
Langit tampak mendung hari ini. Mengundang gerimis. Sepasang kekasih baru saja sampai di tokoh cincin.
"Aduh, Sayang. Gerimis," ujar Jena kepada Ray.
"Ayo masuk." Ray lebih memilih membawa Jena masuk. Ray mengambil payung di jok belakang mobilnya dan membuka pintu mobil.
Dia keluar dan berada di sisi pintu Jena. Ray membuka pintu dan Jena keluar.
Mereka berdua masuk ke dalam tokoh. Jena dan Ray berjalan ke penjuru melihat cincin yang menarik untuk dikenakan.
"Kamu Pilih yang mana?" tanya Ray membuat Jena semakin menajamkan matanya melihat cincin itu.
"Aku mau yang itu saja," ujar Jena kepada Ray.
"Dicoba dulu, Mbak. Itu cincin couple pengantin tercantik di tokoh kami, sederhana tapi elegan."
Jena dan Ray mencobanya.
"Wah kalian sanga cocok!" Penjual tokoh itu begitu terpanah melihat Jena dan Ray mengenakan itu.
"Terimakasih."
Jena dan Ray sudah membeli cincin. Tinggal fingit baju pengantin.
"Ray, sepertinya masih gerimis," ujar Jena.
"Kalau gitu kita ke atas dulu. Di sana ada cafe," ajak Ray.
"Aku gak ingin makan banyak, Ray. Nanti bada aku melar," ujar Jena.
"Gak ada acara diet-diet, aku gak suka kamu kurusan. Mau kamu gimana juga aku tetap suka." Walau Ray mengucapkannya dengan nada datar saja, tidak ada unsur gombal, tetapi dia tidak tahu efeknya pada hati Jena.
Deg deg
"Bisa banget sih buat aku makib cinta, hihihi." Jena menggelengkan kepalannya dan bergelenyut manja di lengan Ray.
Mereka duduk di cafe bernuangsa klasik. Alunan melodi juga menghibur mereka. Suara obrolan sekitar Mereka mulai terdengar bising.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ray.
"Samain aja," ujar Jena.
"Kami pesan handmade cheese cake selai blueberry dan jus jeruk," ujar Ray kepada palayan.
Jena mengedarkan pandangannya. Bibirnya tersenyum mengingat dia sebentar lagi menikah dengan Ray.
Alunan melodi klasik itu membawanya mengingat awal dia dan Ray bisa bersama. Selamanya kota Paris akan melekat dalam ingatan Jena.
Ray hanya dia menatap Jena. Sampai Jena menatapnya juga."Ada sesuatu di wajahku?" tanya Jena.
Ray menggeleng pelan.
Memang tak ada sesuatu di wajah Jena. Bahkan dia semakin cantik. Waktu banyak mengubah Jena, dia jadi semakin cantik dan tentu lebih mandiri. Hanya saja sikap blakblakan dan agresifnya tidak berkurang sama sekali.
Pesanan mereka datang. Mereka mulai makan.
"Nanti kamu mau ringit baju di mana?" tanya Ray.
"Di Echa Eonni," jawab Jena.
"Baiklah."
***
Ray POV
Gua dan Jena lagi di butik nuna. Gua sendiri langsung bermain dengan keponakanku, Ey.
__ADS_1
Cukup lama kami bermain sampai Avy datang dengan wajah bantalnya.
"Uncel," lirihnya dengan serak. Langsung gua gendong. Gua rapihin rambutnya yang berantakan.
"Avy masih mau tidur?" tanya gua dan dia mengangguk lucu.
Gua bawa di ke atas pangkuan gua dengan posisi dia menyandarkan wajahnya di dada gua.
Gua tepuk-tepuk popoknya hingga suara napas teratur terdengar. Sepertinya Avy sudah tidur kembali.
...
...
(Anggaplah itu, begitu posisinya)
"Ekhm!" deheman keras membuat gua menoleh dan melihat Jena.
Gua terpaku melihat Jena. Begitu cantik dengan gaun putih miliknya. Seksi dan begitu menggoda.
"Sangat cantik," puji gua membuat dia tersenyum genit. Dasar si Jena.
Melihat Jena dengan pakaian seski bukan hal biasa lagi. Makanya gua kagak kaget kalau dia pilih gaun seksi.
"Kamu sudah pesan jas, Ray?" tanya Nuna.
"Sudah, Nuna."
"Kok aku gak tau? Kamu pesannya kapan? Ih kok gak ngajak," rutuk Jena kesal. Gua pusing kalau dia ngoceh.
"Kamu sibuk, jadi aku sendiri ke sana." Dia cuma diam. Gambek dia, hahaha.
Nuna mengambil Avy dan memindahkannya ke kamarnya. Kami pamit pulang.
"Maaf ya," ujar gua kepada Jena. Tangan gua mengusap pipinya saat di dalam mobil.
"Kita habis ini ke mana?" Gua menjalankan mobil.
"Kita ke rumah Ryeong Oppa saja," ujar Jena semangat.
Citttttt!
Ray merem mendadak dan menatap Jena horor. Jena kaget saat Ray rem mendadak.
"Ray!" kesalnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ray horor membuat Jena mengigit bibirnya kesal. Boleh gak nih cogan satu dicakar?
"Tentu karena kita fingit baju!" Jena begitu kesal.
"Aku belum lamar kamu, Na. Besok baru lamaran," ujar Ray membuat Jena memutar bola matanya.
"Omg Ray, Sayang. Gak apa-apa, lagian juga cuma lamaran sebagai peresmian saja, lagian kan banyak awak media." Ray mengangguk membenarkan. Sebenarnya Ray dulu pernah melamar Jena dan sekarang dia ingin melamar langsung pada kedua orang tua Jena yang tak lain tante dan omnya.
Tapi, ada tapinya, karena Jena model papan atas dan Hana juga selebriti apalagi mereka keluarga dari Jung tentu banyak media yang menggila untuk meliput berita mereka.
Besok Ray akan melamar Jena di depan sumua orang. Mengatakan bahwa dia menginginkan Jena sebagai pendamping hidupnya dan menghabiskan sisa hidupnya bersama Jena bersama anak-anak mereka kelak.
"Kita pulang saja," putus Ray membuat Jena memutar bola mata kesal.
"Aku mau ke rumah Ryeong Oppa. Aku belum bertemu Keyra Eonni, kamu tahu dia hamil." Ray terpaksa mengalah.
"Argh! Kenapa juga macet!" kesal Jena membuat Ray memperhatikan jalanan.
"Ada kecelakaan di depan." Jena menggut-manggut. Dering ponsel Ray mengalung di tengah keheningan mereka.
Jena melirik Ray yang hanya mengabaikan ponselnya dan menyimpannya.
__ADS_1
Ponsel Ray kembali bergetar dan membuat pria itu mengacak rambutnya. Dia mematikan ponselnya dan menoleh kepada Jena yang menatapnya.
"Khm." Ray berdehem pelan dan meraih botol aqua. Dia menguknya membuat Jena menatap ke depan.
Jena jadi pendiam dan Ray juga tidak banyak bicara. "Siapa yang telepon Ray?" batin Jena.
"Mau mampir beli sesuatu?" tanya Ray membuat Jena mengangguk. Ray menepikan mobilnya di supermarket.
Ray menggeram saat Jena keluar tanpa kata. Dia mengekor dari belakang Jena. Ketika Ray bertanya Jena hanya jam hem-hem layaknya krang sariawan.
"Sebentar aku ambil dompet dulu," ujar Ray kepada Jena. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya.
Mereka antrian hingga Ray terkejut bukan main saat gadis di depannya berbalik.
"Ray."
"Cessy."
Jena memangku tatapannya kepada dua orang yang sedang terkejut itu.
"Ray, kamu juga beli di sini? Ah aku tadi telepon kamu kok gak diangkat-angkat?" tanya Cessy membuat Jena mendengus.
Jena meninggalkan Ray tanpa kata.
"Maaf, Cessy, gu---Jena!"
Ray menerbos antrian Cessy dan meminta kasir menota belanjanya dengan cepat.
"Ray!" panggil Cessy.
"Gua pergi dulu," ujar Ray dan berjalan ke mobilnya.
"Jena," panggil Ray saat Jena hanya diam di dalam mobil tanpa menatapnya.
"Hikss kamu jahat tahu gak?!" Ray memengan tangan Jena yang ditepis gadis itu.
"Aku bis--"
"Jelasin! Hikss sejak kapan, Ray? Hikss sejak kapan?"
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama Cessy."
"Hikss gimana perasaan aku, Ray? Hikss aku harus gimana saat tahu kamu komunikasi sama Cessy lagi?"
"Ini gak seperti yang kamu kira," ujar Ray.
"Hikss ... hikss." Ray kembali memangan tangan Jena tapi ditepis Jena.
"Aku hiks mau pulang," ujar Jena.
"Ak--"
"Aku mau pulang."
Ray menjalankan mobilnya dengan menghela napas kasar. Sesekali dia menoleh kepada Jena.
"Kamu gak jadi mampir ke ruma Hyung?"
"Aku mau pulang."
Ray tidak bertanya lagi. Jena menangis dan berusaha meredamkan suara tangisnya.
TBC
Jejak
Sebenarnya aku cukup makasih buat semangat untuk komentarnya. Gak setega itu buat kalian pegal, satu komentar dari kalian sudah sangat berarti. Makasih semua dan aku double up kan.
__ADS_1