
Seorang gadis menyeruput minumannya dengan wajah cengo. Sejak tadi sahabatnya yang mungkin sudah kehilangan kewarasaannya terdenyum gaje.
"Ekhm, jadi apa yang membuat seorang Jung Jena tersenyum gaje?" tanya Ulfie sakras.
"Ahahaha, Aaaaaa ...! Gue bahagia!" jerit Jena membuat Ulfie menutup telinga dan meringis malu. Apalagi oengunjung cafe lainnya menatap mereka dengan tatapan terganggu.
"Aduh hello Jena, liat situasi dong kalau mau teriak," kesal Ulfie.
"Ck, apa gara-gara Ray lo jadi senyum kayak sinting tau gak," ujar Ulfie sambil menyeruput american capocino miliknya.
"Tentu dong, Fie. Asal lo tau, Ray itu sember dari segala sumber kebahagian gue." Nah kan, Ulfie sudah duga sahabatnya mulaik kumat bucinnya lagi.
"Tau ah yang bucingin Ray gini," ujar Ulfie pasrah.
"Sruppp ... lo tahu, gue kira Ray gak suka sama tubuh gue. Ternyata dia bahkan nahan napsunya," ujar Jena mengungat kejadian kemarin.
"Buruan cerita, gue rasa lo sinting tau gak telepon gue nangis tadi malam, eh siang ngajak ketemu, bukan wajah zombie habis galong malah wajah gila," sembur Ulfie. Dia khawatir dengan Jena dan ternyata sahabatnya mulai kehilangan waras.
"Ok ... ok berhubung bukan cuma lo penasaran, hahaha. Jadi gini---"
Flash back
"Karena aku--" Jena menahan debaran jantungnya. Dia tahu jawaban Ray bisa saja membuat hatinya mengcolos.
Ray membuka bibir hingga membuat Jena menetskan air matanya.
"Karena aku cinta sama kamu. Aku mau melakukannya saat kita sah sebagai suami istri. Cukup selama ini kamu lakukan semua kepadaku, sekarang waktunya aku menebus semua perbuatanku sama kamu, Sayang." Demi Tuhan, Jena ingin pingsan saat ini. Ray si Omongan Pedas bisa berkata semanis ini. Jangan lupa kata 'sayang' yang membuat hatinya meledak.
Jena menangis terharu dan berhambur memeluk Ray."Hikss aku pasti keliatan ****** banget ya Ray, nawarin kamu tubuh aku dan lakukan apapun buat kamu. Hikss aku rendah, hikss tapi apapun tentang kamu, aku benar-benar sudah hilang harga diri," ujar Jena membuat Ray memeluknya erat. Kecupan di ubun-ubunnya bagai syatan listrik yang menggrtarkan tubuh dan juga hatinya.
"Maaf, Sayang. Kamu bukan ******, kamu kesempurnaan yang aju nodai dengan sikapku," ujar Ray merasa bersalah. Dia mengingat pengorbanan Jena begitu besar. Luka yang ia berikan malah dibalas cinta yang begitu besar oleh wanita didalam pelukannya.
"And will you merry me?" tanya Ray membuat Jena menarik diri dan menatapnya tidak percaya. Jena menyeka air matanya walau terus menetes bahagia. Ia mengangguk.
"Jangan menangis lagi," ujar Ray menyeka air mata Jena.
"Aku terharu," ujar Jena parau.
"Ekhm, Ray kamu kenapa melamarku di sini? Harusnya kamu menyiapkan tempat romantis seperti film-film yabg kita tonton, ah kamu sangat tidak romantis," gerutu Jena membuat Ray tertawa.
"Sama saja, di mana pun, jawaban kamu akan sama," ujar Ray percaya diri. Ish memang sih Jena akan menjawab iya kepadanya.
"Lalu mana cincinnya?" tanya Jena penuh selidik. Ray mengangkat bahu cuek. Jena mengigit bibirnya menahan kesal sekaligus gemas.
Untung sayang.
"Ray," rengek Jena.
__ADS_1
"Arasso."
"Akhh! Apa yang kamu lakukan?" Ray menarik ikat rambutnya dan menarik tangan Jena pelan. dia memasangkan di jari manis Jena dengan senyum mahal miliknya.
"Seperti ini saja dulu," ujar Ray membuat Jena mau tak mau ikut tersenyum.
"Aku sayang kamu, Ray," ujar Jena sambil memeluk erat Ray.
"Aku juga, sayang dan cinta sama kamu." Jena semakin melebarkan senyumannya.
Flashback off
Jen mengakhiri ceritanya dengan senyum manisnya. Ulfie ikut bahagia.
"Chukkaeyo," ujar Ulfi. (Selamat)
"Jena aku harus kembali, Yoongi sudah menunggu." Jena mengangguk dan melihat punggung sahabatnya menghilang dari pintu cafe.
Jena hendak berdiri tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat seorang pria masuk ke dalam cafe dengan penampilan yang tak bisa dikatakan baik.
"Jadi ada urusan apa lo?" tanya pria itu dingin.
"C'mone Ryung, taruhannya nanti malam. Lo bisa bebas tanpa gangguan gue dan tentu gua kagak muncul buat nyicipi ****** lo," ujar pria itu yang membuat Ryung mengeraskan rahang.
"******* lo anjing. Dia bukan ******," desis Ryung dingin membuat Jena meremang.
"Gua tunggu lo nanti malam. Gua harap ****** lo gak temui gua lagi nanti malam," ujar pria berjaket hitam itu. Dia meninggalkan Ryung dengan gigi gemerataknya.
Jena berharap Ryung tidak melihatnya. Dia sangat gemetaran saat ini. Oppanya benar-benar berubah. Ray harus tahu ini. Setelah Ryung pergi, Jena segera meninggalkan cafe.
***
"Mamamam," ujar Gita sambil merentangkan tangan. Eunbi tersenyum melihat putrinya sudah bisa lari.
"Sayang, kamu jangan lari-lari. Nanti jatuh loh," ujar Eunbi.
Ting-tong!
Eunbi menatap pintu rumahnya. Dia beranjak dan terkejut melihat kedatangan seseorang. Tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan.
Ini tidak pernah terlintas dalam benaknya. Lalu apa gerangan kedatangannya? What, ternyata mereka berdua datang.
Eunbi meneguk ludah gugup. Dia membuka lebar pintu dan mempersilahkan masuk.
"Si--silakan masuk," ujarnya gugup. Eunbi tak tahu harus berekspresi apa sekarang. Rumahnya masih berantakan dan tentu mainan kedua putrinya berserakah.
"Glanmaaa!" seru Gata dan Gita.
__ADS_1
Yup, heheeh kalian kira siapa yang datang? Tentu saja kedua orang tua badboy, Ryung.
Gata dan Gita langsung disambut dengan sayang oleh Aeri dan Jungkook.
"Emuahhh ... cup ... cup, Grandma sangat rindu sayang," ujar Aeri.
"Mommy, Daddy, ingin minum apa?" tanya Eunbi gugup.
"Apa saja, Nak." Eunbi memutuskan membuatkan kedua orang tua kekasihnya jus karena cuaca juga panas.
"Em, kamu main dulu, Nak. Ini mainannya," ujar Jungkook memberikan Gata dan Gita sebuah mainan berbie. Gata dan Gita mengingatkannya pada Echa sewaktu kecil, sangat suka berbie.
"Jangan tegang, hahaha apa kedatang Mom dan Dad menganggumu, Nak?" tanya Aeri mendapat gelengan dari Eubi.
Bisa Aeri lihat betapa kacaunya Eunbi. Kantung mata terlihat jelas. Bibir pucat. Sangat bukan Eunbi sekali.
"Mom dan Dad datang ke sini bukan ikut campur, memang kami juga merindukan Gata dan Gita, apalagi Mom sangat menanyakannya." Eunbi tahu Jeneni sang nenek sangat sayang pada putrinya.
"Apa kamu ada masalah dengan Ryung?" tanya Aeri membuat bibir Eunbi bukam. Matanya berkaca-kaca begitu saja.
"Ekhm, sebaiknya Daddy main dengan Gata dan Gita," ujar Jungkook mememberi ruang kepada istrinya dan juga Eunbi.
"Sayang," panggil Aeri lembut sambil mengusap bahu Eunbi.
Eunbi memeluk Aeri erat. Eunbi tahu, dia sangat cengeng saat ini. Aeri juga mengerti perasaan Eunbi bahkan kisah Eunbi terasa lebih berat. Gadis berusia 22 tahun ini memikul berat begitu banyak.
"Ryung, hikss Ryung salah paham, hikss aku juga gak ngerti Mom, hikss dia berubah," ujar Eunbi sesegukkan.
"Mommy mengerti, Nak. Percayalah, Mom mengenal Ryung, dia tidak akan berubah apalagi perasaannya," ujar Aeri mengelus punggung Eunbi.
"Hikss mungkin dia sudah tidak cinta," ujar Eunbi sedih. Memangnya siapa yang mau dengan janda seprtinya? Ryung bahkan terlalu sempurna.
"Ssttt, Mommy minta apapun saat ini, kamu harus percaya sama Ryung. Mommy tidak membelanya tetapi sepertinya dia memang memiliki masalah," ujar Aeri menerawan melihat perubahan dratis putranya.
"Hikss aku harus bagaimana, Mom?" isak Eunbi.
"Kamu jelasin ke Ryung, kamu tahu kelembutan bisa membuat hati seorang pria luluh. Putra Momy itu sangat lembek soal kelembutan, apalagi kalau wanita yang dicintainya," ujar Aeri.
"Makasih, Mom," ujar Eunbi tulus. Dia menyeka air matanya. Yah, dia harus berusaha menjelaskan dan mencari tahu penyebab perubahan Ryung kepadanya.
Selanjutnya Aeri pergi ke taman melihat suami dan juga cucunya. Eunbi hendak menyusul tetapi dia mendapat pesan dari nomor asing.
"Datanglah ke Club nanti malam. Jika tidak, mungkin kamu kehilangan Ryung, dia ingin berbiacara empatata denganmu, rahasiakan ini."
Eunbi begitu bimbang dan merasa bodoh. Dia membalas ya untuk menemui alamat yang dikirim pria itu.
"Apa yang ingin Ryung katakan," gumam Eunbi.
__ADS_1
TBC
Jejak :)