The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FORTY SIX


__ADS_3

...Selamat pagi ๐Ÿ˜ awali pagi dengan secangkir teh hangat dan roti ๐Ÿ˜œ jaga kesehatan, akhir-akhir ini lagi musim sakit :(...


Ini part paling ditunggu-tunggu.


Di tengah acara mewah yang digelar oleh pasangan Jena dan Ray, seorang pria duduk diam sejak tadi.


"Ryung," panggil seorang wanita yang datang bersama suaminya.


"Kamu kok gak samperin, Mommy. Kata Yoongi tadi kamu datang dari siang," ujar Aeri sambil menatap lembut putranya. Dadanya sesak saat anaknya mengasinkan diri.


"Aku hanya sebentar tadi siang, Mom." Ryung berusaha berdiri dan memeluk Aeri yang menangis. "Mom, jangan menangis," ujarnya lagi.


"Mommy sayang sama kamu, Nak." Ryung menarik diri dan mencium kening Aeri.


"Khm." Ryung meringgis dalam hati, ternyata Jungkook tidak berubah. Dia akan cemburu jika istrinya dicium oleh anaknya sendiri.


"Dad," lirih Ryung yang mendapat pelukan hangat sang ayah.


"Bagaimana kabarmu?" Jungkook menepuk pelan punggung putranya. Dia memang mengakui kenakalan putranya tidak bisa diukur.


"Aku baik-baik saja," ujar Ryung dan menarik diri."Tapi, Nak, wajahmu pucat," ujar Aeri.


"Mommy, aku hanya kelelahan. Itu saja," dalih Ryung. Memang dia melarang Ray mengatakan jika dia habis kecelakaan.


Aeri menatap intes putranya. Dia merapikan rambut Ryung dan tangannya terdiam melihat bekas jahitan di dahi putranya.


"Ka--kamu," ujar Aeri terbata-bata.


"Hanya luka kecil, Mom." Aeri mengangguk dan berusaha mengalihkan pembicaraan meski dia sangat khawatir.


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Aeri. "Aku akan makan nanti, Mom. Temanku ada di sini, Levin," ujar Ryung bermaksud agar Aeri menghampiri temannya. Aeri cukup peka terhadap keinginan putranya. Lagi pula ia penasaran dengan sosok Levin.


"Kalau gitu, Mommy pergi dulu. Momny ingin menghampiri temanmu. Makan ya, Nak." Ryung mengangguk. Hingga Jungkook menepuk bahunya pelan." Kamu tetap Triplek's kebangaan Daddy," ujar Jungkook membuat ia tersenyum.


***


Ryung menghampiri Jena dan Ray. Langkahnya sangat pelan, sungguh bergerak sedikit saja dia merasa sakit.


Rusuknya begitu nyeri dan membuat dia kesusahan menghampiri kedua pengantin yang tengah berbahagia itu.


"Ray," ujar Ryung.


Ray dan Jena menoleh. Dia sangat bahagia melihat Ryung."Hyung," ujar Ray.


"Oppa aaaa aku senang Oppa datang." Jena memeluk Ryung. Ryung dibuat tak percaya dengan sikap mempelai wanita.


"Tak pernah berubah, Ray," ujar Ryung tanpa suara yang dilakukan hanya gerakan bibir. Ray tertawa mendengar ucapan Ryung.


"Aku bahagia, Oppa." Jena memamerkan deret giginya.


"Semua orang yang melihatmu tahu kamu bahagia," ujar Ryung geli.


"Selamat untuk kalian. Semoga jadi keluarga yang bahagia," ujar Ryung membuat keduanya mengaminkan.


Setelahnya Ryung turun dari atas plaminan dan berjalan ke arah makanan.


Dia mengambil kue dan juga soda. Ryung memilih berjalan ke balkom yang cukup jauh dari acara itu.


Samar-samar dia mendengar suara, dia berjalan mencari sumbernya dan terpaku pada pemandangan di depannya.


Seorang pria memegang perut buncit seorang wanita yang membuatnya tak berdaya adalah ucapan pria itu.


"Aku mencintaimu," ujar pria itu.


"Ak--" Ucapan Eunbi tergantung saat melihat sosok pria yang dirindukannya berdiri tak jauh darinya. Pria itu tersenyum tipis dan berbalik.


"Maafkan aku, Se Yeung. Aku mohon mengertilah." Eunbi berjalan susah payah mengejar Ryung. Dia melihat Ryung duduk di sebuah kursi panjang.


Eunbi POV

__ADS_1


Dia datang! Dia benar-benar datang. Aku mengejarnya, dia pasti salah paham.


Saat aku menemukannya, aku berjalan pelan ke arahnya. Perasaanku saat ini? Campur aduk.


"Ryung," lirihku membuatnya menoleh. Dia berdiri dengan susah payah dan aku berjalan pelan.


Plak!


Aku menamparnya keras. Aku begitu sakit melihatnya. Datang tapi tidak mencariku padahal sebelum dia pergi, dia mengatakan agar aku tetap bersamanya.


Dia hanya diam setelah aku menamparnya. Sorot mata penyesalan tertampang jelas pada kedua netranya.


"Maafkan aku, danย  ... se--selamat atas pernikahan dan kehamilanmu."


Aku begitu kecewa dengannya. Apa hanya aku yang berharap di sini? Apa hanya aku yang menunggu di sini? Dan apa hanya aku yang berharap kita tetap bersama?


"Hikss jahat!" Ryung melihatku begitu sedih. Lalu kenapa juga dia harus mengatakan kalimat itu. Dia yang menghamiliku.


"A-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud, tapi aku ikhlas jika sekarang kamu bahagia dengannya. Ak---akh!"


Brak!


Aku tidak tahu kenapa bisa aku kasar dengannya. Aku mendorongnya hingga ia jatuh. Aku panik saat dia memegang tulang rusuknya.


Aku segera menghampirinya dan duduk di dekatnya.


"Ryung," lirihku karena wajahnya pucat. Keringat bercucuran di dahinya. Sesekali bibirnya meringgis sakit.


"Hikss maaf, mana yang sakit?" tanyaku kini kembali menangis tersedu-seduh. Aku tidak ingin melukainya.


Dia memagang tanganku. Perlahan mengusap air mataku.


"Sssttt cukup, jangan lagi menangis." Aku menggelengkan kepalaku.


"Hikss kamu kenapa?" tanyaku khawatir. "Aku mohon, jujurlah padaku," ujarku sambil memelas.


Dia menghela napas." Tulang rusukku patah," lirihnya yang membuat kepalaku berdengum. Patah? Tulang rusuknya patah?! Astaga!


"Berhenti menangis, ini tidak apa-apa. Ada yang lebih parah dari ini," ujarnya membuatku takut.


"Hikss katan yang mana saja hiks sakit," desakku cemas.


Dia membawa tanganku ke dadanya.ย  Aku bisa merasakan debaran jantungnya.


"Ini lebih sakit. Lebih parah dan sangat patah. Tulang rusukku memang patah, tetapi ini karma dari Tuhan karena membuat tulang rusukku yang ia ciptakan,ย  aku sakiti, aku buat menangis, aku nodai, dan aku buat hidupnya menderita." Aku sangat terisak mendengar penuturannya. Dia begitu tulus dan kesakitan mengucapkannya.


"Hikss ak--ak--"


"Apa yang lebih sakit dari melihat orang yang dicintai menangis sakit karenanya?" tanyanya membuatku memeluk tubuhnya erat.


"Aku mohon berhenti menangis dan nanti suam--" Aku memotong ucapannya.


"Hiks aku belum menikah! Aku sama sekali belum menikah karena orang yang harus bertanggung jawab padaku lari! Hikss sangat pengecut," ujarku kesal.


.


.


.


Ryung terdiam mencerna ucapan Eunbi. Hingga bibirnya tersenyum. Dia mengurangi pelukannya dan menatap perut Eunbi.


"Ap--apa diaย  ...." Eunbi mengangguk. Ryung mengusap air mata Eunbi dan mengecup kening Eunbi lama.


"Sayang, maafkan Daddy, Nak. Daddy harus membuatmu dan Mommy kesusahan. Daddy sangat mencintaimu," ujar Ryung membuat air mata Eunbi menetes. Dia melapmya dengan cepat.


"Halo Daddy, hikss dede hiks rindu sama Daddy," ujar Eunbi serak menahan tangis. Beberapa bulan dia mengidam. Dia ingin semua Ryung yang melakukannya, pasti anaknya sangat senang sekarang.


Ryung meneteskan air matanya. Dia mencium perut Eunbi lama.

__ADS_1


"Apa dia ingin sesuatu selama ini?" tanya Ryung serak. Eunbi mengangguk. Ryung mendekap Eunbi.


"Hikss dia hiks ingin kamu masakan, pengen dipeluk hiks," ujar Eunbi.


"Aku akan menebus semuanya," ujae Ryung. Beberapa kali ia menggumankan kata maaf.


"Apa tulang rusukmu sudah baikan?" tanya Eunbi mengurangi pelukannya.


Ryung tersenyum dan berkata,"Bahkan tulang rusukku kini hampir lengkap," ujar Ryung membuat pipi Eunbi merona malu.


"Ih Ryung bukan itu maksudku," ujar Eunbi malu.


"Hahahaha aku tahu, Sayang. Sedikit baik-baik saja," ujar Ryung. Eunbi meletakkan hati-hati tangannya dibagian tulang rusuk Ryung.


"Cepat sembuh," ujar Eunbi.


Mereka sama-sama duduk di atas lantai dengan posisi begitu dekat. Ryung menyatukan dahinya dengan Eunbi. Napas keduanya saling beradu.


"Aku sangat mencintai kamu, dan juga debay," ujar Ryung.


"Kami juga," ujar Eunbi.


Ryung melihat Eunbi tertawa saja sudah membuat bebannya terangkat. Dia tidak bisa berbohong, membayangkan kehidupan Eunbi tanpanya, ahh sudahlah. Dia semakin sesak saja.


"Kamu harus bercerita banyak tentang kamu dan juga debay," ujar Ryung.


"Kamu juga," ujar Eunbi kepada Ryung.


Eunbi membantu Ryung berdiri dan duduk di kursi. Dia menyenderkan badannya di bahu Ryung.


"Aku lapar," ujar Ryung.


"Ini kue kamu kan?" tanya Eunbi. Ryung mengangguk. Eunbi mengambilnya dan menyuapi Ryung.


"Kamu juga makan," ujar Ryung.


"Kamu saja aku sudah makan tadi," ujar Eunbi.


"Aku merindukan Gata dan Gita," lirih Ryung.


"Mereka sangat merindukanmu juga. Setiap hari dia bertanya kapan kamu pulang," ujar Eunbi.


"Hm, aku akan menemui mereka nanti. Bisakan kamu menginap di Apartemenku saja?" Eunbi menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Ryung kecewa."Aku gak akan lakuk--"


"Bukan soal itu. Gata sama Gita kalau malam itu kebangun dan suka diayung," ujar Eunbi mengingat kebiasaan baru anaknya. Anaknya tahu ayunanan saat Echa membawanya ke rumahnya. Akhirnya dia mengikuti Avy dan Ey yang suka ayunan.


"Di Apartemen tidak ada ayunan," gumam Ryung.


"Kamu aja yang menginap di rumah," ujar Eunbi. Ryung menggelengkan kepala.


"Ak--" Eunbi meletakkan jari telunjuknya di bibir Ryung.


"Aku tidak apa-apa. Rumahku baru juga hehehe," ujar Eunbi membuat Ryung mengangkat alis.


"Rumah yang duly diambil oleh mamanya Suhon. Aku juga gak tahu kematian Suhon membuat dia mengambil semuanya," ujar Eunbi.


"Rumah kami kecil, tapi nyaman kok,"ย  ujar Eunbi membuat Ryung mengusap surainya.


"Nanti kalau kita menikah, aku janji membawamu ke rumah bak istana," batin Ryung.


"Ya udah aku menginap."


Mereka kembali bercerita dan sesekali Eunbi merona malu karena ucapan Ryung.


TBC


Jejakย  ๐Ÿ’•

__ADS_1


Stay malam jumat ๐Ÿ˜œ pasangan pengantin mau bela duren ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


__ADS_2