The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FORTY


__ADS_3

Silakan tinggalkan jejak karena tidak akan publikasi kalau vote dan komentarnya kurang.


.


.


.


Seorang pria baru saja keluar dari cafe. Dia baru saja rapat dengan clientnya. Wajahnya masih terlihat bahagia. Mengingat istrinya hamil buah hati mereka.


Pria itu mendekat ke arah mobilnya. Nanti malam dia harus bersiap-siap untuk lamaran adiknya kepada Jena. Ryeong tersenyum tipis mengingat adiknya dulu begitu benci dengan sepupunya.


Netranya menangkap satu objek tak asing baginya. Objek yang membuat ia selalu dihantui rasa bersalah.


Kaki panjangnya meninggalkan tempatnya dengan tergesa-gesa. Dia memegang pundak pria itu.


Bola mata pria itu hampir keluar dari tempatnya. Dia kaget bukan main.


"Ryung," lirihnya. Tanpa peduli pria didekat adiknya, dia memeluk Ryung. Membuat pria itu mematung di tempatnya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja." Ryeong menarik dirinya dan menatap adiknya penuh rasa bersalah. Ryung tersenyum tipis.


"Aku baik-baik saja, Hyung."


"Pulanglah, kamu tidak baik berkeliaran dengan orang yang berbahaya."


Levin merasa dirinya disindir memutar bola mata kesal. Bagaimana tidak? Sejak kemarin reader terus berprasangka buruk kepadanya karena menomopoli cast kesayangan mereka. Sekarang, dia juga disindir oleh Ryeong.


Ryung meringgis tidak enak."Hyung, dia temanku," ujar Hyung. Ryeong menatap sinis ke arah Levin. Levin membalasnya dengan tatapan tak kalah dingin..


"Sebaiknya kita ke sana." Ryung mengajak mereka ke cafe. Ryeong pasrah masuk kembali ke cafe itu lagi.


.


.


.


Ryeong POV


Aku senang mendapati adikku baik-baik saja. Terus terang aku lebih menganggap Ryung itu bungsu ketimbang Ray.


Aku selalu khawatir dengan kelakuannya. Tapi, aku juga tidak membatasi dia. Bahkan dia mabuk di depanku, aku tidak permasalahkan. Biarkan dia menikmati masa mudahnya dengan caranya sendiri.


Tapi, kemarin aku lepas kendali karena dia merusak wanita baik-baik seperti Eunbinim. Kabar itu dari seseorang yang kami tak kenal, awalnya tidak percaya hingga mommy memastikannya dengan paksa kepada Eunbi.


Mendengar kebenaran itu dari Eunbi rasanya darahku mendidih. Tapi sudahlah, aku tidak ingin mengukitnya kembali.


"Bagaimana kabar, Mom?" tanya Ryung kepada kakaknya.


"Dia selalu menangis mengingatmu." Ryung menenuguk ludahnya sendiri. Dia menunduk.


"Mommy pasti sangat kecewa padaku." Ryeong mengembuskan napas.


"Dia memang kecewa kepadamu, tetapi dia juga mencemaskanmu. Kamu tahu, Mommy tak pernah benar-benar marah." Ryung tahu mommynya wanita penyabar.


"Aku merasa akan jadi batu karena kutukannya." Ryung melirih membuat Levin hampir tersedak minumannya. Dia berdehem saat ditatap oleh Ryeong.


"Hyung berhenti menatap Levin seperti itu." Ryung merasa jengah dengan tatapan sinis Ryeong.


"Dia mafia." Ryeong menatap adiknya dengan alis terangkat.


"Dia bukan hanya mafia, Hyung  ... tapi,  dia bagai hyung untukku. Selama lima bulan ini, dia yang membantuku."

__ADS_1


Levin langsung mendongak menatap Ryung dengan pandangan sulit diartikan. Ryeong terdiam.


"Tanpa Levin aku mungkin tinggal di kolom jembatan. Tanpa Levin aku mungkin mati kelaparan. Tanpa Levin mungkin aku masih merasa asing di keluargaku sendiri dan tanpa Levin aku gak mungkin bisa menghasilkan uang sendiri." Ryeong semakin bukam dibuatnya, lalu ia melanjutkan ucapannya,"Bahkan aku selalu bertanya-tanya, pekerjaan apa yang cocok padaku? Aku pikir bekerja di dunia hitam, walau Levin Mafia Internasional, dia sama sekali tidak membawaku terjerumus ke sana."


"Maaf," ujar Ryeong kepada Levin yang diangguki kaku oleh pria itu.


"Kembalilah," ujar Ryeong.


"Aku tidak bisa, Hyung. Aku harus pergi keluar negeri."


"Kamu benar masih ********." Ryung meneguk ludahnya. "Bukan begitu,  Hyung. Tap--"


"Pulang tanpa kata tapi." Ryeong melanjutkan ucapannya," Kamu ingin mommy sakit?"


"Bukan begitu, Hyung." Ryung sangat bingung mengatakannya.


"Ka--kami harus transaksi di Singapur." Ryong memejamkan matanya. Dia tahu maksud adiknya. Dia menyesap coffe miliknya.


Alih-alih marah dia ingin mendengar penjelasan." Katakan pekerjaanmu?" tanya Ryong.


"Hanya merintis sebuah perusahaan.  Ini perusahaan biasa, Hyung."


"Soal transaksi itu, gua yang bekerja bagian itu. Ryung ikut ke singapura karena dia juga punya client untuk bekerja sama dengannya. Akhir-akhir ini perusahannya berkembang pesat. 3R Company."


Ryeong membulatkan matanya. Barusan clientnya tadi juga memuji 3R Comapany dan menyarankan Ryoeng bekerja sama dengan perusahaan itu.


Ryung membasahi bibir bagian bawahnya. "Baguslah jika sekarang kamu sudah bekerja."


"Kalian berdua sebaiknya cepat kembali ke sini karena Jena dan Ray akan menikah."


Ryung bahagia mendengar adiknya menikah walau melangkahinya. Selamanya dia tidak mau menikah jika buka Eunbi, tapi yah mau diapa dia berpikir Eunbi sudah menikah dan mengandung anak suaminya.


"Aku akan pulang di hari pernikahan Ray dan Jena. Katakan pada Mommy aku akan meneleponnya nanti malam."


"Aku mencintaimu, By. Masih seperti kemarin, bahkan makin ke hari rasanya bertambah."


***


Rumah Kediaman Jena.


"Jena," panggil Hana kepada putrinya.


"Yes, Mommy?" tanya Jena kepada Hana.


"Zeza datang, Nak."


"Ah baiklah, Eomma. Manakah dia?" Jena segera menghampiri tante ciliknya.


"Jena!" pekik Zeza bahagia. Jena tertawa dan memeluk Zeza.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Jena kepadanya.


"Sekolah sangat menjenuhkan. Aku bahkan harus beberapa kali mendapat bunga, coklat dan pemberian lainnya." Zeza masih SD tetapi dia sangat cantik. Wajahnya yang blasteran membuat rupanyata terpahat indah.


"Ck," decak Jena melihat Zeza.


"Bagaimana pernikahanmu? Apa sudah matang persiapannya?" tanya Zeza.


"Bahkan persiapan tentang malam pertama juga sudah siap!" Zeza memutar bolah mata jengah. Dia sama seperti Jena begitu angkuh, tapi sayangnya Zeza begitu arogan dan mengendalikan pria.


"Sudahlah Jena, kamu memang bucinnya, Ray." Sebenarnya Jena ingin menjahit bibir Zeza, dia begitu mudah memanggil nama orang yang lebih tua darinya tetapi mau gimana lagi, dari Yuna dan Heseok, dia hanya seorang keponakan karena Zeza saudara dengan papanya.


"Menurutmu aku harus mengenakan rancangan siapa?" tanya Jena kepada Zeza.

__ADS_1


"Gunakan rancangam busa Echa. Dia punya kelebihan tersendiri," ujar Zeza membuat Jena terbalalak.


"Ahhh! Hampir aku melupakan jika calon kakak iparku itu percancang busana!" Jena mengirim chat kepada Echa. Butik Echa memang terkenal.


"Aku merindukan Avy," ujar Zeza.


"Dan kau tidak merindukan Ey?"


"Tentu bodoh, aku merindukan keduanya." Jena terbalalak dipanggil bodoh. Dia menatap tajam Zeza yang dibalas tatapan remeh oleh Zeza.


Jena mengetuk kepala Zeza kencang membuat gadis itu memekik.


"Akhhhh!"


"Zeza ada apa?"


"Eonni,  hiksss Jena memukulku," ujarnya pura-pura menangis.


"Bagaimana, Eomma?" tanya Jena membuat Hana ingin menjahili Zeza.


"Tentu, Sayang kamu harus memukulnya lebih keras."


Zeza mengerucutkan bibir kesal. Jhope yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa ikut tergelak.


Zeza beranjak dan duduk di pangkuan Jhope."Oppa, dia mengejekku," adu Zeza membuat Jhope mengelus rambutnya.


"Haloooooo!" teriakan membahana itu keluar dari mulut gadis bersuarai setengah bahu itu.


Tatapannya beradu dengan Zeza. Tidak tahu permasalahannya,  Amela dan Zeza terlihat tidak saling suka.


"Amela! Aku sangat merindukanmu!" pekik Jena dan memeluk anak pamannya.


"Aku juga merindukanmu my cousin."


Jimin dan Zia muncul dan digendongannya ada Jia yang terlelap.  Bayi itu mudah sekali tidur.


"Zeza, Bunda sama Ayah gak ikut?" tanya Jimin kepada adiknya.


"Bunda sama Ayah akan datang nanti malam."


Mereka mengobrol bersama sampai bunyi dering ponsel terdengar.


"Aku ingin mengangkat telepon dulu." Zeza menatap tajam punggung Amela.


Zia tahu Zeza tidak menyukai putrinya. Bahkan dia jadi canggung, Zeza tidak terlihat seperti anak kecil. Dia bahkan terlihat seperti wanita dewasa yang penuh rahasia dan begitu arogan.


"Oh ya, Keyra hamil." Jena antusiasi mendengar berita itu dari Zia.


"Wah! Aku bakal dapat keponakan lagi."


"Lagi?" tanya Jhope.


"Iya, Dad. Temanku Ulfie kemarin juga lahiran, anaknyq cewek, cantik banget."


"Kalau begitu besok aku akan mengunjunginya."


"Iya, Eomma."


Mereka mulai mengobrol santai dan makan malam bersama telah Yuna dan Heseok datang.


TBC


Jejak :)

__ADS_1


__ADS_2