
Happy Reading ....
Suasana yang terasa menghebokan tadi seketika hening karena kedatang putra terakhir Jung.
Pria berambut abu-abu itu melangkah dengan santai dengan dua gadis kecil di dalam gendongannya.
"Ayo masuk," ajak Aeri kepada Eunbi. Eunbi tersenyum kikuk. Dia mengutuk Ryung yang bersikap santai sekali.
"Wah, siapa bayi kembar gembul ini?" tanya Jeneni kepada cucunya Ryung.
"Halmoni ini adalah Gata dan Gita," ujarnya. Gata dan Gita memeluk erat leher Ryung. Wajahnya ketakutan karena nenek kandungnya yang selalu marah di rumahnya.
"Huwaaa mammaaaa!" Pecah tangis keduanya membuat Eunbi segera menghmapiri kedua putrinya. Ryung sontak kaget dan mengayung-gayung tubuhnya. Dia sedikit menjauh.
"Apa dia calon ayah?" tanya Rudiger kepada istrinya. Jeneni menggeleng tidak tahu tapi bibir wanita tua itu tersenyum melihat cucunya bagai seorang ayah yang menenangkan anaknya yang tengah menangis.
"Dia tidak mungkin Eomma, anak itu sangat nakal. Eunbi gadis yang baik dan dosennya di kampus," ujar Aeri.
"Biarkan saja. Selama dia tidak lewat batas," ujar Jeneni membuat Aeri sedikit cemas. Ryung tidak bisa diprediski dengan sikap bad boynya.
Di tengah kesibukan Ryung dan Eunbi menenangkan Gata dan Gita. Seorang gadis menghampirinya.
"Kupikir dia butuh susu," ujarnya sambil menyerahkan susu formula kepada gadis di dekat adiknya.
"Terimakasih," ujarnya membuat kepala Echa mengangguk.
Kini kedua bayi gembul itu diam dan menikmati susu formulanya dengan tenang.
"Kenapa mereka seperti itu?" tanya Ryung kepada Eunbi. Eunbi menghela napas dan menatap Ryung yang tidak melepas tatapannya kepadanya.
"Kamu pernah melihat jika nenek kandungnya sering marah. Dia sedikit takut," lirih Eunbi yang menahan air matanya. Ryung terdiam menatap Eunbi. Begitu sulitkah hidup wanita di sampingnya?
"Hey, dengarkan Daddy sayang. Tadi itu Halmoni, eoh? Kalian harus sapa dan jangan takut. Ada Daddy," ujar Ryung kepada kedua putri Eunbi. Kedua bayi polos itu menganguk.
Eunbi merasa jantungnya berdetak tidak karuan. Lihat betapa manis ucapan laki-laki ini. Dia bisa menjadi laki-laki pembuat onar dengan sikap menyebalkannya tapi bisa semanis perment karet.
"Ayo kita ke sana," ajak Ryung.
"Baiklah."
***
Eunbi POV
Sanggupkah aku tidak jatuh cinta kepada dia? Walau berapa kali aku mencoba menyangkal, kini aku benar-benar menyerah atas perasaanku. Aku sudah jatuh cinta kepada pria nakal di sampingku.
Saat dia memanggil dirinya daddy di hadapan putri kembarku. Dadaku terasa menghangat. Bisakah aku berharap dia benar-benar menjadi daddy untuk kedua putriku?
"Eunbi lo mau makan apa?" tanya dan kedua putriku kini mulai berbaur. Dia bermain dengan gadis manis yang mungkin tiga tahun lebih tua darinya.
"Ah dia Zeza, gadis semenyebalkan seperti Jena," ujar Ryung membuatku menoleh dengan alis mengerut.
"Kenapa wajahmu? Dengan anak kecil saja kamu mengerutu," ujarku kepadanya.
"Kamu tidak tahu saja dua si Kucing Liar itu." Ryung menarik tanganku dan tiba di depan hidangan kue.
"Gue suka sekali brownies," ujarnya mulai mencomotnya. Aku mengambil kue yang sama dengannya.
Ternyata keluarga Ryung menyenangkan. Mereka begitu hangat. Hatiku mencolos karena kedua orang tuaku saja dengan tega mengusirku atas kesalahan yang tidak kuperbuat sama sekali.
Bagaimana mungkin mereka menuduhku selingkuh. Padahal mantan suamiku yang berselingkuh dan ini hasil perbuatannya. Gata dan Gita memang bukan anak kandungku tapi aku sangat menyayanginya.
"Akh!" Aku memekik kaget saat Ryung menyentil dahiku. Lihat kelakuannya, dia tidak bisa melihatku sebagai dosennya sama sekali.
"Sakit," ketusku sambil mengusap keningku. Dia bersikap acuh dan mangajakku mengikutinya.
"Ikuti gua," ujarnya.
Di sebuah meja bersegi empat aku duduk di sana setelah menunduk hormat. Mereka mahasiswa dan mahasiswi di kampus tempatku mengajar.
Sepertinya bukan hanya aku yang merasa kikuk. Di sisi Ryeong ada gadis manis terlihat menunduk. Dia terlihat pemalu sekali.
"Mau diperkenalkan, kalian sudah tahu dia siapa," ujar Ryong kepada saudaranya dan juga temannya.
"Ah, kenalkan dia adalah Han Eunbi, Dosen Konselin di kampus," ujarnya.
"Ah Sajangnim. Saya Jung Echa jurusan Desainer," ujar gadis yang memberi susu formula kepadaku tadi. Aku tersenyum dan di sampingnya aku mengenalnya.
Pria itu adalah Kim V seorang pria asal London yang menetap di Seoul dan anak pengusaha kaya yaitu Hem Joon. Dia anak semester terakhir di kampus jurusan Bisnis. Dia seperti Ryon menjalankan perusahaannya sambil kuliah.
__ADS_1
"Dan dia adalah Geun Keyra Asthon. Calon i--dia pacar Ryoeng," ujar Ryung menbuatku mengangguk. Tapi, kenapa Ryeong tersedak?
"Uhukk ... khm." Dia salah tingkah? Hahaha muridku itu sangat lucu. Yang aku tahu dia sibuk belajar ternyata kini sudah punya pacar.
"Maaf, sepertinya saya harus pulang. Gata dan Gita mungkin sudah mengantuk," ujar Eunbi dan berdiri. Dia pergi dan Ryung malah menyesap minumannya.
.
.
"Sial, kamu mengajak dosen sendiri kencan?!" tanya Ray kepada hyungnya.
"Hahahaha." Dengan watadosnya dia malah ngakak sendiri.
"Ray language please," tegur Echa saat adiknya mengumpat.
"Gua cuma ngajak ke sini. Enggak kencanglah," ujar Ryung santai.
"Antar dia pulang, Ryung," ujar Echa menatap gemas adiknya.
"Nuna, dia tidak akan pulang secepat ini," ujar Ryung sambil menyeringai.
Benar saja di ruang tengah, Eunbi malah duduk di dekat Aeri. Kedua putrinya tidur di kamar Ryung.
"Gua pergi dulu," ujar Ryung. Tapi, dia berdiri di samping Keyra.
"Hey angkat wajahmu manis. Apa lantai lebih tampan dari wajah saudaraku?" tanya Ryung menggoda tapi suaranya dibuat serius. Keyra sontak menatapnya takut dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf, " ujarnya membuat Ryeong menatap jengah adiknya. Ray mengedipkan mata kepada hyungnya.
"Mari kenalan secara resmi," ujar Ryung sambil mengulur tangannya. Keyra dengan ragu menerimanya. Setelah kulit tangannya dan kulit tangan Ryung bersentuhan, wajah serius Ryung tergantikan dengan senyum manis pria itu.
"Jung Aegie Ryung, panggil saja Ryung jangan sayang karena kata sayangmu cukup berikan kepada Ryeong," ujarnya membuat pipi Keyra terbakar habis.
"Lepaskan tanganmu dan segera pergilah." Ryeong melakukan itu tidak tega melihat Keyra selalu terlihat malu dan kikuk. Namun, ia mendapat tatapan menggoda dari keluarganya.
"Ekhmm ekhm," batuk Ryung dan melepas tangannya. Dia melenggos pergi dan tertawa kencang.
"Hahahahaha!" Tawanya begitu pecah sampai dia ditegur oleh Jimin.
"Ryung, suaramu bisa membangunkan putriku," tegurnya.
Eunbi menatap Ryung yang mengacak rambutnya. Bekas pukulan di wakah pria itu masih ada tapi sudah samar-samar.
"Rambutnya berubah lagi," desah Aeri menatap putranya dengan pandangan tidak percaya.
"Biarkan saja dia memakai cat rambut. Dia terlihat tampan," ujar Hana kepada Aeri.
"Benar, dia tidak kalah tampan dengan aktor Korea," timpal Yuna."Iyakan nak Eunbi?" tanya Yuna membuat Eunbi tanpa sadar menganguk.
"Dia bahkan sangat tampan," ujar Eunbi tanpa sadar. Keluarga Jungkook mengulum senyum. Muka Eunbi merah padam setelah menyadari ucapannya.
"Help me!" batin Eunbi.
Ryung mendekat dan duduk di samping Eunbi. Aeri sedikit menarik rambut Ryung membuat kepala pria itu tertarik di hadapan Eunbi. Eunbi menahan napas.
"Akhhh, Mommmm," rengek Ryung.
"Apa kamu sudah tua?" tanya Aeri kepada putranya. Ryung menarik diri dan mengusap kepalanya. Dia menoleh kepada Eunbi.
"Ini visual, Mom," ujarnya kepada ibunya.
"Visualmu begitu buruk," kata Aeri.
"Tanyakan padanya. Hey Eunbi menurut lo gua tampan gak?" tanya Ryung santai kepada Eunbi. Eunbi merasa oksigen di sekitarnya menipis.
Plak!
"Awwwww!" teriak Ryung saat Aeri memukul pahanya.
"Mommy kenapa suka sekali menyiksaku?" rengeknya.
"Bahasamu itu, Ryung! Kenapa juga ngomongnya tidak sopan sama dosen kamu sendiri," omel Aeri.
"Mom, uri chingu," ujar Ryung membuat Aeri melototkan matanya.
"Ahh salah lagi di mata Mom, anak tetangga memang lebih top di mata emak sendiri," batin Ryung.
"Kamu tuh ya dibilangin malah ngeyel," omel Aeri membuat Ryung menangkupkan tangan sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Inikah sisi lain pria ini?" batin Eunbi.
"Maafkan saya, Sajangnim," ujar Ryung membuat Eunbi mengangguk.
"Eunbi jika dia masih saja tidak sopan hukum saja dia," ujar Aeri yang sebenarnya tidak sungguhan. Dia paling lemah ketika anaknya dihukum.
"Baiklah, Mom, " ujar Eunbi tersenyum manis.
"Mom? Sejak kapan Eunbi manggil Mommy gua mom? Apa sejak anaknya manggil gua Daddy?" tanya Ryung dalam hati.
"Semoga saja kalian berjodoh," batin Aeri. Mereka mulai mengobrol dan tertawa pada hal konyol.
Ryung sendiri ke kamarnya dan membuka baju atasnya. Ia ikut terlelap di samping Gata dan Gita.
"Maaf, Mom ... Gata dan Gita di mana?" tanya Eunbi. Setelah menadapat penjelasan Eunbi ke kamar yang di maksud Aeri.
"Eunbi, kamu menginap saja, Nak."
"Tapi, Mom--" Aeri menatao memohon kepada Eunbi. Eunbi mengangguk dan lantas melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti karena Aeri menahannya kembali.
Di sebuah kamar, dia menatap pemandangan yang pernah ia saksikan. Ryung yang hanya boxernya tanpa atasan. Tapi, kali ini terasa beda karena kedua putrinya di sana ikut terlelap.
Eunbi menutup kamar Ryung. Dia menatap sisi kamar Ryung yang di dominasi warna putih.
Kamarnya terlihat rapi dengan beberapa miniatur di rak khusus. Kamar pria ini sangat luas sekali.
Dia akan memindahkan putrinya ke kamar yang disediakan untuknya. Dia pelan-pelan ingin menggedong Gata terlebih dahulu, tapi tangannya dicekal.
"Jangan ganggu tidurnya. Mereka terlelap sekali," ujar Ryung dengan mata sedikit menyipit.
"Aku akan membawanya ke kamar lain," ujar Eunbi mengotot.
Ryung tersenyum jahil dalam hati. Dia akan membuat Eunbi kalah dan kesal.
"Sebentar ... siapa kamu?" tanya dengan wajah ketakutan dan menatap horor Eunbi.
Eunbi terkejut dan melototkan matanya tidak percaya."Aku Eunbi, jangan bercanda," ketus Eunbi.
Ryung malah duduk dan beringut mendur ke kepala kasurnya.
"lo ... lo pasti kuntil anak yang menyamar menjadi Eunbi. Lo mau culik anak kecil di malam hari!" kata Ryung dengan suara dibuat sehoror mungkin.
"Yakk!" Eunbi berteriak kesal. Dia menatap tajam Ryung membuat pria itu ngakak dalam hati.
"Lihat, wajah lo sangat menyeramkan. Dasar setan pencuri anak kecil!" ujar Ryung membuat Eunbi seperti akan menjadi setan untuk mengcakar wajah tampannya.
"Aku Eunbi! Bukan setan! Untuk apa aku menculik anakku sendiri, kamu yang menculiknya!" ketus Eunbi setengah frustrasi.
Mata Eunbi menyipit saat dia melihat bibir Ryung berkedut. Ryung berusaha nenahan tawanya.
"Mana kaki lo? Kalau gak menyentuh lantai artinya ...."
Eunbi segera memutari kasur Ryung dan berjalan ke samping Ryung. Dia dengan kesal menghentakkan kakinya seperti akan meruntuhkan kamar Ryung.
Pecahlah tawa Ryung saat melihat wajah kesal Eunbu."Hahahahaha ternyata kaki lo menyentuh lantai. Lo benaran Eunbi," ujarnya yang terdengar menjengkelkan di telinga Eunbi.
"Yaak kamu mengerjaiku!" kata Eunbi kesal. Dia memukul Ryung tanpa henti membuat pria itu tertawa lepas.
"Hahaha ... sumpah hahaha muka lo kocak banget!" ujarnya membuat Eunbi membuang muka. Ryung menariknya sampai dia jatuh di dada bidang pria itu.
"Ap-apa yang ka-kamu lakukan?!" tanya Eunbi terbata-bata.
"Menikmati lebih dekat wajah lo," kata Ryung dengan senyum khas play boynya.
"Gua tau tampan. Tapi, tidur di sini saja. Jangan ganggu anak lo tidur. Dia sudah mimpi indah," ujar Ryung membuat Eunbi pasrah.
"Kamu tidur di sofa," ujar Eunbi membuat Ryung menggelngkan kepala.
"Kita kan pernag tidur bareng," ujar Ryung yang terdengar ambigu.
"Ck, sana!" ujar Eunbi membuat Ryung malah mengurungnya dalam pelukan pria itu.
"Berisik banget lo, nanti mereka bangun," omel Ryung. Eunbi mendengus dan lama-kelaman jatuh dalam mimpi indahnya di dalam pelukan Ryung.
Cup.
"Jangan pernah sedih, kamu, Gata dan Gita akan aku lindungi," bisik Ryung sebelum dia memejamkan mata. Bukankah mereka seperti keluarga kecil?
TBC
__ADS_1
Voting :)