The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-TWENTY FIVE


__ADS_3

          💟Happy Reading💟


              💟ARTHA'S💟


.


.


Kini Jungkook dengan stelan jas lengkap miliknya. Wajahnya semakin tampan meski usianya tak lagi mudah. Lain halnya dengan putra bungsunya, hanya mengenakan hoodie putih dengan jelana jeans andalanya yang robek-robek.


"Kalian mau ke mana?" tanya Aeri karena tak biasanya putranya berangkat bersama dengan suaminya.


"Ada urusan sebentar, Sayang." Jungkook mengcup kening Aeri sebentar dan disusul Ryung meraih tangan Aeri dan mencium pipi ibunya.


"Ck, Ryung jangan kebiasaan mencium istriku," decak Jungkook kesal.


Ryung memutar bola mata jengah. Ibunya malah bertambah membuatnya jengkel dan menunjuk pipinya agar dicium Jungkook.


Cup.


"Bekasnya harus dihilangkan," ujar Jungkook. Aeri hanya mengangguk dan tersenyum menggoda kepa putranya.


Ryung mengehela napas."Jikalau Daddy lupa, istri Daddy itu Mommyku," kesal Ryung.


"Sudah  ... sudah. Berangkatlah, Ryung  ... kamu harus kembali ke rumah setelahnya," pesan Aeri karena suaminya harus ke kantor. Ryung? Tentu harus pulang ke rumah karena anak itu masih sakit.


"Mommy--" Ucapan Ryung dipotong Jungkook.


"Biarkan dia keluar untuk kencan pertama," ujar Jungkook santai membuat pipi Ryung sedikit memerah. Aeri menahan tawanya agar tidak meledak melihat wajah malu putranya.


"Aish, cepat, Dad." Ryung segera keluar dari rumahnya.


"Pffffhahahaha." Ryung sangat kesal kepada ibunya yang terlihat seperti seorang remaja.


***


"Permisi, Komandan. Ada Mr. Jung ingin bertemu dengan anda," ujar seorang polisi.


Pria yang dipanggil komandan itu keluar dan menemui Jungkook. Dia tersenyum ramah dan ikut duduk.


"Selamat siang, Mr. Jung. Senang bertemu dengan Anda." Jungkook membalasnya sambil tersenyum dermawan.


"Selamat siang juga. Senang bertemu dengan Anda juga Mr. Rik."


"Ada yang saya bisa bantu?"


"Saya ingin memberitahukan jaket yang sedang anda selidiki adalah milik putra bungsu saya."

__ADS_1


Mr. Rik terkejut bukan main. Dia melihat Jungkook bahkan sangat tenang mengatakannya. Dia mengangguk singkat dan menatap pemuda yang memiliki penampilan bad boy.


Ryung ikut menatap Mr. Rik dan tersenyum tipis.


"Anda pasti tahu di balik jaket itu," ujar Mr. Rik kepada Jungkook dan Ryung.


"Tentu, maka dari itu kami ke sini. Barang itu bukan milik putra saya, tetapi milik seseorang."


"Bisakah putra anda menjelaskannya." Jungkook mengangguk dan menatap Ryung.


"Jelaskan."


Ryung mulai menjelaskan dan tentu saja dia tidak menyebutkan nama Levin.


"Anda bisa melakukan tes kesehatan kepada putra saya. Jika dia positive memaki narkoba siapkan saja jeruju besi untuknya."


Jleb. Ryung meneguk ludahnya.


Ryung akhirnya melakukan tes dan hasilnya negatif. Dia bernapas lega dan akhirnya dia bebas tuduhan.


Ryung menatap jaketnya yang disodorkan oleh polwan cantik. Seketika mata polwan cantik itu membulat menatap Ryung. Ryung juga membulatkan mata.


"******!" batin Ryung.


"Yakk! Kamu cowok yang menerobos lampu merah kemarin 'kan?!" Jungkook sontak menatap tajam Ryung.


"Hahaha gila lu,  sudah jadi polisi saja. Apa kabar?" tanyw Ryung sok akrab dan membuat polwan itu terheran-heran.


"Apa maksudmu?!"


"Hahaha Daddy ini teman lamaku dan kami biasa bercanda bersama. Kami akan keluar sebentar," ujar Ryung dan menyeret paksa polwan tak berdosa itu.


Jungkook dan Mr. Rik sama-sama diam menatap kepergian Ryung.


"Dia sangat mirip denganmu. Bahkan lebih gila," ujar Rik.


"Dan dia baru saja mengikuti jejakku memacari seorang yang punya anak. Bedanya aku yang mengalami dan istriku sama dengan posisi Ryung." Rik tertawa mendengar penuturan Jungkook.


"Anakmu sangat gila. Dia melakukan pelanggaran banyak, kau tahu, banyak polisi-polisi mengekuh karena sikap putramu."


Jungkook Tertawa mendengar ucapan temannya. Di depan Ryung dia bersikap seolah tidak mengenal dengan Rik. Biasa saja putranya semakin tidak takut dan berbuat semena-mena.


"Jauhkan dia dengan Levin. Kau tahu, Levin incaranku. Anakmu bisa terlibat dan aku tak bisa menolong lebih."


"Ryung tidak akan menjauhi seseorang yang dianggapnya tidak pernah melukainya. Kau tahu, dia mengaku di depanku bersahabat dengan Levin."


Rik memijat pangkal hidungnya. Jungkook menepuk pundak temannya dan pamit pergi. Dia harus ke kantor.

__ADS_1


***


Ryung memesan taksi setelah membereskan polwan itu. Dia bergegas ke kampus meski tidak punya jadwal.


Dia tanpa mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan Eunbi. Di sana Eunbi menintro beberapa mahasiswa.


"Sampaikan surat panggilan itu kepada orang tua kalian."


Eunbi menatap Ryung bingung. Ryung langsung duduk di dekat Eunbi.


"Kenapa ke sini? Kamu buat pelanggaran lagi?" tanya Eunbi jengah.


"Tidak, hari ini tidak ada mata kuliah. Gu--aku kesini buat ketemu sama kamu," ujar Ryung santai.


"Ekhm, ada apa?" Eunbi berusaha agar wajahnya terlihat normal meski dia ingin sekali menjerit bahagia.


"Kita kan pacaran," kata Ryung. Pipi Eunbi memerah malu mengingat malam itu, Ryung mencium bibirnya dan mengatakan,"Eunbi is mine."


"Aku masih kerja, Ryung," ujar Eunbi kepada kekasihnya.


"Ya kenapa?" tanya Ryung tidak peduli. Dia mendorong Eunbi dan merebahkan kepalanya di atas paha Eunbi.


"Ke mana si Kembar?" tanya Ryung.


"Dia diambil Halmonimu. Dia merindukannya," lirih Eunbi mengingat betapa Jeneni dan Rudiger menyanyangi Gata dan Gita seperti cucunya sendiri.


"Wajar cucunya yang lain jarang ke sana. Apalagi cicitnya, biasanya Jena ke sana tetapi dia melanjutkan pendidikan di Paris," ujar Ryung. Eunbi mengusap surai Ryung.


"Bagaimana dengan pernikahan Hyungmu?" tanya Eunbi.


"90% mungkin. Aku juga tidak tahu karena keseringan di luar." Ryung memang tidak tahu persiapan pernikahan kakaknya.


"Setelah pekerjaamu selesai kita ke butik," ujar Ryung membuat Eunbi menyerit.


"Membelikanmu gaun dan juga Gata dan Gita." Eunbi tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.


"Aku dan putri-putriku akan membeli sendiri. Kamu pulang saja nanti," ujar Eunbi dengan suara sedikit lelah.


Ryung bangkit dan menatap dalam wajah Eunbi. Kantong mata Eunbi terlihat jelas sekali.


"Kamu perlu cuti, aku akan memberi baby sister kepada Gata dan Gita. Jika tidak mau, aku akan memberi supir untuk setiap hari menjemputnya untuk di antar ke rumah Halmonie." Ryung mengusap air mata Eunbi yang mentes tanpa diduga.


"Sedangkan kamu, aku akan jemput setiap hari," ujar Ryung membuat Eunbi memeluknya erat. Ryung mencium kepala Eunbi bertubi-tubi.


"Benar kata, Daddy. Pacaran dengan yang punya anak itu menyanangkan. Tidak apa-apa janda, asal sebaik Eunbi."


TBC

__ADS_1


Jejak 🙏😊


__ADS_2