sampai ke lehernya. Ciuman Jena semakin turun membela dada hingga ke pusar suaminya.
Jena memangan aset milik Ray dan mengelusnya. Mulutnya ia dekatkan dan mengulumnya bak menikmati es krim.
"Slurupp." Ray akui Jena sangat agresif. Permainan gadis ini bak sudah profesional. Jena membuktikan ucapannya kepada Ray, jika dia akan mencari semua ini dan terbuktilah sekarang.
Jena merasa junior Ray semakin penuh dan sesak dimukutnya. Ukurannya yang panjang membuat Jena susah memasukkannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ahhh Jen ... Ahhh," racau Ray.
Dia bangkit dan mendorong istrinya. Ray membuka kaki Jena lebar dan memusatkan juniornya.
"Aughhhhh," erang Jena saat kepala junior Ray masuk. Dia mengencangkan cengkram kuat seprai. Ray kesusahan karena Jena sangat sempit.
"Akhhh ahh Ray sakitt," rintih Jena. Ray memajukan badannya dan menatap intes Jena. Jena menatap Ray juga intes yang berada di atasnya.
"Tahan sedikit, Sayang." Jena mengangguk dan sekali hentakan, Junior Ray merobek selaput darah milik Jena.
"Akhhhhh! Sakitt," rintih Jena. Sudut matanya berair. Ray ******* bibir Jena mengalihkan sakit istrinya.
Ray sengaja tidak bergerak supaya istrinya bisa beradaptasi dengan miliknya. Merasa Jena sudah tenang, Ray bergerak.
Sesekali ringisan istrinya terdengar sampai Jena terbiasa. Sakitnya berubah jadi nikmat.
"Ahhhh ahhhh," desah Jena.
"Kamu sempit, Sayang." Ray semakin mengoyangkan pinggulnya.
Jena mengalungkan tangannya pada leher Ray. Dia membuat Ray menunduk dan Jena bermain di leher suaminya.
"Ahhhh." Desahan demi desahan lolos pada bibir keduanya. Puncak panyudara Jena semakin menegak.
"Faster ahhh Ray, hufhh **** me hard." Jena semakin meracau.
"Of course, Dear." Ray semakin mempercepat tempo goyangannya. Bahkan Jena merasa junior Ray terbenam begitu dalam.
Plokk ... Plokkk ... suara gesekan junior dan ****** Jena terdengar keras.
"Ahhh aku hampirrhhh mencapai ahh puunncakkk," racau Jena.
"Ahhh bersamaan," ujar Ray.
Jena merasa vaginanya mengcengram kuat junior Ray dan Ray merasa juniornya semakin mengeras dan tubuh keduanya bergetar saat mencapai puncak kenikmatan.
Crotttt cortttttt 💦💦💦
"Rayyyyyhhhhhh!"
"Jenaaaahhhhh!"
****** Ray menyembur di dalam rahing Jena. Begitu hangat dan penuh. Ray ambruk di atas tubuh istrinya, sedangkan Jena lemas.
Mereka baru saja mencapai klimaks. Jena tersenyum saat dia berhasil memberi mahkotanya pada suaminya sendiri.
Ray menyanggah kedua tubuhnya seperti posisi push-up di atas tubuh istrinya. Jena tersenyum saat suaminya tersenyum.
"Aku senang jadi yang pertama," ujar Ray membuat Jena memengan wajahnya.
"Dan aku senang, karena orang yang mengambilnya kamu, Sayang."
Cup.
Ray mengecup singkat bibir Jena.
"Olaragah lagi yuk," ajak Jena membuat Ray tertawa.
"Oh istriku sangat agresif," goda Ray.
"Tidak apa-apa istrimu agresif yang penting suaminya juga mesum," ujar Jena membuat Ray mengigit pipinya gemas.
"Ray mendingan yang di bawah kamu gigit," goda Jena. Ray mengakat alisnya. Dia akan menggoda istrinya.
"Aku mau tidur, ini kan yang pertama. Kamu bisa sakit besok," ujar Ray pura-pura pura mengantuk.
Dia mencabut juniornya membuat Jena mendesah pelan.
Ray berbaring di samping Jena membuat Jena mengerucutkan bibir kesal. Ray semakin gencar menggoda istrinya. Dia pura-pura menutup mata.
Jena bangkit dari tidurnya dan langsung mengakang di atas perut Ray.
"Ray," ujar Jena kesal.
"Hahahaha." Ray tergelak membuat Jena merebahkan dirinya di atas Ray. Dia merasa bawahnya berdenyut tapi dia juga ketagihan.
"Top woman, Sayang." Jena tersenyum lebar saat gaya bercinta mereka top woman.
Jena mengakat bokongnya dan mengarahkan junior Ray masuk ke vaginanya. Jena menggoyangkan pinggulnya membuat Ray dan dia mendesah kembali.
Mereka mengulangi kegiatan mereka berkali-kali. Mencapai puncak kenikmatannya.
"Aku suka bercinta, aku ingin bercinta terus," ujar Jena blakblakan saat dia rebahan di dekat Ray. Mereka melakukannya sampai lima kali dengan gaya bercinta yang beda-beda.
"Aku juga suka." Ray menegcup kening istrinya dan memeluk tubuh polos istrinya. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh polos keduanya.
"Kita bulan madu keliling Dunia, tapi aku ingin di Paris dulu," ujar Ray membuat Jena mendongak menatapnya.
"Aku suka Paris." Jena memamerkan deret giginya. Walau wajahnya tampak kelelahan dan mengantuk, gadis itu seolah strong.
"Kita tidur biar besok bisa morning ****," gumam Ray yang diangguki Jena. Jena memeluk Ray merapatkan tubuh polosnya pada tubuh polos suaminya.
Puncak panyudaranya tentu menekan dada Ray dan kaki jenjangnya membelit kaki suaminya.
TBC
Yuhuuu manten baru bela duren author mah bela keyboard 😂😂😂 yang sudah menikah selamat maljum, buat ponakan banyak-banyak 😂😂yang belum sabar aja 😂😂😂
__ADS_1