
...Selamat pagi 🌈...
...The Triplek's partnya panjang, jadi sabar untuk setiap konflik yang ada. Sebuah cerita tanpa masalah akan hambar, kalau kalian kesel artinya kalian ikut masuk ke dalam alur 😋...
Nyatanya hidup The Triplek's tidak semulus ketiak Idol 😂
.
.
.
Happy Reading
Sebuah rumah minimalisir berwarna putih gading begitu asri dengan taman bunga di halaman depannya.
Di sinilah sekarang Eunbi tinggal bersama kedua putrinya. Mereka sangat menantikan kehadiran debay untuk melihat dunia.
"Mommy!" Sura cempreng itu terdengar begitu kesal. Jangan lupa wajah imutnya sudah ditekuk.
Eunbi mengsejajarkan dirinya dengan anak pertamanya Gata. Dia menoel pipi anaknya yang kini menampilkan mata berkaca-kaca.
"Mommy apan Daddy pulang?" Hati Eunbi begitu mencolos mendengar pertanyaan polos putrinya.
Setiap bulan yang ia lalui begitu sulit. Ia harus mengalami morning sick seorang diri. Untuk cek kandungan Ray dan Jena atau Mommy-nya yang menemaninya.
"Nak ... Daddy sebentar lagi akan pulang. Gata dan Gita harus rajin belajar dan perlihatkan hasilnya sama Daddy nanti."
"Gata gambal ini," ujar Gata dan memberikannya pada Eunbi. Eunbi merasa matanya memanas. Dia mengelus surai hitam putrinya.
"Simpan dan nanti Daddy akan lihat."
Gata pergi setelahnya, hingga isak tangis Eunbi keluar.
...
...
(Ps: Gambarnya Gata - Asli Author yang gambar acak secara Gata kan anak paud) 😂
"Hikss aku benci." Eunbi berjalan gontai ke dapur. Dia merasa lapar.
"Aku ingin makan sup ayam," lirih Eunbi sambil memengan perutnya. Andai saja Eunbi tahu jika keinginan debay adalah makanan kesukaan ayah biologi dari anaknya.
"Dan hiks aku ingin, Hiks dia yang memasaknya. Hikss ka--kamu pasti Hiks merindukannya juga, Nak?" Eunbi merasa hatinya sakit sekali.
Ting tong!
Eunbi mengusap air matanya dan berjalan ke arah pintu. Eunbi tersenyum melihat kehadiran Ray.
"Masuk, Ray."
"Ne, Sajangnim."
"Berhenti memanggilku begitu, Ray."
Ray tersenyum tipis dan duduk di sofa. Eunbi melihat raut wajah Ray tidak bersahabat.
"Ray ...." Ray tersadar dari lamunannya.
"Jena marah." Kata-kata itu meluncur begitu saja di bibir Ray.
"Bagaimana bisa terjadi?" Ray menceritakan semua hingga detail. Kejadian dia terjebak macet karena ada yang kecelakaan hingga Cessy menelponnya dan mampir ke supermarket.
"Ah, aku akan membantumu. Bicara dengannya, apalagi besok kalian lamaran."
Eunbi mengambil ponselnya dan menelepon Jena. Eunbi menlouspeaker ponselnya.
Tutttt.
__ADS_1
"Halo, Jena."
"Halo, Eonni. Apa Eonni baik-baik saj?" Ray terdiam mendengar suara serak Jena.
"Aku ingin makan sup ayam, bisakah kamu membelikannya untukku. Tolong beli empat porsi."
"Hehehe sepertinya keponakanku ingin makan banyak." Jena tidak tahu jika Eunbi memesan banyak itu agar mereka makan bersama.
"Aku tunggu."
"Ne, Eonni."
Eunbi menyimpan ponselnya di atas meja. Dia menatap Ray yang menatapnya seolah ada yang ingin dikatakan.
"Dia akan datang di hari pernikahanku." Eunbi terkejut.
"Benarkah?" Rasanya tidak percaya. Perasaannya kini campur aduk.
"Iya, sebebarnya Hyung (Ryung) ada di Korea kemarin, tetapi dia ada urusan bisnis kata Hyung (Ryeong)."
"Dia tidak datang ke sini," lirih Eunbi. "Apa dia sudah melupakanku?" tanya Eunbi membuat Ray menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia tidak melupakanmu."
Ting tong.
"Sepertinya Jena sudah datang." Eunbi meninggalkan Ray dan bergegas membuka pintu untuk Jena.
"Gomawo Jena," ujar Eunbi dan dia bisa melihat mata Jena bengkak walau disamarkan dengan make up.
"Aku sangat senang jika kepo--" Ucapan Jena mengantung saat melihat Ray duduk tenang di sofa.
"Ayo Jena, aku butuh bantuanmu. Kita ke dapur. Ray ikutlah." Jena pasrah dan ikut bersama Eunbi. Di belakangnya Ray mengekor.
"Emm makanlah." Mereka makan dengan canggung.
"Tidak usah, mereka habis makan. Kemungkinan mereka tidur ditumpukan mainannya." Eunbi harus menggelengkan kepala melihat anaknya begitu banyak diberi mainan.
"Mommy!" teriak Gita.
"Aku ke kamar dulu," ujar Eunbi meninggalkan keduanya.
Ray dan Jena sama-sama makan dalam keheningan. Jena beranjak dari kursinya hingga Ray menahan tangannya.
"Aku ingin bicara kepadamu. Jangan begini, Na." Jena hanya diam saja dan sedeti kemudian dia menoleh kepada Ray.
Ray tersenyum membuat Jena mendemgus. Ray menarik lembut Jena duduk dipangkuannya. Sialnya jantung Jena merasa ingin loncat. Ini pertama kalinya Ray melakukan hal seromantis ini.
"Aku, kamu dan kita, gak pernah ada kata 'Dia'. Aku cinta sama, Na. Cess--"
"Jangan sebut namanya!" Ray terkejut karena Jena menyelanya tiba-tiba.
"Kami hanya teman."
"Aku mau egois, Ray. Aku mohon sama kamu, izinkan aku untuk selalu egois atas dirimu, sebab aku takut kehilangan. Aku msu egois ketika ada perempuan lain yang berusaha menggantikan posisiku di hatimu." Mata Jena berkaca-kaca.
Ray mengelus rambut Jena dan mengecup kening Jena lama.
"Aku gak peduli seegois apapun yang kamu inginkan atas diriku. Tapi, aku juga minta sama kamu, apapun masalah kita, kita bicara baik-baik." Jena mengangguk dan air matanya jatuh. Ray mengusapnya.
"Aku masih lapar, Na. Mikirin kamu berjam-jam bikin napsu makan meningkat." Jena mencubit pelan pinggang Ray.
"Dasar."
"Hahahaha." Mereka tergelak hingga Eunbi ikut tersenyum.
"Aku mau disuapi," ujar Jena manja.
"Baiklah tuan Putri, buka mulutmu, aaa ...."
__ADS_1
"Eummmm enak," kata Jena yang membuat Ray mengacak rambutnya gemas.
"Kamu yang suapi dong, Na." Jena mengambil sendok Ray dan menyuapi pacarnya.
"Kata Oppa, Ryung Oppa akan balik ke sini kalau acara H kita," ujar Jena.
"Iya, Hyung juga ada di Korea kemarin tapi katanya dia pergi lagi karena urusan bisnis."
"Aku merasa gak enak aja, Sayang. Aku kepikiran terus sama Oppa, sejak kemarin rasanya ada yang mengganjal," ujar Jena.
"Aku pikir cuma aku, Sayang."
"Berpikir postif saja."
Ray dan Jena ke ruang tamu setelah membereskan meja makan Eunbi. Mereka menonton layaknya rumah sendiri.
"Sayang," panggil Ray lembut.
"Hem," gumam Jena yang bersandar di dada Ray.
"Aku gak sabar cepetan nikah sama kamu." Jena mendongak dan Ryung menunduk. Tatapan mereka bertempu.
"Aku lebih gak sabar biar kita bisa *****," ujar Jena blakblakan. Ray mengigit bibirnya antara gemas dan pengen sentil bibir calon istrinya.
"Kamu kalau ngomong blakblakan banget," ujar Ray membuat Jena mengecutkan bibirnya kesal.
Dia mengambil ponselnya dan menelepon Ulfie.
"HALO JENA AHHH GUE SUDAH BILANG ENGHH GUE LAGI KELONIN SUAMI GUE! TUTTT!"
Jena mengangkat alisnya menatap Ray yang syok dengan ucapan Ulfie.
"Ashit, Yoongi dan Fie lag Ii--itu," ujar Ray horor.
"Iya, tadi aku sudah chat katanya mau keloning suaminya yang tahan puasa, tapi kasian Fie baru melahirkan jadi mereka puasa."
"Kamu tahu dan kamu masih meneleponnya?"Â Ray menatap takjub calon istrinya yang kadang sewaktu-waktu bisa polos banget.
"Biar kamu tahu kalau bukan cuma aku yang blablakan." Jena mendial nomor Vira.
"JENA! AHHH NGAPAIN AHH SIH MENELPON?!"
"Lo lagi ngapain?" tanya Jena membuat Ray syok di tempatnya.
"SIALAN AHHH GUE SUDAH BILANG TADI DI GROUP AHHH GUE MAU *****."
Tutttt.
Ray mengambil ponsel Jena dan menyimpannya di sakunya. Dia mendorong pelan kening Jena.
"Ih Ray!" protes Jena dan menangkap tangan Ray.
"Jangan gangguin orang juga." Ray berdehem karena sialnya dia merasa gerah. Jena menyeringai melihat eskpresi Ray.
"Hihihi aku mau godain," batin Jena cekikan.
"Ray," panggil Jena serak basah.
"Na ...." Ray memperingati Jena saat gerak-gerik kekasihnya mulai aneh.
Tangan Jena mengelus dada Ray. Ray menggeram dan berusaha mengabaikan Jena.
"Sial!" umpat Ray dan menarik tengukuk Jena. Dia mencium Jena menuntu sedangkan Jena berusaha menyimbangi ciuman Day. Di sela-sela ciumannya dia tersenyum.
"Aku senang jika kamu menginginkanku, Ray karena aku lebih dari sekadar menginginkanmu, Sayang," batin Jena.
TBC
Jejak :)
__ADS_1